<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195</id><updated>2012-02-17T05:10:46.884+07:00</updated><category term='Keislaman'/><category term='Makalah Pendidikan'/><category term='HMI'/><category term='pendidikan islam'/><title type='text'>PENDIDIKAN ISLAM MERDEKA</title><subtitle type='html'>Pendidikan adalah memerdekakan manusia dari perangai hayawaniyah-bahimiyah, membebaskannya dari belenggu keserakahan, kemunafikan, dan kafasikan, serta menyucikan jiwanya dari noktah-noktah hitam.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5640135748600550688</id><published>2011-12-25T21:35:00.000+07:00</published><updated>2011-12-25T21:35:47.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>Pendidikan Karakter Versi Sumatera Barat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Oleh Muhammad Kosim, MA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Terbit di Haluan, 9 Desember 2011&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--cPnvgC_i2U/Tvcy0qXL-DI/AAAAAAAAAP0/Ta4FeJQg3-w/s1600/15943_1206649638999_1011406122_30640575_6513911_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="257" src="http://2.bp.blogspot.com/--cPnvgC_i2U/Tvcy0qXL-DI/AAAAAAAAAP0/Ta4FeJQg3-w/s320/15943_1206649638999_1011406122_30640575_6513911_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;endidikan karakter, meskipun sebelumnya menjadi perdebatan antara pemerintah daerah dengan DPRD Prop. Sumbar, kini mulai disosialisasikan ke sekolah-sekolah binaan. Bahkan seminggu terakhir (mulai Minggu, 4 Desember lalu), beberapa tim pengembang kurikulum pendidikan karakter yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi Sumatera Barat, melakukan pembinaan terhadap satu SMP tiap kota/kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;M&lt;/b&gt;enarikanya, pendidikan karakter tersebut telah mengalami pengembangan dari konsep pendidikan karakter yang disusun oleh Balitbang Pusat Kurikulum Kemendiknas. Pendidikan karakter versi Sumatera Barat ini bertolak dari nilai-nilai Pancasila dan ABS-SBK (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah). ABS-SBK itu sendiri terdiri dari nilai-nilai agama (baca: Islam) dan budaya (Minankabau).&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;ilai-nilai pancasila dimaksud mengacu pada nilai-nilai karakter bangsa yang dikembangkan oleh Balitbang Puskur Kemendiknas yang berjumlah 18 nilai. Sedangkan nilai-nilai ABS-SBK merupakan pengembangan sekaligus ciri khas pola pendidikan karakter versi Sumatera Barat yang bersumber dari nilai-nilai karakter yang populer dalam ajaran Islam, lalu nilai-nilai budaya Minangkabau yang telah lama tumbuh-berkembang di tengah-tengah masyarakat. &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;engembangan nilai ini sempat mendapat kritikan beberapa pihak karena dianggap bersifat ekslusif pada umat Islam dan masyarakat Minangkabau saja, lalu dikhawatirkan terjadinya diskriminasi terhadap kelompok lain. Namun, filosofi ABS-SBK demikian mengakar kuat dalam tradisi dan kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Jika tidak dilakukan upaya pelestarian dan penerapannya, khususnya lewat proses pendidikan, maka ia hanya slogan jadi kenangan. Jika itu terjadi, maka masyarakat Sumatera Barat sendiri yang justru menjadi korban, luntur dan tercerabut dari budaya aslinya sendiri.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;O&lt;/b&gt;leh karena itu, pengembangan nilai-nilai ABS-SBK bukanlah diskriminatif dan ekslusif. Nilai-nilai ABS-SBK tersebut bersifat universal yang berlaku bagi setiap orang yang menginginkan menjadi pribadi berkarakter, berbudaya dan berperadaban tinggi.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;ilai-nilai ABS-SBK tersebut tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai kelompok pertama, tetapi merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Antara nilai-nilai pada tiga kelompok tersebut (Pancasila, Agama dan Budaya) disinkronisasikan, bukan dipertentangkan. &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;ilai kepedulian sosial, misalnya, dapat disinkronkan dengan nilai ta’awun (tolong-menolong) dalam Islam, nilai bahambauan-baimbauan (kaba buruak bahambauan, kaba baiak baimbauan) dalam budaya Minangkabau. Begitu pula nilai disiplin, dalam agama dikenal nilai istiqamah dan taat, sedangkan pada budaya Minangkabau dikenal nilai taguah (Mamacik arek mamegang taguah; Diasak indak layua dibubuik indak mati). Demikian seterusnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;dapun bentuk penerapan dan pengembangan pendidikan karakter tersebut, secara garis besar dilakukan melalui tiga hal, yaitu melalui integrasi pada semua mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Integrasi Nilai Karakter&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;I&lt;/b&gt;ntegrasi nilai karakter pada semua mata pelajaran dilakukan dalam kegiatan intrakurikuler. Integrasi yang dimaksud adalah mamasukkan dan menanamkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Ada tiga bentuk pelaksanaan integrasi ini, yaitu perilaku dalam pembelajaran, internalisasi nilai-nilai dan integrasi Imtaq.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;erilaku dalam pembelajaran adalah sikap dan tingkah laku guru dalam kelas ketika berinteraksi/berkomunikasi dengan peserta didik. Guru mesti menjadi teladan, model, atau tokoh identifikasi yang berkarakter bagi peserta didiknya. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam upaya ini, di antaranya: memasuki ruang kelas dengan membaca salam, mengawali pembelajaran dengan basmalah dan doa, komunikasi verbal dan nonverbal yang santun, membiasakan kalimat-kalimat tayyibah, mengedepankan penghargaan, serta menutup pembelajaran dengan hamdalah dan doa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;I&lt;/b&gt;nternalisasi nilai-nilai dalam pembelajaran dilakukan dengan memasukkan dan menanamkan nilai-nilai karakter yang relevan dengan materi ajar. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah: silabus yang sudah disusun dianalisis untuk dapat mengintegrasikan/memasukan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan tuntutan SK, KD; hasil analisis silabus disinkronkan ke dalam RPP yang tergambar pada fase apersepsi, kegiatan inti, dan penutup; pada kegiatan inti tergambar penanaman nilai pada setiap fase (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi); lalu setiap pemberian tugas kepada peserta didik agar selalu mengupayakan penanaman nilai-nilai.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;I&lt;/b&gt;ntegrasi Imtaq dalam materi pembelajaran dilakukan dengan menerapkan kembali konsep integrasi Imtaq dan Iptek yang pernah populer di akhir tahun 1990-an dan di awal tahun 2000. Yang terpenting dalam langkah ini adalah mengintegrasikan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama dalam konsep Imtaq. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: analisis materi yang relevan dengan ayat-ayat al-Qur’an; pembelajaran dihubungkan dengan ayat-ayat al-Qur’an/Hadis yang dapat dilakukan pada pendahuluan (motivasi), kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi), atau penutup (refleksi dan penugasan); lalu menguatkan implementasi dari nilai-nilai karakter yang ada.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Pengembangan Diri&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;ebagai salah satu kegiatan penting di sekolah, pengembangan diri juga menjadi wadah untuk penanaman nilai-nilai karakter pada peserta didik. Paling tidak, pengembangan diri ini dilakukan melalui kegiatan layanan konseling, mentoring, ekstrakurikuler dan kegiatan tidak terprogram. &lt;b&gt;P&lt;/b&gt;ada kegiatan layanan konseling, dilakuan internalisasi nilai-nilai karakter pada bimbingan pribadi, sosial, belajar, karir, dan kehidupan keluarga serta melalui pelaksanaan jenis layanan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;egiatan ekstrakurikuler mesti memenuhi tiga kelompok utama, nasional, agama, dan budaya Minangakabu. Pada bidang nasional, bisa dilaksanakan Pramuka, PBB, UKS, PMR, KIR, OSN, Olahraga, Seni, dan sebagainya. Pada bidang agama, dapat diselenggarakan kegiatan Ekskul berupa Tahfizh al-Qur’an, Tahsin al-Qur’an, Sahr al-Qur’an, Tilawah al-Qur’an, Pelatihan Khutbah Jumat, Kaligrafi, Nasyd, ROHIS, Forum an-Nisa’, dan lainnya. Sedangkan pada bidang budaya Minangkabau, bisa dikembangkan Ekskul Randai, Silek, Salawaik Dulang, Dikia, Pidato Adaik, Kuliner Minang, Tari Minang, dan seterusnya.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;ada kegiatan tidak terprogram, mengacu pada kegiatan rutin, spontan, keteladanan, dan pengkondisian. Pada kegiatan rutin, dilakukan beberapa kegiatan, di antaranya: Upacara bendera setiap hari senin, shalat zhuhur berjamaah, shalat dhuha 20 menit pada jam istirahat, tausiyah/Muhadharah setiap hari Jumat pada jam pertama, tadaruih al-Qur’an sebelum pembelajaran pertama, membaca asmaul husna dan doa pada hari tertentu, mengumpulkan infaq untuk kegiatan keislaman setiap hari jumat, menginformasikan kegunaan infaq yang telah digunakan, mengumpulkan sumbangan bencana alam sekali seminggu, kebersihan kelas setiap pagi sebelum masuk kelas (kebersihan lingkungan), senam pagi setiap hari sabtu, layanan kesehatan di UKS, dan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;ada kegiatan spontan, bisa pula dilakukan hal-hal berikut: mengucapkan Assalamu’alaikum setiap bertemu, membudayakan 5S (senyum, sapa, salam, santun, dan sopan) setiap bertemu, menjenguk teman yang sakit jika ia sakit, memungut sampah dan membuangnya pada tempat yang disediakan, antri jika menunggu sesuatu, bertakziyah ke rumah duka jika ada keluarga dekat (terutama orang tua) siswa yang meninggal dunia, sujud syukur ketika memperoleh nikmat atau terhindar dari bahaya, mengumpulkan sumbangan untuk bantuan korban bencana alam, dan seterusnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;egiatan keteladanan bisa melakukan beberapa kegiatan, di antaranya: saling mendoakan, berpakaian rapi dan menutup aurat, berbahasa yang baik dan sopan, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, disiplin dan tepat waktu, malu melanggar peraturan (terlambat, mencontek, dan sebagainya) dan sebagainya.&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;edangkan kegiatan pengkondisian, dapat dilakukan melalui kegiatan: menyediakan tempat bersuci (thaharah) dan tempat ibadah yang representative, membuat tempat sampah sesuai kebutuhan, memfasilitasi tempat bermain yang kondusif, menyiapkan fasilitas olahraga, menyediakan kantin yang higienis, serta menciptakan lingkungan yang ASRI (Asli, Sejuk, Rindang, dan Indah).&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;egiatan yang paling menarik lagi dalam pendidikan karakter versi Sumatera Barat ini adalah kegiatan Mentoring yang dilakukan secara intensif dan kontiniu. Dalam hal ini, setiap guru akan menjadi mentor bagi beberapa peserta didik dalam kelompok kecil. Adapun langkah-langkah kegiatannya adalah setiap guru bertindak sebagai mentor dan setiap mentor melayani 10 – 12 siswa. Mentor juga melakukan anekdotal record (mencatat nilai-nilai karakter siswa yang dikembangkan) dengan kategori penilaian BT  (Belum Terlihat), MT (Mulai Terlihat), MK (Mulai Berkembang), dan MB (Mulai Membudaya).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;emudian mentor menjalankan fungsi BK, memberikan perhatian pada permasalahan siswa, mengembangkan keislaman siswa (terutama 5S [senyum, salam, sapa, sopan dan santun], shalat dan baca al-Qur’an), menjadi motivator dan kontrol dalam pengembangan siswa, dan anggota kelompok mentoring mesti sejenis (laki-laki dengan laki, atau sebaliknya) dibimbing oleh mentor yang sejenis pula. Jika tidak memungkinkan, mentor perempuan dapat membimbing siswa laki-laki, tetapi mentor laki-laki hanya membimbing siswa laki-laki saja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;egiatan mentoring ini akan efektif dilakuan jika semua guru ikhlas dan sungguh-sungguh menjalankan program ini. Bukan justru menganggapnya sebagai beban dan pekerjaan baru yang memberatkan. Guru diharapkan bertindak semacam orang tua asuh bagi peserta didik yang ada dalam kelompok kecil tersebut sehingga guru tersebut mendidik dan memperhatikan siswa dalam kelompoknya sebagaimana ia memperlakukan anak kandungnya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Budaya Sekolah&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;B&lt;/b&gt;udaya sekolah merupakan upaya menciptakan suasana kondusif dalam lingkungan sekolah sehingga memudahkan penanaman karakter bagai peserta didik dan seluruh warga sekolah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;U&lt;/b&gt;ntuk menciptakan budaya sekolah ini, dapat dilakukan beberapa hal, di antaranya: menentukan skala prioritas nilai karakter yang akan dikembangkan/dibudayakan di sekolah, menyusun dan menetapkan regulasi/aturan sekolah untuk penerapan nilai-nilai karakter, menyusun dan mentapkan kode etik guru dan siswa yang bercirikan karakter Bangsa dan ABS-SBK, dan membuat komitmen tertulis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;D&lt;/b&gt;emikian gambaran umum konsep pendidikan karakter yang dikembangkan di sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sumatera Barat. Kuunci utama dalam keberhasilan pendidikan karakter ini sebenarnya terletak pada guru itu sendiri. Seorang guru mesti berkarakter sehingga mudah diterima dan ditiru oleh peserta didikanya. Tanpa keteladanan dari seorang guru, maka pendidikan karakter akan mengalami nasib yang sama dengan program-program sebelumnya yang hilang begitu saja seiring dengan terhentinya pelatihan dan bantuan-bantuan yang bersifat material.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;D&lt;/b&gt;emikian pula kepala sekolah, merupakan orang pertama yang diharapkan mampu mengorganisir dan memotivasi setiap guru untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan pendidikan karakter ini. Tanpa bantuan yang serius dari seorang kepala sekolah, maka kegiatan ini lagi-lagi hanya sebatas kegiatan tahunan yang dapat berubah kapan saja. Akibatnya karakter generasi kita sulit terbentuk dengan baik. &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;arena itu, mari kita berpikir bahwa kegiatan ini merupakan lahan ibadah yang mulia bagi kita untuk mendidik peserta didik yang berkarakter, berakhlak mulia, dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Sebab, ada kecenderungan selama ini kita lebih mengajar, bukan mendidik; lebih mementingkan kognisi, nyaris mengabaikan afeksi; mencerdaskan otak, melupakan hati (qalbu), padahal pendidikan sejatinya mengoptimalkan potensi peserta didik secara wajar dan seimbang. Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5640135748600550688?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5640135748600550688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5640135748600550688&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5640135748600550688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5640135748600550688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/12/pendidikan-karakter-versi-sumatera_25.html' title='Pendidikan Karakter Versi Sumatera Barat'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--cPnvgC_i2U/Tvcy0qXL-DI/AAAAAAAAAP0/Ta4FeJQg3-w/s72-c/15943_1206649638999_1011406122_30640575_6513911_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-1685571864601064809</id><published>2011-10-02T07:37:00.002+07:00</published><updated>2011-10-02T07:48:35.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Kiat Memelihara Ilmu</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terbit di Harian Republika, 29 September 2011&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”&lt;/span&gt; (Qs. Al-Mujadilah/58: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan sangat menentukan kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Dengan ilmu, harkat dan martabat seseorang bisa terangkat. Dan dengan ilmu pula seseorang mudah melakukan perubahan hidupnya ke arah yang lebih baik. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa ilmu menjadi syarat utama untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja tidak semua orang yang telah memperoleh ilmu mampu memeliharanya. Akibatnya ia termasuk kepada kelompok orang-orang yang lupa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ghafilun&lt;/span&gt;). Lupa yang dimaksud bisa dalam dua hal; pertama, lupa dalam bentuk ingatan sehingga apa yang telah ia ketahui dan pelajari tidak mampu ia kemukakan. Lupa jenis ini biasa terjadi pada seorang pelajar. Ia telah belajar di sekolah hingga di bangku kuliah, namun tidak semua ilmu yang ia peroleh dapat bertahan dalam ingatannya. Akibatnya, ia sulit mengembangkan dirinya di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, lupa dalam bentuk perilaku, yaitu tidak sesuai antara apa yang ia ketahui dengan apa yang ia lakukan. Singkatnya, ia menjadi lupa diri. Berilmu tapi tak beramal. Ilmu yang dimiliki tidak menjadi muatan nurani. Dan ia mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;split personality&lt;/span&gt; (kepribadian yang terpecah). Bisa jadi seseorang menguasai berbagai cabang keilmuan, memiliki sederatan gelar akademik, tetapi berindak kriminal, korup, dan tampil sebagai penentang ayat-ayat Tuhan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bentuk lupa akibat tidak terpeliharanya ilmu di atas menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki tidak memperoleh keberkahan. Karena itu perlu dilakukan berbagai upaya agar ilmu itu tetap terpelihara dan menjadi sikap batin yang mempengaruhi perbuatan seseorang.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pernah mengemukakan ada lima kiat yang harus dibiasakan seseorang agar ilmunya tetap terpelihara. Pertama, shalat malam walau hanya dua rakaat (shalatullaili walau rak’ataini). Daya ingat sangat dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi seseorang ketika menerima dan menyerap ilmu pengatahuan. Jika tingkat konsentrasinya tinggi, maka ia akan mudah menyerap suatu ilmu. Konsentrasi itu perlu dilatih. Salah satu cara yang ditempuh untuk melatihnya adalah dengan membiasakan shalat malam pada waktu sepertiga akhir malam, sebab shalat membutuhkan kekhusyukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, shalat malam udara demikian segar dan baik untuk kesehatan. Ketika seseorang sujud di waktu tahajud, maka darah yang mengandung oksigen dari udara yang segar itu akan mengalir ke sel-sel syaraf otak. Hal ini akan berdampak positif terhadap kecerdasan otak itu sendiri. Tidak saja otak, qalbu pun memperoleh ketenangan dan terhindar dari penyakit-penyakiti hati. Semua ini akan mendorong seseorang untuk mampu memelihara ilmunya; untuk diingat dan diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, senantiasa dalam keadaan berwudhu’ (dawamul wudhu’). Setiap kali wudhu-nya batal, maka ia segera memperbaharuinya. Intinya, ia selalu memelihara kesucian dirinya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Secara lahiriyah, kebersihan dan kesucian jasmani akan menambah kebugaran dan kesehatan fisik. Kesehatan ini menjadi modal utama untuk mudah menerima dan memelihara ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kesucian rohani sangat mempengaruhi ingatan seseorang. Hal ini pernah dialami oleh Imam Syafi’i. ketika ia masih menjadi seorang pelajar, ia pernah mengeluh soal penyakit lupa ini kepada gurunya imam waqi'. Katanya dalam satu syair, "aku mengeluh kepada guruku (imam waqi) akan jeleknya hafalanku, maka guruku menasehati untuk meninggalkan maksiat. karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya Allah dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, senantiasa bertakwa baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi (at-taqwa fissirri wal ‘alaniyah). Takwa berarti tidak bermaksiat. Maksiat akan menutup hidayah Allah sehingga ilmu yang ia pelajari tidak terpelihara, sebagaimana yang dijelaskan imam Waqi di atas. Takwa juga berarti sikap berhati-hati. Seorang pelajar yang menuntut ilmu harus teliti dan berhati-hati dalam membaca, menelaah dan memperoleh ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Sikap takwa itu juga mesti dilakukan secara konsisten, baik di hadapan orang ramai, maupun dalam keadaan sunyi. Begitu pula sikap belajar, jika seseorang hanya tekun menuntut ilmu di saat banyak yang menyaksikan, maka ilmu yang ia pelajari tidak akan melekat dalam ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, memakan makanan yang bernilai takwa, bukan memenuhi keinginan syahwat (an ya’kula littaqwa la lisysyahawat). Makanan yang bernilai takwa adalah makanan yang halalan tayyiban. Halal berarti tidak dilarang secara syariat, sedangkan tayyib berarti baik untuk kesehatan sesuai dengan kondisi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika makanan yang dikonsumsi haram, baik zat atau cara memperolehnya, akan mengakibatkan rohaniah seseorang kotor dan berpenyakit. Itu sama artinya dengan bermaksiat, sebagaimana yang dijelaskan di atas. Imam al-Ghazali pun pernah berkata bahwa sesuap makanan yang haram dikonsumsi seseorang akan menjadi darah yang mengalir ke otaknya sehingga otaknya cenderung berpikir kepada hal-hal yang diharamkan. Akibatnya, ilmu yang merupakan cahaya Allah (nur Allah) akan terhijab karena haramnya makanan tersebut. Sebaliknya, jika makanan itu tidak bergizi, maka daya tahan tubuhnya akan mudah terserang penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, bersiwak. Siwak artinya menggosok gigi, sehingga mulutnya bersih, sehat dan segar. Mulut menjadi organ tubuh yang turut terlibat dalam proses pencarian dan pengembangan ilmu. Bahkan transfer ilmu yang dilakukan dalam proses pembelajaran masih banyak yang menggunakan cara lisan di samping tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, siwak yang dimaksud tidak saja dalam artian fisik. Tetapi yang lebih penting lagi adalah membersihkan lidah dari perkataan-perkataan yang kotor, menyakitkan orang lain dan tidak berfaedah. Tegasnya, orang yang berilmu akan semakin bertambah ilmunya jika ia mampu berkomunikasi dengan baik. Tanpa komunikasi yang baik maka ilmu pengetahuan akan sulit diperoleh dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima kiat di atas mesti dibiasakan oleh setiap orang yang menginginkan ilmunya terpelihara sehingga Allah mengangkat derajatnya. Tentu semua itu mesti dilandasi oleh iman yang kuat lagi mantap. Dengan begitu, maka terjadi sinergisitas antara iman, ilmu dan amal. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-1685571864601064809?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/1685571864601064809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=1685571864601064809&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/1685571864601064809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/1685571864601064809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/10/kiat-memelihara-ilmu.html' title='Kiat Memelihara Ilmu'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-3428336829404710821</id><published>2011-07-02T11:48:00.003+07:00</published><updated>2011-07-02T11:55:23.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>Pendidikan Karakter Berbasis al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iW00GGUcCgU/Tg6kbyqAmkI/AAAAAAAAAO0/-8ipxd7stQk/s1600/quran%2Bpendidikan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 196px; height: 155px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iW00GGUcCgU/Tg6kbyqAmkI/AAAAAAAAAO0/-8ipxd7stQk/s320/quran%2Bpendidikan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624613781993724482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terbit di Harian Singgalang, 17 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kunci keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah keagungan akhlak yang dimilikinya (Qs. Qalam/68: 4).  Dengan modal itu, maka beliau pun menjadi teladan/uswatun hasanah (Qs. Al-Ahzab/33: 21) bagi umatnya. Hanya dalam 23 tahun ia berhasil menjalankan misinya dalam menyempurnakan akhlak manusia (li utammima makaarim al-akhlaq) sehingga masyarakat jahiliyah berganti menjadi masyarakat madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana bentuk keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW itu? Pertanyaan ini juga pernaha dirasakan oleh para sahabat sehingga di antara mereka ada yang bertanya kepada Siti A’isyah. Istri Nabi Muhammad ini pun menjawab: kana khuluquhu al-Qur’an, akhlaknya adalah al-Qur’an (HR. Abu Dawud dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah karakter Nabi Muhammad SAW. Ia laksana al-Qur’an berjalan. Dengan al-Qur’an itu pula ia mendidik para sahabatnya sehingga memiliki karakter/akhlak yang begitu kuat. Sahabat-sahabat yang berkarakter berbasis al-Qur’an tersebut menjadi modal utama dalam membangun masyarakat berperadaban tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari keberhasilan Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mendidik karakter manusia, terutama yang mengaku Islam sebagai agamanya, mesti berdasarkan kepada al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, pendidikan karakter menjadi tema hangat untuk diterapkan melalui lembaga pendidikan formal. Bahkan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum telah merumuskan program “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” atau disingkat dengan PBKB, sejak tahun 2010 lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses PBKB, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. Dan dalam program tersebut, terdapat 18 nilai yang dikembangkan, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung-jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini patut direspon oleh masyarakat, terutama praktisi pendidikan dan stakeholder yang terkait. Namun, konsep PBKB masih bersifat umum sehingga masih membutuhkan ide-ide kreatif dalam pengembangannya. Di era otonomi ini, pemerintah daerah, termasuk sekolah, sesungguhnya memperoleh peluang yang besar untuk mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhannya, termasuk mengembangkan konsep pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku umat Islam yang meyakini al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, sejatinya memanfaatkan peluang ini. Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah termasuk sekolah umum yang terdapat di dalamnya—apalagi mayoritas—siswa beragam Islam, seyogyanya merumuskan konsep pendidikan karakter berbasis al-Qur’an. Sebab secara teologis, mustahil seorang muslim yang mengabaikan al-Qur’an memiliki karakter atau akhlakul karimah sebagaimana yang diinginkan dalam ajaran Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis, jika lembaga pendidikan tidak memberikan kesempatan bagi peserta didik muslim untuk memahami al-Qur’an sekaligus menjadi acuan dalam membentuk karakternya. Akibatnya, mereka akan menjadi manusia yang mengakui Islam sebagai agamanya, tetapi karakternya tidak sesuai tuntunan al-Qur’an. Keberadaan mereka justru merusak nama baik Islam itu sendiri. Untuk itu, sikap kebergamaan kita harus tersentuh menyikapi persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat pendidikan karakter itu sendiri adalah penanaman nilai, membutuhkan keteladanan dan harus dibiasaan, bukan diajarkan. Jika dalam konsep PBKB yang disusun oleh Puskur terdapat 18 nilai, maka dalam perspektif al-Qur’an jauh melebihi angka tersebut. Namun untuk memudahkan penanaman nilai tersebut, perlu dirumuskan secara sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak nilai-nilai itu bisa dikelompokkan dalam empat hal. Pertama, nilai yang terkait dengan hablun minallah (hubungan seorang hamba kepada Allah), seperti ketaatan, keikhlasan, syukur, sabar, tawakal, mahabbah, dan sebagainya. Kedua, nilai hablun minannas, yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia, seperti tolong-menolong, empaty, kasih-sayang, kerjasama, saling mendoakan dan memaafkan, hormat-menghormati, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, nilai yang berhubungan dengan hablun minannafsi (diri sendiri), seperti: kejujuran, disiplin, amanah, mandiri, istiqamah, keteladanan, kewibawaan, optimis, tawadhu’, dan sebagainya. Dan keempat, nilai hablun minal-‘alam (hubungan dengan alam sekitar), seperti: keseimbangan, kepekaan, kepeduliaan, kelestarian, kebersihan, keindahan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Nilai-nilai tersebut mesti dikembangkan lebih lanjut dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an itu sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas, kompleks dan aplikatif jika dibandingkan dengan nilai-nilai yang muncul dari hasil pikiran manusia. Misalnya, nilai istiqamah jauh lebih luas dari nilai komitmen dan konsisten. Begitu pula makna ikhlash jauh lebih mendalam dibandingkan dengan makna rela berkorban. Bahkan istilah akhlak pun jauh lebih kompleks dibanding dengan istilah moral dan etika. Dan masih banyak contoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bentuk pelaksanaannya, bisa menyesuaikan dengan konsep pengembangan pendidikan karakter sebagaimana yang disusun oleh Puskur. Beberapa nilai yang telah dirumuskan dapat dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler atau pengembangan diri dan budaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kegiatan intrakurikuler, nilai-nilai tersebut harus dirumuskan dalam bentuk “Indikator Penanaman Nilai” oleh guru dalam rencana pembelajarannya untuk diintegrasikan dengan materi tiap mata pelajaran. Dengan begitu tak satu pun materi yang bebas dari nilai. Selain itu, proses pembelajarannya pun sebaiknya diintegrasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal ini, ayat-ayat al-Qur’an akan menjadi basis terhadap suatu ilmu sehingga siswa tidak saja memperoleh pengetahuan, tetapi diharapkan memperoleh keberkahan dari ilmu itu sendiri.&lt;br /&gt;Pada kegiatan ekstrakurikuler, mesti dikembangkan kegaitan-kegiatan yang relevan dengan nilai-nilai al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan yang bertentangan, seperti kegiatan yang memperlihatkan aurat, pelaksanaan kegiatan yang mengabaikan waktu shalat, dan sebagainya mestilah ditinggalkan. Sebaliknya, kegiatan-kegaitan yang langsung bersentuhan dengan al-Qur’an mesti menjadi prioritas. Misalnya, Tahsin Qur’an, Tilawah al-Qur’an, Tahfizh al-Qur’an, Seni Kaligrafi, Muhadharah, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penanaman nilai pada budaya sekolah harus dirumuskan dalam bentuk beberapa aturan sehingga terjadi proses pembiasaan dan pembudayaan. Seperti tadarus di awal pembelajaran, setiap guru membuka pelajaran dengan membaca surat-surat pendek, membudayakan ucapan salam, mengedepankan keteladanan, malu melanggar peraturan, menjalin interaksi dengan kasih sayang, menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam hal ini, pemberian reward (penghargaan) lebih dikedepankan dari pada punishment (hukuman).&lt;br /&gt;Proses pembelajaran al-Qur’an pun harus dilakukan secara kontiniu dan sistematis. Peserta didik harus dibimbing untuk membaca, memahami dan berupaya untuk mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an. Peserta didik juga dituntut untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya (hatinya) tidak ada bacaan Al-Qur`an (yakni tidak memiliki hafalannya) ibarat sebuah rumah yang hendak roboh. (HR. At-Tirmidzi, dan lainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja upaya dari sekolah, orang tua di lingkungan rumah tangga, menjadi pelopor utama dalam pembentukan karakter berbasis al-Qur’an. Orang tua juga dituntut untuk menanamkan kecintaan terhadap al-Qur’an kepada anak-anaknya sedini mungkin. Itu sebabnya seorang ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk banyak membaca al-Qur’an. Kelak si anak telah pandai membaca al-Qur’an, orang tua pun diminta untuk tadarus bersama anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tepat kebijakan Kementerian Agama RI tentang program “Gemmar (Gerakan Maghrib) Mengaji”. Dan program ini sejatinya didukung oleh para orang tua. Demikian halnya masyarakat, diharapkan berperan aktif mengkaji al-Qur’an dan berupaya untuk menjadikannya sebagai karakter diri dan masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekolah mau dan bertekad menjadikan al-Qur’an sebagai basis dari pelaksanaan pendidikan karakter, maka niscaya ketenangan dan keberkahan akan dilimpahkan Allah kepada mereka. Sabdanya: Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Azza wa Jalla untuk membaca Kitabullah (Al-Qur`an) dan mereka saling mempelajarinya kecuali sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, majlis mereka penuh dengan rahmat dan para malaikat akan mengelilingi (majlis) mereka serta Allah akan menyebutkan mereka (orang yang ada dalam majlis tersebut) di hadapan para malaikat yang di sisi-Nya (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Kini, dibutuhkan niat, dukungan, dan komitmen dari berbagai pihak yang masih mengakui al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya; baik dari kalangan pemerintah, kaum intelektual, praktisi pendidikan, orang tua dan masyarakat untuk merumuskan pendidikan karakter berbasis al-Qur’an. Jika tidak, maka al-Qur’an hanya sebagai hiasan lemari dan tercerabut dari hati sanubari. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-3428336829404710821?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/3428336829404710821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=3428336829404710821&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/3428336829404710821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/3428336829404710821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/07/pendidikan-karakter-berbasis-al-quran.html' title='Pendidikan Karakter Berbasis al-Qur’an'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iW00GGUcCgU/Tg6kbyqAmkI/AAAAAAAAAO0/-8ipxd7stQk/s72-c/quran%2Bpendidikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5641389864669839944</id><published>2011-06-15T11:00:00.002+07:00</published><updated>2011-06-15T11:09:24.512+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>Pendidikan al-Qur’an yang Memprihatinkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7dkC3I8qFOA/TfgwV8kFfBI/AAAAAAAAAOs/JcDi8p3ASs0/s1600/Quran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 224px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7dkC3I8qFOA/TfgwV8kFfBI/AAAAAAAAAOs/JcDi8p3ASs0/s320/Quran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5618293688737561618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhamad Kosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan al-Qur’an menjadi kebijakan pemerintah propinsi Sumatera Barat di tingkat sekolah umum: SD, SMP, SMA dan SMK. Tidak tanggung-tanggung, kebijakan tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2007 tentang Pendidikan al-Qur’an. Dalam Perda tersebut ditegaskan bahwa pendidikan al-Qur’an dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal di tingakt SD, SMP, SMA dan SMK (pasal 6). Sejak tahun 2008 pula, pemerintah daerah propinsi Sumbar menunjuk sekolah piloting pendidikan al-Qur’an di 19 kota/kabupaten masing-masing satu sekolah dari tingkat SD, SMP hingga SMA dan SMK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai di situ, Perda tersebut juga ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur Propinsi Sumatera Barat Nomor 70 Tahun 2010 tentang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan al-Qur’an dan Pergub Nomo 71 tentang Petunjuk Pelaksanaannya. Pada pasal 1 ayat (2) ditegaskan pula bahwa “Kurikulum pendidikan al-Qur’an berlaku untuk seluruh wilayah Propinsi Sumatera Barat dengan alokasi waktu minimal dua jam pelajaran per minggu”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum tersebut telah terlaksana dalam tiga tahun terakhir. Namun dalam pelaksanaannya sungguh memprihatinkan. Seakan Perda dan Pergub tersebut tinggal di atas kertas tanpa pengawalan/supervisi pelaksanaan yang ketat. Hanya sejumlah kecil kota/kabupaten yang merespon positif kebijakan tersebut. Kota Padang Panjang merupakan kota yang paling pertama mengangkat CPNS formasi guru Pendidikan al-Qur’an, lalu diikuti oleh beberapa kota/kabupaten lainnya, seperti Dharmasraya, Solok, Pariaman, Pesisir Selatan, dan lainnya. Tetapi beberapa kota/kabupaten lainnya kurang memperhatikan kurikulum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih memprihatinkan lagi, masih teradapat sekolah yang ditetapkan sebagai piloting dan diberi bantuan dana justru menerapkan pendidikan al-Qur’an hanya sebagai program pengembangan diri atau ekstrakurikuler. Akibatnya, hanya sedikit siswa yang mengikutinya karena program ekstrakurikuler biasanya dianggap sebagai kegiatan minat siswa. Selain itu, ada pula sekolah piloting tersebut menerapkannya sebagai muatan lokal, tetapi hanya 1 jam. Padahal pelaksanaannya minimal 2 jam per minggu. Sejatinya sebagai sekolah piloting mesti menerapkannya sebagaimana yang direncanakan sehingga dapat dievaluasi kelebihan dan kekurangannya. Apalagi sekolah piloting merupakan contoh bagi sekolah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan, justru penulis temukan beberapa kasus yang saling menyalahkan. Terdapat pernyataan guru menyalahkan kepala sekolahnya yang tidak bersedia menyediakan jam untuk pendidikan al-Qur’an tersebut. Kepala sekolah ada pula yang menyalahkan guru yang tidak berjuang di garda depan dalam menerapkannya. Tidak itu saja, kepala dinas pendidikan tingkat kota/kabupaten pun sering disebut-sebut bertanggung jawab atas kurang terlaksananya program tersebut di lapangan; dengan alasan tidak ada surat edaran atau sejenis instruksi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan dukungan dari masyarakat, pendidikan al-Qur’an jarang terdengar menjadi topik pembicaraan, terutama di media massa. Berbeda halnya dengan program pendidikan lainnya, seperti Sekolah Bertaraf Internasional, Ujian Nasional, Pendidikan Karakter, begitu gencar dibicarakan dan didiskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Mencari Kambing Hitam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi kondisi ini cukup memilukan hati kita sebagai umat Islam. Seakan umat tidak lagi bangga dan tidak butuh dengan al-Qur’an. Padahal, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal seyogyanya tidak saja bertanggung jawab mendidik kognitif anak. Tetapi juga bertanggung jawab untuk mendidik sikap keberagamaan mereka sehingga menjadi peserta didik yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan saling menyalahkan dan mencari kambing hitam. Berbuatlah sesuai dengan tugas dan kapasitas kita masing-masing. Seandainya orang yang memperjuangkan pentingnya pendidikan al-Qur’an itu hanya 100 orang, maka kita masuk ke dalam kelompok itu. Jika yang tinggal hanya 10 orang, kita pun berada di dalamnya. Bahkan, seandainya cuma tinggal satu orang, maka kitalah yang satu itu. Demikian sejatinya prinsip masing-masing pribadi seorang muslim dalam memperjuangkan al-Qur’an di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya umat Islam bangun dan bangkit dari tidurnya yang panjang dengan kembali mempelajari al-Qur’an. Mempelajari al-Qur’an tidak saja tugas para santri, siswa madrasah, tokoh agama atau alim ulama, tetapi menjadi tugas dan kewajiban setiap manusia yang mengakui Islam sebagai agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pihak diharapkan mendukung pendidikan al-Qur’an, mulai dari rumah tangga, sekolah hingga kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Tidak saja pemerintah, lembaga dan organisasi kemasyarakatan pun diharapkan berperan aktif. MUI, Muhammadiyah, NU, Tarbiyah Islamiyah, dan Forum-forum dakwah serta ormas lainnya sejatinya turut aktif menyuarakan pentingnya pelaksanaan pendidikan al-Qur’an. Begitu pula partai-partai politik, terutama yang memakai nama agama (baca: Islam) dalam visi misinya, mana suaramu menyerukan pentingnya pelaksanaan pendidikan al-Qur’an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pendidikan al-Qur’an tidak lagi dipelajari, maka al-Qur’an hanya menjadi kitab hiasan di lemari. Akibatnya, umat akan berada dalam kesesatan, hidup di bawah cengkraman syetan, dan jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Firman-Nya: Barangsiapa yang berpaling (mengabaikan) dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (al-Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Qs. Az-Zukhruf/43: 46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, gejala mengabaikan al-Qur’an sudah demikian nyata di tengah-tengah masyarakat kita. Selain kasus di atas, perlu melakukan intropeksi bagi diri kita masing-masing, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an. Beda halnya ketika membaca koran, buku-buku bisnis dan hal-hal yang mendukung profesi keduniaan lainnya begitu serius kita membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini terus berlanjut, maka umat akan terus berada dalam keterpurukan. Sebab, jika umat meninggalkan al-Qur’an ia akan terbelakang. Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan umat Islam di masa keemasan dimotivasi oleh al-Qur’an. Sejumlah ilmuan sains di masa itu justru mencintai al-Qur’an. Sebut saja Ibn Sina, misalnya, di usia 11 tahun ia telah hafal al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gemar Mengaji al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain dari Perda dan Pergub di atas, di akhir Mei lalu, Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat juga meluncurkan program “Gemar (Gerakan Maghrib) Mengaji”. Program ini juga ditegaskan oleh Menteri Agama RI, Surya Dharma Ali pada Pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an Nasional  (STQN) ke XXI di Banjarmasin, Sabtu (5/6) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini patut didukung oleh umat Islam. Betapa bahagianya suatu keluarga, meski sederhana, tetapi ayat-ayat al-Qur’an dibacakan di dalam rumahnya sehingga rumah tersebut bercahaya dan mendapat rahmat dan berkah dari Allah SWT. Sabda Nabi SAW: "Sinari rumah-rumahmu dengan shalat (sunat) dan membaca Al-Qur'an" (HR. Baihaqi dari Anas ra.).&lt;br /&gt;Tidak itu saja, orang tua akan memperoleh nikmat yang besar jika ia mendidik anaknya untuk membaca dan mengamalkan al-Qur’an. Sabdanya: Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkannya, maka -pada hari kiamat- akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang berkilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari, maka keduanya berkata: “Mengapa kami diberi mahkota ini? Maka dikatakan: “Karena anakmu mengambil (membaca dan mengamalkannya) al-Qur`an”. [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, meski rumah itu mewah tetapi ayat-ayat al-Qur’an tidak pernah dibacakan, maka rumah itu laksana kuburan, gelap dan jauh dari rahmat Allah. Hal ini tersirat dalam sabda Rasulullah SAW: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian laksana kuburan. Sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah” (HR. Muslim nomor 280).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, itu pulalah yang mengakibatkan sering terjadinya ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Padahal keluarga merupakan cerminan dari suatu bangsa. Ketika keluarga-keluarga itu baik, harmonis dan mencintai al-Qur’an maka jelas akan menimbulkan efek positif bagi masyarakat sekitarnya hingga terbentuk suatu Negara yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, al-Qur’an kerap kali hanya jadi hiasan di lemari. Ia hanya digunakan ketika acara pernikahan atau adanya kematian di rumah tersebut. Memprihatinkan memang. Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5641389864669839944?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5641389864669839944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5641389864669839944&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5641389864669839944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5641389864669839944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/06/pendidikan-al-quran-yang-memprihatinkan.html' title='Pendidikan al-Qur’an yang Memprihatinkan'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7dkC3I8qFOA/TfgwV8kFfBI/AAAAAAAAAOs/JcDi8p3ASs0/s72-c/Quran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-8093411325296020455</id><published>2011-05-23T13:45:00.001+07:00</published><updated>2011-05-23T13:47:22.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Narkoba dalam Perspektif Islam</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbit di Harian Haluan, 6 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Narkoba semakin marak di tengah-tengah masyarakat, meskipun hukuman yang diberikan demikian berat. Dari tahun ke tahun penyalahgunaannya terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara medis, Narkoba jelas merusak kesehatan, bahkan dapat menyebabkan kematian. Lalu bagaimana dalam pan­dangan agama?Dalam perspektif Islam, Narkoba termasuk dalam kate­gori khamr. Meskipun dalam arti sempit, khamar sering dipahami sebagai minuman keras, arak, atau sejenis minu­man yang memabukkan. Karena itu sebagian ulama klasik mengartikan khamar adalah minuman yang memabukkan, atau minuman yang bercampur dengan alkohol. Paling tidak, khamar seperti ini yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Jahiliyah pra-Islam. Bahkan Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar menjelaskan, tidak kurang dari 250 istilah yang mereka gunakan untuk menyebutkan istilah-istilah khamar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam artian luas, khamar tidak saja berupa minuman atau sesuatu yang mengandung alkohol. Rasu­lullah SAW menegaskan bahwa “Setiap zat yang memabukkan itu khamar dan setiap zat yang memabukkan itu haram” (HR. Bukhari dan Muslim). Pada hadis lain juga disebutkan bahwa “Sesuatu yang banyaknya mema­bukkan maka sedikitnya pun haram”. (HR. Ahmad dan Abu Daud). Dari penjelasan hadis ini, dapat dipahami bahwa khamar adalah zat yang mema­bukkan, baik ketika banyak maupun sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab juga menegaskan bahwa “al-Khamru ma khamara al-‘Aql”, khamar adalah sesuatu yang menutupi akal. Hal ini menunjukkan bahwa arti khamar itu sendiri adalah sesuatu yang menutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narkoba tentu masuk dalam kategori pengertian di atas, karena seseorang yang meng­gunakannya menyebabkan mabuk dan akalnya tertutupi atau tidak berfungsi. Dari pengertian ini, jelaslah bahwa Narkoba termasuk dalam kate­gori khamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dapat pula dike­mukakan bahwa secara seder­hana, khamar itu sendiri memi­liki dua ciri-ciri: pertama, zat yang apabila dikonsumsi seseo­rang dapat menyebabkan iskar atau memabukkan; kedua, zat yang memabukkan tersebut apabila dikonsumsi oleh orang yang normal. Disebut orang normal karena bisa jadi orang yang terbiasa mengkonsumi khamar tidak lagi mema­bukkan­nya. Lagi-lagi dari ciri-ciri ini, juga terdapat pada khamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika khamar diartikan secara sempit, yaitu sebagai minuman keras, maka narkoba jauh lebih bahaya dari minu­man keras tersebut. Apalagi pa­da masa sahabat, peminum kha­mar berupa minuman keras ter­sebut hanya dihukum dengan 40 hingga 80 kali cambuk. Sementara pengguna narkoba yang banyak menyebabkan kematian tersebut tentu lebih besar hukumannya. Bukankah Allah menegaskan: ….Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepa­damu. (QS. An-Nisa’/4: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ancaman bagi peng­guna khamar dalam Islam, ter­masuk Narkoba, sangatlah besar. Dalam surat al-Maidah ayat 90 disebutkan bahwa kha­mar adalah rijsun, yaitu sesuatu yang sangat jijik, kotor, hina dan sangat keji. Khamar juga terma­suk perbuatan syetan karena me­nyebabkan seseorang lupa pada dirinya, lupa pada tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, al-Faqih Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandy dalam kitab “Tanbiihul Ghafilin” menje­laskan, paling tidak ada 10 keburukan khamar, yaitu: (1) Pengkonsumsi khamar itu seperti orang gila dan menjadi bahan ketawaan anak-anak; (2) Menghabiskan harta dan meng­hancurkan akal; (3) Memicu per­musuhan antara saudara dan te­man sendiri; (4) Menghalangi seseorang mengingat Allah dan mendirikan shalat; (5) Mendo­rong seseorang berbuat zina, juga dapat memicu untuk menalak istrinya tanpa disadari; (6) Mengganggu malaikat penca­tat amal dengan membawa me­reka ke tampat maksiat; (7) Kun­ci segala kejelekan sebab de­ngan demikian orang mudah me­lakukan semua kemaksiatan, seperti sabdar Rasul SAW: Jauhilah olehmu khamar, se­sung­guhnya khamar itu adalah pintu segala kejahatan. (HR. al-Hakim);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, (8) Berhak men­dapat dera 80 kali di dunia. Jika tidak di dunia akan dilang­sungkan di akhirat dengan ce­meti api di depan semua umat manusia; (9) Pintu langit menolak pengkonsumsi khamar. Doanya tidak dikabulkan dan amalnya tidak diangkat ke langit selamat 40 hari; (10) Mem­bahayakan diri sendiri, yaitu dilepaskannya iman ketika mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bahaya terakhir di atas juga sesuai dengan sabda Ra­sulullah SAW: “Siapa saja yang mi­nur khamar, maka Allah ti­dak akan ridho kepadanya se­lama empat puluh malam. Bila ia mati saat itu, maka matinya da­lam keadaan kafir. Dan bila ia bertobat, maka Allah akan menerima tobatnya. Kemudian jika ia mengulang kembali, maka Allah memberinya minu­man dari “thinatil khabail”, (Asma bertanya, “Ya Rasu­lullah, apakah thinatil khabali itu?. (Rasulullah) menjawab, “Darah bercampur nanah ahli neraka. (HR Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak saja melarang mengkonsumsi khamar, tetapi dalam hadis Rasulullah SAW dijelaskan ada 10 golongan yang dilaknat terkait dengan khamar, yaitu: Nabi SAW melaknat sepuluh pihak yang berhubungan dengan khamar, yaitu orang yang (1) memeras/pembuat, (2) minta diperaskan, (3) me­minum/mengkonsumsi, (4) membawakan, (5) minta diba­wakan, (6) memberi minum dengannya, (7) menjual, (8) makan hasil penjualannya, (9) membeli, dan (10) yang dibe­likan. (HR. Turmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian besarnya bahaya Narkoba sehingga Rasulullah pun melaknat/mengutuknya. Tidak saja orang yang meng­konsumsinya, tetapi termasuk orang-orang yang terkait dengannya seperti hadis di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang harus dilaku­kan agar generasi kita terhindar dari Narkoba? Banyak hal yang dapat dilakukan, di antaranya adalah: pertama, mengetahui dan meyakini bahwa Narkoba sebagai bagian dari khamar dilarang dalam Islam. Jika dilaranggar larangan tersebut, maka Allah akan memberikan adzab yang pedih, baik di dunia berupa dampak negatif yang ditimbulkannya, terutama di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengetahui dan menyadari bahwa khamar lebih banyak dampak negatifnya dari pada positifnya; baik dari segi kesehatan maupun dampak sosial yang ditimbulkannya, seperti ketidaknyamanan masya­rakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membaca al-Qur’an dan berzikir secara terjadwal. Misalnya, membaca al-Qur’an setiap shalat shubuh dan Magh­rib, lalu berzikir selesai shalat. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi benteng bagi diri kita dari godaan-godaan syetan; termasuk mengkonsumsi kha­mar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, berteman dengan orang-orang shaleh. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa seseorang terjerumus pada Narkoba karena pengaruh teman. Oleh karena itu, pilihlah teman akrab yang shaleh sehing­ga kita ikut menjadi orang-orang yang shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah petuah orang bijak: Jika dekat dengan penjual minyak wangi, meskipun tidak kita beli, kita akan ikut wangi. Namun, jika di sekitarmu banyak teman yang suka bermaksiat, ber­juanglah untuk tidak terpe­ngaruh dengannya. Caranya per­kuat iman, perbanyak amalan sunnah. Perkataan bijak juga mengatakan: Jadilah seperti ikan di laut, meskipun air asin, tetapi ikan tersebut tidak ikut asin. Jadilah seperti belut, meskipun di sekitarnya banyak lumput, tetapi tubuhnya tak berlumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita harus waspada terhadap teman yang meng­gunakan narkoba. Bahkan Ra­sulullah SAW melarang duduk bersama orang-orang yang beserta mereka terdapat khamar. Sabdanya: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah duduk pada hidangan di suatu rumah yang terdapat khamar di dalamnya (HR. al-Bazzari dari Ibnu Umar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, kita patut meneladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat beliau meng­hukum cambuk kumpulan orang yang mengkonsumsi khamar, tiba-tiba ada informasi bahwa di antara mereka yang dihukum itu ada seorang yang tidak ikut minum, dia hanya ikut menemani saja, bahkan saat itu dia malah sedang puasa. Namun sang khalifah bukan menyelamatkannya, ia malah memutuskan bahwa semua harus dicambuk dan yang pertama kali dicambuk justru yang sedang puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab seharusnya dia me­larang teman-teman semejanya itu dari minum khamar, tapi dia malah mendiamkan saja. Padahal seandainya dia tidak mampu menghentikan pesta minuman keras itu, dialah yang wajib segera meninggalkan tempat itu, bukannya malah ikut menemani, meski sambil puasa. Maka jadilah dia yang dicambuk duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, mengisi waktu dengan kegiatan positif, seperti kelompok belajar, olah raga, dan sebagainya. Sebab, jika banyak waktu yang tidak terisi dengan kegiatan positif maka hal itu menjadi pintu syetan untuk menjurumuskan manusia kepada kegiatan-kegaitan yang dilarang agama. Dalam hal ini, perlu menemukan dan mengem­bangkan bakat dan minat yang kita miliki tetapi tidak berten­tangan dengan perintah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, keteladanan dan pendidikan yang benar dari orang tua sangat menentukan. Orang tua mesti memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak-anaknya. Sebab, banyak pula kasus yang menun­jukkan bahwa pengguna Narkoba justru berasal dari keluarga yang broken home. Begitu pula masya­rakat dituntut berperan aktif mencegah Narko­ba, sebagai penyakit masyarakat yang menim­bulkan dampak sosial yang negatif. Begitu pula pemerintah, terutama penegak hukum, harus adil dalam menegakan hukum.  Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-8093411325296020455?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/8093411325296020455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=8093411325296020455&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/8093411325296020455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/8093411325296020455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/05/narkoba-dalam-perspektif-islam.html' title='Narkoba dalam Perspektif Islam'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5788112864907781909</id><published>2011-05-21T14:39:00.002+07:00</published><updated>2011-05-21T14:43:17.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>SBI, Antara Cita dan Realita</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan sa&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-oqht7550eHE/Tdds77U9uDI/AAAAAAAAAOY/CMOAPo1vM0M/s1600/rsbi.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-oqht7550eHE/Tdds77U9uDI/AAAAAAAAAOY/CMOAPo1vM0M/s320/rsbi.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609071637706946610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ya yang berjudul “SBI, Sekolah Bertaraf atau Bertarif Internasional”, Padek, Sabtu (17/3) mendapat tanggapan dari Mayonal Putra, “SBI, Dilanjutkan atau Dihentikan”, Padek, Sabtu (26/3). Lalu dua tulisan ini ditanggapi pula oleh Mora Dingin, “SBI, Diskriminasi Hak Atas Pendidikan”, Padek, Rabu (6/4) lalu. Bahkan tulisan terakhir ini juga dimuat di Haluan, Selasa (12/4) dengan judul dan isi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Mayonal Putra tidak memberikan jawaban yang tegas apakah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dilanjutkan atau tidak. Beliau justru menutup tulisannya dengan pertanyaan persis seperti judulnya. Tampaknya Mayonal lebih terpengaruh dengan pikiran Satria Dharma, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang menyampaikan pendapatnya teentang 10 utama kelemahan SBI dalam petisi pendidikan tentang SBI di hadapan anggota komisi X DPR RI, Selasa (8/3) lalu. Menurut Satria, “program SBI itu salah konsep, buruk dalam pelaksanaannya, dan 90 persen pasti gagal. Di luar negeri konsep ini gagal dan ditinggalkan” (Kompas, 9/3).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Mora Dingin justru berpendapat bahwa SBI merupakan bentuk diskriminasi terhadap warga Negara Indonesia dalam mendapatkan hak atas pendidikan. SBI juga dianggapnya jauh dari roh dalam menciptakan pemerataan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik terhadap penyelenggaraan SBI semakin mengemuka, terutama pascalaporan hasil survei Pusat Penelitian dan Kebijakan (Puslitjak) Balitbang Kemendiknas beberapa waktu lalu, yang mengemukakan beberapa temuan negatif tentang SBI. Temuan ini turut memicu kebijakan Kemendiknas menangguhkan kemunculan baru RSBI di tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, konsep SBI sesungguhnya berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dengan penyelenggaraan SBI, diharapkan siswa-siswa yang cerdas mendapat pelayanan pendidikan yang optimal sehingga kelak mereka memiliki daya saing di tingkat internasional. Adanya pengkhususan bagi siswa yang relatif memiliki kecerdasan tinggi bukanlah diskriminasi terhadap mereka yang ber-IQ rendah. Sebab keadilan tidak mesti sama rata. Tetapi, adanya kelas reguler kelas RSBI di sekolah yang sama, memang berpotensi terjadi diskriminasi. Anak-anak yang di kelas reguler bisa merasa “dianaktirikan” dibanding temannya di kelas RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk ditegaskan bahwa ada perbedaan kurikulum SBI dengan sekolah lainnya. Kurikulum SBI mendapat tambahan (+X) dari Standar Nasional Pendidikan (SNP). Kurikulum tambahan tersebut memasukkan beberapa materi yang digunakan oleh sekolah-sekolah terkemuka pada negara-negara anggota OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development). Di antara kurikulum yang disarankan adalah kurikulum yang dirancang oleh Cambrige untuk tiga mata pelajaran, Bahasa Inggris, Sains, dan Matematika. Jadi, di negara-negara maju, secara esensial juga menerapkan sekolah unggulan bagi siswa yang cerdas, tentu tidak menggunakan istilah ”SBI”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tingkat SMP yang telah SBI, akan mengikuti Cambridge Test yang bernama checkpoint untuk menguji kemampuan tiga mata pelajaran di atas. Jika mereka lulus, maka mereka bisa diterima di tingkat SMA terkemuka di negera-negara maju. Sementara tingkat SMA mengikuti tes yang bernama IGCSE (International General Certificates for Secondary Education). Hasil dari tes tersebut mendapat mengakuan di negara-negara maju tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, SBI sesungguhnya berupaya untuk menciptakan daya saing bagi siswanya di kancah internasional. Mereka dipersiapkan lebih unggul di bidang sains dan matematika. Karena itu, dibutuhkan input yang memiliki kecerdasan lebih untuk dapat menguasai bidang ini. Dengan begitu, sekolah-sekolah yang ada di negeri ini diharapkan memiliki keunggulan tersendiri, dan keunggulan SBI lebih kepada sains dan matematika. Maka tidak heran jika SBI selalu menjuarai olimpiade-olimpiade di bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sekolah-sekolah non-SBI juga diharapkan melejitkan keunggulan yang sesuai dengan karakter dan visi sekolahnya. Bisa unggul pada salah satu bidang olah raga, kesenian, termasuk agama. Bahkan pemerintah juga membina sekolah berbasis pesantren sebagai sekolah umum yang menginginkan keunggulan di bidang agama. Namun, model sekolah terakhir ini kurang mendapat respons dari masyarakat, tidak seperti SBI. Jadi tidak semua sekolah mesti menjadi SBI. Dan sekolah-sekolah non-SBI yang memiliki keunggulan tersendiri tersebut tidak akan terpinggirkan seperti yang dikhawatirkan oleh Mora Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, dibutuhkan pula kerja keras dan ide-ide inovatif dari masing-masing sekolah untuk membentuk karakternya sehingga ia tetap unggul dan tidak terpinggirkan. Apalagi sains dan matematika, seperti yang menjadi keunggulan SBI, bukanlah satu-satunya bidang keilmuan yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan. Keunggulan dari masing-masing sekolah tersebut tentu tidak keluar dari standar yang telah ditentukan, sebagaimana yang diatur dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena SBI unggul di bidang sains dan matematika, maka dalam proses pembelajarannya menggunakan bahasa Inggris. Apalagi kurikulumnya diadopsi dari sekolah-sekolah maju pada negara anggota OECD yang juga menggunakan pengantar bahasa Inggris. Selain itu, senang atau tidak, pengembangan bidang sains dewasa ini, termasuk referensi-referensi yang digunakan, lebih banyak berbahasa Inggris. Karena itu, sejak tingkat SMP, siswa dibekali bahasa Inggris yang baik, terutama pada mata pelajaran Sains, Matematika dan mata pelajaran TIK sebagai penunjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris tersebut, biasanya sekolah akan mengembangkan berbagai kegiatan penunjang. Misalnya memberlakukan English Day sekali atau dua kali seminggu, English Area, English Canteen dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penggunaan bahasa Inggris ini tidaklah seburuk apa yang dibayangkan oleh Mayonal Putra bahwa proses belajar-mengajar pada SBI telah merusak kompetensi berbahasa Indonesia. Sebab, pada mata pelajaran lain, tetap menggunakan bahasa Indonesia, seperti Agama, Bahasa Indonesia, IPS, Penjaskes, muatan lokal (seperti Budaya Alam Minangkabau) dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, konsep SBI tidaklah menghilangkan rasa cinta terhadap tanah air. SBI justru menginginkan agar out putnya memiliki kompetensi yang setara dengan lulusan pada sekolah terakreditasi di negara maju dan mereka mampu berkompetisi dengan tetap menampilkan keunggulan lokal di tingkat internasional. Karena itu pula SBI tetap dituntut untuk menerapkan apa yang disebut dengan ”Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL)” di samping ”Pendidikan Berwawasan Keunggulan Global (PBKG)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, konsep penyelenggaraan SBI tidak hanya ditujukan kepada orang-orang kaya. Tidak sedikit di antara siswanya yang miskin, memperoleh beasiswa pendidikan yang digunakan untuk uang transportasi, keperluan pakaian, buku dan kebutuhan lainnya. Karena itu tidak ada alasan bagi orang tua ”miskin” takut memasukkan anaknya ke sekolah berlabel SBI. Hanya saja batasan minimal 20 persen cenderung menimbulkan imej bahwa SBI identik sekolah orang kaya. Karena penulis mengusulkan biaya SBI tidak membedakan yang kaya dan miskin, jika perlu dihapuskan (Padek, 17/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konsep penyelenggaraan SBI tersebut, sejatinya memberikan optimisme terhadap penyelenggaraan pendidikan dengan melahirkan out put dan out comes yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Hanya saja, dalam realita (pelaksanaan)-nya terkadang tidak sesuai dengan konsep yang sesungguhnya. Ketidaksesuaian itu pulalah yang menyebabkan temuan Puslitjak Balitbang Kemendiknas menimbulkan keprihatinan, seperti SPP yang bertarif mahal, cenderung dikomersilkan, kemampuan bahasa Inggris guru rendah, dan seterusnya (lihat Padek, 15/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, tidak semua sekolah RSBI yang sedang berupaya mencapai SBI tersebut melenceng dari konsep di atas. Masih ditemukan beberapa RSBI yang konsisten dan berupaya untuk menerapkan sesuai aturan yang ditetapkan, sehingga siswa-siswa dari sekolah tersebut tetap mendominasi prestasi di berbagai bidang, terutama bahasa Inggirs, sains, TIK dan matematika, serta di terima di PT terkemuka baik dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kebijakan Mendiknas yang akan menangguhkan kemunculan RSBI baru di tahun ini tidak pula disesalkan, seperti yang dialami oleh beberapa kepala sekolah yang akan mengusulkan sekolahnya menjadi RSBI. Sebaiknya pemerintah diberi kesempatan untuk mengevaluasi dan melakukan pembinaan yang lebih serius terhadap beberapa RSBI yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, supervisi dan pembinaan guru menjadi kata kunci kesuksesan penyelenggaraan RSBI. Pemerintah daerah, baik di tingkat kota/kabupaten maupun propinsi diharapkan lebih proaktif melakukan pembinaan yang berkelanjutan serta menemukan ide-ide kreatif dalam penyelenggaraan RSBI. Dan perlu ketegasan mengembalikan sekolah yang berstatus RSBI menjadi sekolah biasa (SSN) jika memang tidak memenuhi standar; bukan sekedar ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting pula dicatat bahwa penyelenggaran RSBI tidak selamanya membutuhkan dana yang besar sehingga memungut biaya tinggi dari orang tua siswa. Inti dari SBI sesungguhnya adalah kurikulum. Sekolah dituntut menerapkan kurikulum tambahan (+X), tidak saja berupa sains, bahasa Inggris dan matematika seperti yang diadopsi dari Cambridge tersebut, tetapi juga kurikulum yang dapat membangun kepribadiannya, terutama pendidikan emosional dan religiusitasnya. Selama ini, terkesan mahalnya biaya RSBI lebih kepada fasilitas, seperti yang telah disinggung pada tulisan sebelumnya. Padahal fasilitas tersebut hanyalah ”pendukung” dan tidak menggantikan peran guru sebagai pendidik yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan pimpinan sekolah RSBI, diharapkan tetap semangat dan optimis untuk mampu mengubah RSBI menjadi SBI. Semangat itu tentu diaktualisasikan dengan kerja keras menampilkan kompetensi yang lebih dan mampu memenuhi standar SBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula masyarakat, diharapkan dukungan dan kritik yang membangun sehingga menjadi kontrol terhadap pengelola RSBI. Beberapa kritikan, seperti tulisan Mayonal Putra dan Mora Dingin tersebut patut diapresiasi dan didiskusikan lebih lanjut. Pikiran yang kritis itu mesti ditanggapi pula secara positif sekaligus memberi tantangan bagi pengelola RSBI untuk membuktikan bahwa apa yang dilakukan tidak seburuk apa yang dibayangkan. Dalam hal ini, kritik yang lebih diharapkan adalah kritik yang mengedepankan solusi dari pada sekedar melempar masalah, sehingga kita tidak terkesan pesimis dan apatis terhadap perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika pemerintah setengah hati dan tak mau peduli, para guru tak lagi optimis, dan masyarakat tak juga mendukung, maka menghentikan RSBI menjadi pilihan. Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5788112864907781909?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5788112864907781909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5788112864907781909&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5788112864907781909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5788112864907781909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/05/sbi-antara-cita-dan-realita.html' title='SBI, Antara Cita dan Realita'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oqht7550eHE/Tdds77U9uDI/AAAAAAAAAOY/CMOAPo1vM0M/s72-c/rsbi.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5219489508331519024</id><published>2011-05-21T14:37:00.002+07:00</published><updated>2011-05-21T14:45:54.965+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>SBI, SEKOLAH BERTARAF ATAU BERTARIF INTERNASIONAL?</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya, apa itu RSBI (&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-sLlEHQtfzlE/TddtVHXBd9I/AAAAAAAAAOg/nTKHiS5CWzc/s1600/rsbii.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 243px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-sLlEHQtfzlE/TddtVHXBd9I/AAAAAAAAAOg/nTKHiS5CWzc/s320/rsbii.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609072070433535954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)?, seorang teman menjawab: “kelasnya dilengkapi AC, internet, infocus, laptop, loker, gurunya berbahasa Inggris, dan input siswanya pintar dengan IQ minimal 120”. Jika ini jawabannya, maka pertanyaan berikutnya adalah SBI itu Sekolah Bertaraf atau Bertarif Internasional?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila SBI dilihat hanya dari fasilitas yang ada, maka segera terbentuk dalam mindset masyarakat bahwa SBI adalah sekolah bertarif internasional. Sekolah mahal yang hanya dapat dinikmati oleh siswa yang terlahir dari keluarga kaya. Ini pula yang menjadi salah satu temuan atau hasil survei Pusat Penelitian dan Kebijakan (Puslitjak) Balitbang Kemendiknas, dimana sekolah RSBI seolah-olah bebas menentukan besaran SPP, mulai Rp400 ribu hingga Rp20 juta. Sebab, dalam Permendiknas Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan SBI pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, pasal 13 ayat (3) disebutkan bahwa SBI dapat memungut biaya pendidikan untuk menutupi kekurangan biaya di atas standar pembiayaan yang didasarkan pada RPS/RKS dan RKAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan di atas membuat Kemendiknas menangguhkan kemunculan baru RSBI di tahun ini. Padahal SBI merupakan amanah dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Pada pasal 50 ayat (3) disebutkan bahwa “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBI atau sekolah bertaraf internasional yang diinginkan adalah sekolah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang diperkaya dengan keunggulan mutu tertentu yang berasal dari negara anggota OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) atau negara maju lainnya. Dengan model sekolah ini, diharapkan out put yang dihasilkan memiliki kompetensi yang setara dengan lulusan pada sekolah terakreditasi di negara maju dan mereka mampu berkompetisi dengan tetap menampilkan keunggulan lokal di tingkat internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam pelaksanaannya, SBI mengundang pro-kontra dari masyarakat. Ada yang berpendapat SBI hanya mementingkan kognitif sehingga corak pendidikan yang dikembangkan bersifat materialistik. Ada pula yang menilai SBI hanya menciptakan kastanisasi pendidikan; dengan adanya pengelompokan antara siswa cerdas dengan kurang cerdas, antara si kaya dengan si miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya lagi, RSBI yang dikembangkan secara bertahap tersebut masih terdapat siswa pada kelas reguler (kelas biasa non-RSBI), sedangkan kelas lainnya kelas RSBI. Tentu kelas reguler tidak mendapatkan pelayanan yang sama dengan kelas RSBI, terutama dari fasilitas kelasnya. Bahkan Prof. Sutjipto, dosen UNJ beberapa waktu lalu pernah mengumakakan ada salah satu RSBI yang melarang siswa kelas reguler memakai toilet siswa kelas RSBI. Sangat memprihatinkan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kritis terhadap RSBI patut diterima secara positif. Meskipun Puslitjak Balitbang Kemendiknas menemukan sejumlah rapor merah RSBI, sebagaimana yang dimuat Padek, (15/3), akan tetapi temuan itu tidaklah mewakili seluruh RSBI yang ada. Hanya saja pemerintah dan masyarakat mesti kritis dan mengaevaluasi eksistensi dan peran RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, banyak hal yang patut didiskusikan dalam pelaksanaan dan pengembangan SBI. Pertama, SBI sejatinya dilaksanakan secara terencana dan disiapkan secara matang (by disign), tidak saja fasilitas, tetapi yang terpenting adalah kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan yang mengelolanya. Idealnya, guru yang mengajar di RSBI memiliki kompetensi sebagaimana yang telah diatur dalam Permendiknas Nomor 78 tahun 2009. Kenyataannya, mereka tidak pernah disiapkan sejak di bangku kuliah akan menjadi guru SBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini menyebabkan sekolah melaksanakan berbagai program untuk meningkatkan kompetensi guru agar sesuai dengan standar yang diinginkan. Akibatnya, guru tidak lagi berkonsentrasi untuk mendidik peserta didik, karena ia mesti berjuang untuk memenuhi kompetensinya sebagai guru SBI. Tidak menutup kemungkinan, pikiran guru justru lebih besar untuk peningkatan kompetensi dirinya secara pribadi dari pada peningkatan kompetensi peserta didiknya. Orientasinya tidak lagi pada siswa melainkan pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatasi persoalan ini, ada dua pilihan yang patut dilakukan. Pilihan pertama, dirikan sekolah baru yang berlabel RSBI atau SBI dengan pengelola atau tenaga pendidik dan kependidikan yang telah memenuhi syarat SBI itu sendiri. Pilihan kedua, sekolah biasa dijadikan SBI, tetapi dilakukan seleksi ketat, objektif dan transparan kepada tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di sekolah tersebut. Bagi guru yang tidak memenuhi syarat segera difungsikan pada sekolah non-RSBI, sementara yang lulus syarat ditetapkan dengan tetap mendapat pembinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekolah yang dianggap lebih berprestasi di daerah tertentu ditetapkan menjadi RSBI, sementara guru yang ada belum memenuhi persyaratan sesungguhnya, tetapi tetap juga dijadikan RSBI dengan alasan guru tersebut akan dibina secara berkelanjutan, maka wajar dalam lima tahun RSBI tidak juga berubah menjadi SBI. Sebab, guru yang berkemampuan biasa akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan kompetensinya sesuai tuntutan SBI. Agaknya inilah yang menyebabkan sekitar 60 % guru memiliki kemampuan bahasa Inggris kualifikasi menengah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, paradigma SBI sebagai sekolah bertarif mahal mesti segera diubah. Dalam Permendiknas Nomor 78 tahun 2009 pada pasal 16 ayat (2) disebutkan bahwa SBI wajib mengalokasikan beasiswa atau bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik warga negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi tetapi kurang mampu secara ekonomi paling sedikit 20% dari jumlah seluruh peserta didik. Aturan ini jelas memberi peluang bagi siswi miskin mengenyam pendidikan di SBI. Apalagi dalam aturan ini disebut minimal, bukan maksimal. Lagi-lagi kenyataannya masih ditemukan RSBI yang tidak memenuhi aturan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya, kebebasan yang diberikan kepada RSBI memungut sejumlah uang kepada siswa ditiadakan. Meskipun sekolah tidak tersebut membutuhkan dana besar, sebaiknya ditanggulangi oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Jika tetap dibebankan kepada orang tua siswa, lalu bagaimana dengan sekolah-sekolah lain? Bukankah sekolah lain juga ingin menjadi RSBI? Jika seluruh atau kebanyakan sekolah menjadi RSBI, maka setiap sekolah tersebut kembali menjadi sekolah masa lalu yang memungut SPP kepada orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perlu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan emosional dan spiritual peserta didik. Jika dilihat dari program RSBI, lebih menekankan pada aspek kognitif. Apalagi input yang masuk di RSBI, pada umumnya memiliki tingkat IQ 120. RSBI selalu bangga memajang prestasi di bidang kognitif, seperti hasil olimpiade. Kondisi ini diperkuat pula dengan adanya kerjasa sama dengan sekolah anggota OECD di negara-negara maju. Padahal banyak pakar pendidikan, khususnya pendidikan Islam, mengkritik epistemologi keilmuan Barat yang bercorak materialistik, dikotomik, dan hedonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, RSBI mesti menetapkan dan mengembangkan program peningkatan kecerdasan emosional, spiritual, dan religius serta tetap bangga pada budaya lokal. Jika tidak, mereka laksana robot dan kehilangan hakikat kemanusiaanya sebagai makhluk berdimensi ruhaniyah di samping dimensi jasadiyah. Bila ini terjadi, maka out put SBI akan membahayakan, sebab seseorang yang ”pintar” tanpa iman jauh lebih besar menimbulkan kerusakan dari pada seseorang yang ”bodoh” tapi beriman.&lt;br /&gt;Masih banyak hal yang patut didiskusikan dari penyelenggaraan SBI. Namun, keberadaannya tetap dibutuhkan dalam mencerdaskan anak bangsa yang memiliki potensi lebih. Hanya saja, butuh kajian dan pertimbangan lebih matang sehingga SBI bukan sekedar nama, tetapi berkualitas; bukan bertarif, tetapi bertaraf internasional. Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5219489508331519024?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5219489508331519024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5219489508331519024&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5219489508331519024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5219489508331519024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2011/05/sbi-sekolah-bertaraf-atau-bertarif.html' title='SBI, SEKOLAH BERTARAF ATAU BERTARIF INTERNASIONAL?'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-sLlEHQtfzlE/TddtVHXBd9I/AAAAAAAAAOg/nTKHiS5CWzc/s72-c/rsbii.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-7605149632691481711</id><published>2010-11-16T20:46:00.007+07:00</published><updated>2010-11-16T21:00:45.081+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim AS</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar itu pahit melebihi empedu; tetapi hasilnya manis melebihi madu”. Demikian pernyataan bijak memotivasi kita untuk bersabar dalam hidup ini. Kata sabar memang semakin p&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TOKNTRHuS1I/AAAAAAAAAN4/olXU_5cZdPQ/s1600/Idul%2BAdha.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 146px; height: 197px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TOKNTRHuS1I/AAAAAAAAAN4/olXU_5cZdPQ/s320/Idul%2BAdha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540145853771959122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;opuler ketika bangsa ini dihimpit oleh berbagai bencana. Banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai serta letusan gunung merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jateng menjadi duka nasional ya&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TOKOKgWgeLI/AAAAAAAAAOA/PwjV-_FNCRM/s1600/sabar.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 182px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TOKOKgWgeLI/AAAAAAAAAOA/PwjV-_FNCRM/s320/sabar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540146802753304754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ng memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan musibah yang datang menjelang hari raya besar umat Islam, Idul Adha, mengingatkan kita kembali kepada sosok Nabi Ibrahim As sebagai sang teladan. Ada dua Nabi yang ditegaskan Allah sebagai uswatun hasanah dalam al-Qur’an, yaitu Nabi Muhammad SAW (al-Ahzab/33: 21) dan Nabi Ibrahim as (Qs. Al-Mumtahanah/60: 4). Banyak hal yang dapat diteladani dari Nabi Ibrahim, salah satu di antaranya adalah sifat sabar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada tiga fase perjuangan dalam hidup Nabi Ibrahim as yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Pertama, upaya menemukan keyakinan yang benar (tauhid). Awalnya, Ibrahim dibesarkan dalam keluarga yang menyembah berhala. Bahkan ayahnya pemahat patung yang disembah oleh masyarakat setempat. Ibrahim pun melakukan pemberontakan terhadap apa yang disembah oleh ayah dan kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian awal masih bersifat empiris di mana ketika malam tiba, ia menyaksikan bintang-bintang yang gemerlapan. Muncullah ketakjuban dalam dirinya sehingga ia menyangka jika bintang itu adalah tuhan. Namun tatkala bintang-bintang itu sirna ia bergumam, “Aku tidak suka kepada Tuhan yang tenggelam”. Lalu ia melihat bulan dengan sinarnya yang indah dan cemerlang. Lantas ia pun berpikir inilah tuhanku. Akan tetapi bulan itu pun tenggelam lalu ia berkata “Sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Keesokan harinya ia melihat matahari bersinar terang, dia pun berkata “inilah tuhanku, sebab ini lebih besar”. Lagi-lagi benda yang ia anggap tuhan itu tenggelam di ufuk Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian Tuhan yang ia lakukan berakhir dengan adanya petunjuk (hidayah) dari Allah. Ia pun menyimpulkan dan berikrar, “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mentaati) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. (lihat kisah ini dalam QS. Al-An’am/6: 76-78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah awal perjuangan yang berat dialami oleh Nabi Ibrahim. Suatu perjuangan yang mendobrak tradisi bahkan keyakinan yang sudah mengakar di tengah-tengah masyarakatnya. Konsekuensinya adalah Ibrahim dibenci, termasuk oleh ayah yang dikasihinya. Bahkan sang ayah mengancam akan merajam dan akhirnya mengusir Ibrahim pada waktu yang lama (QS. Maryam/19: 42-46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perjuangan yang amat pahit, dengan kesabaran dalam menemukan hakikat kebenaran, akhirnya membuahkan hasil yang gemilang; itulah hidayah dari Allah. Bahkan, ia pun diangkat sebagai Rasulullah (QS. Al-Baqarah/2: 124).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memperjuangkan akidah dan berhadapan dengan Namrud. Sebagai seorang Nabi, Ibrahim pun mengajak kaumnya untuk menyembah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Ia tetap melakukan dialog yang argumentatif untuk meyakinkan kaumnya. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tetap berpegang teguh kepada ajaran nenek moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi kondisi itu, Nabi Ibrahim AS membuat siasat untuk menyadarkan kaumnya. Suatu ketika ia memasuki biara tempat patung-patung dikumpulkan dan dipuja. Ia menghancurkan patung-patung itu berkeping-keping, kecuali yang terbesar dibiarkan tetap utuh untuk memancing mereka agar bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun upaya yang terkesan dengan cara “kekerasan” itu tidak membuahkan hasil yang gemilang. Ibrahim yang telah dicurigai sebagai pelaku penghancuran berhala itu menjawab pertanyaan mereka: “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara”. Awalnya, jawaban itu memang membuat mereka terpana dan menundukkan kepala. Mereka pun berkata: “Engkau pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara?”. Ibrahim menjawab: “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mereka bukan tunduk, malah sebaliknya semakin berang dan berteriak: “Bakar Ibrahim, bantulah tuhan kalian.” Mereka pun membakar tubuh Ibrahim di antara tumpukan kayu bakar. Kesabaran yang begitu kuat di dada Ibrahim tidak membuatnya surut menegakkan kebenaran, meskipun nyawa taruhannya. Lagi-lagi sifat sabar yang pahit itu berbuah hasil yang manis. Api yang sifatnya membakar tiba-tiba keluar dari hukumnya; api panas dan membakar kayu, tetapi tidak membakar tubuh Ibrahim (QS. Al-Anbiya’/21: 52-70). Api yang merupakan makhluk Allah yang senantiasa tunduk kepada hukum Allah segera mematuhi perintah Allah agar dingin dan menyelamatkan tubuh Ibrahim, sebab Ibrahim adalah makhluk Allah yang taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Nabi Ibrahim as menginginkan seorang anak. Hampir seabad usia Nabi Ibrahim, namun ia belum juga dianugerahkan seorang anak. Karena besarnya keinginan itu, ia pun mengikuti keinginan istrinya, siti Sarah, agar menikahi pembantunya, Siti Hajar. Bagi Ibrahim, beristri dua bukan karena syahwat, tetapi menginginkan keturunan yang shaleh, yang diharapkan kelak melanjutkan perjuangannya dalam menegakkan agama tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun menganugerahkan seorang anak yang berkarakter halim (QS. Al-Shaffat 101), yang diberi nama Isma’il. Namun, anak yang berpuluh tahun dinanti kelahirannya, ketika tampak sifatnya yang mulia lagi cerdas, Allah malah menguji cinta Nabi Ibrahim; apakah lebih mencintai Isma’il atau tuhannya? Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ibrahim melalui mimpinya (QS. Al-Shaffat/37: 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ujian yang sangat mengguncang batin; sulit dilakukan oleh orang tua dimana pun. Dengan sabar, Ibrahim menjalankan perintah itu demi cintanya kepada Allah. Tapi cintanya kepada Allah tidaklah sia-sia. Sebelum penyembelihan itu terjadi, Allah mengganti tubuh Isma’il dengan seekor sembelihan (kibas/kambing). Peristiwa ini menjadi amal yang disyari’atkan kepada umat Muhammad berupa penyembelihan hewan kurban di bulan haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga fase perjuangan Nabi Ibrahim as di atas sesungguhnya ujian yang berat ditimpakan Allah kepadanya. Namun, dengan keimanan dan kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim, perjuangan itu berbuah hasil yang menggembirakan. Inilah yang dijanjikan Allah kepada orang yang beriman lagi sabar, mereka dilimpahkan keselamatan, kasih sayang (rahmat), dan hidayah (Qs. Al-Baqarah/2: 157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merujuk pendapat Imam al-Ghazali, ada tiga bentuk kesabaran yang mesti dimiliki oleh setiap muslim, yaitu: sabar dalam ketaatan, sabar dalam kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi musibah. Tampaknya ketiga bentuk kesabaran ini dimiliki oleh Nabi Ibrahim. Sabar dalam ketaatan, ia siap menyembelih putra kesayangannya demi mematuhi peraturan Allah. Sabar dalam kemaksiatan, ia terhindar dari penyembahan terhadap berhala meski dibenci dan dimusuhi oleh banyak orang. Begitu pula sabar dalam musibah, ia tetap sabar menunggu berpuluh tahun kelahiran putranya hingga di usia relatif senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai umat Nabi Muhammad SAW; kita patut meneladani kesabaran Nabi Ibrahim as. Sudah seberapa besar tingkat kesabaran kita dalam menghadapi berbagai musibah/ujian yang diberikan Allah. Sudah seberapa pula pengorbanan yang kita lakukan untuk memperjuangkan aqidah dan menebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepahit apa pun musibah yang menimpa kita, terutama berbagai bencana alam yang ada; maka kesabaran menjadi kunci utama. Sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Sabar hendaknya menjadi muatan nurani, kekuatan batin yang memotivasi hidup agar tetap optimis dan punya semangat juang yang tinggi dalam menjalani hidup ini sesuai petunjuk Ilahi. Perkuat keimanan, perdalam ilmu pengetahuan, perbanyak menebar kabaikan, insya Allah ada hikmah besar di balik bencana bagi bangsa ini. Ingatlah, kesabaran tidak akan disia-siakan oleh Allah Yang Maha Sabar (ash-Sabur). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-7605149632691481711?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/7605149632691481711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=7605149632691481711&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7605149632691481711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7605149632691481711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/11/meneladani-kesabaran-nabi-ibrahim-as.html' title='Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim AS'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TOKNTRHuS1I/AAAAAAAAAN4/olXU_5cZdPQ/s72-c/Idul%2BAdha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-7971609033322590357</id><published>2010-11-09T09:35:00.003+07:00</published><updated>2010-11-09T09:52:05.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>TEOLOGI BENCANA ALAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TNi2jgjuTHI/AAAAAAAAANo/HpYLJI1FqnA/s1600/merapi-dari-ketep-pass.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 249px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TNi2jgjuTHI/AAAAAAAAANo/HpYLJI1FqnA/s320/merapi-dari-ketep-pass.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537376463003470962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia menangis lagi. Banjir bandang di Wasior, letusan gunung merapi di Yogyakarta, serta gempa yang disertai tsunami di Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai menjadi duka nasioanal. Seakan musibah yang berentetan itu ingin menghentikan kita dari perdebatan tiada henti tentang kasus-kasus korupsi, mafia hukum serta fenomena kemiskinan dan kebodohan yang terus melanda negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang religius, kearifan kita menyikapi musibah &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TNi3HPz1EJI/AAAAAAAAANw/PYWb9MyelSI/s1600/tsunami-mentawai.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 216px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TNi3HPz1EJI/AAAAAAAAANw/PYWb9MyelSI/s320/tsunami-mentawai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537377076982911122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sangat dibutuhkan. Aqidah kita diuji, apakah musIbah ini hanya sekedar fenomena alam? Atau takdir tuhan?&lt;br /&gt;Secara teologis, diyakini bahwa alam ini tidak terjadi dengan sendirinya. Akan tetapi, alam ini adalah makhluk yang diciptakan oleh sang Khaliq. Lebih tegas, dalam Islam disebutkan bahwa Khaliq itu adalah Allah SWT. Dan Allah tidak saja berperan sebagai al-Khaliq atau pencipta pertama (causa prima), akan tetapi Dia juga sebagai Rabbun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sebagai rabbun, berarti Allah senantiasa memelihara alam semesta ini. Tuhan bukan seperti tukang jam (clock maker) yang membuat jam sebagus mungkin tanpa mengetahui nasib jam di kemudian hari. Akan tetapi Allah yang menciptakan (al-khaliq) dari tidak ada menjadi ada (al-Bari’) lalu memberi bentuk yang sempurna (al-Mushawwir) sekalian makhluk-Nya kemudian Dia senantiasa mengurusi dan memeliharanya (al-Muhaimin) serta berkuasa penuh terhadapnya (al-Qadir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekalian makhluk-Nya, manusia ditakdirkan sebagai khalifah-Nya di muka bumi (Qs. Al-Baqarah/2: 30). Namun tidak semua manusia mampu menjadi khalifah, kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh (an-Nur/24: 55). Dalam konteks ini, maka manusia tidak saja diperintahkan untuk berhubungan baik dengan Allah secara khusus (hablun minallah) dan kepada sesama manusia (hablun minannas), akan tetapi juga dituntut untuk mampu berinteraksi dengan alam semesta (hablun minal alam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muncul pertanyaan mendasar, kenapa terjadi bencana? &lt;/span&gt;  Yang pasti, bencana terjadi dalam pengetahuan, kekuasaan dan kehendak Tuhan. Bencana tidak sekedar fenomena alam. Namun “kehendak Tuhan” itu bukanlah semena-mena tanpa alasan. Oleh karena itu, setiap musibah yang ditimpakan Allah, hendaklah manusia itu tetap berpikir positif (husnuzhzhan) kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk husnuzhzhan kita kepada keputusan Allah itu adalah dengan meyakini bahwa ada nilai positif yang terkandung di balik itu semua. Allah sedang mendidik kita untuk menanggapi bencana tersebut. Ada beberapa nilai pendidikan yang patut kita renungkan atas terjadinya bencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;mendidik aqidah kita untuk merasakan dan menyaksikan keperkasaan dan kekuatan Allah. Al-Qur’an banyak bercerita tentang hakikat alam semesta agar manusia mampu mengenal dan berinteraksi dengannya (hablun minal alam). Misalnya, Allah yang menciptakan alam semesta dengan enam masa (Hud/11: 7), alam itu senantiasa dinamis, bergerak dan meluas (al-Anbiya’/21: 30) dan Allah berkuasa penuh atasnya (adz-Dzariyat/51: 47). Al-Qur’an juga menegaskan bahwa alam itu senantiasa tunduk kepada Allah (al-A’raf/7: 54) dan bertasbih kepada-Nya (al-Isra’/17: 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, alam semesta bukanlah sesuatu yang pasif. Alam semesta, termasuk bumi, langit, gunung yang menjulang dan lautan yang terbentang adalah makhluk Allah. Satu sisi ia ditundukkan untuk kepentingan manusia (Luqman/31: 20). Akan tetapi, alam bisa berubah menjadi bencana bagi manusia, seperti gempa (al-A’raf/7: 78, 91, 155, dan al-Ankabut/29: 37); banjir bandang (al-Ankabut/29: 14; dan Saba’/34: 16);  hujan batu (al-A’raf/7: 84; an-Naml/27: 58); angin kencang lagi dingin (al-Haaqqah/69:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terjadi bencana alam, sejatinya mampu meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, sebab alam jagad ini memang milik-Nya dan tunduk patuh kepada perintah-Nya. Untaian hikmah menyebutkan: "Musibah merupakan cara Allah yang paling efektif untuk meninggikan derajat seorang hamba atau menghinakannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, setiap muslim diajarkan apabila mendapat musibah, segeralah mengucapkan kalimat istirja’, yaitu Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un; Sungguh, kita berasal dari Allah dan pasti kembali kepada-Nya. Kalimat istirja’ ini mengajarkan kepada kita untuk sadar diri bahwa kita memang berada dalam genggaman dan kehendak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah yang kita miliki terkadang bertambah (yazid) dan terkadang pula berkurang (yanqus). Karena itu, iman mesti tetap diperbaharui dengan memperhatikan kekuasaan Allah. Ketika manusia itu lupa dengan tuhannya, maka rasa kemanusiaan pun semakin menurun. Karena kekayaan, kepintaran, jabatan dan kedudukan terkadang membuat orang merasa berkuasa atas apa yang dimilikinya. Ia lupa diri. Lupa dengan tuhannya. Akibatnya kesombongan pun meliputi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika gunung meletus, bumi berguncang, air bergelombang tinggi lalu menghempas daratan (tsunami), tak seorang pun yang berdaya. Semuanya pasrah. Berharap pertolongan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana alam juga mendidik kita untuk mengingat kematian dan meyakini hari  berbangkit. Mati pasti datang. Kiamat pasti menjelang. Dan keyakinan/keimanan terhadap hari kiamat akan berimplikasi kepada perilaku seseorang dalam hidup ini agar banyak melakukan perbuatan amal shaleh sebagai bekal abadi di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;bencana lam juga mendidik kita untuk lebih meningkatkan kemampuan kita dalam membaca ayat-ayat kauniyah. Karena itu Allah menyeru manusia agar arif dan cerdas mengenal, memperhatikan, membaca, menelaah, menganalisis dan memikirkan alam semesta (Qs. Yunus/10: 101; (Al-Ghaasiyah/88: 17-21); dan (Ali Imran/3: 189-191).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana alam sejatinya menjadi motivator bagi umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang alam sebagai bagian dari ayat-ayatNya. Dengan ilmu itu, manusia mampu berinteraksi dengan alam sehingga mampu menghindari bencana alam sekecil mungkin. Namun, ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia mesti tunduk kepada keyakinan/keimanan pada kekuasaan Allah. Artinya, setinggi apa pun ilmu yang dimiliki oleh manusia tidak akan mampu mencapai ilmu Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja para ilmuan memprediksikan kapan terjadinya bencana, akan tetapi keputusan mutlak ada di Tangan Allah. Karena itu, hasil kajian ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia hanya menambah kewaspadaan kita tanpa harus mengalami ketakutan yang berlebihan. Di sinilah dibutuhkan keimanan dan sikap tawakal seorang hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;bencana alam mendidik kita untuk meningkatkan rasa social yang tinggi terhadap sesama. Bencana alam adalah persoalan kemanusiaan, tanpa membedakan ras, suku, bahkan agama sekalipun. Maka bergegaslah memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban. Bantuan yang ikhlas ini diharapkan mampu mengikis rasa permusuhan, benci, iri, dendam, dan keangkuhan pada sesama yang terkadang menyelip di dalam dada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;bencana alam mendidik kita untuk senantiasa melakukan intropeksi diri (muhasabah). Paling tidak, ada tiga penyebab terjadinya bencana/bala’, yaitu: 1) sebagai ujian, 2) sebagai teguran [Qs. Ar-Rum/30: 41], dan 3) sebagai adzab/siksaan [asy-Syu’araa/42: 30; al-Isra’/17: 16 dan as-Sajadah/32: 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, maka bencana merupakan ujian atas keimanannya. Maka bersabarlah karena Allah akan meninggikan derajatnya. Bagi orang-orang yang melakukan kebaikan tetapi juga gemar melakukan kemaksiatan, bencana hadir sebagai teguran. Maka tetaplah istiqamah untuk tetap melaksanakan kebaikan, meskipun mendapat banyak rintangan dan godaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara orang-orang yang kerapkali melakukan kemaksiatan dan kezaliman yang berlebih-lebihan, maka bencana alam telah menjadi siksaan Allah baginya. Hal ini yang diperlihatkan Allah kepada umat-umat sebelumnya, umat Nabi Nuh as ditenggelamkan dengan banjir yang amat besar; umat Nabi Hud as, kaum ‘Ad, juga ditumpas atas pendustaan mereka terhadap ayat-ayatNya; kaum Nabi Shaleh as dibinasakan dengan gempa yang begitu dahsat; umat Nabi Luth yang melakukan fahisyah (homoseksual) ditimpa hujan batu; kaum Syu'aib juga ditimpa gempa dahsyat; demikian juga Fir'aun dan para pengikutnya ditenggelamkan di lautan merah akibat permusuhan yang mereka sebarkan terhadap Musa dan pengikutnya yang setia (Qs. al-A'raf/7: 65-171). Maka orang-orang yang masuk kepada kelompok terakhir ini, segeralah bertaubat kepada Allah, selagi masih ada kesempatan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah ini hendaknya mampu menyadarkan kita sedang dimana posisi keimanan kita di hadapan Allah? Sudah sebesar apa kontribusi kita di tengah-tengah masyarakat dalam mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya? sebab perkampungan yang dihuni oleh penduduk yang beriman dan bertaqwa tidak akan ditersentuh oleh bencana (Qs. Al-A’raf/7: 96). Atau jangan-jangan kita termasuk penyebab datangnya bencana? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-7971609033322590357?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/7971609033322590357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=7971609033322590357&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7971609033322590357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7971609033322590357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/11/teologi-bencana-alam.html' title='TEOLOGI BENCANA ALAM'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TNi2jgjuTHI/AAAAAAAAANo/HpYLJI1FqnA/s72-c/merapi-dari-ketep-pass.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-2476187204195296396</id><published>2010-09-04T13:06:00.004+07:00</published><updated>2010-09-04T13:12:59.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Materi Khutbah Idul Fitri 1431</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Khutbah Idul Fitri 1431 H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mempertahankan Kesucian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar 3x, wa lillahil hamd&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan, dengan segala keberkahan dan keutamaannya telah berlalu. Tak seorang pun yang tahu apakah kita bisa menemui Ramadhan di tahun depan, atau Allah mentaqdirkan kita untuk mengahadap-Nya sehingga Ramadhan di tahun ini merupakan yang terakhir bagi kita.&lt;br /&gt;Perhatikanlah saudara-sadara di sekeliling kita, pada tahun yang lalu, kita masih bersama mereka shalat Idul Fitri berjamaah di masjid ini, akan tetapi saat ini, mereka tidak lagi bersama kita. Mungkin di antara mereka ada yang sedang sakit, sekarat di rumah, atau sedang berjuang mencari nafkah di rantau orang, atau justru mereka telah dahulu menghadap Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar 3x, wa lillahil hamd&lt;br /&gt;Maka beruntunglah kita yang memperoleh kesehatan dan kesempatan melaksanakan shalat Idul Fitri di hari nan suci ini. Berbahagialah orang-orang yang hari ini melaksanakan shalat Idul Fitri dan mampu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan kesungguhan hati dan ikhlas karena Allah. Mereka ibarat bayi yang baru lahir, suci dari dosa karena diampuni oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;Akan tetapi, amat merugilah orang-orang yang pura-pura bergembira di hari ini, sementara ia mengabaikan perintah berpuasa tanpa alasan yang dibenarkan. Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ اَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَامَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ  كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah: Barangsiapa yang berbuka/tidak puasa bukan karana ada keringanan (udzur) dan sakit, maka puasa setahun penuh pun tidak akan bisa menggantikannya, sekalipun ia melakukan puasa itu. (HR. Turmidzi).&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah mengancam orang-orang yang tidak shalat dan tidak berpuasa sebagai orang kafir dan dihalalkan darahnya.&lt;br /&gt;اُسُسُ الْإِسْلَامِ مَنْ تَرَكَ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ فَهُوَ بِهَا كَافِرٌ حَلَالُ الدَّمِ شَهَادَةُ اَنْ لَااِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَصَوْمُ رَمَضَانَ&lt;br /&gt;Dasar/pondasi/sendi agama Islam ada tiga perkara, dimana dasar-dasar Islam berdiri di atasnya, barangsiapa meninggalkan salah satu daripadanya maka ia menjadi kafir, halal darahnya, yaitu: menyaksikan bahwa tiada Tuhan selan Allah, shalat yang difardhukan dan puasa Ramadhan. (HR. Abu Ya’la).&lt;br /&gt;Demikian besarnya ancaman Rasul bagi orang-orang yang melalaikan perintah puasa di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar 3x, wa lillahil hamd&lt;br /&gt;Namun bagi setiap muslim yang telah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh karena Allah Ta’ala, janganlah puas dan berhenti di situ saja. Sebab, mempertahankan kesucian dan kemenangan jauh lebih sulit dari pada meraihnya.&lt;br /&gt;Kita sering menyaksikan di tahun-tahun yang lalu, ketika di bulan Ramadhan, nuansa keislaman begitu terasa. Masjid menjadi ramai dengan shalat isya dan tarawih. Jumlah Orang-orang dermawan meningkat drastic dengan sedekah mereka kepada fakir miskin. Lisan cenderung terpelihara dari kata-kata kotor, ghibah, dan fitnah.&lt;br /&gt;Namun, sesudah Ramadhan, masjid kembali sepi dan ditinggalkan jamaahnya, orang-orang miskin menjerit menahan rasa lapar, lisan pun lagi-lagi tak terkendali mengeluarkan kata-kata kotor, mencaci maki, menggunjing, mengupat, hingga kepada menyebar fitnah dan namimah (adu domba).&lt;br /&gt;Padahal, sesudah bulan Ramadhan, kita memasuki bulan Syawal yang artinya peningkatan. Artinya, ketika kita memasuki bulan Syawal, hendaklah terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah yang disebabkan oleh latihan yang kita lakukan di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar 3x, wa lillahil hamd&lt;br /&gt;Salah satu keutamaan Ramadhan adalah ia hadir sebagai syahruttarbiyah, atau bulan pendidikan/latihan. Banyak hal yang menjadi pendidikan bagi kita selama bulan Ramadhan. Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1. Mengendalikan nafsu perut dan nafsu syahwat&lt;br /&gt;Secara syariat, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, terutama makan dan minum serta berhubungan badan bagi suami-istri. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan mendidik kita agar mampu mengendalikan nafsu perut dan syahwat. Jangankan makanan yang haram, yang halal pun tidak boleh di makan. Jangankan selingkuh dan berzina, berhubungan dengan suami istri yang sah saja dilarang.&lt;br /&gt;Banyak kasus yang menunjukkan bahwa keinginan perut untuk menikmati makanan yang lezat dan nikmat membuat orang gelap mata, mencari jalan pintas, dan menghalalkan segala cara, termasuk dengan cara yang haram. Padahal, Allah merintahkan agar memakan makanan yang halal lagi baik. Firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Qs. Al-Baqarah/2: 168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mengkonsumsi makanan haram, baik haram karena zatnya ataupun cara memperolehnya, akan berdampak kepada kepribadian dirinya sendiri, termasuk orang-orang yang menikmatinya, seperti anak, istri dan anggota keluarga lainnya. Patut kita merenungkan apa yang ditulis oleh Hamka dalam tafsirnya, Al-Azhar. Ia mengisahkan tentang kita Abu Muhammad al-Juwaini, permuda yang taat beribadah kepada Allah dan sangat berhati-hati kepada suata perkara yang subhat. Sehari-hari ia bekerja menyalin kitab-kitab ilmu pengetahuan dan menerima upah. Dengan mengumpulkan upah dari hasil pekerjaannya itu ia menikahi seorang perempuan yang shalehah, taat beribadah kepada Allah SWT. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik. Setelah anak itu lahir, al-Juwaini berpesan sangat kepada istrinya jangan sampai ada perempuan lain yang menyusukan anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, suatu ketika istrinya sakit sehingga air susunya kering, sementara Abdilmalik yang masih bayi  itu menangis kehausan. Lalu datanglah seorang perempuan yang merupakan tetangganya dan merasa kasihan mendengar tangisan anak itu. Perempuan itu pun mengambil dan menyusukan anak tersebut. Tiba-tiba datanglah Abu Muhammad al-Juwaini. Melihat anaknya disusui oleh perempuan lain, dia pun tidak senang sehingga perempuan tersebut merasakan suasana ketidaknyamanan al-Juwaini karena ia menyusukan anak itu. Akhirnya perempuan tetangga itu pun bergegas pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian al-Juwaini mengambil anak itu lalu menonggengkan kepalanya dan mengorek mulutnya, sehingga anak itu memuntahkan air susu perempuan tetangga tadi. Beliau pun berkata: “Bagiku tidak keberatan jika anak ini meninggal di waktu kecilnya, dari pada rusak perangainya karena meminum susu perempuan lain, yang tidak aku kenal ketaatannya kepada Allah.” Anak yang bernama Abdulmalik itu kemudian terkenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik al-Juwaini, ia adalah seorang ulama mazhab Syafi’i yang masyhur, guru dari madrasah-madrasah Naisabur dan salah seorang guru Imam al-Ghazali, sampai menjadi ulama besar pula. Kadang-kadang sedang mengajarkan ilmunya, pernah beliau marah-marah. Ketika itu, berkatalah dia setelah sadar dari kemarahannya, “ini barangkali adalah dari bekas sisa susu perempuan lain itu, yang tidak sempat aku muntahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, meminum air susu dari seorang ibu yang tidak dikenal ketaatannya kepada Allah saja, berpengaruh terhadap perilaku seseorang, dan itu diakui oleh ulama besar, Abdul Malik, guru dari Imam al-Ghazali tersebut. Bagaimana jika kita memberi makan anak istri kita dengan hasil pekerjaan yang haram, berjudi, mencuri, korupsi, menipu dan cara-cara haram lainnya?&lt;br /&gt;Begitu pula nafsu syahwat. Banyak kasus perselingkuhan, pertengkaran hebat antara suami-istri, hingga berakhirnya hubungan keluarga dengan perceraian yang mengakibatkan anak-anaknya teraniaya hanya karena dorongan nafsu syahwat. Kita juga takut dan khawatir kepada anak-anak kita, baik laki-laki, terutama perempuan, yang rela membuka auratnya, berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, hanya didorong oleh keinginan syahwatnya. Beberapa survey di kota-kota besar menunjukkan perilaku di kalangan remaja telah di luar batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Nasional Perlindungan Anak merilis data di tahun ini bahwa 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan. Hasil lain dari survei itu, ternyata 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film forno. Sebelumnya, pada tahun 2008 lalu, Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN), M. Masri Muadz pernah menyampaikan bahwa 63% remaja usia SMP dan SMA di 33 propinsi di Indonesia telah berzina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu data yang menyedihkan dan menakutkan, khususnya bagi kita selaku orang tua. Maka Ramadhan sesungguhnya mendidik kita untuk mampu mengendalikan diri dan memelihara anak dan keluarga kita agar terhindar dari perbuatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bangga melepas anak-anak kita berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, tetapi takut dan cegahlah. Jangan bangga menyaksikan anak-anak perempuan kita membuka auratnya di keramaian, tetapi cegah dan marahlah. Jangan berdiam diri menyaksikan anak-anak kita berperilaku bebas tanpa aturan dan mengabaikan posisi kita sebagai orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Qs. At-Tahrim: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar 3x, wa lillahil hamd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melatih kejujuran&lt;br /&gt;Ketika kita berpuasa Ramadhan, kejujuran mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Hal ini karena kita yakin Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau membohongi Allah swt dan tidak mau membohongi diri sendiri karena hal itu memang tidak mungkin, inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, banyak hal yang kita miliki, sumber daya alam yang kaya, orang-orang pintar pun sudah banyak. Namun, yang belum dimiliki oleh bangsa ini adalah kejujuran. Banyak kasus di negeri kita yang tidak cepat selesai bahkan tidak selesai-selesai karena tidak ada kejujuran, orang yang bersalah sulit untuk dinyatakan bersalah karena belum bisa dibuktikan kesalahannya dan mencari pembuktian memerlukan waktu yang panjang, padahal kalau yang bersalah itu mengaku saja secara jujur bahwa dia bersalah, tentu dengan cepat persoalan bisa selesai. Sementara orang yang secara jujur mengaku tidak bersalah tidak perlu lagi untuk diselidiki apakah dia melakukan kesalahan atau tidak. Tapi karena kejujuran itu tidak ada, yang terjadi kemudian adalah saling curiga mencurigai bahkan tuduh menuduh yang membuat persoalan semakin rumit. Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan mendatang, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, meskipun secara hukum ibadah puasanya tetap sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mempererat hablun minallah dan hablun minannas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari yang suci ini, kita patut merenung, berapa banyak dosa-dosa dan pengkhianatan yang kita lakukan kepada Allah. Renungkanlah, sedemikian besar nikmat Allah sehingga kita tidak dapat menghitungnya. Akan tetapi nikmat itu kita balas dengan dosa-dosa yang tidak dapat kita hitung jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menganugerahkan kita mata, tetapi berapa banyak dosa yang ditimbulkan oleh mata ini dengan melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Ia anugerahkan kita lidah, tetapi lidah kita gunakan untuk menyakiti perasaan orang lain. Tangan kita pergunakan untuk menzalimi dan mengambil hak-hak orang lain. Telinga pun lebih kita gunakan memperdengarkan berita-berita berbau ghibah, fitnah, dan namimah, sementara nasehat-nasehat bijak sulit di dengarkan. Begitu pula hati, lebih condong kepada duniawi, sementara Allah terusir dari qalbu kita. Padahal, orang-orang yang tidak mempergunakan qalbu, penglihatan, dan pendengarannya di jalan Allah tak obahnya seperti binatang, bahkan lebih hina darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Qs. Al-A’raf: 179)&lt;br /&gt;Begitu pula anggota tubuh lain. Ketika adzan berkumandang, kaki kita tidak bersegera menuju rumah Allah, tetapi melalaikan bahkan mengabaikannya.&lt;br /&gt;Padahal, meskipun beberapa ulama berpendapat bahwa shalat berjamaah di masjid hukumnya sunnah muakkad, akan tetapi ditemukan beberapa hadis yang mengecam orang-orang yang tidak mau shalat berjamaah ke masjid tanpa ada halangan. Perhatikanlah beberapa hadis berikut ini:&lt;br /&gt;يَارَسولَ اللهِ إِنِّى  رَجُلٌ ضَرِيْرُ الْبَصَرِ شَاسِعُ الدَّارِ وَلِى قَائِدٌ لَا يُلَاوِمُنِى فَهَلْ لِى رُخْصَةً أَنْ اُصَلِّىَ فِى بَيْتِيْ؟ قَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ؟ قال: نعم, قال: لَااَجِدُ لَكَ رُخْصَةً&lt;br /&gt;Wahai Rasulullah, aku adalah seorang laki-laki yang buta. Rumahku jauh dan aku tidak memiliki orang yang menuntun. Apakah aku mempunyai keringanan untuk shalat di rumah? Rasul bertanya: apakah kamu mendengar seruan (adzan)?, ia berkata: Ya, Rasul bersabda: AKu tidak mendapatkan keringanan untukmu”. (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِيْنَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا&lt;br /&gt;Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain shalat shubuh dan isya. Seandainya mereka mengetahui keutamaan di dalamnya, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ اَمُرَ فِتْيَتِي فَيَجْمَعُوا حَزْمًا مِنْ حَطَبِ ثُمَّ اَتِيَ قَوْمًا يُصَلُّونَ فِي بُيُوتِهِمْ لَيْسَتْ بِهِمْ عِلَّةٌ فَأَحْرِقَ عَلَيْهِمْ&lt;br /&gt;Aku ingin menyuruh para pemuda lalu mereka mengumpulkan seikat kayu bakar lalu aku datangi kaum yang mereka shalat di rumah mereka sendiri yang mereka tidak memiliki alasan. Lalu aku bakar mereka. (HR. Abu Daud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita tingkatkan ibadah shalat berjamaah di masjid sekaligus mempererat ukhuwah di antara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dosa-dosa kita terkait dengan hablun minnas. Orang yang paling banyak berjasa dalam hidup kita adalah kedua orang tua. Sudahkah kita mampu berbakti kepada keduanya di bulan suci Ramadhan dan bulan-bulan sesudahnya?&lt;br /&gt;Ingatlah betapa besarnya pengorbanan mereka. Sebelum kita lahir, ayah dan ibu telah berdoa penuh harap kelahiran anaknya. Jika saja beberapa tahun belum diberi anak oleh Allah, mereka akan cemas dan berobat ke sana ke mari agar dianugerahkan seorang anak. Ketika anak dikandung, mereka kembali cemas sambil berdoa agar anaknya terlahir dalam keadaan normal, tanpa cacat. Siang malam mereka berdoa.&lt;br /&gt;Ayah, dengan semangat yang membara, banting tulang, peras keringat, bersusah payah mencari nafkah demi kelahiran anaknya. Sementara ibu yang mengandung Sembilan bulan sepuluh hari yang susah payah dan kian bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika telah sampai masanya, sang ibu pun bertarung nyawa antara hidup dan mati, melahirkan anak yang dikasihinya.&lt;br /&gt;Tidak jarang kita menyaksikan, ibu selamat anak pun sehat. Namun ada pula ibu selamat, tetapi anaknya meninggal. Sebaliknya, anak selamat, tetapi ibunya wafat. Dan yang memilukan, ibu dan anaknya tidak selamat; keduanya wafat menghadap Ilahi.&lt;br /&gt;Bagi yang keduanya selamat, ketika sang ibu mendengarkan tangisan anaknya, seakan rasa sakit yang dideritanya sirna sambil berkata “mana bayiku”? ia pun memeluk dan menciumnya dengan harapan kelak sang anak menjadi shaleh, berbakti kepada ayah ibu, merawat mereka jika sudah tua.&lt;br /&gt;Maka hari-hari berikutnya pun mereka didik anak itu dengan penuh kasih sayang. Sang ibu menyusui, menyuapkan makanan, memandikan, dan memberi pakaian. Ia tidak pernah rela jika anaknya disakiti, walau hanya gigitan seekor nyamuk.&lt;br /&gt;Namun, tatkala si anak menjadi dewasa, kita sudah sanggup mencari nafkah, apa yang kita lakukan kepada kedua orang tua kita??? Mampukah kita memenuhi harapan mereka sebagai anak yang shaleh dan berbakti kepada mereka, sanggup merawat mereka di usia senja???&lt;br /&gt;Dulu, ketika kita kecil mereka memandikan kita dengan penuh kasih sayang. Kini, jika mereka sakit, pernahkah dan maukah kita memandikan mereka???&lt;br /&gt;Dulu, jika kita sakit, mereka akan cemas lalu mengobatkan kita, namun sebelum berobat ia akan berkata: “nak, pakailah baju….. makanlah dulu…. Biar kita pergi berobat, agar kamu cepat sumbuh!!” namun jika mereka sakit, pernahkah kita berkata: “Ayah, Ibu, pakailah baju, makanlah dulu, biar ku antar ayah/ibu berobat agar cepat sembuh”???&lt;br /&gt;Dulu, ketika kita butuh biaya hidup, sekolah, dan kebutuhan lainnya, mereka rela berhutang ke sana kemari bahkan menjual harta kesayangannya… kini, ketika mereka membutuhkan sesuatu dari kita, bersegerakah kita memenuhi kebutuhan mereka????&lt;br /&gt;Kasih sayang mereka memang tanpa batas. Agaknya benarlah pepatah lama: “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika ada di antara kita yang masih hidup kedua orang tuanya; bersegeralah minta maaf di hari nan suci ini. Berjanjilah untuk melakukan yang terbaik bagi mereka, selagi mereka masih hidup, selagi ada waktu, selagi penyelesan belum terlambat. Jadilah kehadiran kita menyejukkan pandangan mereka, bukan malah membuat mereka malu, gelisah, apalagi menyesal memiliki anak seperti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi orang-orang yang tidak lagi bersama orang tuanya di dunia ini, karena Allah telah lebih dahulu memanggil mereka; maka masih ada waktu untuk berbuat baik pada mereka dengan cara mendoakan mereka. Namun perlu diingat, doa yang sampai dan menolong mereka di alam sana adalah DOA ANAK YANG SHALEH (وَلَدٌ صَالِح يَدْعُولَهُ). Maka buktikanlah, jika kita cinta dan sayang pada mereka, salehkanlah diri ini dengan taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya; maka berdoalah… Insya Allah doa itu akan menolong mereka di alam sana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja kepada ayah dan ibu, juga kepada mertua kita. Pernahkah kita sadari, 20, 30, atau puluhan tahun silam seorang anak perempuan yang mereka lahirkan, mereka rawat dengan kasih sayang. Namun ketika anak perempuan itu menginjak dewasa, mereka rela melepasnya dan kini menjadi istri kita. Lalu apa bentuk terima kasih yang telah kita lakukan kepada ayah dan ibu mertua kita yang telah membesarkan dan mendidik istri kita??? Begitu pula dengan istri kita yang banyak membantu, terkadang mereka seperti pembantu, kasih sayang apa yang telah kita berikan kepada mereka??? Sebaliknya, suami yang mencari nafkah, bertindak sebagai kepala keluarga, pelindung dan penanggungjawab, sebesar apa bakti seorang istri kepada suaminya???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah betapa besar kutukan Allah kepada istri yang durhaka kepada suaminya. Demikian pula sebaliknya seorang suami yang menyia-nyiakan anak dan istrinya.&lt;br /&gt;Allah -Subhanahu wa Ta’la- telah mengancam istri yang durhaka kepada suaminya melalui lisan Rasul-Nya ketika Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ&lt;br /&gt;“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” . [HR. An-Nasa'i)&lt;br /&gt;أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ . قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ ؟ , قال: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ , لَوْ أَحْسَنْتَ إَلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ , ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْراً قَطُّ&lt;br /&gt;“Telah diperlihatkan neraka kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!” Ada yang bertanya, “apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?” Rasullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, “Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, “Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu”. [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (29), dan Muslim dalam Shohih-nya (907)]&lt;br /&gt;Begitu pula tanggungjawab kita kepada anak-anak kita. Mereka adalah amanah yang dititipkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengi-ngat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka merekalah orang-orang yang merugi. (al-Munafiqun: 9)&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah: Sudahkah kita mendidik mereka menjadi anak yang tahu siapa tuhan yang mereka sembah? Atau kehadiran mereka justru memperbanyak tabungan dosa-dosa kita karena kita tidak menjalankan tugas sebagai orang tuanya. Manakah yang paling kita utamakan, berpikir untuk kekayaann mereka atau aqidah mereka???&lt;br /&gt;Atau kita hanya membesarkan fisik mereka saja tanpa mempedulikan perkembangan ruhaniyah dan akhlaknya?&lt;br /&gt;Jika seandainya hari ini kita mati, sanggupkah anak-anak kita menjadi imam ketika menyolatkan jenazah kita??? Maukah mereka mendoakan kita yang sedang berada di alam kubur??? Bisakah mereka menjaga harta-harta yang kita tinggalkan di dunia ini??? Atau hanya karena harta itu mereka saling berburuk sangka dan bermusuhan satu sama lain???&lt;br /&gt;Jika itu terjadi, maka sangat rugilah kita sebagai orang tuanya.&lt;br /&gt;Allahu akbar 3x, wa lillahil hamd&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sesudan Ramadhan, mari kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah. Shalatlah di awal waktu, secara berjamaah, dan bertempat di masjid atau mushalla. Perbanyaklah ibadah sunnah; shalat dhuha, tahajud, dan selalulah berzikir kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kepada sesama manusia; berbuat baiklah. Jadilah orang yang senantiasa memberi rasa aman dan keselamatan bagi orang lain; bukan sebaliknya menjadi orang yang merusak kerukunan hidup yang membuat orang gelisah akan kehadiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kita mampu mengendalikan nafsu kita, mempertahankan kejujuran dalam bertindak, banyak beribadah kepada Allah, berbuat baik kepada sesama; maka Insya Allah kita akan termasuk hamba yang senantiasa mempertahankan kesucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams: 7-10)&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa memberikah hidayah-Nya kepada kita sehingga kita termasuk orang-orang yang beruntung, bahagia, dan selamat di dunia dan akhirat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*dari berbagai sumber...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-2476187204195296396?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/2476187204195296396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=2476187204195296396&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2476187204195296396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2476187204195296396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/09/materi-khutbah-idul-fitri-1431.html' title='Materi Khutbah Idul Fitri 1431'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5583180866345216628</id><published>2010-07-09T09:24:00.001+07:00</published><updated>2010-07-09T09:31:30.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>Materialisme Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TDaJzxp2XUI/AAAAAAAAANY/OtXaAU6737k/s1600/materialisme.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 279px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TDaJzxp2XUI/AAAAAAAAANY/OtXaAU6737k/s320/materialisme.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491728318220098882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Muhammad Kosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti menginginkan kesuksesan. Melalui pendidikan, diyakini kesuksesan tersebut akan dapat diraih. Karena itu, orang tua yang menginginkan anaknya sukses, akan berupaya menyekolahkan anaknya hingga ke tingkat yang tertinggi, sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesuksesan kerapkali dinilai dari materi yang diperoleh. Semakin besar penghasilan—terutama secara financial—seseorang, maka semakin tinggi nilai kesuksesannya. Asumsi semacam ini selanjutnya berpengaruh ke dalam dunia pendidikan itu sendiri. Di perguruan tinggi, misalnya, semakin besar penghasilan yang diperoleh oleh sarjana lulusan dari jurusan tertentu, maka semakin besar pula minat masyarakat untuk memasukinya. Tidak saja minat masyarakat yang meningkat, pengelolaan lembaga pendidikan pun cenderung dikomersilkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lulusan dari jurusan tertentu di perguruan tinggi tersebut lebih menjanjikan masa depannya secara financial, maka semakin mahal pula biaya pendidikannya. Persaingan pun sangat ketat, tidak saja persaingan kemampuan intelektual, tetapi juga kemampuan financial. Bahkan kita masih sering mendengar, ada di antara orang tua yang harus mencari ‘jalan pintas’ mengeluarkan biaya yang relative besar sebagai ‘uang hilang’ untuk menyogok oknum pejabat structural di lembaga pendidikan tersebut agar anaknya diterima pada perguruan tinggi yang diyakini menjanjikan penghasilan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, ketika mereka menjalani profesinya, tentu lebih berorientasi kepada materi. Mereka akan bekerja dan berkarya jika memperoleh uang yang relative besar jumlahnya. Rasa kemanusiaan (sense of humanity) pun berlahan sirna. Semuanya diukur dengan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia menjadi pejabat, hanya melihat rakyatnya sebagai objek kebijakan yang menghasilkan proyek milyaran rupiah. Dia tidak dapat merasakan tetesan air mata kepedihan di balik mata-mata yang cekung dan ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk yang mencuat. Seorang sarjana saintis memang mampu menyaksikan keteraturan alam, tetapi ia tidak menyadari kuasa Tuhan yang menciptakannya, sehingga alam hanya dieksploitasi untuk kepentingan sesaat. Seorang dokter sangat lihai menangani penyakit fisik, namun sayang ia tidak mampu mengenal hakikat manusia sehingga setiap pasien yang datang hanya dipandang laksana mesin ATM yang siap mengeluarkan sejumlah uang. Seorang ahli hukum memahami dan hafal pasal demi pasal yang dibuat oleh tangan-tangan manusia, tetapi ia tidak mengenal ayat-ayat Tuhan sehingga keadilan bisa digadaikan demi beberapa lembaran rupiah. Seorang atasan akan tampil sebagai pimpinan yang memposisikan dirinya sebagai orang yang harus dilayani dan semaunya memotong gaji bawahannya untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Bahkan seorang yang dipandang ustadz pun akan lebih memilih jamaah yang memberikan amplop tebal dibandingkan jamaah di surau kecil yang hanya memberikan ucapan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas bisa terjadi jika proses pendidikan yang dilaluinya lebih berorientasi kepada materi. Sungguh memprihatinkan masa depan bangsa ini jika hanya dihuni oleh manusia yang hanya mementingkan materi. Sebab ketika manusia hanya mementingkan materi, maka ia telah mengabaikan hakikat dirinya yang sesungguhnya, yaitu makhluk yang memiliki dimensi ruhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif psikologi Islam, manusia terdiri dari dimensi ruhani dan jasmani. Psikolog Muslim, Abdul Mudjib, dalam bukunya “Psikologi Kepribadian Islam” berpendapat bahwa secara garis besar manusia terdiri dari dimensi ruh, nafsu dan jasad. Jasad atau jism diciptakan Allah dari unsur tanah, yang pada gilirannya akan mengakibatkan kecenderungan manusia kepada hal-hal yang bersifat materi; seperti uang, harta benda, kendaraan, rumah, pasangan hidup, dan sebagainya. Sedangkan ruhani/psikis diciptakan Allah dari ruh ciptaan-Nya yang membawa kecenderungan kepada ketenangan, kedamaian, bersifat transcendental, nilai-nilai positif, dan sebagainya. Ketika ruh dan jasad bersatu maka muncullah dimensi nafsu atau jiwa sehingga muncul pula potensi akal, nafsu, qalbu, dan sebagainya sehingga manusia menjadi kreatif, inovatif, dan produktif dalam berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami hakikat struktur kepribadian manusia, maka orang-orang yang lebih mementingkan materi berarti ia hanya mementingkan aspek jasadnya semata. Padahal, jika manusia hanya mementingkan dimensi jasadnya, apa bedanya manusia itu dengan hewan? Bukankah hewan juga hanya mementingkan pemenuhan kebutuhan biologis/jasmaniah semata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya inilah yang disinggung oleh Allah dalam al-Qur’an bahwa ketika manusia mengabaikan dimensi ruhaniahnya dalam berperilaku, maka derajatnya disamakan dengan hewan ternak, bahkan lebih rendah dari itu (Qs. Al-A’raf/7: 179). Bukan berarti manusia tidak boleh memenuhi kebutuhan jasmaniah dan menikmati kenikmatan materi yang bersifat duniawi (Qs. Al-Qashah: 77), namun materi bukan tujuan melainkan alat, sarana, atau media untuk mencapai puncak hakikat manusia yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, lembaga pendidikan mesti melakukan reorientasi agar kembali kepada fungsi pendidikan yang sesungguhnya, yaitu upaya sadar untuk memanusiakan manusia yang berdimensi jasmani dan ruhani. Selama ini lembaga pendidikan cenderung lebih memperhatikan aspek kognitif peserta didik. Kognisi anak didik itu pun diangka-angkakan. Peserta didik yang lebih tinggi angka perolehan kognisinya akan diberi penghargaan lebih. Sementara anak yang relatif rendah kemampuan kognitifnya (hard skills), meskipun baik akhlaknya (soft skills) cenderung tidak dihargai dan terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti pendidikan ideal tidak menginginkan kecerdasan kognitif (IQ) peserta didik, akan tetapi mesti seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kecerdasan regius. Ketika seseorang memiliki kecerdasan intelektual/kognisi semata, maka kecerdasan yang ia miliki akan membuatnya lebih tertarik dan berorientasi kepada hal-hal yang bersifat materi atau duniawi sebab dimensi ruhaniyahnya telah kehilangan fungsi kontrolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, lembaga pendidikan, khususnya di tingkat sekolah menengah, telah mengeluarkan kebijakan bahwa siswa yang lulus tidak saja lulus pada ujian nasional (UN), akan tetapi mesti lulus tiga aspek lainnya, yaitu lulus semua program semester, lulus ujian sekolah, dan yang terpenting adalah memiliki kepribadian dan akhlak yang baik. Hanya saja konsistensi dan komitmen sekolah dituntut untuk mengembangkan pendidikan yang berorientasi kepada dimensi ruhaniyah, tanpa mengabaikan dimensi jasmaniyah; berorientasi kepada dimensi qalbiyah, tanpa mengabaikan dimensi aqliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula perguruan tinggi, diharapkan tidak saja mementingkan aspek materi. Meskipun kebutuhan masyarakat berbeda antara jurusan yang ada, bukan berarti jurusan yang lebih dibutuhkan lalu dikomersilkan. Sejatinya jurusan yang lebih dibutuhkan masyarakat berkompetesi untuk meningkatkan kualitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping peran lembaga pendidikan formal, peran lembaga pendidikan informal dalam keluarga sangat penting. Orang tua mesti memotivasi anaknya sejak dini agar menuntut ilmu bukan karena materi, tetapi untuk menjadi manusia yang banyak memberi manfaat bagi orang dan mengabdikan diri kepada Allah SWT. Perubahan paradigma pendidikan dari materialisme kepada pendidikan yang universal-holistik; memanusiakan manusia secara utuh, akan mampu terwujud dengan sinegisitas antara orang tua, sekolah dan masyarakat. Jika tidak, maka materi akan menjadi tujuan, bahkan bisa menjadi ‘tuhan’ bagi kehidupan manusia modern. Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5583180866345216628?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5583180866345216628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5583180866345216628&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5583180866345216628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5583180866345216628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/07/materialisme-pendidikan.html' title='Materialisme Pendidikan'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TDaJzxp2XUI/AAAAAAAAANY/OtXaAU6737k/s72-c/materialisme.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-2203892047859768974</id><published>2010-06-22T10:06:00.002+07:00</published><updated>2010-06-22T10:13:58.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Mendidik Generasi Antipornografi</title><content type='html'>Oleh: Muhamammad Kosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beredarnya video porno “mirip” artis papan atas Ariel dan Luna Maya, baik di internet maupun via handphone, menyita banyak perhatian pembaca media akhir-akhir ini. Tidak saja di Indonesia, perilaku memalukan itu justru menjadi “pergunjingan” di Negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TCAqO5ZMOTI/AAAAAAAAANI/dNAzWY8EI0Y/s1600/No+Porno.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 118px; height: 118px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TCAqO5ZMOTI/AAAAAAAAANI/dNAzWY8EI0Y/s320/No+Porno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5485430781550278962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengecam, bahkan mencekal aktivitas keduanya. Meskipun banyak yang mengecam, anehnya tidak sedikit di antara mereka yang penasaran untuk melihat adegan mesum itu, bahkan tidak menutup kemungkinan mereka yang melihat juga turut menikmatinya. Lalu, apa bedanya antara si pelaku, si pengedar, dengan orang yang melihat dan menikmatinya?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelasnya, ketiganya telah terjerumus ke dalam perbuatan zina; si pelaku menjadi pezina, yang dalam hukum Islam jika masih pemuda (belum pernah menikah) dicambuk 100x, jika sudah pernah menikah dirajam sampai mati. Sementara si pengedar turut mengembangkan perzinahan, sedangkan orang yang melihat dan menikmatinya telah melakukan zina mata dan zina hati. Maka sepatutnya setiap orang tua yang memiliki anak, tentu merasa khawatir terhadap anaknya bila terjerumus kepada perilaku zina tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kasus perzinahan semakin meningkat dari tahun ke tahun di negeri ini. Beberapa hasil penelitian menunjukkan kondisi yang memprihatinkan tersebut. Komisi Nasional Perlindungan Anak merilis data di tahun ini bahwa 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan. Hasil lain dari survei itu, ternyata 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film forno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, pada tahun 2008 lalu, Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN), M. Masri Muadz pernah menyampaikan bahwa 63% remaja usia SMP dan SMA di 33 propinsi di Indonesia telah berzina. Tiga tahun sebelumnya (2005), sebuah survey yang diselenggarakan sebuah perusahaan kondom, mengungkapkan data sekitar 40-45% remaja berusia antara 14-24 tahun menyatakan bahwa mereka telah berhubungan seks bebas (berzina) di luar pernikahan. Survey tersebut dilaksanakan di hampir semua kota besar di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jika dibandingkan dari angka statistik yang ada, begitu signifikan perkembangannya dalam jarak 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dari penelitian yang dilakukan Doktor Rita Damayanti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada tahun 2006. Beliau meneliti perilaku "pacaran" sebanyak 8.941 pelajar dari 119 SMA sederajat di Jakarta. Hasilnya, pacaran dengan cara: 1) ngobrol/curhat dilakukan laki-laki (Lk) 97,1% dan perempuan (Pr) 94,5%, total 95,7%; 2) pegangan tangan: 70,5% Lk dan 65,8% Pr, total 67,9%; 3) berangkulan: 49,8% Lk, 48,3% Pr, total 49,0%; 4) berpelukan, 37,3% Lk, dan 38,6% Pr, total 38,0%; 5) berciuman pipi: 43,2% Lk, 38,1% Pr, total 40,4%; 6) berciuman bibir: 27,0% Lk, 31,8% Pr, total 20,5%; 7) meraba-raba dada: 5,8% Lk, 20,3% Pr, total 13,5%; 8) meraba alat kelamin: 3,1% Lk, 10,9% Pr, total 7,2%; 9) menggesek kelamin: 2,2% Lk, 6,5% Pr, total 4,5%; 10) melakukan seks oral: 1,8% Lk, 4,5% Pr, total 3,3; serta 11) hubungan seks: 1,8 Lk, dan 4,3% Pr, total 3,2%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian di atas dapat dilihat peningkatan kasus perzinahan sangat meningkat dari tahun ke tahun. Ironis dan sangat memprihatinkan. Semua itu merupakan praktik perzinahan. Bukankah Allah memperingatkan: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (Qs. Al-Isra’/17: 32).&lt;br /&gt;Terjadinya praktik perzinahan di kalangan remaja ini tentu disebabkan oleh banyak factor. Di antara factor utama adalah mudahnya mengakses video, atau gambar-gambar porno. Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam konferensi pers di Sekretariat Komnas Perlindungan Anak, Sabtu (12/6/2010) lalu, menjelaskan: "Kami yakin hal tersebut akan lebih meningkat lagi dengan adanya video yang sekarang ini beredar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pengaruh film dan sinetron yang beradegan pornografi, secara perlahan tapi pasti, turut membentuk paradigma remaja bahwa perilaku pacaran yang mendekati zina tersebut merupakan sesuatu yang wajar, tidak tabu lagi, meskipun mereka tahu jika perbuatan itu dilarang dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pertanyaan yang patut kita renungkan adalah, apa jadinya bangsa ini jika generasi mudanya telah terjerumus pada praktik perzinahan? Bagaimana nasib bangsa yang berbudaya lagi religius ini jika dipimpin oleh orang-orang yang terbiasa melakukan perzinahan?&lt;br /&gt;Untuk mendidik dan mempersiapkan generasi antipornografi perlu usaha yang terpadu antara orang tua, sekolah, pemerintah dan masyarakat. Genarasi antipornografi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah generasi muda yang tidak melakukan perzinahan dan tidak mendekatinya, meskipun peluang untuk melakukannya atau mendekatinya sedemikian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pendidikan dari orang tua. Orang tua hendaknya selalu berdoa agar diberi anak yang shaleh, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang mendekati perzinahan. Dalam hal ini Islam mengajarkan agar seorang pria menikahi perempuan yang tidak pezina, begitu pula sebaliknya (Qs. An-Nuur ayat 3). Pernikahan itu hendaknya dilakukan secara sah, sesuai dengan tuntunan Islam. Bahkan, di atas ranjang pun, Islam membimbing agar tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan dibarengi dengan doa agar selamat dari godaan syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih edukatif lagi, pasangan suami istri tidak boleh membayangkan pasangannya seperti orang lain, apalagi melakukan hubungan suami istri sambil menonton film porno. Jika ini terjadi, kemungkinan besar anak yang lahir kemudian akan cenderung kepada perzinahan. Maka bagi orang yang pernah melakukannya, bersegeralah bermohon ampun kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Selanjutnya, ketika anak sudah bisa berpikir, orang tua mesti mendidik dan memberikan pemahaman kepada anaknya agar menghindari perzinahan. Orang tua dapat melakukan pendekatan targhib dan tarhib dengan cara senantiasa memberikan pujian di hadapan anaknya kepada remaja yang sopan, menutup aurat, tidak terjerumus pada pergaulan bebas yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, orang tua juga mencela perilaku remaja yang membuka auratnya, bergaul bebas, dan perilaku-perilaku yang mendekati zina. Pendekatan ini diharapkan membentuk mindset anak bahwa perbuatan yang mendekati zina tersebut mesti dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, orang tua dituntut untuk memiliki hubungan yang komunikatif dan harmonis dengan anaknya. Jangan seperti yang dikatakan oleh Marilyn Maxwell, dokter anak dari Universitas Saint Louis, "Kadang orangtua takut mengatakan harapan mereka kepada anak-anak karena mereka merasa munafik. Mungkin di masa mudanya, mereka pun nakal." Padahal, jika pun mereka pernah melakukannya, bukan berarti ia berdiam diri, sebab jika ia diam sesungguhnya ia telah mewariskan kejahatannya kepada anak-anaknya. Maka jalan terbaik adalah bermohon ampun kepada-Nya lalu berupaya mendidik anak-anaknya agar tidak melakukan seperti apa yang pernah ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping usaha di atas, orang tua juga diharapkan tidak memberikan fasilitas kepada anak yang membuka peluang untuk mendekati perzinahan tersebut. Misalnya, jangan pernah membelikan HP atau Laptop yang connect internet, sebelum orang tua bisa memastikan anaknya tidak mengakses situs-situs porno. Begitu pula computer yang connect internet, jika memang ada sebaiknya jangan diletakkan di kamar pribadi si anak, akan tetapi diletakkan di ruang tengah yang dapat diawasi oleh orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting juga peran orang tua untuk mendidik anak-anaknya dalam memilih teman. Sebab perbuatan yang mendekati zina tersebut juga besar dipengaruhi oleh teman-teman yang ada di sekelilingnya. Tegasnya, seorang anak/remaja harus memilih teman akrabnya yang taat dan berakhlak mulia. Imam al-Ghazali menegaskan: “lebih baik punya musuh yang pintar dari pada teman yang jahil (berperilaku buruk).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sekolah mesti membuat regulasi atau tata tertib bagi peserta didik yang menghambat terjadinya kasus pornografi. Misalnya, menetapkan sanksi berat bagi siswa yang menyimpan, melihat, atau mengedarkan video/gambar porno; menggelar razia secara berkala dan insidentil terhadap konten HP siswa; tidak membolehkan membawa HP connect internet ke sekolah; dan sebagainya. Melalui sekolah juga diharapkan remaja memahami bahaya perzinahan, baik dari segi agama maupun dari kesehatan, social, dan sebagainya, sesuai dengan mata pelajaran terkait. Peraturan-perturan yang telah ditetapkan mesti dijalankan secara konsisten, tanpa membedakan antara siswa yang satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemerintah mesti pro-aktif mendidik generasi muda antipornografi. Banyak kebijakan pemerintah yang sebenarnya ditunggu oleh masyarakat terkait pornografi tersebut, misalnya: memberikan sanksi berat kepada pezina—bukan sekedar ditangkap, dibina, lalu dibebaskan dan kembali melakukan perbuatan yang sama—sehingga menimbulkan efek jera. Selain itu, pemerintah juga diharapkan tidak memberi tempat bagi penjaja seks, termasuk peredaran VCD porno. Dibutuhkan pula kebijakan melarang warnet (warung internet) yang bersekat/dinding penutup antara satu computer dengan computer lainnya. Sebab hal ini akan memberi peluang bagi pengunjung untuk bebas mengakses situs-situs porno. Bahkan lebih dari itu, pemerintah juga diharapkan memblokir situs-situs porno sehingga mengurangi penyebab terjadinya perzinahan tersebut, terutama di kalangan remaja yang masih muda belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, peran masyarakat sangat dibutuhkan pula dalam mengawal anggota masyarakatnya terbebas dari praktik perzinahan. Tokoh-tokoh masyarakat, baik dari perangkat kelurahan/desa, RT/RW, ulama, pendidik, pemuda, dan tokoh adat, mesti bersatu dalam memberantas penyakit masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan usaha bersama dan komitmen yang tinggi, diharapkan mampu menekan perilaku yang mendekati perzinahan. Tegasnya, penanaman nilai-nilai agama kepada generasi muda sejak dini mesti dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Jika tidak ada upaya serius dalam menangani hal ini, maka ingatlah pesan Rasulullah SAW: Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampung, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri-diri mereka (ditimpa) adzab Allah ‘Azza wa Jalla. (HR At-Thabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi). Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-2203892047859768974?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/2203892047859768974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=2203892047859768974&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2203892047859768974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2203892047859768974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/06/mendidik-generasi-antipornografi.html' title='Mendidik Generasi Antipornografi'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/TCAqO5ZMOTI/AAAAAAAAANI/dNAzWY8EI0Y/s72-c/No+Porno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-7631277738172955485</id><published>2010-06-20T12:18:00.003+07:00</published><updated>2010-06-20T12:25:02.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Makanan Halal dan Kesehatan Mental</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa Abu Muhammad al-Juwaini adalah seorang permuda yang taat beribadah kepada Allah dan sangat berhati-hati kepada suata perkara yang subhat. Sehari-hari ia bekerja menyalin kitab-kitab ilmu pengetahuan dan menerima upah. Dengan mengumpulkan upah dari hasil pekerjaannya itu ia menikahi seorang perempuan yang shalehah, taat beribadah kepada Allah SWT. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik. Setelah anak itu lahir, al-Juwaini berpesan sangat kepada istrinya jangan sampai ada perempuan lain yang menyusukan anak itu. Namun, suatu ketika istrinya sakit sehingga air susunya kering, sementara Abdilmalik yang masih bayi  itu menangis kehausan. Lalu datanglah seorang perempuan yang merupakan tetangganya dan merasa kasihan mendengar tangisan anak itu. Perempuan itu pun mengambil dan menyusukan anak tersebut. Tiba-tiba datanglah Abu Muhammad al-Juwaini. Melihat anaknya disusui oleh perempuan lain, dia pun tidak senang sehingga perempuan tersebut merasakan suasana ketidaknyamanan al-Juwaini karena ia menyusukan anak itu. Akhirnya perempuan tetangga itu pun bergegas pergi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian al-Juwaini mengambil anak itu lalu menonggengkan kepalanya dan mengorek mulutnya, sehingga anak itu memuntahkan air susu perempuan tetangga tadi. Beliau pun berkata: “Bagiku tidak keberatan jika anak ini meninggal di waktu kecilnya, dari pada rusak perangainya karena meminum susu perempuan lain, yang tidak aku kenal ketaatannya kepada Allah.”&lt;br /&gt;Anak yang bernama Abdulmalik itu kemudian terkenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik al-Juwaini, ia adalah seorang ulama mazhab Syafi’i yang masyhur, guru dari madrasah-madrasah Naisabur dan salah seorang yang mendidik Imam al-Ghazali, sampai menjadi ulama besar pula. Kadang-kadang sedang mengajarkan ilmunya pernah beliau marah-marah. Ketika itu, berkatalah dia setelah sadar dari kemarahannya, bahwa “ini barangkali adalah dari bekas sisa susu perempuan lain itu, yang tidak sempat aku muntahkan.”&lt;br /&gt;Demikian kira-kira yang dikisahkan oleh Hamka dalam tafsir al-Azhar, ketika menafsirkan surat al-Baqarah/2 ayat 233. Meskipun kisah ini berhubungan dengan air susu ibu, tetapi hikmah terbesar yang patut dipetik adalah adanya hubungan antara makanan, termasuk minuman, dengan kesehatan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan Ideal dalam Islam&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai pedoman bagi manusia, tentu memberikan petunjuk secara komprehensif dan universal sehingga menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam aspek makanan. Konsep makanan dalam al-Qur’an yang harus dikonsumsi adalah makanan yang halal lagi baik (halalan tayyiban). Hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat di berbagai surat dalam al-Qur’an, di antaranya adalah surat al-Baqarah/2 ayat 168: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,&lt;br /&gt;Ayat ini menyeru semua manusia di muka bumi, tidak hanya khusus kepada orang-orang yang beriman saja, agar memakan makanan yang halal lagi baik. Larangan makanan yang haram sesungguhnya ada tujuan yang baik untuk menghindari suatu penyakit dan untuk menjauhkan bahaya dari manusia. Makanan halal adalah makanan yang tidak haram, yakni memakannya tidak dilarang oleh ajaran agama. Makanan yang haram ini ada dua macam, yaitu haram dari segi zatnya, seperti babi, anjing, bangkai, darah dan khamr; serta ada pula haram karena sesuatu yang bukan dari zatnya, misalnya makanan yang dicuri, hasil korupsi, dan sebagainya. Dalam ayat lain, disebutkan: “…dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Q.s. al-Jumu’ah/62 ayat 10). Ayat ini menunjukkan bahwa mencari rezeki dengan mengingat Allah harus dilakukan agar usaha pencarian itu tidak terjerumus kepada perbuatan yang haram. Jadi, makanan yang halal dimaksud adalah makanan yang tidak termasuk ke dalam dua kategori tersebut.&lt;br /&gt;Namun, tidak semua makanan yang halal dikategorikan baik. Karena dinamai halal terdiri dari empat macam: wajib, sunnah, mubah, dan makruh. Dan tidak semua yang halal sesuai dengan kondisi masing-masing. Bisa jadi makanan jenis X sesuai untuk kesehatan si A, tetapi kurang cocok dengan si B. Makanan yang sesuai itulah yang baik. Artinya, di antara makanan itu ada yang lebih cocok sesuai dengan kondisi tubuh seseorang pada saat itu. Jadi al-Qur’an mengajarkan makanlah yang ideal itu adalah halal lagi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan Haram adalah Racun Rohani&lt;br /&gt;Manusia sangat membutuhkan makanan, sebab makanan sangat berdampak kepada kesehatan jasmani. Ketika seseorang kurang makan, maka tubuhnya akan lemas, tidak bertenaga dan mudah terserang penyakit. Bahkan jika seseorang tidak makan maka kelangsungan hidupnya di dunia ini akan terancam. Oleh karenanya, manusia bekerja keras dengan mengerahkan segala kemampuannya, baik tenaga maupun pikiran untuk mendapatkan makanan.&lt;br /&gt;Namun, perlu disadari bahwa makanan tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan jasmani. Makanan juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental (ruhaniyah) seseorang. Kisah al-Haramain di awal tulisan ini turut memperkuat pandangan tersebut. Makanan haram yang disebabkan oleh zatnya, memang lebih terkesan mengakibatkan sakitnya jasmani seseorang. Daging babi, misalnya, ternyata mengandung berbagai virus yang dapat mengakibatkan tubuh seseorang sakit secara fisik. Bahkan dalam suatu penelitian—sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Syauqi al-Fanjari dalam bukunya “Nilai Kesehatan dalam Syariat Islam” (1996)—bahwa seperempat dari penderita kangker otak disebabkan oleh pengkonsumsi daging babi. Begitu pula minuman haram, seperti khamr, termasuk Narkoba, jelas mengakibatkan penyakit jasmani.&lt;br /&gt;Jadi, makanan haram dari segi zat-nya juga bisa berpengaruh terhadap kesehatan mental. Hal ini juga diakui oleh ilmuan kenamaan, Alexis Carrel, pemenang hadiah Nobel Kedokteran, dalam bukunya Man the Unknown dengan menuliskan: ”Pengaruh dari campuran (senyawa) kimiawi yang dikandung oleh makanan terhadap aktivitas jiwa dan pikiran manusia belum diketahui secara sempurna, karena belum lagi diadakan eksperimen secara memadai. Namun tidak dapat diragukan bahwa perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan.” Pernyataan ini ditulis disinggung oleh Quraish Shihab dalam buunya “Wawasan al-Qur’an”.&lt;br /&gt;Sebaliknya, makanan haram yang disebabkan oleh non-zat, atau haram karena cara mendapatkannya dilarang oleh syari’at, seperti mendapatkan makanan hasil curian, atau uang yang membelinya diperoleh dari cara yang haram, cenderung dipahami tidak berdampak terhadap kesehatan. Memang dampaknya tidak begitu jelas terhadap kesehatan jasmani, tetapi pada hakikatnya sangat berpengaruh terhadap kesehatan menal seseorang.&lt;br /&gt;Seseorang yang memakan makanan dari hasil uang haram tidak akan memperoleh keberkahan dari makanan tersebut. Ruhaninya akan rusak, rapuh, dan mudah digoda dan disesatkan oleh setan. Agaknya inilah yang diperingatkan Allah di akhir surat al-Baqarah/2: 168 di atas, “..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”&lt;br /&gt;Tegasnya, makanan yang haram adalah racun bagi ruhaniah seseorang. Akibatnya, ruhaniah/mentalnya akan sakit sehingga melahirkan perilaku-perilaku yang negatif; mudah marah, cenderung anarkis, mudah menzhalimi orang lain, kurang peka terhadap lingkungan, tipis rasa kasih-sayang, dan tidak perduli terhadap penderitaan orang lain. Ketika hatinya berpenyakit, maka kebenaran akan sulit diterima, nasehat atau saran yang bersifat konstruktif pun cenderung ditolak.&lt;br /&gt;Agaknya berbagai perilaku negatif yang akhir-akhir ini semakin menjamur, baik dalam bentuk tindakan kriminal, seperti pembunuhan secara mutilasi, perampokan, perzinahan; begitu pula dalam bentuk penipuan, menjual ayat-ayat Tuhan demi kepentingan pribadi, dan tindakan-tindakan lain yang meresahkan serta jauh dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan patut menjadi renungan; apa akar penyebabnya. Banyak pakar, sesuai dengan disiplin keilmuannya, mencoba menganalisis akar penyebab dari fenomena prilaku masyarakat yang cenderung negatif tersebut. Ahli ekonomi memandang bahwa kejahatan itu disebabkan oleh kemiskinan, ahli hukum bisa memandang karena disebabkan oleh keadilan hukum tidak ditegakkan, pakar pendidikan juga bisa berargumen dikarenakan oleh kebodohan; dan seterusnya. Namun, faktor makanan seharusnya menjadi bahan pemikiran.&lt;br /&gt;Artinya, masyarakat juga harus menyadari bahwa makanan yang dikonsumsi berdampak terhadap perilaku yang ditampilkan oleh masyarakat itu sendiri. Tentu perhatian ini dimulai dari tingkat keluarga sebagai kelompok terkecil dari masyarakat itu sendiri. Orang tua, yang mencari nafkah bagi keluarganya harus mencari makanan yang halal lagi baik, dari segi zat maupun cara memperolehnya. Jika tidak, maka diri dan perilaku anak-anaknya akan sulit didik, karena ruhani mereka telah mengalami gangguan kesehatan. Ingatlah, tidak mudah menyembuhkan jasmani dari penyakit; tetapi jauh lebih sulit lagi menyembuhkan seseorang dari penyakit mental. Sebab, ketika jasmani seseorang sakit, jelas terasa dampaknya sehingga muncul motivasi yang tinggi untuk menyembuhkannya; sebaliknya ketika rohani yang sakit, terkandang tidak disadari sehingga upaya penyembuhan pun tidak dilakukan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, lakukanlah diognasa terhadap diri sendiri, apa saja penyakit mental yang sedang menggorogoti diri kita. Jika memang ada, maka lakukanlah pengobatan (kuratif) secara tepat sesuai dengan tuntunan agama: perbanyak istighfar dan berzikir, serta makanlah makanan/minuman yang halal. Sebaliknya, bagi yang belum kronis penyakit mentalnya, tetap melakukan upaya prepentif, salah satu di antaranya adalah dengan mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah serta melimpahkan rezeki yang diridhai-Nya kepada kita sehingga kita tetap sehat jasmani dan rohani, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik dan Agama; Antara Idealis dan Simbolis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;(Guru PAI SMP Negeri 8 Padang)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Politik itu kotor; penuh tipu-muslihat, berbaju kemunafikan (hipokrisi), berbungkus kebohongan dan berhias kepalsuan. Begitu adagium yang melekat bagi sekelompok orang yang kecewa, pesimis dan skeptis terhadap perjuangan lewat politik. Bagi mereka, politik adalah dunia kepura-puraan, di sana tidak ada kesejatian dan kesetiaan; yang ada cuma kepentingan. Tidak ada teman dan lawan yang abadi; yang ada hanyalah kepentingan itu sendiri. Jika kepentingan sama maka lawan bisa menjadi kawan, begitu pula sebaliknya. Ketika berbeda kepentingan, maka dalam menghadapi lawan berlakulah prinsip “to kill or to be killed” (membunuh atau dibunuh).&lt;br /&gt;Di sisi lain, terdapat pula kalangan yang optimis terhadap politik. Kelompok ini malah beranggapan dan meyakini bahwa tanpa perjuangan politik, maka penindasan dan kezaliman akan merajalela. Politik merupakan media untuk memperjuangan kebenaran, mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;Politik memang bermata dua; satu sisi bisa mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan, di sisi lain dapat membawa bencana dan penderitaan. Terlepas dari dampak/efek yang ditimbulkannya, maka banyak orang yang berkorban dan menyatakan dirinya berjuang lewat jalur politik. Apalagi ketika politik berkaitan erat dengan jabatan, maka politik selalu dijadikan alat untuk merebut kekuasaan.&lt;br /&gt;Kekuasaan memang suatu kenikmatan duniawi, di samping kekayaan dan perempuan. Hal ini pula yang pernah ditawarkan oleh para pembesar kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW agar menghentikan dakwahnya. Tawaran atau bujukan ini biasanya dikenal dengan 3TA, yaitu tahTA, harTA, dan waniTA. Namun kepribadian sang nabi yang mulia itu justru menolak ketiganya seraya berkata: “seandainya matahari diletakkan di tangan kananku, bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah kecuali dua hal: aku mati atau aku berhasil memenangkan dakwahku”.&lt;br /&gt;Sadar akan besarnya pengaruh kekuasaan/jabatan, maka tidak sedikit di antara manusia yang berjuang sekuat tenaga untuk merebut kekusaan. Fenomena itu pula yang kerap kita saksikan di negeri ini. Terlebih lagi ketika diberlakukannya Pilkada untuk memilih pemimpin (legislatif dan eksekutif) di tingkat propinsi, kabupaten dan kota; perjuangan meraih kekuasaan semakin jelas terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik Atas Nama Agama&lt;br /&gt;Berbagai upaya dan trik dilakukan untuk meraih jabatan/kekuasaan. Ada yang menghabiskan uang ratusan juta bahkan miliyaran rupiah untuk modal kampanye meraih simpati rakyat, ada pula yang berpolitik mengatasnamakan agama.&lt;br /&gt;Agama memang persoalan keyakinan. Agama juga menjadi pandangan hidup manusia yang diyakini mampu mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan sejati. Agama bukanlah fatamorgana yang menjanjikan kebahagiaan semu; seperti yang dianggap oleh Karl Marx dimana agama hanyalah candu masyarakat. Agama memang menuntun pemeluknya kepada kondisi keselematan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;Begitu kuatnya pengaruh agama dalam kehidupan manusia, maka agama bisa menjadi kekuatan bagi praktisi politik untuk meraih cita-citanya. Oleh karena itu visi, misi, materi kampanye, bahkan nama partai politik pun kerap kali mengangkat nama agama. Terutama Islam, sebagai agama yang dianut oleh kelompok mayoritas di negeri ini. Ketika kelak mereka duduk di singgasana kekuasaan, ada yang komitmen menerapkan kebijakan bernuansa agama (Islamy); tetapi ada pula yang mengabaikannya.&lt;br /&gt;Dengan demikian ajaran agama bisa menjadi landasan idiologi politik suatu partai, tetapi tidak menutup kemungkinan pula agama hanya dijadikan sebagai alat untuk meraih tujuan politik. Kondisi seperti ini menggoda kita untuk bertanya: mana yang lebih dipilih; minyak Samin cap Babi atau minyak Babi cap Samin? Idealnya yang patut dipilih adalah minyak Samin cap Samin. Dalam kaitannya dengan politik dan agama, salahkah jika nama agama dibawa-bawa dalam dunia politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basis Politik Islami&lt;br /&gt;Agama (baca: Islam) memang harus diperjuangkan dan ditegakkan; salah satunya melalui politik. Jika saja umat Islam meninggalkan dunia politik, bisa dibayangkan apa jadinya umat Islam di negeri ini. Setiap kebijakan pemimpin pasti berpengaruh terhadap kehidupan rakyatnya. Begitu pula di Indonesia ini, ketika negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang zalim, maka penindasan dan penderitaan akan dirasakan oleh umat Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;Oleh karena itu belajarlah dari Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW memiliki integritas kepribadian yang sempurna dan multikeahlian. Salah satu di antaranya adalah keahlian dalam berpolitik. Terbukti dalam periode Madinah, Muhammad tidak hanya sebagai nabi (pemimpin spiritual), tetapi ia juga sebagai pemimpin masyarakat. Kepemimpinan beliau pun diakui mampu mengayomi seluruh anggota masyarakat yang beragam, majemuk dan pluralis. Kondisi ini membuktikan bahwa nabi memang sukses dalam berpolitik.&lt;br /&gt;Kegiatan politik yang dilakukan oleh nabi itu kemudian diteladani dan diteruskan oleh para sahabatnya (khulafaurrasyidin) serta umatnya hingga akhir zaman. Kegiatan politik tersebut tentu tidak terpisah dari agama; tetapi politik justru dilakukan dengan landasan agama yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, politik dan agama jangan dipertentangkan. Agama bukan sekedar simbolis atau formalitas saja; tetapi agama harus menjadi ruh, spirit, dasar dan landasan idealisme dalam kegiatan politik. Dalam hal ini, setidaknya ada tiga basis politik yang perlu dilakukan untuk mewujudkan politik berlandaskan kepada agama Islam. Pertama, politik berbasis tauhid. Islam adalah agama tauhid. Itu artinya bahwa segala yang ada di alam ini berasal dari Allah, berada dalam pengawasan dan pemeliharaan-Nya, dan pasti kembali kepada-Nya. Dengan paradigma semacam ini, maka keseimbangan (keadilan) harus ditegakkan, termasuk dalam kepemimpinan. Politik berbasis tauhid adalah politik yang berlandaskan kepada kehendak Tuhan. Politik ini juga menegakkan prinsip keadilan, bukan membeda-bedakan antar golongan yang satu dengan lainnya dan bukan menyelematkan kelompok tertentu lalu menzalimi yang lainnya.&lt;br /&gt;Kedua, politik berbasis akhlak. Segala aktivitas politik harus menampilkan akhlak yang mulia. Dalam hal ini, kepribadian Rasulullah SAW harus menjadi teladan utama, baik dalam mengambil keputusan, memperlakukan kawan, menghadapi lawan, dan mengayomi bawahan. Rasulullah selalu mendengarkan aspirasi rakyatnya lalu memperjuangkannya; dia selalu tawadhu’ bukan malah sombong di setiap tindakan dan ucapannya; kedatangannya menggembirakan dan menyenangkan orang di sekitarnya; dia sangat dekat dengan kalangan mustadh’afin dan para anak Yatim. Tegasnya, kepribadian Rasulullah itu sendiri adalah al-Qur’an, seperti firman Allah: “wa innaka la ‘ala khuluqin azhim”, Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung/mulia (Q.s. Qalam/68: 4). Jadi, politik berbasis akhlak adalah pelaku politisi yang menerapkan ajaran al-Qur’an yang anti kezaliman, anti penindasan, anti penipuan, anti keangkuhan, dan anti segala bentuk kejahatan. Dengan pola seperti ini, maka imej negatif tentang politik itu kotor dengan sendirinya akan terbantahkan.&lt;br /&gt;Ketiga, politik berbasis amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas setiap mukmin, paling tidak di lingkungan keluarga dan dirinya sendiri. Tugas itu bisa dilaksanakan lewat berbagai bidang, sesuai dengan kapasitas dan otoritas kita masing-masing dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Salah satu upaya yang efektif untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar adalah melalui aktivitas politik. Oleh karena itu, politik sesungguhnya adalah sebagai metode untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar sehingga setiap perjuangan yang dilakukannya dalam rangka menegakkan kebenaran dan memerangi kezaliman.&lt;br /&gt;Keempat, politik berbasis perjuangan yang istiqamah. Dalam dunia politik memang sering didengar pernyataan: “Di setiap jam dan detik sesuatu itu bisa berubah, itulah politik”. Dalam hal-hal tertentu pernyataan itu ada bisa diterapkan; tetapi dalam konteks perilaku yang berakhlak mulia dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara istiqamah (sikap teguh pendirian, ada komitmen, dan dilakukan secara kontiniu dan konsisten). Tugas itu tidak hanya dilakukan pada saat-saat yang menguntungkan secara politis, lalu mengabaikannya di saat tidak sesuai dengan kepentingan kelompok dan atau pribadinya. Jika perlu, seorang pemimpin harus berani mempetaruhkan jabatannya dalam menegakkan keadilan dan kebenaran sebatas kemampuan maksimalnya dalam kondisi kapan dan dimanapun, bukan dalam hal-hal tertentu saja. &lt;br /&gt;Keempat hal di atas bisa dijadikan sebagai landasan penerapan politik yang Islami. Dengan begitu maka aktivitas politik dalam Islam bukanlah sesuatu yang kotor dan kepura-puraan seperti disinggung di atas; tetapi politik sebagai metode, jalan, atau media untuk memperjungkan kebenaran yang pada intinya menerapkan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Tegasnya, politik digunakan untuk memperjuangkan dan menegakkan agama Islam yang mengajarkan kebenaran hakiki.&lt;br /&gt;Inilah politik yang sejati: kebenaran adalah teman abadi. Sementara kebenaran mutlak itu berasal dari Allah: “al-haqqu mirrabika“, kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Q.s. al-Baqarah/2: 147).&lt;br /&gt;Ketika idealisme seperti ini diperjuangkan dan dipertahankan, maka politik akan membawa kesejahteraan, kebahagiaan, dan keselamatan. Sebaliknya, ketika agama digunakan untuk kepentingan politik, maka nama agama hanya sekedar simbol untuk mengelabui rakyat banyak; laksana musang berbulu domba. Semoga Allah melindungi kita dari kehadiran pemimpin yang menggunakan agama demi kepentingan politik kelompok dan pribadinya; sebaliknya kita berdoa dikaruniai pemimpin yang idealis dalam menerapkan nilai-nilai Islam di setiap gerak politiknya. Amin...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-7631277738172955485?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/7631277738172955485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=7631277738172955485&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7631277738172955485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7631277738172955485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/06/makanan-halal-dan-kesehatan-mental.html' title='Makanan Halal dan Kesehatan Mental'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-3372031433368571798</id><published>2010-05-15T11:36:00.004+07:00</published><updated>2010-05-15T11:42:02.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>PENDIDIKAN BERNUANSA SURAU DI SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S-4l3ZWI4yI/AAAAAAAAANA/iDPabbTUQoc/s1600/surau+sb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S-4l3ZWI4yI/AAAAAAAAANA/iDPabbTUQoc/s320/surau+sb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5471352230928507682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Muhammad Kosim&lt;br /&gt;(Tim Penyusun Pedoman PKPBS Prop. Sumbar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau (PKPBS) merupakan salah satu program unggulan dan kebijakan lokal pemerintah daerah propinsi Sumatera Barat. Melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Sumbar, pedoman PKPBS telah disusun untuk diterapkan di sekolah-sekolah umum. Rencananya, pada tahun pembelajaran 2010/2011 mendatang akan ditetapkan satu sekolah piloting PKPBS SMP dan SMA di setiap kota/kabupaten di lingkungan propinsi Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga hal yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan ini. Pertama, adanya kegelisahan dan kekhawatiran masyarakat Sumatera Barat tentang kemampuannya dalam melahirkan tokoh-tokoh kenamaan sekaliber Hamka, Moh. Hatta, ST. Syahrir, M. Natsir, M. Yamin, Agus Salim, dan lainnya di masa mendatang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Kepala Dispora Sumbar, Drs. Burhasman, MM sering menyampaikan di beberapa kesempatan tentang pernyataan yang pernah disampaikan mantan wakil presiden, M. Jusuf Kalla: “Pahlawan nasional asal Sumatera Barat dikenal bukan karena kelihaiannya di medan perang, melainkan karena keilmuan dan keulamaannya”. Sementara tokoh-tokoh tersebut mengakui dan diakui oleh banyak orang sebagai hasil dari pendidikan surau di masa lampau. Kini terasa ada yang “hilang” dari ranah Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kondisi pendidikan di lembaga pendidikan formal tampaknya lebih berorientasi kepada aspek kognitif peserta didik. Akibatnya, tidak terjadi korelasi positif yang signifikan antara ilmu pengetahuan yang didapat dengan akhlak mulia yang ditampilkan. Mestinya, semakin tinggi ilmu seseorang semakin baik akhlaknya baik kepada Sang Khaliq maupun sesama makhluk-Nya. Padahal surau sebagai lembaga pendidikan Islam pada masa lalu unggul dalam pembinaan akhlak peserta didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, lahirnya otonomi daerah sejak tahun 1999 sesungguhnya memotivasi setiap daerah untuk menonjolkan keunggulan daerahnya masing-masing sebagai karakter daerah yang membedakannya dengan yang lain. Hal ini semakin kuat dengan adanya kurikulum 2006 yang menginginkan adanya keunggulan dari setiap pendidikan yang ada di daerah. Wilayah Sumatera Barat sangat kuat dengan adat (Minangkabau) dan agama (Islam) sehingga dikenal falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah membuktikan, surau sebagai lembaga pendidikan telah memainkan peranan besar dalam melestarikan dan mewujudkan falsafah tersebut. Namun sejak awal tahun 1970-an, fungsi surau secara lambat laun mulai mengalami pergeseran fungsi dan peran dalam mendidik dan melahirkan sumber daya mansia yang berkualitas iman, ilmu, dan amal. Bahkan A.A. Navis pun menulis “robohnya surau kami” sebagai bentuk kegelisahan terhadap kondisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari masalah tersebut, maka muncul gagasan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai surau ke sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Gagasan ini kemudian diistilahkan dengan “Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau” atau disingkat dengan PKPBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, PKPBS bukanlah menjadikan sekolah sebagai surau yang persis dengan surau masa lalu yang tidak saja berfungsi sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat tidurnya laki-laki baligh dan duda. Akan tetapi, PKPBS adalah upaya mengadopsi nilai-nilai pendidikan bernuansa surau dalam pengembangan logika dan dialektika dalam pembelajaran keilmuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dan budaya adat Minangkabau kepada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci PKPBS ini adalah “internalisasi nilai-nilai Islam dan budaya Minangkabau” sebagaimana yang pernah dilakukan di surau pada masa lalu. Nilai-nilai tersebut tentu bersifat universal yang dapat diterapkan dan dinikmati oleh banyak orang, meskipun non-muslim atau tidak bersuku Minang. Dalam hal ini, peran guru dan dukungan warga sekolah sangat menentukan keberhasilan program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, paling tidak ada tujuh pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Pertama, pendekatan qalbiyah, yaitu pendakatan yang berorientasi terhadap qalbu peserta didik. Pendekatan ini dapat dilaksanakan dengan melatih qalbu untuk berzikir dan berma'rifat kepada Allah SWT. Misalnya, peserta didik melaksanakan zikir setiap saat, kapan dan dimana pun berada, terutama di awal (seperti membaca basmalah) atau di akhir PBM (seperti membaca hamdalah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi zikir dalam pendekatan qalbiyah adalah mendidik peserta didik untuk mengingat Allah dalam setiap memahami materi pembelajaran. Sebab semua ilmu sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Pada hakikatnya Allah-lah yang mengajarkan ilmu kepada setiap makhluk-Nya. Dengan upaya seperti ini, maka ilmu yang diperoleh tidak membawa sikap arogansi, akan tetapi dengan ilmu yang ia kuasai menjadikannya semakin tawadhu’ (jadilah seperti padi, semakin barisi semakin marunduak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pendekatan internalisasi nilai yang berupaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai (internalitation of values) keislaman dan budaya Minangkabau ke dalam sebuah tema tertentu di setiap mata pelajaran tanpa mengabaikan kompetensi yang terdapat pada kurikulum. Pendekatan ini sejalan dengan pendektan integralistik-tematik yang merelevansikan materi ajar dengan nilai-nilai agama dan budaya. Dengan begitu, diharapkan pembelajaran mampu membentuk paradigma integral-holistik peserta didik terhadap ilmu, agama dan budaya dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pendekatan kultural, yaitu pendekatan yang digunakan untuk menciptakan lingkungan sekolah sebagai lingkungan pembelajar (learning society) yang berbudaya. Diharapkan keunggulan budaya lokal dapat diterapkan di sekolah sehingga terwujud proses pembelajaran yang bernuansa keislaman, iptek dan budaya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memahami dan menguasai keunggulan budaya lokal yang ada di lingkungan masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, pendekatan pembiasaan, yaitu upaya membiasakan nilai-nilai positif yang dikembangkan dalam sistem pendidikan surau. Pendekatan pembiasaan yang dimaksud dalam konteks ini adalah melakukan kebiasaan yang baik (good habbit). Proses pembiasaan ini dapat diterapkan oleh guru, baik dalam pembelajaran di kelas maupun di lingkungan sekolah. Disini reward dan punishment perlu diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, pendekatan keteladanan yang merupakan pendekatan paling berpengaruh dalam mendidik peserta didik, khususnya dalam hal pembentukan kepribadian. Pendidikan surau masa lalu menunjukkan bahwa Tuanku Syekh sebagai pendidik sekaligus pemimpin surau menjadi figur central bagi murid-muridnya sehingga terjadi proses pembentukan karakter yang begitu kuat. Oleh karena itu, pimpinan sekolah, guru, dan karyawan mesti menjadi teladan bagi peserta didiknya (tokoh identifikasi). Keteladanan itu mulai dari hal-hal terkecil, seperti kebersihan dan kerapian, bahasa yang sopan, tepat waktu, hingga kepada pelaksanaan shalat berjamaah di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, pendekatan logika-dialektika Islami, yaitu pendekatan pembelajaran yang menyentuh logika peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan problem solving sebagai pengembangan diri dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta melestasikan budaya berlandaskan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi pendekatan logika-dialektika Islami adalah ketika peserta didik memahami setiap mata pelajaran mesti berorientasi kepada peningkatan kualitas pendidikan yang disertai pemberian kesempatan kepada para peserta didik untuk memahami argumentasi tentang materi tersebut, sehingga terhindar dari mengikuti secara buta (taklid). Penerimaan materi yang hanya didasarkan taklid dapat mengakibatkan split personality atau frustrasi bila berhadapan dengan perubahan sosial dan realita kehidupan yang bertentangan dengan pemahaman dan keyakinannya. Bentuk split personality antara lain terlihat pada keadaan yang tidak sesuai antara pengalaman ritual-seremonial dengan perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, pendekatan emosional yang menekankan kepada aspek raso (rasa) peserta didik. Diharapkan peserta didik berperilaku atas dorongan dari dalam (internal motivation). Dalam istilah lain, pendekatan ini relevan dengan pendekatan instrinsik yang akan melahirkan keikhlasan (do more expect less) dalam setiap aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketujuh pendekatan yang dikembangkan dalam PKPBS tersebut tampaknya lebih menekankan kepada kompetensi kepribadian guru dalam mendidik akhlak peserta didik, disamping kompetensi professional, paedagogik dan social. Hal ini beralasan menginat Tuanku Syekh yang ada di surau selalu menjadi teladan bagi murid-muridnya sehingga pengaruhnya begitu kuat dalam membimbing dan mendidik akhlak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam mendidik kualitas keilmuan peserta didik sangat dibutuhkan skill guru yang mengajar dengan qalbu serta mampu menerapkan logika-dialektika yang Islami. Dengan upaya seperti ini, diharapkan peserta didik memiliki daya kritis yang tajam dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang ia peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika program ini konsisten dilaksanakan dengan sikap yang optimis dan kerja sama yang baik antara guru, pimpinan daerah, tokoh-tokoh masyarakat, dan orang tua, Insya Allah beberapa tahun ke depan Sumatera Barat akan tetap melahirkan sumber daya manusia yang berkarakter, cerdas dan kompetitif berlandaskan iman, ilmu dan amal secara integral. Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-3372031433368571798?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/3372031433368571798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=3372031433368571798&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/3372031433368571798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/3372031433368571798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/05/pendidikan-bernuansa-surau-di-sekolah.html' title='PENDIDIKAN BERNUANSA SURAU DI SEKOLAH'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S-4l3ZWI4yI/AAAAAAAAANA/iDPabbTUQoc/s72-c/surau+sb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5508958426115940972</id><published>2010-05-13T16:48:00.002+07:00</published><updated>2010-05-13T17:02:56.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>Reorientasi Madrasah Tarbiyah Islamiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S-vOKe323eI/AAAAAAAAAM4/_ghzbH7Rq08/s1600/MTI.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S-vOKe323eI/AAAAAAAAAM4/_ghzbH7Rq08/s320/MTI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470692851852959202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Refleksi 82 Tahun PERTI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 5 Mei 1928, Syekh Sulaiman Arrasuli mensponsori pertemuan besar para ulama Minangkabau bermazhab Syafi’i di Candung. Pertemuan besar tersebut juga dihadiri oleh beberapa orang wakil siswa dari tiga Madrasah Tarbiyah Islamiyah terbesar saat itu, yaitu MTI Candung, MTI Tabek Gadang Payakumbuh, dan MTI Jaho Padang Panjang (kini masuk dalam wilayah Kab. Tanah Datar). Setelah pertemuan besar itu, maka perkembangan MTI semakin pesat dan memainkan perannya dalam membina umat, khususnya di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu, lahirlah organisasi Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PMTI) sebagai organisasi yang bertanggung jawab untuk membina, memperjuangkan, dan mengembangkan Madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah yang ada. Kehadiran PMTI turut mendorong berkembangnya Madarasah-madarasah Tarbiyah Islamiyah di beberapa tempat. Selanjutnya, muncul pula gagasan di kalangan ulama Kaum Tua untuk menjadikan PMTI tidak hanya sebagai organisasi yang mengurus madrasah an sich, akan tetapi mampu mempersatukan dan menghimpun segenap ulama tradisional dan bergerak di bidang sosial lainnya. Maka pada tanggal 19-20 Mei 1930 dilangsungkan Konfrensi Besar di Candung, dan salah satu keputusannya adalah mengubah PMTI menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang disingkat PTI.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada konfrensi tanggal 11-16 Februari 1935, disusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Jika sebelumnya organisasi ini disingkat dengan PTI, maka dalam AD dan ART yang baru ini singkatan PTI diganti menjadi PERTI. Dalam perkembangan selanjutnya, PERTI memaikan peran penting, baik dalam bidang dakwah, sosial, terutama bidang pendidikan dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI)-nya. Namun hingga kini, setiap tanggal 5 Mei disepakati sebagai tanggal kelahiran PERTI.&lt;br /&gt;Khusus bidang pendidikan, MTI semakin berkembang pesat. Hingga pada tahun 1937, tercatat sebanyak 137 MTI di Minangkabau, dan di beberapa tempat luar Minangkabau. Pada tahun 1938, didirikan pula sebua madrasah khusus untuk putri, yaitu MTI putri di Bengkawas, Bukittinggi yang dipimpin Ummi Hj. Syamsiah Abbas dimana pada tahun 1940 tercatat memiliki murid sekitar 250 orang. Bahkan pada tahun 1937, misalnya, jumlah murid di MTI Jaho mencapai sekitar 700 orang, kemudian MTI Candung dengan jumlah murid sebanyak 500 orang, dan pada tahun 1938 mencapai 500 orang murid. Sedangkan pada tahun 1942, sudah terdapat 300 MTI di berbagai daerah dengan 45.000 murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, nama besar MTI tampaknya lebih didominasi oleh kejayaannya pada masa lampau. Meskipun beberapa MTI masih bertahan dan cukup diminati oleh masyarakat--seperti MTI Candung, MTI Pasir, MTI Jaho, dan lainnya--akan tetapi secara umum MTI mulai kehilangan nama. Tak bisa dipungkiri, banyak MTI yang kualitasnya di bawah standar, kurang terurus, kondisi fisik serta tenaga pendidik dan kependidikan demikian memprihatinkan. Padahal, dari MTI telah banyak melahirkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh, baik di tingkat lokal maupun nasional. Hingga kini, kiprah alumni MTI pun cukup terasa baik di bidang akademisi, maupun social-politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi persoalan ini, hemat penulis MTI mesti melakukan reorientasi sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan karakteristiknya sebagai lembaga pendidikan yang menekankan tafaqqahu fi al-din dan memelihara mazhab Imam Syafi’i. Dalam hal ini, MTI mesti melakukan reorientasi kurikulum. Orientasi MTI adalah mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat tafaqqahu fi al-din, sebagaimana pesantren lain yang berkembang di tanah Jawa. Hanya saja, tafaqqahu fi al-din yang dikembangkan berpahamkan ahlussunnah wal-jamaah dengan fiqh Imam Syafi’i, teologi al-Asy’ari dan al-Maturidhi serta tasawuf al-Ghazali. Untuk itu, setiap MTI mesti memiliki bidang-bidang tertentu, seperti tafsir, hadis, fiqh, atau gramatika bahasa Arab (Nahu, Sharaf, dll.). Namun, saat ini kurikulum yang diterapkan di MTI terlalu banyak. Paling tidak ada tiga bentuk mata pelajaran yang diajarkan kepada santri; (1) mata pelajaran umum yang biasa diterapkan di sekolah umum, (2) mata pelajaran agama yang biasa diterapkan di MTs atau MA, dan (3) mata pelajaran khusus pesantren. Akibatnya, setumpuk mata pelajaran tersebut membebani santri sehingga mereka sulit menguasai ilmu-ilmu yang termasuk dalam kategori tafaqqahu fi al-din secara mendalam.&lt;br /&gt;MTI—termasuk pesantren yang juga mengalami persoalan ini—mesti memperjuangkan ke tingkat pusat agar MTI dan pesantren yang sejenis diberikan kebebasan untuk mendesain kurikulum yang bersifat tafaqqahu fi al-din tersebut. Jika mata pelajaran umum harus ada sebagaimana yang diatur dalam Permendiknas no 22, 23, dan 24 hendaklah mendasar saja. Sementara mata pelajaran yang diterapkan di MTs dan MAS tidak perlu lagi diberlakukan, karena substansi mata pelajaran yang bercorak tafaqqahu fi al-din tersebut tentu melebihi dari yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, MTI juga dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia modern, tanpa harus menghilangkan karakteristik dasarnya. Dalam hal ini, MTI perlu mendesain kurikulkum yang bercorak tafaqqahu fi al-din tersebut secara lebih terstruktur, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diberlakukan dalam KTSP. Artinya, setiap guru/ustadz/syekh juga diharapkan terampil mendesain kurikulum mulai dari merencanakan, menerapkan hingga mengevaluasi dan menindaklanjuti setiap materi yang diberikan. Selain itu, perkembangan IT yang demikian pesat juga perlu dikuasai oleh setiap santri sehingga MTI tidak terkesan tradisional-konvensional yang ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada pula yang beranggapan MTI sebagai lembaga pendidikan formal mesti mampu menyiapkan lulusannya ke PTU. Karenanya telah dibuka pula jurusan umum, seperti IPA dan IPS di tingkat Madrasah Aliyah. Kebijakan itu bisa diteruskan dan dikembangkan. Akan tetapi, jurusan keagamaan yang bercorak tafaqqahu fi al-din tersebut mesti lebih besar dan diutamakan, sehingga MTI tidak mengalami pergeseran dari orientasi semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari orientasi kurikulum, aspek manajerial MTI pun mesti ditingkatkan, baik secara internal maupun eksternal. Pengelola MTI hendaklah berjiwa ikhlas sebagaimana yang telah diajarkan para pendiri terdahulu. Bukankah Syekh Sulaiman ar-Rasuli pernah mengkhawatirkan perubahan dari halaqah kepada klasikal akan berdampak kepada ketidakikhlasan guru dalam mengajar karena gaji yang mulai ditetapkan? Meskipun akhirnya ia menyetujui dan memotori perubahan itu, akan tetapi nilai-nilai keikhlasan tersebut haruslah dipertahankan.&lt;br /&gt;Di samping syarat keikhlasan, para pemimpin/pengelola MTI diharapkan memiliki skill leadership yang unggul dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Mereka dituntut membuka tangan terhadap perubahan-perubahan sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman, tanpa harus mengorbankan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berorientasi kepada tafaqqahu fi al-din.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, peran alumni perlu pula dioptimalkan. Alumni MTI saat ini banyak ditemukan di berbagai instansi dan profesi, mulai dari guru, politisi, pegawai, akademisi, bahkan guru besar pun banyak lahir dari MTI. Lalu kontribusi apa yang telah mereka berikan untuk peningkatan kualitas MTI? Bukankah mereka besar juga turut disebabkan oleh MTI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimalisasi peran alumni juga dapat diorganisir melalui organisasi PERTI yang nota-benenya diduki oleh alumni MTI. Persoalannya adalah kemanakah orientasi PERTI? Sebaiknya orientasi PERTI lebih menekankan pada aspek pendidikan dari pada aspek politik. Konsekuensinya, pengurus PERTI pun dituntut memiliki pemahaman yang lebih terhadap urusan pendidikan dari pada urusan politik sehingga visi-misi serta program strategis PERTI lebih banyak mengurus dan memperhatikan pendidikan dibanding politik. PERTI harus realistis, umat memang butuh peran PERTI dalam sosial-masyarakat, termasuk politik, akan tetapi bidang pendidikan melalui MTI lebih membutuhkan lagi. Melalui pendidikanlah perjuangan PERTI akan tetap berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa adanya perubahan dan kepedulian orang-orang yang dibesarkan dari MTI, agaknya MTI akan mengalami mati suri dan kejayaannya hanya menjadi prasasti di kemudian hari. Maka Milad PERTI ke-82 ini hendaknya menjadi momentum bagi alumni dan masyarakat Sumatera Barat terhadap peningkatan kualitas Madrasah Tarbiyah Islamiyah. MTI adalah aset Sumatera Barat, lembaga pendidikan yang lahir di ranah Minangkabau yang sarat dengan agama dan adat serta terkenal dengan filosofis Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5508958426115940972?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5508958426115940972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5508958426115940972&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5508958426115940972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5508958426115940972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/05/reorientasi-madrasah-tarbiyah-islamiyah.html' title='Reorientasi Madrasah Tarbiyah Islamiyah'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S-vOKe323eI/AAAAAAAAAM4/_ghzbH7Rq08/s72-c/MTI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-1206393742855900749</id><published>2010-04-20T11:19:00.008+07:00</published><updated>2010-06-20T17:45:42.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>Mengoptimalkan PAI di Sekolah dan PTU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S80yFFuHxoI/AAAAAAAAAMw/1YqjnT89HxI/s1600/DSC02701.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S80yFFuHxoI/AAAAAAAAAMw/1YqjnT89HxI/s320/DSC02701.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462076986086639234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Muhammad Kosim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Peranan Dosen dan Guru PAI dalam Menciptakan Kampu dan Sekolah yang Islami”, demikian tema Seminar dan Pelantikan Pengurus DPD Asosiasi Dosen PAI Indonesia (ADPISI) Kota Padang, Sabtu, 17 April 2010 di Kampus STMIK Indonesia, Padang. Seminar yang dihadiri oleh beberapa guru PAI di sekolah umum dan Dosen PAI di PTU ini menyadari bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (PAI) masih belum optimal dilakukan baik di sekolah maupun perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, berbagai fenomena degradasi moral yang terjadi di kalangan remaja yang notabenenya adalah pelajar dan mahasiswa cukup memprihatinkan. Mereka mengetahui ajaran agama, antara yang hak dan batil, halal dan haram, baik dan buruk, perintah dan larangan agama, namun tidak teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kerap kali terjadinya kesenjangan yang signifikan antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah, misalnya, para siswa menutup aurat, perempuan memakai jilbab, namun tidak sedikit yang di luar sekolah melepas jilbab dan mempertontonkan aurat. Mereka diajarkan mengoperasikan computer dan internet, tetapi di luar sekolah mereka mengakses situs-situs porno. Mereka diajarkan etika berteman antara laki-laki dan perempuan, tetapi sejumlah kasus pergaulan bebas (free sex) masih sering ditemukan. Mereka dididik mendirikan shalat, tetapi shalat mereka abaikan sehingga masjid pun lengang dari kaum remaja. Akhirnya budaya malu kian ditinggalkan, ajaran agama semakin diabaikan, adat-istiadat pun hanya jadi kenangan. Fenomena ini juga terjadi hingga ke perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam konteks budaya masyarakat Sumatera Barat yang sarat dengan adat (Minangkabau) dan agama (Islam), memiliki tradisi yang kuat dalam melahirkan generasi yang cerdas dan bermoral. Sejumlah tokoh nasional, bahkan internasional yang berasal dari ranah Minang ini telah terukir dalam tinta emas sejarah. Sebut saja Moh. Hatta, ST. Syahrir, M. Natsir, Hamka, Tan Malaka, dan sederetan tokoh lainnya merupakan bukti keberhasilan pendidikan masa lalu. Lalu bagaimana kiprah Ranah Minang ke depan dalam melahirkan tokoh yang cerdas dan bermoral yang lebih baik, p aling tidak sekaliber tokoh tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi persoalan di atas, mengoptimalkan PAI di sekolah dan PTU menjadi solusi yang patut didukung secara bersama. Sebab Pendidikan Agama Islam tidak saja mengajarkan seseorang untuk menjalankan ibadah ritual, tetapi lebih dari itu, agama memberi spirit dan motivasi yang tinggi kepada pemeluknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan atas dasar iman (Qs. Al-Alaq/96: 1-5). Dengan begitu, antara iman, ilmu dan amal akan sejalan sehingga lahirlah ulama yang ilmuwan, ilmuwan yang ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan PAI di sekolah, yaitu: pertama, terbentuknya visi yang sama serta komitmen dan konsistensi warga sekolah untuk mendidik peserta didik yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Kebanyakan sekolah memang mencamtumkan kata-kata “imtaq” atau “akhlak mulia” dalam visi dan misi sekolah. Hanya saja upaya kongkrit untuk mewujudkan visi misi tersebut sering terabaikan. Untuk itu, komitmen dan konsistensi warga sekolah untuk merumuskan langkah strategis lalu melaksanakannya menjadi keniscayaan. Konsekuensinya, tugas dan tanggungjawab mendidik akhlak dan sikap keberagamaan peserta didik tidak saja diserahkan kepada guru PAI, tetapi menjadi tanggungjawab bersama dengan pembagian kerja yang disepakati bersama. Misalnya, menerapkan shalat zhuhur berjamaah, mendirikan kantin kejujuran, menarapkan disiplin dan kebersihan lingkungan sekolah, dan sebaginya. Dalam hal ini, kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sangat dibutuhkan kebijaksanaan, kearifan, dan ketegasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, menerapkan kekuatan lokal berbasis agama dan budaya sebagai karakteristik sekolah. Dalam hal ini, Pemda Sumatera Barat melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga telah menetapkan 4 kebijakan lokal upaya peningkatan mutu pendidikan responsif lokal Sumatera Barat sebagai program unggulan, yaitu Pendidikan Al-Qur’an, Peningkatan Pendidikan Bernuansa Surau (PKPBS), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;English Communication Activities for Fun and Enjoyable Learning&lt;/span&gt; (ECAFE Learning), dan Integrasi Bencana Alam. Dua dari empat program unggulan tersebut ssungguhnya memperkuat PAI di sekolah dan merupakan kekuatan lokal (Sumatera Barat) yang sejak lama tumbuh berkembang di negeri ini. Al-Qur’an, misalnya, merupakan pedoman hidup setiap muslim dan menjadi materi pokok yang mesti dipelajari oleh setiap masyarakat Minangkabau sejak masuknya agama Islam. Bahkan, menjadi cerita turun-temurun jika orang Minang berada di Masjid tanah perantauan, sering diminta menjadi imam shalat, karena kemahiran mereka membaca al-Qur’an sudah tersebar ke berbagai daerah. Demikian pula surau, menjadi lembaga pendidikan era awal yang sangat berhasil melahirkan tokoh-tokoh muslim yang berpengaruh baik lokal, nasional, maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sekolah sejatinya menerapkan kedua kebijakan tersebut. Pendidikan al-Qur’an merupakan mata pelajaran muatan lokal yang diterapkan sejak tingkat SD, SMP, SMA dan SMK berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2007. Melalui mata pelajaran ini, peserta didik tidak saja fashahah dalam membaca al-Qur’an dan menghafal beberapa surat pendek, akan tetapi diharapkan mereka mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, juga diharapkan terbentuknya paradigma berpikir nondikotomis, dimana antara sains dengan al-Qur’an tidaklah terpisah melainkan terintegrasi sebagai ayat-ayat Allah (kauniyah dan qauliyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula program Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau (PKPBS). Program ini sesungguhnya lebih mengarah kepada pendekatan setiap guru untuk mengadopsi nilai-nilai pendidikan surau dalam mengembangkan logika dan dialektika dalam pembelajaran keilmuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dan budaya adat Minangkabau kepada peserta didik. Adapun pendekatan yang dapat diterapkan adalah pendekatan qalbiyah, internalisasi nilai, cultural, pembiasaan, keteladanan, logika-dialektika Islami dan pendekatan emosional. Dalam penerapannya, guru dituntut memiliki kemampuan menjelaskan nilai-nilai keislaman/adat Minangkabau yang terkait dengan materi yang diajarkan, sehingga siswa tidak saja menguasai materi secara keilmuan, tapi juga mempunyai pemahaman dalam bentuk perilaku yang dilandasi ajaran agama dan budaya lokal (Minangkabau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua program yang sarat dengan ajaran Islam tersebut semestinya menjadi program unggulan dan karakteristik setiap sekolah yang ada di Sumatera Barat. Jika sekolah tidak bersedia menerapkan mata pelajaran muatan lokal Pendidikan al-Qur’an dan PKPBS ini, maka sesungguhnya mereka telah kehilangan peluang besar untuk mengoptimalkan PAI di sekolah serta mendidik Imtaq dan akhlak mulia peserta didik. Lagi-lagi, peran kepala sekolah, komite sekolah, serta orang tua diharapkan merespon kebijakan ini sehingga dapat diterapkan di sekolah demi peningkatan kualitas pendidikan dan moralitas generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun di tingkat Perguruan Tinggi Umum (PTU), juga dituntut untuk melakukan berbagai inovasi optimalisasi PAI tersebut. Hemat penulis, ada dua upaya yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan oleh perguruan tinggi terkait PAI, yaitu dari segi keilmuan (kognitif), dan pengamalan (afektif-psikomotor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, dari segi keilmuan, dosen PAI mesti mendesain kurikulum PAI berdasarkan kebutuhan mahasiswa. Di kota Padang, misalnya, pada umumnya PTU telah menerapkan 3 Sks untuk mata kuliah PAI. Seharusnya, sepertiga akhir dari pertemuan tersebut (sekitar 5 x pertemuan) disesuaikan materi PAI dengan jurusan mahasiswa masing-masing. Lebih ideal lagi, jika pimpinan PTU menyediakan mata kuliah tambahan--meskipun 0 Sks tetapi wajib diikuti oleh setiap mahasiswa—berupa mata kuliah “PAI berwawasan Jurusan”. Dalam hal ini, dosen PAI dengan dosen senior yang beragama Islam pada masing-masing jurusan bekerja sama dalam satu tim mendesain kurikulum dengan materi integrasi PAI dengan Ilmu yang dikembangkan pada jurusan atau program studi yang ada. Misalnya, “Islam dan Biologi” pada jurusan Biologi, “Islam dan Hukum” pada Fak. Hukum, “Islam dan Teknologi” pada jurusan Teknik, “Islam dan Kesehatan” pada jurusan kedokteran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran di kelas pun, sebaiknya menerapkan tim teaching dengan bimbingan dua orang dosen; dosen PAI dan dosen jurusan yang muslim. Kemudian, dibutuhkan pula buku-buku yang ditulis secara bersama oleh dosen PAI dan dosen jurusan yang beragama Islam tersebut. Jika pola ini diterapkan, maka akan terbentuk mindset peserta didik yang integral antara agama dan ilmu pengetahuan. Jika tidak, maka corak berpikir sekuler dan dikotomis akan tetap berkembang sehingga lahirlah ilmuan yang amoral. Terutama mahasiswa di FKIP, kelak mereka menjadi guru akan mampu menyajikan materi yang terintegrasi dengan nilai-nilai ajaran Islam. Maka sepuluh-dua puluh tahun yang akan datang akan terwujud pendidikan Sumatera Barat yang terintegrasi antara Ilmu dan Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerapkan kebijakan seperti ini, dibutuhkan kerjakeras, inovasi dan kreatifitas dosen PAI dalam memperjuangkannya di tingkat pimpinan PTU, termasuk kemampuan dalam mendesain kurikulum, menyusun buku, dan bekerja sama dengan dosen mata kuliah jurusan yang beragama Islam tersebut. Dalam hal ini, ADPISI (Asosiasi Dosen PAI Indonesia) memegang peranan kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, mengoptimalkan kegiatan forum atau pusat studi Islam yang ada di PTU. System mentoring dan tutor sebaya dalam menjalankan ajaran agama perlu dikembangkan, diapresiasi dan difasilitasi sebaik mungkin. Persoalannya, tidak semua mahasiswa dapat ikut dalam kegiatan ini. Meskipun demikian, PTU mesti menyediakan fasilitas pembinaan mental-spiritual bagi mahasiswanya. Peran dosen PAI menciptakan lembaga pembinaan ruhaniyah yang menyenangkan, sesuai dengan perkembangan zaman dan diminati banyak orang sangat dibutuhkan. Lagi-lagi, ide cerdas, kreatifitas dan inovasi dosen PAI selalu dibutuhkan.&lt;br /&gt;Dengan upaya seperti ini, diharapkan kita mampu “menemukan yang hilang” dari Sumatera Barat, yaitu generasi yang ilmuan yang ulama, dan ulama yang ilmuan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Insya’ Allah&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-1206393742855900749?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/1206393742855900749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=1206393742855900749&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/1206393742855900749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/1206393742855900749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/04/mengoptimalkan-pai-di-sekolah-dan-ptu.html' title='Mengoptimalkan PAI di Sekolah dan PTU'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S80yFFuHxoI/AAAAAAAAAMw/1YqjnT89HxI/s72-c/DSC02701.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-6194337844432525831</id><published>2010-02-04T11:14:00.005+07:00</published><updated>2010-02-04T11:46:56.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Syekh Burhanuddin dan Pemberdayaan Surau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S2pQj-KB3wI/AAAAAAAAAMg/9WNe4FAWEAQ/s1600-h/surau+sb1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 193px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S2pQj-KB3wI/AAAAAAAAAMg/9WNe4FAWEAQ/s320/surau+sb1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434244479286632194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Muhammad Kosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disebutkan Koran ini Rabu kemarin (Padang Ekspres, 3/2) Syekh Burhanuddin (satu sumber menyebutkan lahirnya 1066 H/1646 M dan wafat 1111 H/1691 M) adalah sosok ulama yan&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S2pPvGuwuGI/AAAAAAAAAMQ/8O6YLnALeKE/s1600-h/surau+sb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 268px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S2pPvGuwuGI/AAAAAAAAAMQ/8O6YLnALeKE/s320/surau+sb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434243571055114338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;g masih misterius karena sulit melacak profilnya; baik biografi hidupnya, kepribadiannya sehari-hari maupun bentuk-bentuk usaha yang ia lakukan dalam menyebarkan Islam, khususnya di Minangkabau. Yang jelasnya, ia memainkan peranan menentukan dalam menguatkan Islamisasi di Minangkabau. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua bentuk upaya Islamisasi yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin di Minangkabau yang banyak mendapat pengakuan dari para ahli dan hingga kini masih bisa dilacak keberadaannya. Pertama, pemberdayaan surau sebagai lembaga pendidikan Islam, dan kedua, mengajarkan ajaran tasawuf melalui tariqat Syattariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau sebagai Lembaga Pendidikan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Mahmud Yunus (1993: 8), dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia menegaskan bahwa Syekh Burhanuddin adalah seorang anak Minangkabau asli (Pariaman) sekaligus orang yang mula-mula mendirikan surau—sebagai madrasah—untuk menyiarkan pendidikan Islam secara sistematis sesuai dengan system Syekh Abdurrauf, gurunya di Aceh. Namun, beliau mengakui tidak menemukan bukti sejarah bagaimana cara dan system pendidikan Islam ketika itu; kitab apa saja yang digunakan dan metode apa yang diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Surau—kadang-kadang dibaca singkat suro—sebenarnya telah ada di tengah-tengah masyarakat Minangkabau pra-Islam. Ketika itu, surau merupakan sebuah bangunan kecil yang aslinya dibangun untuk menyembah nenek moyang kuno. Karena alasan ini, surau paling awal biasanya didirikan di atas tempat yang paling tinggi atau setidaknya lebih tinggi dari bangunan lain. Dalam sejarah Minangkabau dipercayai bahwa surau besar pertama didirikan raja Adityawarman tahun 1356 di kawasan Bukit Gombak. Surau yang selain berfungsi sebagai pusat peribadatan Hindu-Buddha ini juga menjadi tempat pertemuan anak-anak muda untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan keterampilan sebagai persiapan menempuh kehidupan. (Azyumardi Azra, 2003: 47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut adat, struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, juga membuktikan bahwa surau telah dikenal sebelum masuknya Islam ke Minangkabau. Dalam sistem matrilineal, kaum lelaki tidak memiliki kamar tidur di rumah orang tuanya. Karenanya mereka akan menempati surau di malam hari sebagai tempat tidur. Ketika mereka nikah, ia hanya tamu "yang berkunjung" di rumah istri-istrinya, dan bahkan di rumah asalnya. Pada masa tua, jika istrinya meninggal atau cerai, maka ia—yang telah berstatus duda—kembali tinggal di surau. Dengan demikian, surau dijadikan sebagai tempat berkumpulnya laki-laki lajang yang sudah baligh, laki-laki duda, serta tempat persinggahan laki-laki perantau. Jadi, surau memiliki fungsi sosial-budaya, yaitu sebagai tempat pertemuan para pemuda dalam upaya mensosialisasikan diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi surau yang bernuansa ritual keagamaan kuno dan tempat tidur laki-laki (remaja dan duda/orang tua) tersebut diberdayakan oleh Syekh Burhanuddin sebagai lembaga pendidikan Islam. Surau memang tetap mempertahankan fungsinya sebagai tempat ritual keagamaan dan tempat tidur, akan tetapi mendapat sentuhan Islamisasi. Di surau, masyarakat setempat mendirikan shalat berjamaah, mengikuti pengajian, belajar membaca al-Qur’an, membentuk jamaah zikir, dan belajar adat-istiadat, termasuk belajar silat sebagai bagian dari adat-istiadat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prototype surau yang dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin tersebut merupakan komplek bangunan yang terdiri dari masjid, bangunan-bangunan untuk tempat belajar, dan suaru-surau kecil yang sekaligus menjadi pemondokan murid-murid yang belajar di surau. Bahkan hingga kini surau yang didirikan sebagai lembaga pendidikan Islam tersebut masih ditemukan, tepatnya di Tanjungmedan, Ulakan Pariaman. Kini, di komplek surau tersebut sedang dibangun Masjid Luhur Syekh Burhanuddin yang dikerjakan oleh Riau Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak ditemukan secara pasti model pendidikan Islam yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin di surau tersebut, akan tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan surau sebagai lembaga pendidikan Islam di Minangkabau sangatlah besar. Pada periode selanjutnya, ditemukan beberapa surau yang berperangaruh terhadap pengembangan Islam di Minangkabau, sekaligus melahirkan para ulama yang kharismatik. Bahkan masing-masing surau tersebut memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan surau-surau lain; tetap tetap mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam. Seperti Surau Koto Tuo (Tuanku Nan Tuo) Agam yang memiliki distingsi dalam bidang tafsir; Surau Kotogadang yang terkenal sebagai pusat ilmu mantiq dan ma'ani; Surau Sumanik, tersohor kuat dalam tafsir dan fara'id; Surau Kamang, terkenal karena kuat dalam ilmu-ilmu bahasa Arab; Surau Talang, dan Surau Salayo, yang keduanya terkenal dalam bidang Nahu-Sharaf. Keseluruhan surau ini mencapai puncak kejayaannya dalam masa pra-Padri. Sekali lagi, keberadaan surau-surau tersebut tentu tidak terlepas dari perjuangan Syekh Burhanuddin dalam memberdayakan Surau sebagai peninggalan tradisi lokal menjadi lembaga pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, melalui surau ini Syekh Burhanuddin juga mengajarkan tareqat Syattariyah kepada murid-muridnya, sehingga ia dikenal sebagai mursyid Syattariyah paling berpengaruh di Sumatera Barat. Tareqat Syattariyah semacam organisasi pengamal ajaran tasawuf yang inti ajarannya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Tegasnya, melalui tareqat ini, Syekh Burhanuddin mengedepankan pendidikan spiritual atau pendidikan ruhaniah kepada murid-muridnya. Pada perkembangan selanjutnya, tareqat tersebut tidak saja ditemukan di sekitar Pariaman, tetapi menyebar luas ke berbagai daerah Minangkabau, termasuk ke daerah darek, seperti Agam, Tanah Datar hingga ke Lima Puluh Kota. Bahkan hingga kini pengamal tareqat syattariyah masih ditemukan di daerah-daerah tersebut. Kenyataan ini pula membuat sebagian ahli memaknai ”syara’ mandaki, adat manurun” sebagai pepatah yang menerangkan pengaruh Syekh Burhanuddin menyiarkan Islam dari pantai menyebar hingga ke daerah darek (daratan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaktualisasi Perjuangan Syekh Burhanuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ketokohan Syekh Burhanuddin masih terasa. Bahkan setiap hari Rabu akhir bulan Safar, makamnya yang berada di Ulakang ramai dikunjungi oleh peziarah; mulai dari masyarakat awam hingga para pejabat dan alim-ulama. Kegiatan itu biasanya dikenal dengan basafa gadang yang pada tahun ini dilaksanakan Rabu kemarin (3/2). Namun menghargai dan menghormati perjuangan Syekh Burhanuddin sejatinya tidak hanya membaca atau mengikuti kegiatan basafa dan menjadikannya sebagai tradisi lokal yang patut diapresiasi. Yang terpenting adalah melakukan reaktualisasi terhadap usaha-usaha yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin dalam menyiarkan ajaran Islam tersebut dalam konteks kekinian dan kedisinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia telah mampu meberdayakan surau yang dulunya tidak Islami menjadi lembaga pendidikan Islam sekaligus sebagai tempat ibadah, lalu bagaimana dengan perjuangan kita hari ini? Sehatinya, kegiatan basafa menjadi momentum bagi masyarakat Minangkabau untuk mengaca diri seberapa besar perjuangan kita dalam mensyiarkan ajaran Islam, khususnya dalam melanjutkan perjuangan Syekh Burhanuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga hal yang patut dilakukan, yaitu: Pertama, memakmurkan masjid. Kita menyadari bahwa hingga hari ini jumlah masjid banyak berdiri, tetapi jamaah sunyi-sepi. Apalagi di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, masjid merupakan karakter utama dalam bermasyarakat. Hamka pernah menyebutkan, sebuah nagari baru sah dinamai nagari bilamamna di sana berdiri: masjid nan sebuah, balairung nan seruang, tepian tempat mandi yang terpisah di antara laki-laki dengan perempuan, dan pandam-pekuburan. (Hamka dalam Ayahku, 1958: 22-23). Oleh karena, memakmurkan masjid tidak hanya sekedar meramaikannya dengan shalat berjamaah, tetapi lebih dari itu mengoptimalkannya fungsinya sebagai tempat ibadah, tempat menuntut ilmu dan sarana mempersatukan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis jika masyarakat berlomba-lomba membangun masjid secara fisik dengan dana yang relative mahal, tetapi tidak melakukan upaya apa-apa dalam mempersiapkan generasi untuk mengisi masjid tersebut di masa akan datang. Untuk itu, TPA/MDA mesti dioptimalkan, pengajian-pengajian masjid harus digalakkan, majlis ta’lim diberdayakan, bahkan persoalan ekonomi dan kehidupan social budaya umat pun patut diorganisir melalui masjid. Dengan demikian, jika Syekh Burhanuddin berjuang mengubah surau dari non-Islam menjadi Islami, maka kita dituntut untuk memberdayakan surau—dalam hal ini masjid/mushalla—sebagai tempat ibadah ,lembaga pendidikan dan sarana pemberdayaan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengedepankan pendidikan ruhaniah. Kita harus menyadari bahwa masyarakat modern di era globalisasi ini sangat rentan dengan pola hidup materislitis, hedonis, dan liberalis. Mereka mengalami kehampaan spiritual sehingga persaudaraan tidak lagi menjadi perhatian, ketenangan batin tidak lagi dirasakan.  hidup laksana robot yang kehilangan hati nurani. Maka para ulama mesti mengubah pola dakwahnya yang berorientasi terhadap pendidikan ruhaniyah. Jika Syekh Burhanuddin memilih jalan tareqat Syattariyah sebagai jalan pendidikan ruhani, maka dalam konteks kekinian kita bisa menggunakan metode lain yang bernuansa pendidikan ruhani tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mempertegas peran pendidikan Islam di sekolah. Sesungguhnya system pendidikan nasional kita memberikan perhatian terhadap pendidikan agama. Hal ini relevan dengan tujuan pendidikan nasional yang menghendaki terwujudnya pribadi yang beriman dan bertakwa. Namun, upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut kerapkali tidak sesuai dengan yang diharapkan. Berapa banyak sekolah yang siswanya mayoritas muslim tetapi tidak memiliki sarana ibadah (mushalla)? Berapa banyak pula sekolah yang ada mushallanya, tetapi tidak mengorganisir siswanya untuk shalat zhuhur berjamaah di sekolah tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya tentang pendidikan spiritual di sekolah; nyaris terabaikan. Padahal sekolah (khususnya SD, SMP, dan SMA) adalah asset terbesar umat Islam, karena jumlah generasi muslim yang banyak mengenyam pendidikan adalah di sekolah tersebut. Namun, pendidikan yang diterapkan masih lebih bersifat kognitif, guru hanya bertanggungjawab dalam melakukan transfer of knowledge, tetapi melalaikan penanaman nilai-nilai Islami. Sekolah akan lebih dihargai jika siswanya memperoleh nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi. Lalu masih wajarkah guru-guru muslim yang menjalankan tugas mulianya patut disebut—meminjam istilah Prof. Ahmad Tafsir—kelompok ulama sebagai pewaris para Nabi? Atau profesi guru hanya sekedar profesi duniawi untuk memenuhi kebutuhan ekonomis belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, para pemikir dan praktisi pendidikan serta para ulama mesti menemukan dan menerapkan formulasi pendidikan ruhani untuk menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi yang nyaris menggerogoti dimensi spiritual manusia, baik di tengah masyarakat maupun di kalangan generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah. Kisah perjuangan Syekh Burhanuddin diharapkan bisa menjadi inspirasi, Insya Allah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-6194337844432525831?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/6194337844432525831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=6194337844432525831&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/6194337844432525831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/6194337844432525831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/02/syekh-burhanuddin-dan-pemberdayaan.html' title='Syekh Burhanuddin dan Pemberdayaan Surau'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/S2pQj-KB3wI/AAAAAAAAAMg/9WNe4FAWEAQ/s72-c/surau+sb1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-4009236255882517899</id><published>2010-01-03T08:46:00.003+07:00</published><updated>2010-01-03T09:11:42.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah Pendidikan'/><title type='text'>Makalah Kapita Selekta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sz_6p2FK7rI/AAAAAAAAAL4/r3X60-W1rAE/s1600-h/SQ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sz_6p2FK7rI/AAAAAAAAAL4/r3X60-W1rAE/s320/SQ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422328073176149682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDIDIKAN YANG SPIRITUALIS:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual Melalui Pendidikan Agama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Kosim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Islam sebagai agama, sesungguhnya mengajarkan kepada umatnya untuk membentuk masyarakat yang berperadaban tinggi. Antara agama dan peradaban memiliki korelasi positif, semakin tinggi sikap keberagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula kontribusinya dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban, demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence" yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) tidak memiliki hubungan dengan agama. Dengan demikian, sumber bahan yang digunakan dalam makalah ini  adalah buku SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence karya pasangan psikolog Danah Zohar dan Ian Marshall yang diterbitkan oleh Bloomsbury, Great Britain tahun 2000, yang dibaca dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia dan diterbiutkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002 lalu dikombinasikan dengan pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kehadiran teori kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang dipopulerkan oleh pasangan psikolog, Danah Zohar dan Ian Marshall pada tahun 2000 turut merubah orientasi pendidikan modern yang selama ini lebih cenderung kepada kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient).  Kecerdasan spiritual dianggap penggagasnya sebagai jenis "Q" ketiga (third intelligence) dan kecerdasan tertinggi (the ultimate intelligence) yang paling menentukan kesuksesan seseorang sekaligus sebagai landasan yang diperlukan untuk memungsikan IQ dan EQ secara efektif.&lt;br /&gt;Namun teori kecerdasan spiritual yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall tidak sepenuhnya relevan dengan konsep pendidikan agama, terutama yang berkenaan dengan konsep hubungan SQ dan agama. Menurut pasangan psikolog ini, SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah.  Pemahaman semacam ini bisa berdampak negatif terhadap pengembangan pendidikan. Sebab, ketika SQ dianggap sebagai kecerdasan yang tertinggi maka pelaksanaan pendidikan bisa lebih berorientasi kepada kecerdasan spiritual dan mengabaikan aspek religius, bahkan ajaran agama dapat dianggap sebagai ajaran yang parsial. Jika kondisi ini terjadi, maka agama tidak lagi menjadi pegangan hidup dan akan mudah ditinggalkan, termasuk dalam pelaksanaan pendidikan.&lt;br /&gt;Padahal, agama memiliki ajaran yang universal, komprehensif dan holistik sehingga aspek spiritual yang sesungguhnya menjadi bagian penting di dalamnya. Pendidikan agama sebagai upaya mendidik peserta didik memiliki sikap keberagamaan yang sempurna pada hakikatnya juga berorientasi kepada multikecerdasan seseorang, termasuk kecerdasan spiritual. Konklusi sementara ini akan diuraikan lebih lanjut dalam makalah ini secara analisis dan rasional sehingga menjawab hakikat pendidikan agama dan hubungannya dengan kecerdasan spiritual (SQ) seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan cara menganalisis konsep kecerdasan spiritual yang dipopulerkan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar, khususnya yang berkenaan dengan hubungan agama dan kecerdasan spiritual. Kemudian, akan dianalisis pula kajian tentang spiritual dalam Islam. Setelah itu akan dilakukan formulasi model pendidikan agama yang mampu mencerdaskan spiritual seseorang yang pada gilirannya akan mencerdaskan suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang agama dan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence" akan dianalisi dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002. Selain itu, kajian ini juga didasarkan pula kepada pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara IQ, EQ dan SQ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di awal abad ke-20, IQ menjadi isu besar. Kecerdasan  intelektual atau rasional merupakan kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog pendukung konsep itu menyusun berbagai tes untuk mengukurnya, dan tes-tes ini menjadi alat memilah manusia ke dalam berbagai tingkatan kecerdasan, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ (Intelligence Quotient) yang dianggap mampu menunjukkan kemampuan mereka. Bahkan menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Melalui tes IQ (intelligence quotient), tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat dibandingkan dengan orang lain. Kecerdasan inteligensi dapat diperoleh melalui pembagian usia mental (mental age) dengan usia kronologis (cronological age) lalu diperkalikan dengan angka 100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi tentang IQ ini yang pertama kali dipelopori oleh Sir Francis Galton pengarang Heredity Genius (1869) dan kemudian disempurnakan oleh Alfred Binet dan Simon, pada umumnya mengukur kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan praktis, daya ingat (memory), daya nalar (reasoning), perbendaharaan kata dan pemecahan masalah (vocabulary and problem sol¬ving).   IQ telah menjadi mitos sebagai satu-satunya alat ukur atau parameter kecerdasan manusia, sampai akhirnya Daniel Goleman mempopulerkan apa yang disebut dengan EQ (Emotional Intelligence) pada tahun 1995 dengan menunjukkan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang yang IQ tinggi tidak menjamin untuk sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif. EQ memberi rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan dan kegembiraan secara tepat.&lt;br /&gt;Penelitian para psikolog semakin berkembang sehingga ditemukan jenis "Q" ketiga, yaitu kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Kecerdasan ketiga ini dipopulerkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall  dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence". Pasangan psikolog ini mendefinisikan SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Bahkan mereka menegaskan bahwa SQ sebagai kecerdasan tertinggi manusia sekaligus sebagai landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual, menurut mereka adalah orang yang memiliki kemampuan bersikap fleksibel, tingkat kesadaran diri yang tinggi, mampu menghadapi dan memanfaatkan penderitaan dan rasa sakit, kualitas hidupnya diilhami oleh visi dan nilai-nilai, berpandangan holistic, dan hidup secara mandiri.  Dalam konteks pendidikan, orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan menjadi pribadi yang mandiri, merasakan hidupnya penuh dengan nilai serta memiliki kriteria-kriteria di atas sehingga pembentukan karakter yang diinginkan dalam proses pendidikan dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kecerdasan Spiritual dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah spiritual, sebagaimana yang digunakan dalam bahasa Inggris, sesungguhnya mempunyai konotasi Kristen yang sangat kuat. Menurut Seyyed Hossein Nasr, istilah yang digunakan untuk "spiritualitas" adalah rūhāniyyah (bahasa Arab), ma'nawiyyah (bahasa Persia), atau berbagai turunannya. Istilah pertama diambil dari kata ruh, yang bermakna ruh dimana Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mengatakan, ketika ditanya tentang hakikat ruh: "Sesungguhnya ruh adalah urusan Tuhanku (Qs. al-Isra'/17: 85). Sedangkan istilah yang kedua berasal dari kata ma'na yang secara harfiah berarti makna, yang mengandung konotasi kebatinan, yang hakiki, sebagai lawan dari yang kasatmata, dan juga "ruh", sebagaimana istilah ini dipahami secara tradisional, yaitu berkaitan dengan tataran realitas yang lebih tinggi daripada yang bersifat material dan kejiwaan dan berkaitan pula secara langsung dengan realitas Ilahi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman seperti ini menunjukkan bahwa spiritual dalam pandangan Islam merupakan aspek yang bersifat batin, hakiki, dan erat kaitannya dengan keilahiahan.  Pemahaman ini juga memiliki relevansi dengan SQ yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Marshall yang mengakui hasil penelitian neuropsikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an lalu dilanjutkan pula tahun 1997 oleh neurology V.S. Ramachandran bersama timnya di Universitas California mengenai adanya "titik tuhan" (God Spot) dalam otak manusia.  Hasil penelitian ini justru memperkuat teori SQ yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall, meskipun pada akhirnya keduanya menolak jika kecerdasan spiritual ini disamakan dengan agama yang sesungguhnya memperkenalkan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam berarti kecerdasan yang berhubungan dengan keilahiahan, bersifat ruhaniyyah,  diliputi oleh hikmah dan menjadi kajian psikologi Islam.  Kecerdasan spiritual merupakan potensi yang dimiliki setiap orang untuk mampu beradaptasi, berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan ruhaniahnya yang bersifat gaib atau transcendental, serta dapat mengenal dan merasakan hikmah dari ketaatan beribadah secara vertikal di hadapan Tuhannya secara langsung.  Kecerdasan spiritual dalam Islam juga erat kaitannya tradisi tasawuf yang menjadi kajian penting dalam Islam.  Sufi atau orang yang bertasawuf sesungguhnya orang yang cinta kepada Allah, berupaya mengasah kemampuan spiritualnya agar dekat dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual pada hakikatnya juga mendapat perhatian dalam al-Qur'an, seperti firman-Nya dalam surat al-Baqarah/2: 151. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa di antara tugas setiap Rasulullah adalah untuk yatlu 'alaikum ayatina, yuzakkikum, dan yu'allimukum al-kitab wa al-hikmah. Tugas yatlu 'alaikum ayatina/mengajarkan kamu ayat-ayat Kami, sesunggunya mengandung isyarat kecerdasan intelektual (IQ), sementara yuzakikum atau mensucikan kamu mengandung makna kecerdasan emosional (EQ), sedangkan yu'allimukum al-kitab wa al-hikmah berarti kecerdasan spiritual (SQ). Al-kitab dan al-hikmah sarat akan nilai-nilai keilahiahan sehingga tugas terakhir dalam ayat di atas patut disebut kecerdasan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari ayat di atas, juga terdapat ayat-ayat lain yang mengisyaratkan tentang kecerdasan spiritual. Hamdani Bakran Adz-Dzakiey juga mengemukakan beberapa indikator kecerdasan spiritual yang didukung oleh ayat-ayat al-Qur'an, di antaranya: dekat, mengenal, cinta dan berjumpa Tuhannya ( Qs. 2: 186, 223, Qs. 11: 29, dan Qs. 5:54); selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Tuhannya di mana dan kapan saja (Qs. 2: 284); tersingkapnya alam ghaib (transcendental) atau ilmu mukasyafah (Qs. 7:96, Qs. 15:14-15, Qs. 78: 19 dan Qs. 50: 22); shiddiq (Qs. 9: 119, Qs. 4: 69 dan Qs. 59:8); Tabligh/menyampaikan (Qs. 3: 104, Qs. 2: 44 dan Qs. 61: 2-3); tulus ikhlas (Qs. 4: 146); selalu bersyukur kepada Allah SWT (Qs. 14:7); dan malu melakukan perbuatan dosa dan tercela (Qs. 96:14, Qs. 2:284).  Begitu banyaknya ayat-ayat berkenaan dengan spiritualitas ini, John Renard menyebut bahwa al-Qur'an merupakan pusat (rujukan) bagi diskursus dan pengembangan spiritualitas Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan struktur kepribadian manusia, maka kecerdasan spiritual bertumpu pada qalb. Meminjam istilah Taufik Pasiak, qalb merupakan "otak spiritual".  Qalb inilah yang sebenarnya merupakan pusat kendali semua gerak anggota tubuh manusia. Ia adalah raja bagi semua anggota tubuh yang lain. Semua aktivitas manusia berada di bawah kendalinya. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa jika qalb ini sudah baik, maka gerak dan aktifitas anggota tubuh yang lain akan baik pula; demikian sebaliknya. Sementara kecerdasan intelektual berpusat di aql dan emosional berpusat pada nafs.   Ketiga komponen ini mendapat perhatian dalam Islam agar dikembangkan dan dioptimalkan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hubungan antara Agama dan Kecerdasan Spiritual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Danah Zohar dan Ian Marshall sebagai tokoh yang memopulerkan SQ, membedakan antara SQ dengan agama. Menurutnya SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah.  Baginya, agama merupakan seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama dipahaminya sebagai lembaga yang bersifat formal  dan top-down, diwarisi dari para pendeta, nabi, dan kitab suci yang ditanamkan melalui keluarga atau tradisi. Sementara SQ sendiri, ia pahami sebagai kemampuan yang bersifat internal, bukan eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah disinggung di atas, Zohar dan Marshall sebenarnya mengakui hasil penelitian psikolog sebelumnya tentang adanya god spot dalam otak manusia yang terletak di antara hubungan-hubungan saraf dalam cuping-cuping temporal otak. Namun ia tetap menyangkal kaitan god spot ini dengan adanya Tuhan. God spot, menurutnya, hanya menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan "pertanyaan-pertanyaan pokok", untuk memiliki dan menggunakan kepekaan terhadap makna dan nilai yang lebih luas.&lt;br /&gt;Munculnya pendapat yang membedakan agama dan spiritual ini tentu dilatarbelakangi oleh pemahaman kedua tokoh ini terhadap agama formal. Jika dilihat setting sosial kehidupannya yang dibesarkan dan menetap di Barat, tentu pemikiran ini dipengaruhi oleh budaya Barat setempat. Barat yang notabenenya penganut agama Kristiani sesungguhnya memiliki sejarah yang amat panjang.  Dalam perkembangan sejarah, agama Kristen—melalui para pendeta dan tokoh-tokoh agama ini—pernah mengalami lembaran yang kelam, khususnya ketika berhadapan dengan para ilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa abad, Barat dikuasai oleh doktrin gereja yang cenderung menolak kajian ilmu pengetahuan dan budaya berpikir atau filsafat yang pernah berkembang pada masa sebelumnya di Yunani sehingga mereka jauh dari peradaban.  Bapak-bapak gereja Kristen, setelah agama Kristen menjadi agama resmi Imperium Romawi pada dasawarsa ketiga abad ke empat Masehi, bersemangat melakukan kampanye membasmi ilmu dan filsafat. Mereka menganggap ilmu sebagai sihir.  Para ilmuan dianggap kafir, zindik dan keluar dari agama Masehi.  Bahkan antara tahun 1481 hingga 1801, lembaga penyelidikan yang dibentuk oleh penguasa Paus untuk mencari dan menemukan para ilmuan yang dianggap murtad, telah berhasil menghukum 340.000 orang, hampir 32.000 di antaranya dibakar hidup-hidup termasuk sajana besar Bruno. Galileo Galilei (1564-1642 M), sarjana besar lainnya, dengan terpaksa dihukum seumur hidup dalam penjara,  karena keyakinannya bertentangan dengan kitab Injil dimana ajaran gereja waktu itu berpegang pada konsep geosentris (matahari mengelilingi bumi) sementara Galileo menganut konsep heliosentris, yaitu bumi bergerak mengelilingi matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dari bapak-bapak gereja yang menginginkan umatnya bodoh semata-mata demi kepentingan pribadi dan kepentingan penguasa. Dengan kebodohan umat tersebut, maka tidak akan ada perlawanan atas kezaliman yang mereka lakukan.  Dogmatik gereja tersebut berkembang hingga abad pertengahan. Hingga saat itu pula, Barat mengalami masa kegelapan yang pada gilirannya berakhir dengan perlawanan para ilmuan yang mempertahankan pendirian ilmiahnya dan berkoalisi dengan raja untuk menumbangkan kekuasaan gereja.  Koalisi ini berhasil dan tumbanglah kekuasaan gereja sehingga muncul renaissance yang pada gilirannya melahirkan sekularisasi dan lahirlah dikotomi antara ilmu dan gereja (agama).&lt;br /&gt;Dampak dari sejarah kelam tentang agama versus ilmu pengetahuan yang terjadi di Barat tersebut hingga saat ini masih terlihat. Meskipun agama kristen mayoritas, akan tetapi epistemologi keilmuan yang berkembang di Barat tidak dilandasi oleh ajaran agama sehingga ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan bisa mengabaikan—bahkan menolak—peran dan kedudukan suatu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan sejarah umat Islam, meskipun terdapat lembaran sejarah yang kelam—seperti sejarah kekuasaan umat Islam yang sulit untuk berjamaah, termasuk ketertinggalan umat Islam dewasa ini dalam perkembangan iptek, dll.—namun dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan justru berkembang dari motivasi agama. Artinya, puncak ilmu pengetahuan pada abad pertengahan di dunia Timur sesungguhnya dipicu oleh semangat ajaran agama sangat respon terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari wahyu pertama yang diturunkan justru bermula dengan kata iqra', bacalah! Bukankah membaca sebagai aktivitas pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pandangan tentang hubungan agama dan spiritual, Islam tentu memiliki pandangan yang berbeda dari Danah Zohar dan Ian Marshall di atas. Islam merupakan agama yang memiliki ajaran universal dan bersifat totalitas; mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial-budaya, politik, ekonomi, material/fisikal, dan termasuk aspek spiritual. Karena totalitas dan universalitas Islam itu pulalah Allah menyeru agar manusia yang berakal masuk ke dalam Islam secara kaffah (Qs. al-Baqarah/2: 208) atau utuh,  tidak setengah-setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara spiritual dengan agama juga tampak dalam pernyataan Allahbakhsh K. Brohi yang berpendapat bahwa siapa saja yang memandang Tuhan atau Ruh Suci sebagai norma yang penting dan menentukan atau prinsip hidupnya bisa disebut "spiritual".  Seyyed Hossein Nasr juga menegaskan bahwa tujuan spiritualitas itu sendiri adalah memperoleh sifat-sifat Ilahi dengan jalan meraih kebaikan-kebaikan yang dimiliki dalam kadar sempurna oleh Nabi dan dengan bantuan metode-metode serta anugerah yang datang darinya dan wahyu dari al-Qur'an.&lt;br /&gt;Dengan demikian, dalam perspektif Islam, antara agama dan spiritual memiliki korelasi positif: semakin tinggi kualitas agama seseorang maka semakin cerdas spiritualnya; sebaliknya, semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual seseorang maka semakin baik pula sikap keberagamaannya. Dalam istilah John Renard, aspek spiritualitas yang sesungguhnya mengembangkan dan juga meninggikan sikap keberagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urgensi Pendidikan yang Spiritualis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama dan spiritual memiliki hubungan yang jelas, maka pendidikan—khususnya pendidikan agama—sejatinya berorientasi terhadap pengembangan kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual tersebut tidak hanya diperlukan oleh seseorang secara individual, akan tetapi lebih dari itu juga dibutuhkan oleh masyarakat luas, bahkan dalam konteks suatu bangsa. Ada beberapa alasan penting yang menunjukkan urgensi pendidikan agama yang bersifat spiritualis tersebut--khususnya dalam kaitannya dengan masyarakat luas—setidaknya mencakup tiga bentuk, yaitu pertama, sebagai penggerak dan kontrol peradaban; kedua, mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dan ketiga; menjawab tantangan era globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sebagai Penggerak dan Kontrol Peradaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban suatu bangsa turut dimotivasi oleh keberadaan agama.  Bahkan peradaban yang dicapai oleh umat Islam di era awal dan abad pertengahan juga dimotivasi oleh agama. Hal itu dapat dilihat dari doktrin dan perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW; iqra'.  Ayat sekaligus perintah pertama (QS.96:1) yang diterima Nabi itu membawa implikasi yang amat besar terhadap peradaban yang dibangun dengan basis iman dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama diamalkan oleh pemeluknya dengan sempurna, maka spiritualitas masyarakat pun akan terbangun. Dengan spiritualitas itu pula seseorang mampu memahami hakikat hidupnya  lalu membentuk suatu peradaban yang dinamis. Inilah yang dimaksud dengan "penggerak" peradaban. Sementara "kontrol" peradaban merupakan peranan agama yang mencerdaskan spiritual dibutuhkan untuk menjaga stabilitas suatu peradaban agar tidak terjerumus kepada bangsa yang berfoya-foya, berorientasi duniawi semata yang pada gilirannya akan mengundang keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta sejarah juga membuktikan bahwa para pecinta spiritual (sufi) memainkan peranan penting dalam menggerakkan peradaban suatu bangsa. Menjelang 1920, misalnya, setiap negeri Muslim—kecuali empat di antaranya, Persia, Arab Saudi, Afganistan, dan Turki—telah dikuasai dan dijajah oleh kekuatan asing yang kebanyakan adalah bangsa Kristen Eropa. Dalam sebuah proses yang telah bermula sejak seabad sebelumnya, rezim-rezim kolonial memperluas wilayah kekuasaannya atas negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Di sejumlah daerah, tarekat-tarekat Sufi merupakan institusi-institusi lokal terkuat yang masih tetap bertahan ketika para penguasa setempat dijatuhkan oleh kekuatan bangsa Eropa. Oleh sebab itulah tarekat-tarekat Sufi mampu menjadi pusat-pusat perlawanan antikolonial di beberapa tempat, seperti di Aljazair, Kaukasus, dan Sudan.  Kondisi ini juga dapat dilihat di Indonesia dimana para santri bergerak melawan kolonial Belanda. Kaum santri yang dipimpin oleh Kiyai ini merupakan kelompok yang kaya akan spiritual sehingga eksistensi mereka memberikan kontribusia yang amat besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, suatu bangsa yang berperadaban tinggi memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi pula, sementara spiritual yang tinggi sangat identik dengan agama. Oleh karena itu, pendidikan agama yang mencerdaskan spiritualitas bangsa amat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4, disebutkan bahwa pada tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata-kata iman dan takwa jelas mengandung muatan spiritualitas yang amat mendalam. Kata-kata itu sendiri tentu terinspirasi dari isi al-Qur'an yang juga sarat akan nilai-nilai spiritual.  Bahkan mendahulukan tujuan iman dan takwa dari yang lainnya, termasuk ilmu pengetahuan,  mengisyaratkan bahwa pendidikan nasional memberikan penekanan yang lebih terhadap pendidikan yang mencerdaskan spiritual peserta didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif Islam, mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertakwa serta berkakhlak mulia sebagai watak bangsa mustahil dapat dilakukan tanpa adanya perhatian terhadap dimensi spiritual peserta didik. Perhatian itu tentu melalui pendidikan agama.  Namun persoalannya, pendidikan agama, termasuk PAI, belum mampu mewujudkan tujuan yang diinginkan. Ketidakmampuan ini turut disebabkan oleh orientasi pendidikan agama yang selama ini lebih mementingkan aspek kognisi (kecerdasan intelektual). Akibatnya, peserta didik tidak mampu menjadi manusia yang tawakal, tawadhu', serta shaleh secara individual dan sosial,  sehingga seringkali muncul ketidakpercayaan terhadap pendidikan agama dalam membentuk etika dan moral bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pendidikan agama yang berorientasi spiritual amat dibutuhkan dalam konteks keindonesiaan yang pada dasarnya bercorak religius. Tanpa orientasi seperti itu, maka bangsa ini akan kehilangan jati dirinya, termasuk corak religiusnya, dan diambil alih oleh pola hidup materialis, hedonis, dan pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Menjawab Tantangan Era Globalisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Globalisasi" merupakan kata yang digunakan untuk mengacu kepada bersatunya berbagai negara dalam globe menjadi satu entitas.  Proses globalisasi yang semakin menemukan momentumnya sejak dua dasawarsa menjelang millennium baru telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan suatu bangsa: literatur akademik, idiologi ekonomi dan politik, sosial-budaya, hingga pada dimensi pendidikan. Singkatnya, proses globalisasi tidak lagi mengenal tanpa batas (borderless) dengan kemajuan sistem teknologi dan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan, berbagai kecenderungan perkembangan baru pendidikan yang muncul sebagai konsekuensi globalisasi pada akhirnya diadopsi oleh sistem pendidikan nasional. Pada adab 21 ini, pendidikan dituntut untuk menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, siap pakai, mampu menerima dan menyesuaikan perubahan yang kian cepat di lingkungannya.  Padahal arus globalisasi yang begitu deras, di samping dampak positif yang ditimbulkan, juga membawa dampak negatif terhadap cita-cita bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun era globalisasi mampu membuka sekat-sekat antara satu negara dengan negara lain, namun disadari atau tidak, era globalisasi juga memunculkan hegomoni bangsa yang relatif kuat dengan bangsa yang sedang berkembang, apalagi yang terbelakang. Akibatnya, idiologi, falsafah, budaya dan cara pandang mereka akan berpengaruh pula terhadap watak bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, Barat memegang peran yang signifikan dalam percaturan global di berbagai aspek, termasuk pendidikan.  Barat pun dianggap negara maju karena lebih mampu mengembangkan ilmu pengetahuan secara dinamis dan varian sehingga negara-negara berkembang dan yang sedang merangkak maju kerap kali menjadikannya sebagai referensi (barat-centris) dalam pengembangan ilmu pengetahuan.  Hal ini pernah disinggung oleh Ismail Raji al-Faruqi yang menyatakan bahwa materi dan metodologi yang kini diajarkan di dunia Islam adalah jiplakan dari materi dan metodologi Barat, namun tak mengandung wawasan yang selama ini menghidupkannya di negeri Barat.  Padahal, umat Islam tidak mesti meniru secara mutlak metodologi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Barat dianggap lebih maju dan dijadikan sebagai referensi dalam pembangunan dan pengembangan suatu bangsa, termasuk Indonesia, maka bangsa ini akan rentan terpengaruh oleh idiologi liberal yang mereka anut serta menjadi korban "imperialisme kultural".  Seperti yang disinggung sebelumnya, bangsa Barat memiliki sejarah kelam terhadap pihak gereja vs ilmuan selama berabad-abad sehingga memicu berkembangnya idiologi liberalisme. Bahkan, idiologi ini pada gilirannya turut berpengaruh terhadap epistemology keilmuan yang mereka kembangkan. Mujamil Qomar menyatakan bahwa epistemology yang dikembangkan Barat lebih menekankan pada pendekatan skeptis, rasional-empiris, dikotomik, positif-objektif, dan pendekatan yang menentang dimensi spiritual.  Semua pendekatan ini menunjukkan bangsa Barat mengabaikan dimensi spiritual, terutama yang bersifat keilahiahan. Mereka juga mengeluarkan agama secara total dari epistemology tersebut dengan dalih dapat menghambat objektifitas dan merusak validitas ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam memang tidak antipati terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Barat. Bahkan fakta sejarah menunjukkan bahwa umat Islam juga belajar kepada Barat dengan menerjemahkan karya-karya ilmuan Yunani.  Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat toleran terhadap pihak asing dan dibolehkan belajar kepada mereka selagi yang dipelajari itu bermanfaat. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya senantiasa memotivasi umatnya untuk belajar, termasuk kepada non-Muslim. Para tawanan Badr, misalnya, yang pandai baca tulis itu justru dapat menebus dirinya jika ia bersedia mengajarkan baca-tulis kepada 10 orang anak-anak Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa umat Islam diperkenankan belajar dari manapun asalnya, termasuk dari Barat. Hanya saja, bangsa Indonesia harus memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah luntur dengan sesuatu yang baru yang datangnya dari luar. Pola hidup materialis, pragmatis, hedonis, dan liberalis yang bertentangan dengan akaran Islam mesti diwaspadai oleh bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi tantangan tersebut, pendidikan yang spiritualis perlu ditampilkan dengan cara menerapkan pendidikan agama yang berorientasi spiritual. Jika pendidikan agama yang berorientasi spiritualitas ini dapat dilakukan, maka ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Barat tidak akan menimbulkan mudharat, justru sebaliknya, ilmu pengetahuan seperti itu akan mampu menghasilkan peradaban yang tinggi, bahkan lebih tinggi  dari peradaban yang telah mereka dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan pendidikan agama yang spiritualis sesungguhnya relevan dengan kondisi bangsa Indonesia itu sendiri yang mayoritas menganut agama Islam dan didukung oleh kebijakan-kebijakan politik pendidikan yang religius.  Untuk itu, agar umat Islam Indonesia yang dikenal sebagai "The Biggest Moslem Community in The Word"  mampu tampil terdepan dengan kebudayaan dan peradaban yang tinggi, perlu menerapkan strategi pendidikan agama yang mencerdaskan spiritual bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Strategi PAI dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan pendidikan agama yang mampu mengoptimalkan kecerdasan spiritual, perlu dilakukan beberapa strategi. Dalam hal ini, strategi itu akan dilihat dari sudut pendekatan atau metodologi keilmuan yang digunakan. Ada lima pendekatan yang mendapat penekanan lebih dalam konteks pendidikan agama yang mengoptimalkan kecerdasan spiritual, yaitu: 1) pendekatan intrinsic, 2) pendekatan teoantroposentris dan humanistic religius, 3) pendekatan integralistik tematik, 4) pendekatan keteladanan, dan 5) pendekatan amanū wa 'amilushshālihāt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pendekatan intrinsik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan intrinsik adalah pendekatan yang berupaya untuk membangkitkan kesadaran beragama dalam dirinya sendiri, bukan semata-mata dorongan dari luar. Ada dua cara macam beragama: yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Cara ekstrinsik memang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live.  Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain; kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya – tetapi tidak di dalamnya. Cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya kebencian, irihati, dan fitnah masih akan tetap berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, beragama dengan cara ekstrinsik inilah yang identik dengan pendapat Danah Zohar dan Ian Marshall tentang orang-orang yang beragama, tetapi rendah kecerdasan spiritualnya. Hanya saja, keduanya tidak menguraikan lebih lanjut, akan tetapi mengklaim secara langsung bahwa agama tidak ada hubungannya dengan SQ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan instrinsik, maka sikap keberagamaan setiap peserta didik diharapkan muncul dari dalam dirinya, bukan karena dari luar. Kondisi semacam ini pada gilirannya akan membentuk kepribadiannya sehingga menjadi akhlak dalam hidupnya. Jika kondisi semacam ini terbentuk, niscaya akan berpengaruh pula terhadap perkembangan masyarakat, serta bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pendekatan teo-antroposentris atau humanistik religious&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Corak pemikiran filosofis yang berkembang pada tiap-tiap zaman memiliki ciri tertentu yang  berbeda. Ada yang berpendapat bahwa filsafat zaman kuno bersifat "kosmosentris" dan filsafat abad pertengahan bersifat "teosentris" sedangkan zaman modern bersifat "antroposentris".  Namun, jika dilihat dari konsep ajaran Islam, dapat dipahami bahwa ajarannya mengandung pesan yang bersifat humanis, berorientasi pada manusia, akan tetapi dilandasi dan dibarengi oleh keimanan kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi pendekatan humanistik religious adalah mengajarkan sikap keberagamaan tidak semata-mata merujuk teks kitab suci, tetapi melalui pengalaman hidup dengan menghadirkan Tuhan dalam mengatasi persoalan kehidupan individu dan sosial.  Tegasnya, pendekatan teoantroposentris menekankan akan pentingnya aspek spiritual dalam pengembangan pendidikan agama. Hanya saja, tidak berorientasi kepada aspek yang bersifat transenden belaka, tetapi konsep pendidikan itu harus "membumi", dapat menyentuh dan menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pendekatan integralistik tematik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang disinggung sebelumnya, pendidikan agama yang bermuatan spiritual tidak hanya mengedepankan aspek spiritual lalu mengabaikan aspek materil. Tetapi, kedua aspek itu mesti dikombinasikan, saling melengkapi dan saling terpadu. Disinilah diperlukan pendekatan integralistik-tematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan integralistik tematik merupakan sebuah pendekatan penyajian agama, baik secara lisan maupun tertulis dengan cara mengintegrasikan seluruh bidang ilmu agama ke dalam sebuah tema tertentu. Ketika mengajarkan tema tentang shalat misalnya, tidak hanya dilihat atau didekati dari segi formalistik, simbolistik dan ritualistiknya (fikih-nya) saja, melainkan juga dilihat dari segi dalil-dalil berupa ayat al-Qur’an dan al-hadis yang pada hakikatnya berkaitan dengan bidang kajian al-Qur’an dan al-Hadis. Kemudian dilihat pula dari segi hikmahnya yang berkaitan dengan ajaran tentang filsafatnya. Selanjutnya dilihat pula latar belakang terjadinya kewajiban shalat yang selanjutnya berkaitan dengan ajaran tentang sejarah. Kemudian dilihat pula dari segi spirit atau kejiwaannya yang pada hakikatnya berkaitan dengan ajaran tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sebuah tema kajian dapat dilihat dari berbagai bidang ilmu agama.&lt;br /&gt;Pendekatan  integralistik tematik ini akan memberikan pemahaman kepada anak didik tentang ayat-ayat Allah baik dalam bentuk qawliyah maupun kawniyah secara integral. Kedua ayat-ayat ini sesungguhnya mampu meningkatkan keimanan seorang mukmin.  Dengan pendekatan ini, akan nampak bahwa ternyata berbagai bidang ilmu agama tersebut saling berhubungan dengan erat. Pendekatan penyajian agama secara integralistik tematik ini selain akan lebih efisien dan menantang serta penuh dengan daya analisa, juga sejalan dengan prinsip pendekatan pengajaran yang modern, serta didukung oleh teori psikologi Gestalt yang melihat bahwa antara satu kemampuan dengan kemampuan lainnya yang dimiliki manusia saling berhubungan. Dengan pendekatan yang integralistik tematik ini, maka tidak akan ada lagi pertentangan (dikotomi)  antara satu ilmu agama dengan ilmu agama lainnya sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah dan masih cukup kuat pengaruhnya hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pendekatan keteladanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Metode keteladanan merupakan metode yang paling berpengaruh dalam mendidik peserta didik, khususnya dalam hal pembentukan kepribadian. Pentingnya metode ini juga dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Bahkan al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW itu menjadi teladan bagi para umatnya (Qs. al-Ahzab/33: 21). Keteladanan itu terlihat dari setiap perilaku yang ditampilkan oleh Rasulullah, sehingga Allah pun memujinya dalam al-Qur’an: dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung (Q.s. Qalam/68:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerapkan pendidikan agama yang berorientasi kepada kecerdasan spiritual, pendekatan keteladan merupakan pendekatan yang paling efektif. Bahkan, dalam tradisi tarekat, keteladanan seorang mursyd atau guru amat dibutuhkan.  Dalam hal ini, seorang guru dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang mulia sehingga menjadi model dan teladan bagi peserta didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pendekatan amanū wa 'amilushshālihāt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak ditemukan dalam al-Qur'an kata-kata amanū wa 'amilushshālihāt yang secara tekstual diartikan sebagai beriman dan  beramal shaleh. Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah orang yang beruntung (al-Ashr/103:3), mendapat ampunan dan pahala (al-Fath/48: 29), dijadikan sebagai penguasa atau khalifah di muka bumi (an-Nur/24: 55), memperoleh keamanan (Saba'/34: 37), memperoleh karunia-Nya (asy-Syuura/42: 26), dan sebagainya.&lt;br /&gt;Amanū wa 'amilushshālihāt juga dapat diartikan sebagai sikap yang memliki konsisten, komitmen, dan loyalitas loyaliyas yang kuat serta berpikir dan bertindak secara kreatif dan produktif.  Konsep Amanū wa 'amilushshālihāt ini dapat dijadikan sebagai pendekatan pendidikan agama. Amanū wa 'amilushshālihāt mengandung sarat nilai-nilai spiritual sekaligus memberi inspirasi untuk berkarya secara kreatif, inovatif, dan produktif. Modal ini sangat dibutuhkan dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang berperadaban tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang hubungan agama dengan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence". Dalam buku tersebut Zohar dan Marshalla menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara agama dengan kecerdasan spiritual (SQ). Menurut penulis, agama justru mendidik pemeluknya untuk memiliki kecerdasan spiritual dalam arti yang sesungguhnya. Antara agama dan spiritual memiliki korelasi yang positif: semakin tinggi kualitas keberagamaan seseorang maka semakin tinggi pula kualitas spiritualnya, demikian sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara agama dan spiritualitas ini juga dikemukakan oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islamic Spirituality Foundations. Menurutnya, hakikat spiritual justru bersifat ilahiah yang menjadi puncak tertinggi dalam ajaran Islam. Demikian juga John Renard berpendapat bahwa spiritualitas mengembangkan dan juga meninggikan kehidupan keberagamaan. Namun, dikotomi antara agama dan dimensi spiritualitas juga banyak dikemukakan oleh sarjana Barat, di antaranya  J. Harold Ellens, Vernon A. Holtz dan Stephen R. Honeygosky. Bahkan John Naisbitt dan Patricia Aburdence dalam Megatrend 2000 menyebutkan slogan New Age dengan Spirituality, Yes! Organized Religion, No!. Perbedaan ini tampaknya dilatarbekalangi oleh pemahaman mereka sendiri yang tidak utuh terhadap agama sehingga agama hanya dianggap sebagai organisasi formal yang tidak menjamin terpenuhinya kepuasan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIBLIOGRAFI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alexander, Hanan A., Spirituality and Ethics in Education; Philosophical, Theological and Radical Perspective, Oxford: Blackwell Publishing, 2004&lt;br /&gt;Arif, Muhammad, "The Islamization of Knowladge and Some Methodoogical Issues in Paradigm Building: The General Case of Social Science with a Special Focus on Economic", dalam Mohammad Muqim (ed.), Research Methodology in Islamic Perspektive, New Delhi: Institute and Objective Studies, 1994&lt;br /&gt;Arkoun, Mohammed, Rethinking Islam, Penj. Yudian W. Asmin dan Lathiful Khuluq, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996&lt;br /&gt;ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, Kemudahan dari Allah; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, Penj. Syihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press, 1999&lt;br /&gt;As-Siba'i, Musthafa Husni, Min Rawâ'i Hadarâtina, Penj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung: Pustaka Setia, 2002&lt;br /&gt;Aziz, Abdul, "Posisi Pendidikan Agama dalam Sisdiknas", dalam Ali Muhdi Amnur (ed.), Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2007&lt;br /&gt;Aziz, Fayaz, Man Syahkumul 'Alam, alih bahasa Ahmad Syakur, judul Dicari! Pemimpin Peradaban Dunia; Menakar Visi Universal Paham dan Agama-agama Besar Dunia, , Solo: Era Intermadia, 2006&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999&lt;br /&gt;Bagir, Haidar, Gagalnya Pendidikan Agama, dalam Kompas, tanggal 28 Februri 2003.&lt;br /&gt;___________, "Memaknai Tasawuf sebagai Spiritual Islam", dalam Madjid, Nurchalish, et.al., Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern; Respon dan Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani, Jakarta: Paramadina, 2000&lt;br /&gt;Burhanudin, Jajat dan Dina Afrianty (Peny.), Mencetak Muslim Modern; Peta Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PTRajaGrafindo Persada, 2006&lt;br /&gt;Dahlan, Abdul Aziz, Agama dan Falsafat, dalam Jurnal Al-Ta'lim, edisi IX September-Desember 2000, Padang: IAIN IB Press, 2000&lt;br /&gt;Adz-Dzakiey, Hamdani Bakran, Prophetic Intelligence, Kecerdasan Kenabian; Menumbuhkan Potensi Hakiki Insani Melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani, Yogyakarta: Islamika, 2005&lt;br /&gt;Ellens, J. Harold, Understanding Religious Experiences: What The Bible Says About Spirituality, Greenwood Publishing Group, 2008&lt;br /&gt;Ernst, Carl W., The Shambhala Guide to Sufism, Shanbahala Publications., Massachusetts, 1997, diterjemahkan oleh Arif Anwar dengan judul "Ajaran dan Aliran Tasawuf; sebuah Pengantar",  Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003&lt;br /&gt;al-Faruqi, Ismail Raji, Islamization of Knowladge: Problem, Principle and Perspectives, Heradon, U.S. IIIT, 1987, alih bahasa Anas Wahyudin, judul: Islamisasi Pengetahuan,  Bandung: Pustaka, 1984&lt;br /&gt;Faridi, Shah Shahidullah, "The Spiritual Psychology of Islam", dalam Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Sufism, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 1990, third edition&lt;br /&gt;Feisal, Jusuf Amir, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995&lt;br /&gt;Goleman, Daniel, Emotional Intelligences, New York: HarperCollins (Basic Books), 1993, alih bahasa T. Hermaya, judul: Emotional Intelligence, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999&lt;br /&gt;Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT Gramedia, 1992&lt;br /&gt;Hamka, Tafsir al-Azhar, juz II dan XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988&lt;br /&gt;Hasan, Abdul Wahid, SQ Nabi; Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah Masa Kini, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2006&lt;br /&gt;Heelas, Paul, Linda Woodhead, Benjamin Seel, The Spiritual Revolution; Why Religion is Giving Way to Spirituality, Wiley-Blackwell, 2005&lt;br /&gt;Hicks, Douglas A., Religion And The Workplace: Pluralism, Spirituality, Leadership, Cambridge University Press, 2003&lt;br /&gt;Honeygosky, Stephen R. (ed.), Religion and Spirituality: Bridging the Gap, Twenty-Third Publications, 2006&lt;br /&gt;al-Jazairi, Abu Bakar Jabir, Tafsir al-Aisar, Penj. M. Azhari Hatim dan Abdurrahim Mukti, Jakarta: Sarus Sunnah, 2006&lt;br /&gt;Karni, Asrori S., Civil Society dan Ummah; Sintesa Diskursif "Rumah" Demokrasi, Jakarta: Logos, 1999&lt;br /&gt;Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu; Sebuah Rekonstruksi Holistik, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005&lt;br /&gt;Khaldun, Abdurrahman Ibn, al-Ibar wa Dīwān al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-Arb wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Āsharahum min Dzawī al-Sulthān al-Akbar, jilid I — VII, Beirut: al-Dar al-Kutb al-’Ilmiyyah, 1992&lt;br /&gt;Kosim, Muhammad, al-Qur'an, Karakter Pendidikan Sumbar, opini, harian Padangekspres, tanggal 6 Juni 2009&lt;br /&gt;__________, Mempertegas Peran PAI di Sekolah, opini, harian padangekspres,, 2009&lt;br /&gt;__________, Transformasi dan Kontribusi Intelektual Islam atas Dunia Barat, Makalah PPs. Program Magister IAIN Imam Bonjol Padang, 2006&lt;br /&gt;Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002&lt;br /&gt;Leksono, Karlina -Supelli, Awal Sebuah Pemahaman, http://mkb.kerjabudaya.org&lt;br /&gt;Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nusansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001&lt;br /&gt;Murad, Yusuf, Mahadi' 'ilm al-Nafs al-'Am, (Mesir: Dar al-Ma'arif, tt.&lt;br /&gt;Muthahhari, Murtadha dan S.M.H. Thabathaba'i, Light Within Me, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penerjemah pustaka hidayah dengan judul: Menapak Jalan Spiritual, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, cet. ke-2&lt;br /&gt;Nadwi, Abul Hasan Ali, Islam and The Word, Penj. Adang Affandi, Bandung: Angkasa, 1987&lt;br /&gt;Nasr, Seyyed Hossein (ed.), Islamic Spirituality Foundations, Penj. Rahmani Astuti, judul: Ensiklopedi Tematis Spiritual Islam; Fondasi, Bandung: Mizan, 2002&lt;br /&gt;____________, The Encounter Man and Nature, University of California Press 1984, Penj. Ali Noer Zaman, judul: Antara Tuhan, Manusia dan Alam, Yogyakarta: IRCiSoD, 2003&lt;br /&gt;Nata, Abuddin, Orientasi Pengembangan Pendidikan Agama Islam pada Buku Teks SD/SMP/SMU, Semarang: Makalah, 18 Desember 2008&lt;br /&gt;Moody, Harry D., Religion, Spirituality, and Aging; A Social Work Perspective Routledge, 2005&lt;br /&gt;Pasiak, Taufik, Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan al-Qur'an, Bandung: Mizan, 2002&lt;br /&gt;Qomar, Mujamil, Epistemologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, Jakarta: Erlangga, 2005&lt;br /&gt;Rahman, Fazlur, Islam, University of Chicago, 1979, Penj. Ahsin Mohamad, Bandung: Pustaka, 2000, cet. ke-IV&lt;br /&gt;Rahmat, Jalaluddin, Islam Alternatif, Bandung: Mizan,  1991, cet. IV&lt;br /&gt;Ramadan, Tariq, Menjadi Modern Bersama Islam; Islam, Barat, dan Tantangan Modernitas, Jakarta: Teraju, 2003&lt;br /&gt;Renard, John, Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims, University of California Press, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimensi-dimensi Islam", Jakarta; Inisiasi Press, 2004&lt;br /&gt;Shihab, Quraish, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atau Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1998&lt;br /&gt;Shimogaki, Kazuo, Between Modernity and Postmodernity The Islamic Left and Dr Hassan Hanafi's Though: A Critical Reading, terbit tahun 1988 dan alih bahasa oleh M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula dengan judul Kiri Islam; Antara Modernisme dan Posmodernisme, Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta: LKiS, 2004, cet. ke-7,&lt;br /&gt;Syar'ati, Ali, A Glance Tomorrow's History, Penj. Laleh Bachtiar dan Husayn Saleh, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996, cet. ke-2&lt;br /&gt;Taher, Tarmizi, "Islam dan Isu Globalisasi Perspektif Budaya dan Agama", dalam M. Nasir Tamara dan Elza Peldi Taher (ed.), Agama dan Dialog Antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1996&lt;br /&gt;Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence); Membentuk Kepribadian yang Bertanggung Jawab, Profesional, dan Berakhlak, Jakarta: Gema Insani Press, 2001&lt;br /&gt;Wright, Andrew, Spirituality and Education, (New York: Routledge, Falmer, 2000&lt;br /&gt;Yunus, Mahmud, Sedjarah Pendidikan Islam, Jakarta: Mutiara, 1966&lt;br /&gt;_______, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1993&lt;br /&gt;Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004&lt;br /&gt;Zohar, Danah dan Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, Bloomsbury, Great Britain tahun 2000&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-4009236255882517899?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/4009236255882517899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=4009236255882517899&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/4009236255882517899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/4009236255882517899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2010/01/makalah-kapita-selekta.html' title='Makalah Kapita Selekta'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sz_6p2FK7rI/AAAAAAAAAL4/r3X60-W1rAE/s72-c/SQ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-333644122028595420</id><published>2009-12-27T09:00:00.002+07:00</published><updated>2009-12-27T09:16:24.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Semangat Hijrah Mempererat Ukhuwah</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa hijrah berasal dari kata hajara yang artinya berpaling, pindah, atau memutuskan sesuatu. Dalam tarikh perjuangan Nabi Muhamamd SAW, hijrah merupakan salah satu peristiwa penting yang diartikan sebagai pindahnya Nabi Muhammad SAW bersama sahabat dari Mekah ke Habsy, Tha’if dan Madinah. Hijrah ke Madinah—hijrah terbesar sekaligus yang terakhir—merupakan peristiwa yang terpenting dimana peristiwa tersebut dijadikan sebagai awal tahun dalam sistem penanggalan (kalender) umat Islam yang ditetapkan pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H/638 M. Tahun ini kemudian dikenal dengan istilah tahun hijriyah yang berpedoman kepada perputaran bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, peristiwa hijrah menjadi momen yang penting dalam perjuangan Nabi Muhammad SAW beserta sahabat untuk menyebarkan Islam sehingga mampu membalikkan keseluruhan perjalanan sejarah perjuangan Rasulullah dalam memperoleh kesuksesan yang spektakuler. Salah satu kunci keberhasilan perjuangan Islam dalam peristiwa hijrah adalah kemampuan Rasulullah SAW dalam mempererat persaudaraan umat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang melatarbelakangi Nabi Muhammad SAW beserta sahabat hijrah ke Yatsrib (Madinah) adalah adanya kepercayaan yang diberikan oleh penduduk Yatsrib untuk memimpin mereka dan mendamaikan antara kaum Aus dan Khazraj yang telah bertahun-tahun berselisih, bahkan berperang. Selain itu, Nabi pun menginginkan tempat yang aman untuk memperjuangkan Islam setelah bertahun-tahun berada dalam tekanan, teror, dan permusuhan dari kafir Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, Yatsrib bukanlah daerah yang berpenduduk homogen, melainkan plural dengan berbagai suku dan kepercayaan. Setidaknya ada tiga kelompok masyarakat yang mendominasi, yaitu penduduk yang telah memeluk agama Islam dengan tulus baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, penduduk yang masih musyrik, serta orang-orang Yahudi yang sangat membenci Nabi dan para sahabat. Menghadapi keberagaman itu, Nabi terlebih dahulu membawa misi persaudaraan yang begitu kuat sehingga mampu menata konflik, mengendalikan permusuhan dan perpecahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sesampainya di Yatsrib, hal yang pertama dilakukan oleh Nabi adalah membangun masjid di tempat berhenti onta yang beliau naiki, tepatnya di hamparan tanah di depan rumah Abu Ayyub. Fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah secara mahdhah, akan tetapi masjid juga sarana mempersatukan umat. Kemudian beliau pun mempersatukan antara kaum Muhajirin (sahabat yang hijrah dari Mekah) dengan Anshar (sahabat yang menolong Muhajirin di Madinah) di rumah Anas bin Malik. Dengan mempererat persaudaraan ini, maka mereka diharapkan saling tolong-menolong, bahkan saling mewarisi harta jika ada yang meninggal dunia di samping kerabatnya. Waris-mewarisi ini berlaku hingga perang Badr disertai dengan turunnya Qs. Al-Anfal ayat 75 sehingga hak waris-mewarisi itu gugur, tetapi ikatan persaudaraan masih tetap berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mempererat persaudaraan itu pun disambut dengan baik oleh kedua belah pihak. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa tatkala mereka (Muhajirin) tiba di Madinah, maka Rasulullah SAW mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin ar-Rab’. Sa’ad berkata pada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian?” Maka orang-orang pun menunjukkan pasar Qainuqa’. Tak berapa lama kemudian ia pun memiliki harta dan menikah (H.R. Bukhari, 1/553).&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain juga dijelaskan bahwa suatu ketika orang-orang Anshar ingin memberikan kebun korma kepada Nabi dan sahabat Muhajirin. Namun Nabi berkata: “tidak perlu, cukuplah kalian memberikan bahan makanan pokok saja, dan kami bisa bergabung dengan kalian dalam memaneh buah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh besar pengorbanan kaum Anshar, mereka lebih mementingkan kepentingan saudaranya serta mencintai dan menyayangi. Sebaliknya, sungguh besar pula kehormatan yang dirasakan orang-orang Muhajirin, akan tetapi mereka tidak menerima dari saudaranya Anshar kecuali sekedar makan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Hal ini menunjukkan persaudaraan didasari dengan iman yang kuat sehingga antara yang satu dengan yang lain saling menolong dan meringankan, bukan membebani dan menyusahkan dengan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;Upaya mempersaudarakan umat pun tidak sebatas itu saja. Nabi juga membuat perjanjian antar sesama muslim, baik yang berasal dari Quraisy, Yatsrib dan siapa saja yang mengikut mereka. Di antara isi perjanjian itu adalah mereka merupakan umat yang satu, sama-sama melawan orang yang berbuat zalim, tidak boleh saling membunuh karena membela orang kafir, dan sebagainya. Kemudian Nabi juga membuat perjanjian dengan orang-orang Yahudi, di antaranya adalah orang-orang Yahudi merupakan satu umat dengan orang-orang mukmin, namun bagi orang Yahudi agama mereka dan bagi orang Muslim agama mereka; mereka harus saling menasehati, berbuat baik dan tidak boleh berbuat jahat; mereka harus saling bahu-membahu dalam menghadapi musuh yang membatalkan perjanjian itu, dan sebagainya. Perjanjian itu kemudian dikenal dengan ”piagam Madinah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Nabi SAW dalam mempersatukan sesama muslim dan antara muslim dengan Yahudi akhirnya membuahkan hasil gemilang. Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah al-Munawwarah itu menjadi model masyarakat ideal hingga akhir zaman. Di kota ini, Nabi tidak hanya bertindak sebagai pemimpin agama/spiritual (Nabi dan Rasul) seperti di Mekah, akan tetapi beliau juga bertindak sebagai pemimpin politik/negara yang adil, diakui dan diterima oleh semua masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari peristiwa tersebut, peringatan tahun baru hijriyah yang selalu dilakukan oleh umat Islam setiap tahun sejatinya mampu mengimplementasikan semangat hijrah tersebut dalam mempererat ukhuwah, baik persaudaraan seiman, maupun persaudaraan sebangsa dan bernegara. Lebih-lebih umat Islam di Indonesia ini, jalinan persaudaraan yang erat antar sesama umat menjadi syarat mutlak untuk membangun bangsa Indonesia agar lebih terhormat dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang kita sadari, akhir-akhir ini benih-benih perpecahan dan permusuhan, rasa saling curiga, serta saling menyalahkan semakin merebak di tengah-tengah masyarakat. Kondisi ini bisa terjadi antara rakyat dengan penguasa, antara rakyat dengan penegak hukum, bahkan antar sesama penguasa dan antar sesama rakyat. Banyak hal yang memicu terjadinya perpecahan tersebut: perbedaan partai/golongan, suku, agama, dan status sosial adalah di antara beberapa alasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula perilaku amoral, seperti korupsi yang masih kerap terjadi dan disepakati sebagai virus masyarakat yang menghambat kemajuan negara yang subur ini. Terjadinya korupsi sesungguhnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa empati, rasa persaudaraan dan kesatuan serta keengganan dalam berkorban. Mereka tidak memperdulikan rakyat kecil yang kelaparan, bergelimang dalam kemiskinan  dan kebodohan sebagai akibat dari perilaku korupsi tersebut. Bukankah persaudaraan antara sahabat Anshar dan Muhajirin tercipta dalam bentuk tolong menolong dan pendestribusian harta secara adil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hijrah tidak hanya dipahami secara tekstual atau fisik saja, akan tetapi substansi hijrah dapat dipahami dari dimensi spiritual dimana hijrah menghasilkan keimanan umat Islam yang semakin kokoh dan ikatan persaudaraan yang semakin erat sehingga terbentuk tatanan masyarakat yang madany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan persaudaraan itu terwujud dalam bentuk rasa empati dan kepedulian yang tinggi terhadap kaum mustadh’afin (lemah), berjihad secara bersama melawan kezaliman, kemiskinan dan kebodohan yang terjadi di kalangan umat, serta menghapus paradigma berpikir yang primordialis, rasis, dan fanatisme terhadap suku atau kelompok tertentu. Prinsip persaudaraan dalam Islam menekankan pada aspek kedamaian, keamanan dan saling tolong-menolong dengan tetap menegakkan nilai-nilai ajaran Islam yang universal sehingga Islam tampil sebagai rahmatan lil-’alamin. Hal ini yang dipraktikkan nabi ketika hijrah ke Madinah dimana kehadiran Islam dapat diterima oleh semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini mengisyaratkan bahwa makna hijrah dalam konteks kekinian dapat dipahami sebagai upaya untuk berpindahnya kondisi mental dan perilaku dari yang angkuh menjadi tawadhu’, dari berpikir yang primordial menjadi universal, dari yang kasar menjadi lembut, dari pola pikir yang su’uzhzhan ke pola pikir yang husnuzhzhan, dari perilaku namimah menjadi perilaku pendamai, dan dari yang ingkar menjadi taat. Semangat itulah yang harus ditumbuhkembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-333644122028595420?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/333644122028595420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=333644122028595420&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/333644122028595420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/333644122028595420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/12/semangat-hijrah-mempererat-ukhuwah.html' title='Semangat Hijrah Mempererat Ukhuwah'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-918134495404334010</id><published>2009-12-12T08:24:00.004+07:00</published><updated>2009-12-12T08:42:26.152+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>TEOLOGI ANTIKORUPSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyLy1s3qnAI/AAAAAAAAALQ/VYR-tdc4ELo/s1600-h/korupsi3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyLy1s3qnAI/AAAAAAAAALQ/VYR-tdc4ELo/s320/korupsi3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414156706444385282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi (berasal dari bahasa latin: corruptio dari kata kerja corrumpere, artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, atau menyogok) merupakan penyakit kronis y&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyLyJZYSp0I/AAAAAAAAALI/9R26LT081zc/s1600-h/KORUPSI+gmbr.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 209px; height: 290px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyLyJZYSp0I/AAAAAAAAALI/9R26LT081zc/s320/KORUPSI+gmbr.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414155945298274114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ang berperan besar menggerogoti kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk memberantas korupsi tersebut, mulai dari usaha mewujudkan pemerintah bersih, optimalisasi penegakan supremasi hukum, hingga kepada kutukan rakyat terhadap  para koruptor, seperti yang dilakukan para demonstran pada tanggal 9 Desember lalu dalam rangka peringatan hari antikorupsi sedunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pemberantasan korupsi sejatinya dilakukan dari berbagai aspek kehidupan, tidak hanya dari segi politik dan hukum, tetapi dari aspek agama juga patut dikedepankan. Apalagi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius dan mengakui bangsanya dimerdekakan atas rahmat Allah yang Mahakuasa. Maka berbagai persoalan yang menghambat terwujudnya kemerdekaan sejati seyogyanya memotivasi kita untuk berdialog dengan Allah melalui pemahaman terhadap ajaran-Nya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap agama pasti anti terhadap korupsi, sebab esensi agama adalah mewujudkan kebenaran yang hakiki. Dari perspektif Islam, misalnya, terdapat banyak ajaran yang melarang umatnya melakukan tindak korupsi. Di antara ajaran itu dapat dilihat dari hadis Nabi saw. yang menegaskan: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barang siapa yang merampok dan merampas, atau mendorong perampasan, bukanlah dari golongan kami (bukan dari umat Muhammad saw.)&lt;/span&gt;” (HR Thabrani dan al- Hakim). Dalam hal ini, korupsi merupakan bagian dari bentuk perampokan dan perampasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tegas lagi, Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari ‘Addiy bin ‘Umairah al-Kindy yang bunyinya, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai kaum muslim, siapa saja di antara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Lalu, kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti… Siapa yang kami beri tugas hendaknya ia menyampaikan hasilnya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikan kepadanya dari hasil itu hendaknya ia terima, dan apa yang tidak diberikan janganlah diambil.” Sabdanya lagi, “Siapa saja yang mengambil harta saudaranya (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaan), ia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan diharamkan masuk surga.” Seorang sahabat bertanya,“Wahai Rasul, bagaimana kalau hanya sedikit saja?’ Rasulullah saw. menjawab, “Walaupun sekecil kayu siwak&lt;/span&gt;” (HR Muslim, an-Nasai, dan Imam Malik dalam al-Muwwatha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga melarang praktik pemberian hadiah kepada pejabat sebagai upaya preventif terjadinya kasus korupsi. Dalam sebuah hadis dijelaskan: Abu Humaid Assa'id r.a. berkata: Rasulullah SAW mengangkat seorang pegawai untuk menerima sedekah/zakat kemudian sesudah selesai ia datang kepada Nabi SAW dan berkata: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ini untukmu dan ini untuk hadiah yang diberikan orang kepadaku.&lt;/span&gt;" Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengapakah Anda tidak duduk saja di rumah ayah atau ibu Anda untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak (oleh orang)?&lt;/span&gt;" Kemudian sesudah shalat, Nabi SAW berdiri, setelah tasyahud memuji Allah selayaknya, lalu bersabda, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amma ba'du, mengapakah seorang pegawai yang diserahi amal, kemudian ia datang lalu berkata, Ini hasil untuk kamu dan ini aku diberi hadiah, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya untuk melihat apakah diberi hadiah atau tidak. Demi Allah! Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tiada seseorang yang menyembunyikan sesuatu (korupsi), melainkan ia akan menghadap di hari kiamat memikul di atas lehernya, jika berupa onta bersuara, atau lembu yang menguak atau kambing yang mengembik, maka sungguh aku telah menyampaikan.&lt;/span&gt;" Abu Humaid berkata, 'Kemudian Nabi SAW, mengangkat kedua tangannya sehingga aku dapat melihat putih kedua ketiaknya." (HR. al-Bukhari dalam kitab "Imam dan Nadzar" bab "Bagaimana cara Nabi SAW Bersumpah.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seseorang yang dianggap oleh pahlawan, jika pernah melakukan korupsi terselubung, kelak Allah akan membuka aibnya sehingga ia tidak lagi memiliki nama baik di hadapan manusia, apalagi di hadapan Allah. Perhatikanlah hadis berikut: Ketika seorang sahabat bernama Kirkirah mati di medan perang, Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi menyelidiki perbekalan perangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari dalam kitab Jihad wa al-sair). Demikian kerasnya kecaman Islam terhadap para koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, korupsi juga terjadi akibat dari sebuah pengkhianatan, ketidakjujuran dan kecurangan. Sifat ini disebut sebagai karakter munafik: apabila berbicara bohong, berjanji ingkar, dan diberi kepercayaan berkhianat (HR. Bukhari). Karakter munafiq menunjukkan kepribadian yang inkonsisten, tidak beriman dan bermuka dua. Bisa saja seseorang meneriakkan janji-janji ketika kampanye politik, bersumpah atas nama Tuhan tatkala dilantik, namun setelah memperoleh kursi hanya tinggal janji dan ketika ditagih beribu dalih. Ending-nya, mereka yang munafiq akan kekal dalam api neraka tanpa memperoleh pertolongan sedikit pun (Qs. An-Nisa/4: 145).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, menegakkan hukum secara adil merupakan suatu keniscayaan dalam mewujudkan masyarakat antikorupsi. Rasulullah SAW bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Sungguh, orang-orang dahulu sebelum kamu telah dihancurkan oleh Allah karena jika ada bangsawan di antara mereka yang mencuri, mereka membiarkannya, tetapi jika orang lemah mencuri, mereka menegakkan had (hukuman) atas orang itu. Demi Allah! Andaikata Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya."&lt;/span&gt; (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari beberapa dalil di atas, dapat dipahami bahwa pelaku korupsi sangat dikecam dan pelakunya diancam masuk ke dalam api neraka. Dengan demikian, secara teologis, perlawanan terhadap korupsi membutuhkan keimanan yang kokoh, sebab ancaman terhadap api neraka yang merupakan alam akhirat dan bersifat gaib tersebut sesungguhnya hanya berlaku kepada orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ancaman terhadapa api neraka diharapkan mampu menjadi sock terapy bagi setiap umat agar benar-benar menjauhi perilaku korupsi. Sebab adzab apa lagi yang lebih tinggi dari neraka? Rusaknya tatanan sosial kehidupan masyarakat sebagai dampak negatif korupsi sesungguhnya masih termasuk adzab yang kecil jika dibandingkan adzab neraka kelak. Firman-Nya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). &lt;/span&gt;(Qs. As-Sajadah/32: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keimanan yang kokoh dan semangat keberagamaan yang antikorupsi tersebut, diharapkan kita mampu melawan korupsi tersebut mulai dari diri sendiri (ibda’ bi nafsy) dan melawannya dari hal-hal yang terkecil, walaupun sebesar dzarrah. Kita memang benci dan mengecam para koruptor yang menghabiskan uang rakyat ratusan juta, bahkan milyaran rupiah. Akan tetapi kita juga patut benci terhadap perilaku diri kita sendiri yang terkadang terjebak pada tindakan korupsi. Ingat, korupsi tidak hanya menyangkut dengan penyelewengan keuangan negara (material benefit), tetapi korupsi mencakup beberapa penyimpangan perilaku, seperti perilaku yang terkait dengan pengkhianatan terhadap kepercayaan (betrayal of trust), penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), serta semua bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang mendatangkan keuntungan (material benefit) baik untuk dirinya, keluarga, institusi, klan, dan primodial tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mahasiswa, misalnya, berorasi dengan lantang mengutuk para koruptor, sementara dirinya bermalas-malasan mengikuti perkuliahan, padahal orang tuanya bersusahpayah mencari biaya kuliah. Bukankah ia telah korup terhadap orang tuanya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pegawai, misalnya, harus disiplin dalam menjalankan tugas, termasuk dalam memanfaatkan waktu. Jika saja gajinya 1,5 juta dalam sebulan, lima hari kerja dalam seminggu dengan delapan jam satu hari, maka setiap menit gajinya Rp 156,25. Jika saja ia terlambat 10 menit setiap hari, maka dia sudah korupsi sekitar Rp 1.500, jika dikalikan 20 hari (dalam sebulan) maka ia telah korupsi 15.000 per bulan. Lalu bagaimana jika berjam-jam tidak melakukan pekerjaan? Jika diperhitungkan bisa jutaan rupiah dalam beberapa tahun akibat korupsi waktu yang ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua contoh terakhir memang akan luput dari jeratan hukum manusia, akan tetapi pasti dilihat oleh Allah SWT. Oleh karena itu, peningkatan spiritualitas keagamaan dengan merasakan pengawasan Allah terhadap segala aktivitas kita akan sangat membantu diri ini bersifat jujur dan terjauh dari tindakan korupsi. Bukankah kita semua berasal dari Allah, hidup dalam genggaman dan pengawasan-Nya, serta akan kembali kepada-Nya dengan mempertanggungjawabkan segala apa yang kita lakukan? Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-918134495404334010?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/918134495404334010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=918134495404334010&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/918134495404334010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/918134495404334010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/12/teologi-antikorupsi.html' title='TEOLOGI ANTIKORUPSI'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyLy1s3qnAI/AAAAAAAAALQ/VYR-tdc4ELo/s72-c/korupsi3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-2312289777563491203</id><published>2009-10-19T10:40:00.001+07:00</published><updated>2009-10-19T10:54:44.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keislaman'/><title type='text'>Gempa di Sumatera Barat; Ujian atau Siksaan?</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/StvilC4Q6_I/AAAAAAAAAK4/9b3IX1T8vgM/s1600-h/gempa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 127px; height: 95px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/StvilC4Q6_I/AAAAAAAAAK4/9b3IX1T8vgM/s320/gempa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394154104762199026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia kembali menangis, tatkala gempa bumi berkuatan 7,6 SR mengguncang wilayah Sumatera Barat, khususnya kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman dan sebagian daerah Kabupaten Agam dan Pasaman, Rabu 30 September lalu. Rumah dan gedung beruntuhan&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Stvi4nxRQwI/AAAAAAAAALA/vf5IoFQ1nO8/s1600-h/gampa1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 129px; height: 81px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Stvi4nxRQwI/AAAAAAAAALA/vf5IoFQ1nO8/s320/gampa1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394154441082487554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;, korban tewas mencapai seribuan, serta tidak sedikit suami menjadi duda, istri menjadi janda, anak-anak menjadi yatim, dan orang tua kehilangan anak-anaknya. Bahkan hingga kini belum semua korban dapat dievakuasi. Jerit-tangis menyelimuti Ranah Minang. Duka mereka adalah duka Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa itu penulis rasakan dan saksikan, pertanyaan subjektifitas sebagai hamba yang awam pun muncul: kenapa harus Sumatera Barat yang ditimpa gempa? Padahal daerah ini mayoritas muslim dan menyatakan diri sebagai masyarakat yang berpegang pada falsafah "Adat basandi syara', syara' basandi kitabullah" (adat berlandaskan kepada syara' [syariat agama] dan syara' berlandaskan kepada al-Qur'an). Penulis pun teringat sekitar lima tahun yang lalu, gempa dan tsunami menghantam Aceh yang juga dikenal sebagai negeri serambi mekah dan menyatakan diri sebagai daerah yang menjalankan syariat Islam. Pertanyaan sederhananya, kenapa daerah yang menyatakan identitas keislamannya justru mendapatkan bencana?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Misteri Angka-angka Jam dan Surat-Ayat Alquran&lt;/span&gt; Tiga hari sesudah peristiwa itu, penulis pun menerima sms yang banyak beredar (hingga kini penulis tidak mengetahui secara pasti siapa pertama kali menemukannya) tentang misteri angka-angka pada jam peristiwa gempa tersebut lalu kaitannya dengan angka-angka dalam surat dan ayat Alquran. Gempa yang terjadi di Padang bertepatan pada pukul 17.16, disusul gempa berikutnya pada pukul 17.38, dan esok harinya terjadi pula gempa di Jambi pada pukul 8.52. Jika angka-angka itu disesuaikan dengan nomor surat dan ayat dalam al-Qur'an maka hasilnya sungguh mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;surat al-Isra' (17) ayat 16 berarti: Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;surat al-Isra' (17) ayat 38:  semua itu kejahatannya Amat dibenci di sisi Tuhanmu. Yang dimaksud "semua kejahatan" itu terkait dengan ayat-ayat sebelumnya; yaitu mengadakan tuhan selain Allah (22), durhaka pada orang tua (23), mubadzir (26), bakhil (29), aborsi karena takut miskin (31), zina (32), membunuh tanpa haq (33), memakan harta anak yatim (34), beramal tanpa ilmu (36), dan bersifat sombong (37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;surat al-Anfal (8) ayat 52: (keadaan mereka) serupa dengan Keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mengingkari ayat-ayat Allah, Maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Amat keras siksaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, jika dihubungkan dengan tanggal dan bulan peristiwa gempa tersebut, tanggal 30 dan bulan 9, akan ditemukan pula surat ar-Rum (30) ayat 9: Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bencana datang sebagai siksaan yang ditimpakan Allah kepada suatu kaum yang durhaka. Jika ditelusuri dari beberapa ayat dalam Alquran memang ditemukan banyak ayat serupa tentang bencana sebagai adzab atau siksaan, seperti dalam surat al-A’raf, diceritakan tentang: umat Nabi Nuh as, yang ditenggelamkan negerinya karena hati merela buta menerima kebenaran Allah; kaum ‘Ad (umat Nabi Hud as) juga ditumpas atas pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah; kaum Nabi Shaleh as, ditimpakan gempa yang dahsyat atas keingkaran mereka terhadap ajaran Nabi Shaleh; umat Nabi Luth as yang melakukan fahisyah (homoseksual) ditimpa hujan batu; kaum Nabi Syu’aib juga ditimpa gempa karena mendustakan Syu’aib, Firman-Nya: Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (QS. Al-A’raf/9:91); demikian juga umat Nabi Musa as, Fir’au dan pengikutnya ditenggelamkan di lautan merah, (selengkapnya baca kisah ini dalam surat Al-A’raf/9:65-171). Ternyata dosa yang dilakukan oleh suatu masyarakat, akan dibinasakan Allah beserta negerinya melalui berbagai bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun adilkah kita menyimpulkan bahwa gempa di Sumatera Barat berupa siksaan dari Allah SWT? Sedemikian parahkah aqidah dan perilaku masyarakat Sumatera Barat sehingga menimbulkan murka dari Allah? Bukankah masjid/mushalla/surau banyak berdiri, adzan lantang berkumandang, dzikir menghiasi bumi ranah minang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mencoba untuk berspekulasi, "Ya... masjid memang banyak berdiri dan adzan berkumandang tetapi jamaahnya sunyi sepi, dzikir dilantunkan tetapi tidak sedikit yang sekedar acara serimonial, dan Islam pun tampil secara simbolik".  Jawaban ini pun tidak pula sepenuhnya dapat diterima, sebab antara ketaatan dan kekafiran akan selalu berdampingan. Benar ada yang berislam secara simbolik, tetapi tidak sedikit pula yang memeluk Islam dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan maksimalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, tidak sepenuhnya bencana ini karena kedurhakaan manusia, sebab banyak pula ayat dan hadis yang mengisyaratkan bencana sebagai ujian dari Allah. Misteri angka-angka jam peristiwa gempa dan kaitannya dengan angka-angka ayat Alquran di atas memang bukan sesuatu yang mustahil, sebab segala sesuatu tidak ada yang "kebetulan" bagi Allah, melainkan sudah dirancang dan didesain oleh-Nya, termasuk bencana. Firman-Nya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Qs. al-Hadid/57: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bala Bencana sebagai Ujian dari Allah&lt;/span&gt; Kurang etis/patut/arif dan kurang bijaksana rasanya jika menghakimi daerah Sumatera Barat sebagai sampel siksaan Allah kepada masyarakatnya berupa gempa; apalagi jika dilihat secara kasat mata, sikap keberagamaan daerah ini tidak kalah dengan daerah-daerah lain yang justru terhindar dari bencana serupa. Tidaklah semua bencana itu disebabkan oleh kedurhakaan manusia. Banyak ayat maupun hadis Nabi SAW yang mengisyaratkan bencana (bala') sebagai ujian dari Allah. Ujian Allah itu bisa berupa kelaparan, ketakutan, kemiskinan, kematian, dan kekurangan buah-buahan/paceklik (Qs. al-Baqarah/2: 155). Allah juga akan menguji setiap hamba yang menyatakan keimanannya kepada Allah Ta'ala (Qs. al-Ankabut/29: 2). Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Besarnya pahala besertaan dengan besarnya bala'/ujian, dan sesungguhnya jika Allah mencintai kaumnya Dia akan menimpakan bala' kepada mereka. Barangsiapa yang ridha, maka Allah akan meridhainya, dan barangsiapa yang marah/benci, maka Allah akan membencinya. (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meyakini bencana sebagai ujian Allah, sejatinya masyarakat Sumatera Barat yang menjadi korban gempa tidak meratapi diri dan berada dalam kesedihan yang berkepanjangan. Sebaliknya, di balik penderitaan ini ada balasan yang amat luar biasa; dengan catatan dihadapi dengan sifat sabar. Kesabaran itu tersimpul dalam pernyataan dan keyakinan: Innalillahi wa inna ilahi raji'un. Orang yang mengikrarkan dan meyakini penggalan ayat tersebut akan memperoleh balasan berupa shalawat, rahmat, dan hidayah dari Allah SWT (Qs. al-Baqarah/2: 156-157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perlu memahami hakikat diri kita sebagai hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa. Meskipun kita hamba-Nya, kita pun harus meyakini pula bahwa setiap keputusan Allah tidak ada yang menyakiti diri kita. Harta benda bisa saja musnah, jasad sakit dan terluka, akan tetapi aqidah harus tetap terjaga. Berbagai bentuk penderitaan yang diperoleh pada hakikatnya cara Allah untuk menguji keimanan kita sehingga menentukan kita mulia atau hina di hadapan-Nya. Orang bijak menyatakan: "Musibah merupakan cara Allah yang paling efektif untuk meninggikan derajat seorang hamba atau menghinakannya". Kini, kita yang memilih: apakah kita ingin dimuliakan atau justru dihinakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, memahami bencana gempa sebagai ujian Allah atas orang-orang beriman, agaknya mampu menjawab pertanyaan besar di atas. Masyarakat Sumatera Barat yang memiliki identitas yang kuat terhadap Islam dan budaya Minangkabau ditimpa oleh bencana berupa gempa sebagai ujian dari Allah. Tampaknya, identitas keislaman yang mereka tampilkan sengaha diuji oleh-Nya, sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Qs. al-Ankabut/29: 2). Jika seandainya Allah hanya menimpakan bencana kepada masyarakat yang zalim saja, tentu alam ini tidak lagi bernama "dunia", melainkan "neraka". Bukankah dunia serta hidup dan mati merupakan cara Allah untuk menguji seorang hamba siapa yang terbaik amalnya di antara mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ketika muncul opini dan spekulasi bahwa bencana gempa bisa jadi sebagai bentuk marah-Nya Allah, tidak harus membuat kita marah dan tersinggung, lebih-lebih kita yang menjadi korban bencana. Sebaiknya kita terima sebagai autokritik terhadap diri kita sendiri, bukan saja sebagai individu, melainkan secara kolektif sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia. Sumatera Barat adalah bagian dari NKRI. Jika dikatakan bencana karena kezaliman kita, maka kezaliman itu—agaknya—tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Sumatera Barat, tetapi bangsa ini secara kolektif. Ingatlah firman-Nya: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Anfal/8: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bersabarlah wahai orang yang beriman, beristighfarlah wahai orang yang berlumur dosa, dan perbanyaklah zikir wahai hamba yang berakal. Firman-Nya: Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (Qs. al-Mukmin/40: 55). Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-2312289777563491203?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/2312289777563491203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=2312289777563491203&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2312289777563491203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2312289777563491203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/10/gempa-di-sumatera-barat-ujian-atau.html' title='Gempa di Sumatera Barat; Ujian atau Siksaan?'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/StvilC4Q6_I/AAAAAAAAAK4/9b3IX1T8vgM/s72-c/gempa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-7079248516319244907</id><published>2009-07-31T14:46:00.002+07:00</published><updated>2009-07-31T15:00:26.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>MENGGAGAS PENDIDIKAN BERBASIS SURAU</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Surau merupakan salah satu karya arsitektur tradisional Minangkabau yang memiliki&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SnKkepybeyI/AAAAAAAAAKw/BtJV4U2usUs/s1600-h/surauu1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 133px; height: 86px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SnKkepybeyI/AAAAAAAAAKw/BtJV4U2usUs/s320/surauu1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364530952672082722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; multifungsi, salah satu di antaranya adalah sebagai lembaga pendidikan Islam. Dalam sejarahnya, s&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SnKkJYgV4AI/AAAAAAAAAKo/Hm20_1L0S08/s1600-h/surauu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 141px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SnKkJYgV4AI/AAAAAAAAAKo/Hm20_1L0S08/s320/surauu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364530587255562242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;urau telah menunjukkan peran yang amat penting dalam mendidik sikap keberagamaan masyarakat Minangkabau. Surau juga memberikan kontribusi yang amat besar terhadap pembangunan masyarakat Sumatera Barat, bahkan terhadap bangsa Indonesia secara nasional. Namun, pendidikan surau kerap kali menjadi romantisme sejarah sebab fungsi itu semakin redup seiring dengan arus modernisasi dan globalisasi yang semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fakta sejarah menunjukkan bahwa perkembangan surau sebagai lembaga pendidikan pada abad ke-19 laksana pesantren yang ada di tanah Jawa. Beberapa surau di masa itu bukan hanya tempat belajar membaca al-Qur'an saja, akan tetapi lebih dari itu, mereka juga mempelajari kitab-kitab kuning tentang fiqh, tauhid, termasuk gramatika bahasa Arab. Bahkan di antara surau yang menerapkan pelajaran seperti itu ada yang memiliki fasilitas lengkap. Verkerk Pistorious mengkategorikan surau ini sebagai surau besar. Surau besar atau lengkap ini berupa komplek bangunan yang terdiri dari masjid, bangunan-bangunan untuk tempat belajar, dan surau-surau kecil yang sekaligus menjadi pemondokan murid-murid yang belajar di surau. Prototype surau seperti ini adalah surau Ulakan yang didirikan Syekh Burhanuddin dan Surau Batuhampar, dekat Payakumbuh, yang dibangun Syekh 'Abdurrahman (1777-1889) dimana kompleks surau terdiri dari sekitar 30 bangunan, termasuk beberapa bangunan utama, seperti masjid, penginapan bagi pengunjung, surau kecil untuk murid, surau untuk suluk, dan Iain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya surau tidak mampu survive seperti pesantren di tanah Jawa. Padahal, keberhasilan surau dalam melahirkan sejumlah tokoh muslim berpengaruh di masa itu tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, kerinduan akan peranan surau sebagai lembaga pendidikan Islam sering kali mengemuka dalam wacana "babaliak ka surau".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembalikan fungsi surau persis sama seperti perkembangan awal adalah sesuatu yang mustahil. Pengaruh modernisasi dan semakin berkembangnya urbanisasi tidak memungkinkan lagi anak laki-laki tidur dan belajar di surau. Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan gagasan "babaliak ka surau" akan lebih arif dilakukan dengan mengaktualisasikan nilai-nilai surau tersebut ke dalam lembaga pendidikan yang sudah ada, termasuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula ditegaskan bahwa meskipun kehadiran madrasah di Minangkabau beralasan positif, di antaranya untuk menandingi sekolah-sekolah Belanda yang bercorak klasikal dan modern, namun awal kehadirannya turut menyebabkan surau mulai ditinggalkan dan kurang diminati masyarakat sebagai lembaga pendidikan. Dalam perkembangan selanjutnya, minat masyarakat pun semakin besar, tidak hanya kepada madrasah yang dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam, akan tetapi sekolah pun menjadi lembaga pendidikan yang ramai diminati. Untuk itu, sekolah atau madrasah—baik tingkat dasar maupun menengah—yang ada di daerah Minangkabau sejatinya berupaya untuk melestarikan nilai-nilai surau sebagai lembaga pendidikan tersebut. Upaya ini dapat diwujudkan dalam bentuk "Pendidikan Berbasis Surau".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pentingnya sekolah berbasis surau juga relevan dengan spirit otonomi daerah yang menginginkan setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri. Dengan karakter yang khas itu akan menjadikan daerah tersebut dikenal dan diteladani oleh daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bentuk pelaksanaan sekolah berbasis surau tersebut, harus digagas oleh para ahli baik dari kalangan ulama, cendikiawan, tokoh adat, maupun dari masyarakat sendiri. Dalam tulisan ini, ada beberapa gagasan yang patut dipertimbangkan sebagai bentuk pelaksanaan sekolah berbasis surau tersebut. Pertama, menerapkan pendidikan al-Qur'an. Pendidikan al-Qur'an yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk mata pelajaran seperti Baca Tulis al-Qur'an, akan tetapi terwujud dalam pembinaan tahsin bagi yang telah mampu membaca, tilawah al-Qur'an bagi yang berbakat, hingga kepada tahfizh (paling tidak tahfizh juz 'Amma), serta tafsir al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegasnya, setiap sekolah, khususnya di tingkat sekolah menengah (SMP/MTs, SMA/MA dan SMK) mesti ada lembaga atau kelompok kajian al-Qur'an yang berisi tentang kegiatan-kegiatan di atas. Diharapkan juga kajian ini dilakukan dengan pendekatan integrited tematik, antara ilmu agama dengan ilmu lainnya, terutama dengan sains dan sosiologi; sebab kajian ini akan menambah minat siswa. Karena tidak semua siswa mengikuti kegiatan ini, maka hasil kajian yang diperoleh dipublikasikan kepada siswa lain melalui MADING khusus tentang Kajian Islam, jika memungkinkan akan lebih baik melalui majalah sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ini perlu dilakukan, sebab ciri utama dari surau sebagai lembaga pendidikan pada masa lampau adalah belajar membaca al-Qur'an. Oleh karena itu, jika sekolah ingin mengaktualisasikan pendidikan surau untuk masa kini, maka penerapan pendidikan al-Qur'an suatu keniscayaan. Selain itu, penerapan pendidikan al-Qur'an di sekolah umum juga mesti diprioritaskan, khususnya dengan lahirnya Perda Prop. Sumbar Nomor 3 tahun 2007 tentang Pendidikan al-Qur'an sebagai kurikulum muatan lokal. Melalui Perda ini, sekolah diharapkan memiliki dasar hukum yang lebih kuat untuk menerapkan gagasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, setiap sekolah/madrasah harus memiliki masjid/mushalla, paling tidak memanfaatkan masjid/mushalla masyarakat di sekitar sekolah. Perlu pula meningkatkan fungsi masjid/mushalla, tidak hanya sebagai tempat ibadah seperti shalat, tetapi bisa dilengkapi dengan alat-alat yang berkenaan dengan pembelajaran agama, sehingga mushalla/masjid bisa menjadi "labor" pembelajaran yang terkait dengan mata pelajaran PAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sekolah/madrasah harus melaksanakan pendidikan ibadah secara praktis, yang meliputi: Shalat fardhu secara berjamaah bagi siswa muslim. Sejarah pendidikan surau masa lampau menunjukkan bahwa dalam surau tersebut dilakukan pembinaan ibadah, khususnya shalat Maghrib, Isya, dan Shubuh, sebab surau lebih berfungsi ketika malam hari. Dalam konteks madrasah, maka pelaksanaan shalat berjamaah dilakukan sesuai dengan shift-nya, yang pagi shalat zhuhur, sedangkan yang siang/sore pada shalat Ashar. Bagi siswa yang melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler di sore hari, maka guru bersama siswa melaksanakan shalat Ashar secara berjamaah. Lalu Shalat dhuha. Siswa harus dimotivasi melaksanakan shalat dhuha ketika jam istirahat pertama. Paling tidak, setiap siswa diwajibkan oleh sekolah melaksanakan shalat dhuha sekali dalam seminggu. Dalam hal ini wali kelas membagi siswa ke dalam enam kelompok dimana masing-masing kelompok memilih salah satu hari (Senin s.d. Sabtu) sebagai jadwal melaksanakan shalat dhuha. Dengan demikian, setiap hari akan terdapat siswa melaksanakan shalat dhuha di masjid/mushalla sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, setiap sekolah/madrasah harus memiliki karakter Islam dalam satu bidang tertentu, dengan memprioritaskan pembinaan kegiatan keislaman, seperti tahfiz juz 'amma, qari' (tilawah), syahril qur'an, pidato Islami, seni Islami, kaligrafi al-Qur'an, Puisi Islami, ROHIS, dan sebagainya, yang turut mewarnai sekolah bersangkutan. Pembentukan karakter ini bisa dilakukan melalui program pengembangan diri atau ekstrakurikuler. Hal ini relevan dengan perkembangan surau masa lalu dalam sosial sejarah Islam di Minangkabau dimana beberapa surau terkenal di berbagai daerah memiliki ciri tersendiri. Seperti Surau Koto Tuo (Tuanku Nan Tuo) Agam yang memiliki distingsi dalam bidang tafsir; Surau Kotogadang yang terkenal sebagai pusat ilmu mantiq dan ma'ani; Surau Sumanik, tersohor kuat dalam tafsir dan fara'id; Surau Kamang, terkenal karena kuat dalam ilmu-ilmu bahasa Arab; Surau Talang, dan Surau Salayo, yang keduanya terkenal dalam bidang Nahu-Sharaf. Keseluruhan surau ini mencapai puncak kejayaannya dalam masa pra-Padri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, setiap guru mesti meningkatkan perannya sebagai teladan bagi siswa. Keteladanan itu dapat dilakukan dengan kedisiplinan, sikap yang santun, terutama keterlibatan guru dalam melaksanakan shalat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, sekolah/madrasah sebaiknya memberikan reward kepada perilaku positif siswa. Madrasah tidak hanya mencatat kesalahan siswa; akan tetapi perlu disiapkan semacam dokumen/portofolio untuk merekam perilaku positif yang terukur, seperti turut melaksanakan shalat, datang paling cepat, prestasi intra atau ekstra kurikuler, mendapat tugas tertentu dalam kegiatan upacara bendera atau lainnya, menjadi utusan lomba, dan sebagainya. Reward ini bisa meningkatkan motivasi siswa untuk melakukan perbuatan yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak bentuk lain yang berkenaan dengan nilai-nilai pendidikan surau untuk diterapkan dalam pelaksanaan sekolah berbasis surau. Beberapa gagasan dalam tulisan ini diharapkan dapat memberika inspirasi bagi kalangan akademisi dan praktisi pendidikan Islam untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Sumatera Barat, termasuk melalui sekolah, sehingga melahirkan generasi yang berilmu dan mampu melestarikan adat serta mengamalkan syari'at sesuai falsafah ABS-SBK. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Insya Allah.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-7079248516319244907?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/7079248516319244907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=7079248516319244907&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7079248516319244907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/7079248516319244907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/07/menggagas-pendidikan-berbasis-surau.html' title='MENGGAGAS PENDIDIKAN BERBASIS SURAU'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SnKkepybeyI/AAAAAAAAAKw/BtJV4U2usUs/s72-c/surauu1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-2116523654889297167</id><published>2009-07-04T17:43:00.002+07:00</published><updated>2009-07-04T17:57:25.087+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan islam'/><title type='text'>PERDA SUMBAR NO 3 THN 2007</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sk80QXLMOnI/AAAAAAAAAKA/jhPisK1hDkg/s1600-h/DSC00103.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sk80QXLMOnI/AAAAAAAAAKA/jhPisK1hDkg/s320/DSC00103.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354555937670314610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;NOMOR 3 TAHUN 2007&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDIDIKAN AL-QUR'AN&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;DAN&lt;br /&gt;GUBERNUR SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN&lt;br /&gt;MENETAPKAN: PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT TENTANG PENDIDIKAN AL-QUR'AN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Daerah adalah Propinsi Sumatera Barat;&lt;br /&gt;2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi Sumatera Barat;&lt;br /&gt;3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Sumatera Barat;&lt;br /&gt;4. Gubernur adalah Gubernur Sumatera Barat;&lt;br /&gt;5. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Propinsi Sumatera Barat;&lt;br /&gt;6. Pendidikan al-Qur'an adalah upaya sistematis untuk menumbuhkan kemampuan membaca, menulis, memahami dan mengamalkan kandungan al-Qur'an;&lt;span class="fullpost"&gt;7. Pendidikan Nasional adalah sistem pendidikan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Perundang-undangan Negara;&lt;br /&gt;8. Peserta Didik Pendidikan Al-Qur'an adalah warga masyarakat Sumatera Barat yang beragama Islam;&lt;br /&gt;9. Tenaga Kependidikan Al-Qur'an adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an;&lt;br /&gt;10. Tenaga pendidik Al-Qur'an adalah tenaga kependidikan Al-Qur'an yang secara profesional bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan bimbingan, dan pelatihan serta menilai hasil pembelajaran pendidikan Al-Qur'an;&lt;br /&gt;11. Jalur pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan;&lt;br /&gt;12. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan;&lt;br /&gt;13. Jenis pendidian adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan;&lt;br /&gt;14. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan;&lt;br /&gt;15. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar dan pendidikan menengah;&lt;br /&gt;16. Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang oleh masyarakat;&lt;br /&gt;17. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu;&lt;br /&gt;18. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan selanjutnya disingkat KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan;&lt;br /&gt;19. Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an adalah Pemerintah dan masyarakat;&lt;br /&gt;20. Departemen Agama adalah Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat dan perangkatnya di seluruh Daerah Kabupaten/Kota se Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;MAKSUD, SASARAN DAN TUJUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pendidikan Al-Qur'an dimaksudkan sebagai upaya strategis dan sistematis dalamm membangun dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencerminkan ciri-ciri kualitas manusia seutuhnya, sebagai wujud percapaian cita-cita pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pendidikan Al-Qur'an bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, pandai baca tulis Al-Qur'an, berakhlak mulia, mengerti dan memahami serta mengamalkan kandungan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sasaran Pendidikan Al-Qur'an adalah peserta didik yang beragama Islam pada semua jalur dan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Pemerintah Daerah dan masyarakat menyelenggarakan Pendidikan Al-Qur'an&lt;br /&gt;(2) Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat dilakukan pada semua jalur dan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;(3) Penyelengaraan Pendidikan Al-Qur'an pada semua jenjang pendidikan formal merupakan bagian dari kurikulum pendidikan nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi, Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;(4) Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an pada semuan jenjang pendidikan non formal diselenggarakan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Pendidikan Al-Qur'an adalah merupakan muatan lokal dan bagian dari struktur kurikulum pada semua jenjang pendidikan formal.&lt;br /&gt;(2) Kurikulum Pendidikan Al-Qur'an pada jenjang pendidikan non formal disusun oleh masing-masing satuan pendidikan non formal dengan berpedoman kepada materi yang disusun dalam KTSP.&lt;br /&gt;(3) Kurikulum muatan Pendidikan Al-Qur'an diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an pada jalur pendidikan non formal, disetarakan dengan penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an melalui jalur pendidikan formal.&lt;br /&gt;(2) Tata cara penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur'an pada jalur pendidikan non formal, diatur dengan Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB IV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;TENAGA KEPENDIDIKAN AL-QUR'AN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Tenada kependidikan Al-Qur'an bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses Pendidikan Al-Qur'an pada satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal maupun pada jalur pendidikan non formal.&lt;br /&gt;(2) Tenaga pendidik Al-Qur'an merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan bimbingan, dan pelatihan serta menilai hasil pembelajaran Pendidikan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;(3) Tenaga pendidik Al-Qur'an dapat berasal dari guru agama Islam atau tenaga kependidikan yang khusus diangkat untuk melaksanakan Pendidikan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Pengadaan Tenaga Kependidikan Al-Qur'an pada jalur pendidikan formal diselenggarakan berdasarkan ketentuan perundang-undangan kepegawaian.&lt;br /&gt;(2) Pengadaan Tenaga Kependidikan Al-Qur'an pada jalur pendidikan non formal diselenggarakan berdasarkan kebutuhan masing-masing penyelenggara pendidikan.&lt;br /&gt;(3) Pengadaan Tenaga Kependidikan Al-Qur'an dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah Propinsi atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, dan/atau Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi atau Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB V&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN AL-QUR'AN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Setiap satuan pendidikan pada semua jalur dan jenjang pendidikan wajib menyediakan sarana dan prasarana pendidikan Al-Qur'an&lt;br /&gt;(2) Ketentuan tentang penyediaan sarana dan prasarana pendidikan Al-Qur'an diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB VI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;EVALUASI DAN SERTIFIKASI PENDIDIKAN AL-QUR'AN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Untuk menentukan tingkat keberhasilan peserta didik, dilakukan evaluasi pendidikan Al-Qur'an berdasarkan teori teknik evaluasi&lt;br /&gt;(2) Tingkat keberhasilan peserta didik dilakukan oleh satuan penyelenggara evaluasi pendidikan pada semua jalur dan jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;(3) Tata cara pelaksanaan evaluasi pendidikan Al-Qur'an ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Peserta didik yang berhasil mengikuti pendidikan Al-Qur'an pada jalur pendidikan formal, dievaluasi sesuai dengan ketentuan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) dan (3).&lt;br /&gt;(2) Peserta didik yang telah mengikuti pendidikan Al-Qur'an pada jalur pendidikan non formal, dievaluasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) dan (3) dibuktikan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh satuan penyelenggara pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;(3) Sertifikasi pendidikan Al-Qur'an berbentuk sertifikat kompetensi yang dipergunakan untuk mengikuti jenjang pendidikan berikutnya atau untuk memenuhi persyaratan tertentu, yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;(4) Tata cara pemberian sertifikat pendidikan Al-Qur'an diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 13&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan jenjang pendidikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Tamat sekolah dasar pandai membaca, menulis dan memahami ayat Al-Qur'an, mengenal tajwid dasar serta hafal 10 (sepuluh) surat juz 'Amma.&lt;br /&gt;b. Tamat sekolah lanjutan tingkat pertama pandai membaca, menulis dan memahami ayat Al-Qur'an serta mengenal ilmu tajwid, irama dasar dan hafal 15 (lima belas) surat juz 'Amma dan ditambah beberapa ayat al-Qur'an lainnya.&lt;br /&gt;c. Tamat sekolah lanjutan tingkat atas fasih membaca, menulis dan memahami ayat Al-Qur'an serta menéenla ilmu tajwid, irama dasar, hafal 20 (dua puluh) surat juz 'Amma dan ditambah beberapa ayat al-Qur'an lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Setiap anggota masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan harus pandai membaca ayat al-Qur'an&lt;br /&gt;(2) Ketentuan dan tata cara pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB VII&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PENDANAAN PENDIDIKAN AL-QUR'AN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Pendanaan pendidikan al-Qur'an merupakan tanggungjawab bersama antara Pemerintah Daerah Propinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah Daerah Propinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bertanggungjawab menyediakan anggaran pendidikan Al-Qur'an sebagai bagian dari anggaran pendidikan nasional.&lt;br /&gt;(3) Penyediaan anggaran pendidikan Al-Qur'an dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan tentang pertanggungjawaban pendanaan pendidikan Al-Qur'an diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB VIII&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PEMBINAAN DAN PENGAWASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 16&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemerintah Daerah Propinsi maupun Kabupaten/Kota melalui Dinas Pendidikan, Kantor Departemen Agama, Unit Kerja Terkait, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pendidikan al-Qur'an pada semua jalur dan jenjang pendidikan, baik formal maupun non formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 17&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Pemerintah Daerah melaui Dinas Pendidikan, Kantor Departemen Agama, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan Al-Qur'an pada semua jalur dan jenjang pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing.&lt;br /&gt;(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan tentang tata cara dan teknis pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB IX&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;S A N K S I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 18&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Bagi peserta didik tamatan SD dan SLTP yang akan melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan berikutnya, apabila tidak mampu membaca dan menulis ayat al-Qur'an sesuai dengan kompetensi dasar sebagaimana yang ditetapkan dalam Pasal 13 dan/atau tidak memiliki sertifikat pandai membaca dan menulis ayat Al-Qur'an, maka yang bersangkutan tidak/belum dapat diterima pada jenjang pendidikan lanjutan tersebut.&lt;br /&gt;(2) Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah apabila yang bersangkutan yang diketahui oleh orang tua atau walinya menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti program khusus belajar membaca dan menulis ayat Al-Qur'an, baik yang diadakan di sekolah tersebut maupun penyelenggara lainnya.&lt;br /&gt;(3)  Apabila sertifikat yang dikeluarkan berdasarkan rekomendasi dari sekolah dan pengawas pendidikan agama Islam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) ternyata mengandung kepalsuan, maka kepada yang mengeluarkan rekomendasi diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;(4) Apabila calon penganten belum dapat membaca ayat al-Qur'an sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1), maka proses pernikahannya ditunda sampai yang bersangkutan dapat memenuhi kompetensi dasar yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB X&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KETENTUAN UMUM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 19&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Setiap orang yang dengan sengaja menerbitkan dan/atau memberikan sertifikat yang bertentangan dengan Peraturan Daerah ini sebagaimana diatur dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan hukuman kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan atau denda paling banyak Rp.30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah).&lt;br /&gt;(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah merupakan pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB XI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 20&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan Al-Qur'an, sebelum ditetapkan Peraturan Daerah ini tetap diakui.&lt;br /&gt;(2) Sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan Al-Qur'an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap diakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB XII&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasal 21&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketentuan lebih lanjut dari Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur dalam Peraturan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Peraturan Daeran ini berlaku pada tanggal diundangkan, dan berlaku efektif Tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Sumatera Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Padang&lt;br /&gt;pada tanggal, 15 Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GUBERNUR SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMAWAN FAUZI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Padang&lt;br /&gt;pada tanggal 15 Februari 2007&lt;br /&gt;SEKRETARIS DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs. H. YOHANNES DAHLAN&lt;br /&gt;Pembina Utama Madya&lt;br /&gt;NIP. 410003662&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;TAHUN 2007 NOMOR : 3&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-2116523654889297167?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/2116523654889297167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=2116523654889297167&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2116523654889297167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/2116523654889297167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/07/peraturan-daerah-propinsi-sumatera.html' title='PERDA SUMBAR NO 3 THN 2007'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sk80QXLMOnI/AAAAAAAAAKA/jhPisK1hDkg/s72-c/DSC00103.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-1484122114003981787</id><published>2009-06-23T08:44:00.004+07:00</published><updated>2009-06-23T09:04:40.393+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah Pendidikan'/><title type='text'>Al-Qur'an, Karakter Pendidikan Sumbar</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun karakter (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;character building&lt;/span&gt;) suatu daerah merupakan keniscayaan bagi daerah yang ingin tampil terdepan dan menjadi teladan bagi daerah lain di era otonomi ini. Sementara upaya yang paling efektif u&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SkA3TBEGVmI/AAAAAAAAAJw/U-QcNOLD9YY/s1600-h/DSC00706.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 237px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SkA3TBEGVmI/AAAAAAAAAJw/U-QcNOLD9YY/s320/DSC00706.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350337157158819426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ntuk mewujudkan pembangunan karakter tersebut adalah melalui pendidikan. Dengan demikian, setiap daerah sejatinya memiliki karakter pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah tingkat dua (kota/kabupaten) di lingkungan Propinsi Sumatera Barat juga dituntut untuk mempertegas karakter pendidikan yang ingin diterapkan. Karakter pendidikan yang ingin diterapkan tentu memiliki nilai positif, tidak hanya pada saat ini, akan tetapi tetap dibutuhkan untuk masa mendatang. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam membentuk karakter pendidikan di daerah ini—khususnya daerah yang berpenduduk mayoritas muslim—adalah al-Qur'an.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Empat Alasan yang Melatarbelakangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada empat aspek yang menjadi alasan untuk menerapkan gagasan ini. Pertama, aspek dogmatis. Secara dogmatis diyakini bahwa al-Qur'an adalah pedoman hidup manusia. Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang kehidupan spiritual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an sich, &lt;/span&gt;akan tetapi mengandung ajaran yang komprehensif, holistik dan universal. Bahkan al-Qur'an juga mengandung isyarat-isyarat ilmiah yang tetap relevan sepanjang zaman sehingga tatanan kehidupan masyarakat memiliki peradaban yang tinggi. Hanya saja, perlu pengembangan metodologi dalam pemahaman al-Qur'an sehingga ia lebih "membumi" dan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan umat. Jadi, jika muncul anggapan dewasa ini umat Islam terbelakang bukan berarti al-Qur'an yang bermasalah, akan tetapi manusia itu sendirilah yang tidak mampu memahami pesan al-Qur'an tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;aspek sosio-cultural. Secara sosio-cultural, masyarakat Sumatera Barat yang notabenenya bersuku Minangkabau dan beragama Islam memiliki kultur yang menyatu dengan al-Qur'an. Bahkan ketika orang berbicara tentang sosio-cultural Sumatera Barat, maka key word yang ada dalam persepsinya hanya ada dua kata: adat dan agama (Islam). Hal ini beralasan mengingat falsafah Adat Basandi Syara'; Syara' basandi Kitabullah (ABS-SBK) begitu mengakar dalam budaya mereka. Untuk melestarikan dan mewujudkan falsafah yang selalu didengungkan ini dalam kehidupan nyata, perlu menggagas karakter pendidikan yang mampu menerapkan Kitabullah (al-Qur'an) tersebut. Jika tidak, maka falsafah ABS-SBK hanya menjadi buah bibir semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;aspek historis. Berbicara tentang historis atau sejarah pendidikan Minangkabau di Sumatera Barat tentu tidak terlepas dari pendidikan surau. Sistem pendidikan Surau masih tetap menarik untuk dikaji dan diteliti hingga saat ini. Sebab, pendidikan surau telah memberikan kontribusi yang amat besar terhadap pembangunan daerah Sumatera Barat, bahkan terhadap bangsa Indonesia secara nasional dengan tampilnya beberapa ulama dan cendikiawan terkemuka yang merupakan produk dari pendidikan surau tersebut. Dan perlu ditegaskan bahwa setiap surau yang berperan sebagai lembaga pendidikan pasti didalamnya terdapat pendidikan al-Qur'an. Namun, pendidikan surau tidak mampu tampil sebagai lembaga pendidikan survive seperti pesantren di tanah Jawa. Kini, masyarakat Sumatera Barat banyak yang mengalami romantisme sejarah, lalu mempopulerkan gagasan "babaliak ka surau" karena surau telah dianggap berhasil pada zamannya. Cara yang paling bijak untuk menerapkan gagasan itu adalah dengan menerapkan kembali ciri khas sistem pendidikan surau itu sendiri, yaitu al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;aspek politik. Secara politik, gagasan al-Qur'an sebagai karakter pendidikan juga sangat beralasan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4, misalnya, disebutkan bahwa pada tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata-kata iman dan takwa jelas terinspirasi dari isi al-Qur'an. Dalam perspektif Islam, mustahil seseorang mampu beriman dan bertakwa tanpa mengamalkan kandungan al-Qur'an. Karenanya, mempelajari al-Qur'an merupakan keniscayaan bagi yang ingin mengamalkan al-Qur'an secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perda Nomor 3 tahun 2007 tentang Pendiidkan al-Qur'an&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Selain alasan undang-undang di atas, secara politik, pemerintah propinsi Sumatera Barat sebenarnya juga memberikan perhatian yang amat tinggi terhadap pendidikan al-Qur'an. Hal ini dapat dilihat dari Peraturan Darah (Perda) Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pendidikan al-Qur'an yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prop. Sumbar. Dalam Perda itu ditegaskan bahwa Pendidikan al-Qur'an menjadi salah satu kurikulum muatan lokal yang dapat diterapkan sekolah tingkat dasar (SD) dan menengah (SMP, SMA, dan SMK). Bahkan Perda ini telah ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga Prop. Sumbar dengan membentuk sekolah piloting kurikukum Pendidikan al-Qur'an di setiap 19 kota/kabupaten di lingkungan Prop. Sumatera Barat mulai dari SD, SMP, SMA, dan SMK sejak TP. 2008/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan dan niat baik pemerintah ini seyogyanya mendapat dukungan penuh dari masyarakat, khususnya yang beragama Islam demi membentuk kepribadian generasi muda yang kelak menjadi pemimpin di negeri ini. Dukungan itu sangat dibutuhkan terutama dari sekolah dan orang tua. Sekolah-sekolah di semua jenjang (SD, SMP, SMA, dan SMK) yang memiliki siswa mayoritas muslim seharusnya memandang kurikulum pendidikan al-Qur'an sebagai kebutuhan mendasar. Sebab beberapa survey yang dilakukan oleh tim perumus kurikulum pendidikan al-Qur'an menemukan banyak siswa dari beberapa sekolah tertentu tidak pandai membaca dan menulis al-Qur'an. Jika tidak pandai membaca al-Qur'an, bagaimana dengan pengamalan mereka? Lalu bagaimana pula cara yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang beriman dan bertakwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula orang tua, di era demokrasi yang semakin berkembang ini sesungguhnya membutuhkan peran orang tua yang lebih besar lagi dalam peningkatan kualitas sekolah sebagai tempat belajar putra-putri mereka. Maka orang tua diharapkan memberikan saran dan dukungan kepada sekolah untuk menerapkan kurikulum pendidikan al-Qur'an. Dengan begitu, ada kerja sama yang harmonis antara orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk membentuk karakter generasi muda sebagai pemimpin masa datang yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang berlandaskan iman dan takwa melalui al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan orang tua sebaiknya selektif terhadap sekolah dalam memasukkan putra-putri mereka dengan memilih sekolah yang peduli terhadap pembentukan karakter Qur'ani di sekolah tersebut. Apa artinya memiliki putra-putri yang cerdas secara intelektual tetapi mengalami kehampaan spiritual? Kaya pengetahuan tapi miskin iman?&lt;br /&gt;Sudah saatnya masyarakat Sumatera Barat memiliki visi yang sama untuk membentuk karakter pendidikan yang memberikan perhatian terhadap kualitas ilmu dan iman secara integral sehingga mereka mampu beramal secara kreatif dan produktif. Dalam hal ini, al-Qur'an menjadi alternatif yang solutif.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-1484122114003981787?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/1484122114003981787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=1484122114003981787&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/1484122114003981787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/1484122114003981787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/06/al-quran-karakter-pendidikan-sumbar.html' title='Al-Qur&apos;an, Karakter Pendidikan Sumbar'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SkA3TBEGVmI/AAAAAAAAAJw/U-QcNOLD9YY/s72-c/DSC00706.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-5526155642682529434</id><published>2009-05-23T16:32:00.004+07:00</published><updated>2009-05-23T17:01:07.513+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah Pendidikan'/><title type='text'>Makalah Konseling Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKHLAK KONSELOR DALAM ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Kosim, MA&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/ShfICtJB15I/AAAAAAAAAJo/J7D33ouaW54/s1600-h/konseling.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 182px; height: 111px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/ShfICtJB15I/AAAAAAAAAJo/J7D33ouaW54/s320/konseling.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338955832073770898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pendah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;uluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konselor merupakan orang yang melakukan proses konseling kepada kliennya. Keberhasilan seorang konselor tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya dalam memahami konsep-konsep konseling an sich, akan tetapi sangat ditentukan akhlak seorang konselor. Hal ini juga tidak terlepas dari keberhasilan Rasulullah SAW dalam menerapkan dakwah islamiyyah—yang di dalamnya juga terdapat proses konseling—amat didukung oleh kemuliaan akhlaknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, akhlak seorang konselor sangat dibutuhkan dalam menentukan keberhasilan proses konseling yang ia lakukan, terutama dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, makalah yang sederhana ini akan berupaya untuk menguraikan akhlak konselor dalam kajian Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Akhlak Konselor dalam Islam&lt;/span&gt; Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa seorang konselor harus memiliki akhlak yang mulia. Seorang konselor harus memiliki kepribadian yang baik, sebab pelayanan bimbingan dan konseling berkaitan dengan pembentukan perilaku dan kepribadian klien. Melalui konseling diharapkan terbentuk perilaku positif (akhlak baik) dan kepribadian yang baik pula pada diri klien. Upaya ini akan efektif apabila dilakukan oleh seseorang yang memiliki kepribadian dan akhlak yag baik pula. Selain itu, praktik bimbingan dan konseling berlandaskan atas norma-norma tertentu. Dengan kepribadian yang baik, diharapkan tidak terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang bisa merusak citra pelayanan bimbingan dan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan tertentu seorang konselor bisa menjadi model atau contoh yang baik bagi penyelesaian masalah siswa (klien). Dalam konteks ini ada teori counselling by modeling, yaitu konseling melalui percontohan.  Konselor bisa menjadi contoh yang efektif bagi pemecahan masalah kliennya. Konselor tidak akan dapat menjalankan fungsi  ini apabila dirinya tidak memiliki kepribadian yang baik. Misalnya konselor akan sulit mengubah perilaku siswa yang tidak disiplin apabila ia sendiri tidak dapat menunjukkan perilaku disiplin kepada para siswa. Konselor akan sulit mengubah sifat siswa yang emosional apabila ia sendiri adalah orang yang emosional dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, syarat ini menjadi lebih urgen. Sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang dalam praktik pendidikan dan pembelajarannya dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam, maka praktik pelayanan bimbingan dan konselingnya pun harus dijiwai dan dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam. Salah satu nilainya adalah pembimbing atau konselornya harus berakhlak baik (memiliki akhlak al karimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik bimbingan konseling harus dijiwai dan dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam yang mengacu kepada praktik bimbingan dan kon¬selingnya Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. adalah sosok pemecah masalah umat yang paling efektif. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. merupakan konselor pertama dalam Islam yang membimbing, mengarahkan, menuntun dan menasihati umat agar beriman kepada agama Tauhid (Islam). Melalui bimbingan, arahan, tuntunan dan nasihatnya, manusia memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia dan akhirat Kepribadiannya mantap dapat menjadi contoh teladan yang baik bagi pemecahan masalah para sahabat ketika itu. Hal ini relevan dengan firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Qs. al-Ahzab/33: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian yang baik dalam konteks Islam ditandai dengan kepemilikan iman, ma'rifah, dan tauhid. Dengan demikian seorang pembimbing atau konselor terutama yang berpraktik di lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memiliki keimanan, kemakrifatan, dan ketauhidan yang berkualitas. Kemakrifatan penting dimiliki dalam kaitannya untuk bersimpati dan berempati terhadap klien (siswa).  Kepribadian yang baik juga ditandai dengan dimilikinya aspek moralitas yang baik pada diri pembimbing (konselor) seperti nilai-nilai, sopan santun, adab, etika, dan tata krama yang dilandaskan pada ajaran agama Islam. Intinya tanpa kepribadian yang baik dari guru pembimbing (konselor), tujuan pelayanan bimbingan dan konseling akan sulit dicapai secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keterangan di atas, akhlak seorang konselor dapat dirumuskan dengan melihat asas-asas yang ada dalam proses konseling tersebut. Thohari Musnamar menyebutkan bahwa asas-asas dalam konseling adalah:&lt;br /&gt;1. Asas kebahagiaan dunia dan akhirat&lt;br /&gt;2. Asas komunikasi dan musyawarah&lt;br /&gt;3. Asas manfaat&lt;br /&gt;4. Asas kasih sayang&lt;br /&gt;5. Asas menghargai dan menghormati&lt;br /&gt;6. Asas rasa aman&lt;br /&gt;7. Asas ta'awun (tolong menolong) atau kerja sama konstruktif&lt;br /&gt;8. Asas toleransi&lt;br /&gt;9. Asas keadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa asas di atas, dapat dikembangkan dan dirumuskan bahwa seorang konselor Islami harus mememiliki akhlak sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;a. Berkomunikasi secara baik&lt;/span&gt; Dalam melakukan konseling, perlu dilakukan dengan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, niscaya pesan yang diinginkan sulit menimbulkan efek yang positif terhadap klien. Dalam al-Qur'an, terdapat beberapa isyarat tentang pola-pola komunikasi yang ditunjukkan dalam beberapa istilah seperti tabel berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Qawlan ma'rufan (Al-Baqarah: 263; An-Nisa': 8; Al-Ahzab: 32) maksudnya Perkataan yang baik Bahasa yang sesuai dengan tradisi, bahasa yang pantas atau cocok untuk tingkat usianya; bahasa yang dapat diterima akal untuk tingkat usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Qawlan kariman (Al-Isra': 23) maksudnya Perkataan yang mulia Bahasa yang memiliki arti penghormatan, bahasa yang enak didengar karena terdapat unsur-unsur kesopanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Qawlan maysuran (Al-Isra': 28) maksudnya Perkataan yang pantas Bahasa yang dimengerti, bahasa yang dapat menyejukkan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Qawlan balighan (An-Nisa: 63) maksudnya Perkataan yang mengena/ mendalam Bahasa yang efektif, sehingga tepat sasaran dan tujuannya, bahasa yang efisien, sehingga tidak membutuhkan banyak biaya, waktu dan tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Qawlan layyinan (Thaha: 44) maksudnya Perkataan lemah lembut Bahasa yang halus, sehingga menembus relung kalbu, bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang lain, bahasa yang baik dan enak didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Qawlan sadid (An-Nisa': 9) maksudnya Al-Ahzab: 70 Perkataan benar dan berimbang Bahasa yang benar, bahasa yang berimbang (adil) dari kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Qawlan azhima (Al-Isra': 80) maksudnya Perkataan yang berbobot Bahasa yang mendalam materinya, bahasa yang berbobot isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Qawlan min rabb rahim (Yasin: 58) maksudnya Perkataan rabbani Bahasa yang isinya bersumber dari Tuhan, bahasa yang yang mengandung pesan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Qawlan tsaqila (Al-Muzammil: 5) maksudnya Perkataan yang berat Bahasa yang berbobot yang mengandung informasi kewajiban manusia, syariah, halal-haram, hukum pidana-perdata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa di atas dapat digunakan melihat kondisi dan psikologi klien sehingga tujuan dari proses konseling dapat tercapai dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;b. Kasih Sayang&lt;/span&gt; Kasih sayang (rahmah) adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap konselor. Karenanya orang yang hatinya keras tidak layak menjadi konselor. Sebab, kasih sayang yang merupakan gerakan kalbu adalah modal perasaan yang secara otomatis bisa mendorong pendidik, dan menolak untuk tidak suka meringankan beban orang yang didik.&lt;br /&gt;Dari beberapa literatur sejarah, banyak ditemukan kisah Rasulullah SAW yang menyayangi keluarga dan para sahabatnya. Rasulullah SAW pernah memendekkan shalatnya hanya karena kasih sayang beliau kepada seorang ibu yang merasakan kepedihan atas tangisan bayinya ketika shalat sedang berlangsung. Hadis ini diriwayatkan Anas bin Malik r.a., dia bekata:&lt;br /&gt;مَاصَلَّيْتُ وَرَاءَ اِمَامٍ قَطُّ اَخَفَّ صَلاَةً وَلاَ اَتَمَّ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِنْ كَانَ يَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ فَيُخَفِّفَ مَخَافَةَ اَنْ تُفْتَنَ اُمُّهُ.&lt;br /&gt;Artinya: "Saya tidak pernah shalat di belakang iman yang lebih ringan dan lebih sempurna dari pada Nabi SAW. Dan pernah beliau mendengar tangis seorang bayi lalu mempercepatnya karena khawatir ibunya terganggu." (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam mendidik, Rasulullah SAW senantiasa mendidik para sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Dalam suatu majlis, umpamanya, jika ada sahabat yang tidak datang, maka beliau akan mempertanyakannya. Hal ini pernah terjadi dengan sahabatnya Tsabit bin Qays. Suatu ketika Tsabit bin Qays tidak mau datang ke majlis Nabi SAW karena merasa bersalah dimana beliau pernah meninggikan suaranya di hadapan Nabi, sementara beliau mempertanyakan ketidakhadiran Tsabit. Rasulullah SAW tidak berhenti bertanya di situ saja, tetapi ia mengutus sahabat lain untuk menanyakan keadaannya. Setelah di utus, Tsabit pun menolak lalu menjelaskan rasa bersalahnya. Mendengar jawaban itu, Nabi pun kembali menyuruh sahabat untuk kedua kalinya dengan membawa kabar gembira yang luar biasa, dan Rasulullah SAW:&lt;br /&gt;إِذْهَبْْ إِلَيْهِ فَقُلْ: إِنَّكَ لَسْتَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَلَكِنْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ&lt;br /&gt;Artinya: ”Pergilah kepadanya dan katakan, 'Sesungguhnya anda bukan termasuk penghuni neraka, tetapi termasuk penghuni surta". (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kasih sayang dalam mendidik ini, juga diakui oleh para pemuda yang pernah ia ajari, seperti Malik bin Huwairits r.a., ia berkata:&lt;br /&gt;أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُوْنَ, فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِيْنَ يَوْمًا وَلَيْلَةً, وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيْمًا رَفِيْقًا, فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدِ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا, أَوْ قَدِ اشْتَقْنَا, سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ, قَالَ: (إِرْجِعُوْا إِلَى اَهْلِيْكُمْ فَأَقِيْمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ). وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لاَ أَحْفَظُهَا: (وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُُصَلِّي, فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ).&lt;br /&gt;Artinya: "Kami mendatangi Rasulullah SAW dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang penyayang. Ketika beliau menduga kami telah menghendaki ingin pulang dan rindu keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda: 'Kembalilah kepada keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka.' Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hafal dan tidak saya hafal. 'Dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Bila (waktu) shalat tiba, maka hendaklah salah satu dari kalian adzan dan yang paling dewasa menjadi iman." (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku kasih sayang turut menentukan keberhasilan seorang konselor dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada klien sehingga ditemukan problem solving yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;c. Lemah Lembut&lt;/span&gt; Sikap lemah lembut merupakan sikap yang tidak bisa dipisahkan dari sikap kasih sayang yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Demikian halnya Rasulullah SAW, sebagai konselor umat sepanjang zaman, juga memiliki akhlak yang lemah lembut. Akhlak ini memang telah dianugerahkan Allah kepada para Nabi-Nya, firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendidik para sahabatnya, Rasulullah SAW senantiasa memperlihatkan sikap yang lemah lembut ini. Hal ini diakui oleh Umar bin Abi Salamah r.a., ia berkata: "Saya masih kecil dan berada di dalam asuhan Rasulullah SAW. Tanganku mengambil dengan acak (makanan) di nampan (piring besar yang cukup untuk lima orang). Maka Rasulullah SAW bersabda kepadaku:&lt;br /&gt;يَاغُلاَمُ سَمِّ اللهِ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ&lt;br /&gt;Artinya: 'Wahai anak, bacalah Bismillah. Makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang dekat denganmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari bahasa yang ucapkan Rasulullah SAW, begitu santun dan lemah lembutnya bahasa itu. Ucapan itu pun amat berpengaruh pada diri Umar bin Abi Salamah dengan pengakuannya:&lt;br /&gt;فَمَازَالَتْ تِلْكَ طُعْمَتِيْ بَعْدُ&lt;br /&gt;Artinya: Senantiasa seperti inilah cara makanku setelah itu" (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;d. Sabar (patience)&lt;/span&gt; Sabar adalah bekal setiap konselor. Seorang pendidik (konselor) yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal. Bisa jadi dia akan gagal, atau kembali sebelum sampai ke tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kesabaran konselor dalam proses konseling dapat memban-lu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. Sikap sabar konselor menunjukkan lebih memperhatikan diri klien daripada hasilnya. Konselor yang sabar cenderung menampilkan kualitas sikap dan perilaku yang tidak tergesa-gesa.&lt;br /&gt;Mengenai kesabaran nabi SAW juga, al-Qarni menyebutkan bahwa beliau menjadi contoh yang ideal dalam kelapangan dada, kesabaran yang agung, ketabahan yang besar, dan ketegaran hati.  Begitu juga dalam mendidik dan memberikan konseling kepada para sahabatnya, Nabi Muhammad SAW senantiasa bersabar dalam menghadapi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;e. Tawadhu’&lt;/span&gt; Untuk menggugah simpati klien, sifat tawadhu' dari seorang konselor juga diperlukan. Dengan sifat tawadhu' akan menambahkan keakraban antara keduanya. Sifat ini juga tampak dalam diri Rasulullah SAW sehingga ia dikenal sebagai guru yang tawadhu’. Hal itu dapat dilihat dari sikap ketika memasuki suatu majlis, beliau tidak suka disambut atau dihormati dengan cara berdiri. Dari Anas bin Malik r.a. dijelaskan:&lt;br /&gt;لَمْ يَكُنْ شَخْصُ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَكَانُوْا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُوْمُوا لِمَا يَعْلَمُوْنَ مِنْ كَرَاهَتِهِ لِذَلِكَ&lt;br /&gt;Artinya: Tidak ada yang paling dicintai oleh para sahabat melebihi Rasulullah SAW. Lalu Anas berkata: "Walau demikian ketika melihat Rasulullah SAW mereka tidak berdiri, karena mengetahui bahwa beliau (Rasulullah) tidak menyukai hal itu”. (H.R. Imam at-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arti yang lebih luas, hadis ini menggambarkan bahwa sikap yang ditampilkan Rasulullah SAW tersebut juga perlu diaktualisasikan dalam proses konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;f. Toleransi&lt;/span&gt; Dalam melaksanakan konseling, seorang konselor juga dituntut untuk bersikap toleran terhadap kliennya. Hal ini selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Misalnya, toleransi nabi terlihat dalam hadis tentang orang yang bersetubuh di siang hari Ramadhan dalam keadaan puasa. Hadis ini diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:&lt;br /&gt;بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَارَسُولَ اللهِ, هَلَكْتُ. قَالَ: مَالَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِيْ وَأنَا صَائِمٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ قَالَ: َلا. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لا. فَقَالَ: فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ: لا, قَالَ: فَمَكُثَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَبَينَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهَا تَمْرٌ, قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ فَقَالَ: أنَا. قَالَ: خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ. فَقَالَ الَّرجُلُ: أَعَلَ أَفْقََر مِنِّي يَارَسُوْلَ اللهِ؟ فَوَ اللهِ مَابَيْنَ َلابَتَيْهَا, يُرِيْدُ الْحَرَّتَيْنِ, أَهْلُ بَيْتِ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي. فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ: أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ.&lt;br /&gt;Artinya: "Ketika kami duduk di sisi Nabi SAW, tiba-tiba datanglah seseorang lalu berkata: 'Ya Rasulullah, celakalah aku'. Rasul bertanya: 'Apa yang mencelakakanmu?' Ia menjawab: 'Saya menggauli istri Saya, sedangkan Saya berpuasa (Ramadhan). Rasulullah SAW bertanya: 'Apakah kamu memiliki sesuatu untuk memerdekakan budak?' Ia menjawab: 'Tidak', Rasulullah SAW bertanya lagi: 'Apakah kamu bisa berpuasa dua bulan berturut-turut?', Ia menjawab: 'Tidak', Rasulullah SAW bertanya lagi: 'Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?' Ia pun menjawab: 'Tidak'. Berkata Abu Hurairah, 'Maka pergi Nabi SAW, sesaat kemudian kami melihat Nabi SAW datang membawa sekerangjang kurma', Nabi bertanya: 'Manakah orang yang bertanya tadi?' Maka dia menjawab: 'Saya', Bersabda Nabi: 'Ambillah olehmu kurma ini, maka sedekahkanlah' Maka bertanya laki-laki itu: 'Apakah ada orang yang lebih faqir dariku wahai Rasulullah? Maka demi Allah, tidak ada orang di antara dua bukit (kota Madinah) yang lebih faqir dari pada keluargaku'. Maka tertawalah Nabi SAW sehingga kelihatan giginya, lalu ia bersabda: 'Berilah makan keluargamu dengannya'". (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hadis di atas menunjukkan kebijaksanaan sekaligus sikap toleransi Nabi kepada para sahabatnya yang sedang bermasalah dan meminta agar Rasul membantunya untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Kemudian Nabi SAW memahami kondisi dan kemampuan masing-masing sahabat dan tidak menerapkan hukum yang kaku tanpa melihat persoalan yang sesungguhnya. Begitulah Rasulullah SAW membina kepribadian sahabat sehingga mereka taat melaksanakan risalah yang dibawanya dengan suka hati, tanpa merasa terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;g. Demokratis dan Terbuka&lt;/span&gt; Sebagai seorang konselor yang bijaksana, juga diperlukan sikap toleransi yang tinggi kepada klien. Perlu pula keterbukaan antara keduanya sehingga berbagai persoalan yang dihadapi oleh klien dapat diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;h. Jujur (honesty)&lt;/span&gt; Yang dimaksud jujur di sini adalah bahwa konselor itu bersikap transparan (terbuka), autentik, dan asli (genuine). Sikap jujur ini penting dalam konseling, karena alasan-alasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sikap keterbukaan memungkinkan konselor dan klien untiik menjalin hubungan psikologis yang lebih dekat satu sama lainnya di dalam proses konseling; Konselor yang menutup atau menyembunyikan bagian-bagian dirinya terhadap klien dapat menghalangi terjadinya relasi yang lebih dekat. Kedekatan hubungan psikologis sangat penting dalam konseling, sebab dapat menimbulkan hubungan yang langsung dan terbuka antara konselor dengan klien. Apabila terjadi ketertutupan dalam konseling dapat menyebabkan merintangi perkembangan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kejujuran memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif kepada klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;d. Dapat Dipercaya (Trustworthiness/amanah)&lt;/span&gt; Kualitas ini berarti bahwa konselor itu tidak menjadi ancaman atau penyebab kecemasan bagi klien. Kualitas konselor yang dapat dipercaya sangat penting dalam konseling, karena beberapa alasan, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Esensi tujuan konseling adalah mendorong klien untuk mengemukakan masalah dirinya yang paling dalam. Dalam hal ini, klien harus merasa bahwa konselor itu dapat memahami dan mau menerima curahan hatinya (curhatnya) dengan tanpa penolakan. Jika klien tidak memiliki rasa percaya ini, maka rasa prustasilah yang menjadi hasil konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Klien dalam konseling perlu mempercayai karakter dan motivasi konselor. Artinya klien percaya bahwa konselor mempunyai motivasi untuk membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Apabila klien mendapat penerimaan dan kepercayaan dari konselor, maka akan berkembang dalam dirinya sikap percaya tnrhadap dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini relevan dengan ajaran al-Qur'an yang menuntut manusia untuk bersifat amanah.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, (Qs. al-Ahzab/33: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;e. Adil&lt;/span&gt; Seorang konselor harus bersikap adil dalam melakukan proses konseling kepada kliennya. Prinsip keadilan ini sangat penting memahami masalah yang dihadapi klien lalu memperlakukannya sesuai dengan prinsip keadilan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. surat al-Maidah/5 ayat 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Penutup&lt;/span&gt; Demikianlah uraian makalah ini tentang akhlak seorang konselor dalam kajian Islam. Akhlak ini perlu dimiliki oleh setiap konselor sehingga pelaksanaan konseling dalam berjalan dengan baik dan masalah yang dihadapi oleh klien teratasi secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Akhlak konselor tentunya berlandaskan kepada ajaran Islam itu sendiri, yaitu al-Qur'an dan hadis. Dalam al-Qur'an dan hadis, ditemukan beberapa akhlak yang perlu dimiliki oleh seorang konselor, seperti berkomunikasi dengan baik, kasih sayang, jujur, amanah, adil, sabar, tawadhu', toleransi, dan sebagainya. Hal ini juga relevan dengan asas-asas dalam konseling itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;Abdurrahman, Hafidz, Membangun Kepribadian Pendidik Umat, Ketauladanan Rasulullah SAW di Bidang Pendidikan, Jakarta: Wadi Press, 2005&lt;br /&gt;al-Qarni, ‘Aidh bin Abdullah, Visualisasi Kepribadian Muhammad SAW, Penj. Bahrun Abu Bakar Ihsan Zubaidi, Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006&lt;br /&gt;Mudjib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006&lt;br /&gt;Munro, E.A., dkk, Counselling: A Skill Approach, Penj. Erman Amti, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), cet. ke-2&lt;br /&gt;Musnamar, Thohari, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Yogyakarta: UII Press, 1992&lt;br /&gt;Qal'ah, Rawwas, Dirāsah Tahlīliyah li Syakhsiyyah ar-Rasūl SAW, Beirut: Dar an-Nafāis, 1996, cet. ke-2&lt;br /&gt;Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-5526155642682529434?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/5526155642682529434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=5526155642682529434&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5526155642682529434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/5526155642682529434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/05/makalah-konseling-islam.html' title='Makalah Konseling Islam'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/ShfICtJB15I/AAAAAAAAAJo/J7D33ouaW54/s72-c/konseling.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-4892014457431693793</id><published>2009-04-17T10:36:00.005+07:00</published><updated>2009-04-17T11:00:13.362+07:00</updated><title type='text'>Makalah Manajemen Pendidikan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KONSEP DASAR ORGANISASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Kajian Manajemen Pendidikan Islam)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Muhammad Kosim &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk sosial (al-insānu madaniyyun bi at- thab’i atau zoon politicon). Karenanya, setiap manusia akan saling memerlukan dalam memenuhi kebutuhannya. Antara sesama manusia juga dituntut untuk saling bekerja sama, saling menghargai dan menghormati untuk mempertahankan hidupnya di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya alasan sosial (social reasons) di atas menjadi salah satu pendorong bagi manusia untuk membentuk suatu perkumpulan yang biasa disebut "organisasi". Organisasi ini amat dibutuhkan untuk mewujudkan setiap cita-cita yang disepakati oleh anggota organisasi secara bersama. Oleh karena itu, organisasi tumbuh dan berkembang begitu pesat di tengah-tengah masyarakat. Organisasi itu juga dibentuk dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pemerintahan, perusahaan, politik, hukum, ekonomi, dan termasuk bidang pendidikan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, organisasi telah menjadi disiplin ilmu tersendiri seiring dengan berkembangnya pemikiran dan pengetahuan manusia. Teori-teori organisasi yang terbangun dalam kajiannya sebagai suatu disiplin ilmu tertentu, selanjutnya akan dibutuhkan oleh masyarakat dalam membentuk suatu organisasi sesuai dengan bidang yang diinginkan. Demikian halnya di bidang pendidikan Islam, teori-teori organisasi turut dibutuhkan untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang lebih profesional dan berkualitas.&lt;br /&gt;Makalah yang sederhana ini akan mencoba menguraikan konsep-konsep organisasi. Adapun persoalan-persoalan yang akan diuraikan di bawah ini akan berusaha untuk menjawab beberapa hal, yaitu:&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah pengertian organisasi dan perbedaannya dengan pengorganisasian?&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah sejarah pertumbuhan dan perkembangan organisasi?&lt;br /&gt;3. Bagaimanakah prinsip-prinsip, fungsi, dan urgensi organisasi?&lt;br /&gt;4. Bagaimanakah bentuk-bentuk organisasi?&lt;br /&gt;5. Bagaimana pula organisasi dalam lembaga pendidikan Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab lima pertanyaan di atas, penulis akan menguraikan beberapa teori organisasi lalu mencoba menganalisisnya dengan kacamata pendidikan Islam. Karena keterbatasan kemampuan dan referensi yang digunakan, khususnya yang berkenaan dengan konsep pendidikan Islam tentang organisasi, maka dibutuhkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari forum diskusi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Pengertian Organisasi dan Pengorganisasian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Organisasi (organization) dan pengorganisasion (organizing) memiliki hubungan yang erat dengan manajemen. Organisasi merupakan alat dan wadah atau tempat manejer melakukan kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi organik dari manajemen dan ditempatkan sebagai fungsi kedua setelah perencanaan (planning). Dengan demikian, antara organisasi dan pengorganisasian memiliki pengertian yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James L. Gibson c.s., sebagaimana yang dikutip oleh Winardi, berpendapat bahwa:&lt;br /&gt;"...organisasi-organisasi merupakan entitas-entitas yang memungkinkan masyarakat mencapai hasil-hasil tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu-individu yang bertidak secara sendiri"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi-organisasi yang dibentuk oleh sekelompok orang pada dasarnya menginginkan terwujudnya suatu hasil atau tujuan tertentu. Tujuan yang diinginkan tersebut tidak dapat diperoleh secara individu tetapi perlu dilakukan upaya secara bersama dan terpadu.&lt;br /&gt;Stephen R. Robbins memberikan rumusan pengertian organisasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;"... An organization is a consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary, that functions on a relatively continuous basis to achieve a common goal or set of goals".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entitas sosial yang dikemukakan dalam definisi di atas berarti bahwa kesatuan tersebut terdiri dari orang-orang atau kelompok orang yang saling berinteraksi. Pola-pola interaksi yang diikuti orang-orang di dalam suatu organisasi tidak muncul begitu saja, akan tetapi mereka dipertimbangkan sebelumnya. Mengingat bahwa organisasi-organisasi merupakan entitas-entitas sosial, maka pola-pola interaksi para anggotanya perlu dipertimbangkan pula serta diharmonisasi guna tercapainya tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajudi Atmosudirdjo menyatakan bahwa organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barnad, seperti yang dikutip Asnawir, organisasi adalah suatu sistem mengenai usaha kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu.&lt;br /&gt;Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa organisasi adalah tempat atau wadah berkumpulnya beberapa orang yang secara sadar berinteraksi dan saling bekerja sama untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama. Meskipun terdapat perbedaan definisi tentang organisasi, akan tetapi secara umum organisasi itu memiliki ciri-ciri yang sama. Edgar H. Schein, seorang psikolog keorganisasian terkemuka berpendapat bahwa semua organisasi memiliki empat macam ciri atau karakteristik sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Koordinasi Upaya; Para individu yang bekerja sama dan mengkoordinasi upaya mental atau fisikal mereka dapat mencapai banyak hal yang hebat dan yang menakjubkan.&lt;br /&gt;2.  Tujuan Umum Bersama; Koordinasi upaya tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihak yang telah bersatu, mencapai persetujuan untuk berupaya mencapai sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Sebuah tujuan umum bersama memberikan anggota organisasi sebuah rangsangan untuk bertindak.&lt;br /&gt;3. Pembagian Kerja; Dengan jalan membagi-bagi tugas-tugas kompleks menjadi pekerjaan-pekerjaan yang terspesialisasi, maka sesuatu organisasi dapat memanfaatkan sumber-sumber daya manusianya secara efisien. Pembagian kerja memungkinkan para anggota organisasi-organisasi menjadi lebih terampil dan mampu karena tugas-tugas terspesia¬lisasi dilaksanakan berulang-ulang.&lt;br /&gt;4. Hierarki Otoritas; Para teoretisi organisasi telah merumuskan otoritas sebagai hak untuk mengarahkan dan memimpin kegiatan-kegiatam pihak lain. Tanpa hierarki otoritas yang jelas, koordinasi upaya akam mengalami kesulitan, bahkan kadang-kadang tidak mungkin diilaksanakan. Akuntabilitas juga dibantu apabila orang-orang be kerja dalam rantai komando ((he chain of command).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Malayu S.P. Hasibuan menyimpulkan bahwa aspek-aspek penting dari berbagai definisi organisasi adalah:&lt;br /&gt;1. adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai;&lt;br /&gt;2. adanya sistem kerja sama yang terstruktur dari sekelompok orang;&lt;br /&gt;3. adanya pembagian kerja dan hubungan kerja antara sesama karya wan;&lt;br /&gt;4. adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan yang terintegrasi;&lt;br /&gt;5. adanya keterikatan formal dan tata tertib yang harus ditaati;&lt;br /&gt;6. adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas;&lt;br /&gt;7. adanya unsur-unsur dan alat-alat organisasi;&lt;br /&gt;8. adanya penempatan orang-orang yang akan melakukan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk lebih memahami hakikat organisasi, perlu diketahui pula unsur-unsurnya, yaitu:&lt;br /&gt;1. Manusia (human factor), artinya organisasi baru ada jika ada unsur manusia yang bekerja sama, ada pemimpin dan ada yang dipimpin (bawahan).&lt;br /&gt;2. Tempat Kedudukan, artinya organisasi baru ada, jika ada tempat kedudukannya.&lt;br /&gt;3. Tujuan, artinya organisasi baru ada jika ada tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;4. Pekerjaan, artinya organisasi baru ada, jika ada pekerjaan yang akan dikerjakan serta adanya pembagian pekerjaan.&lt;br /&gt;5. Struktur, artinya organisasi baru ada, jika ada hubungan dan kerja sama antara manusia yang satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;6. Teknologi, artinya organisasi baru ada, jika terdapat unsur teknis.&lt;br /&gt;7. Lingkungan (Environment External Social System), artinya organi¬sasi baru ada, jika ada lingkungan yang saling mempengaruhi mi-salnya ada sistem kerja sama sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengorganisasian, juga didefinisikan oleh para pakarnya. Asnawir mengemukakan bahwa istitah "organizing mempunyai arti yaitu berusaha untuk menciptakan suatu struktur dan bagian untuk dapat berinteraksi dan saling pengaruh-mempengaruhi antara satu sama lainnya. Pengorganisasian tersebut juga dapat diartikan sebagai penyusunan tugas dan tanggung jawab para personil dalam organisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George R. Terry, seperti yang dikutip Malayu S.P. Hasibuan, menuliskan: Organizing is the establishing of effective behavioral relationships among persons so that they may work together efficiently and gain personal satisfaction in doing selected tasks under given environmental conditions for the purpose of achieving some goal or objective.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua definisi di atas jelaslah bahwa pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen setelah fungsi perencanaan sehingga masing-masing anggota organisasi mendapat tugas dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, proses pengorganisasian juga mencakup kegiatan-kegiatan berikut:&lt;br /&gt;1. Pembagian kerja yang harus dilakukan oleh individu atau kelompok-kelompok tertentu.&lt;br /&gt;2. Pernbagian aktivitas  menurut  level  kekuasaan  dan tanggungjawab.&lt;br /&gt;3. Pengelompokan tugas menurut tipe dan jenisnya.&lt;br /&gt;4. Penggunaan mekanisme koordinasi kegiatan individu /kelompok.&lt;br /&gt;5. Pengaturan hubungan kerja antara anggota organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah pengorganisasian dapat dilakukan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tujuan, manajer harus mengetahui tujuan organisasi yang ingin dicapai; apa profit motive atau service motive.&lt;br /&gt;2. Penentuan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengetahui, merumuskan dan mengspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang diper¬lukan untuk mencapai tujuan organisasi dan menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;3. Pengelompokan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengelompokkan kegiatan-kegiatan ke dalam beberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama; kegiatan-kegiatan yang bersamaan dan berkaitan erat disatukan ke dalam satu departemen atau satu bagian.&lt;br /&gt;4. Pendelegasian wewenang, artinya manajer harus menetapkan besarnya wewenang yang akan didelegasikan kepada setiap departemen.&lt;br /&gt;5. Rentang kendali, artinya manajer harus menetapkan jumlah karya¬wan pada setiap departemen atau bagian.&lt;br /&gt;6. Perincian peranan perorangan, artinya manajer harus menetapkan dengan jelas tugas-tugas setiap individu karyawan, supaya tumpang-tindih tugas terhindarkan.&lt;br /&gt;7. Tipe organisasi, artinya manajer harus menetapkan tipe organisasi apa yang akan dipakai, apakah "line organization, line and staff organization ataukah function organization".&lt;br /&gt;8. Struktur organisasi (organization chart = bagan organisasi), artinya manajer harus menetapkan struktur organisasi yang bagaimana yang akan dipergunakan, apa struktur organisasi "segitiga vertikal, segitiga horizontal, berbentuk lingkaran, berbentuk setengah lingkaran, berbentuk kerucut vertikal/horizontal ataukah berbentuk oval".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika proses pengorganisasian dalam suatu organisasi di atas dilakukan dengan baik dan berdasarkan ilmiah, maka organisasi yang disusun akan baik, efektif, efisien dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, antara organisasi (organization) dengan pengorganisasian (organizing) memiliki hubungan yang sangat erat. Pengorganisasian yang baik akan menghasilkan organisasi yang baik pula. Pengorganisasian diproses oleh organisator (manajer) sehingga pengorganisasian itu bersifat dinamis dan hasilnya adalah organisasi yang bersifat statis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, hakikat organisasi juga bisa dipandang sebagai statis dan dinamis. Statis bila organisasi sebagai wadah, tempat kegiatan administrasi dan manajemen. Sedangkan dinamis ketika organisasi sebagai suatu proses, interaksi hubungan, formal (nampak di bagan organisasi) dan informal (tidak diatur, tidak nampak dalam struktur). Hubungan informal timbul, karena hubungan pribadi, kesamaan kepentingan, dan kesamaan interest dengan kegiatan di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pengertian di atas maka dalam perkembangannya dan karena tuntutan globalisasi muncul berbagai hal berkenaan dengan pengorganisasian, seperti struktur organisasi yaitu pola formal bagaimana orang dan pekerja dikelompokkan dalam suatu organisasi yang biasa digambarkan dengan bagan organisasi. Perilaku organisasi, yang ditekankan pada perilaku manusia dalam kelompok, iklim organisasi yaitu serangkaian sifat lingkungan kerja, kultur organisasi yaitu sistem yang dapat menembus nilai-nilai, kepercayaan dan norma-norma di setiap organisasi, desain organisasi yaitu struktur organisasi spesifik yang dihasilkan dari keputusan dan tindakan manajer, pengembangan organisasi, politik organisasi, proses organisasi yaitu aktivitas yang member! nafas pada kehidupan struktur organisasi, dan profil organisasi yaitu suatu diagram yang menunjukkan respons anggota organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan pengertian organisasi, dalam Alquran dicontohkan beberapa surat yang berkaitan dengan organisasi, sebagaimana Firman Allah SWT yang berkaitan dengan:&lt;br /&gt;a. perlunya persatuan, dalam surat: 2:43, 4:71, 37:1,&lt;br /&gt;b. perlunya berbangsa-bangsa, dalam surat: 5:48, 22:34,67, 49:13&lt;br /&gt;c. perlunya bersatu dan mengikuti jalan yang lurus, dalam surat: 30:31,32, 2:103,105, 6:59, 8:46 dan&lt;br /&gt;d. perlunya saling tolong-menolong dan kerja sama, dalam surat: 5:2, 8:74, 9:71.&lt;br /&gt;Jadi, organisasi ada karena untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu ini merupakan tujuan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam pendidikan Islam, organisasi juga dibutuhkan. Organisasi pendidikan Islam dapat dipahami sebagai wadah berkumpulnya beberapa orang yang saling bekerja sama dan beriteraksi dalam menerapkan dan mewujudkan tujuan pendidikan Islam dengan tetap berlandaskan kepada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Sejarah Perkembangan Organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial. Hal ini turut mendorong manusia membentuk organisasi untuk mewujudkan cita-citanya. Karena itu, organisasi muncul ketika manusia itu berkumpul dua orang atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sebelum manusia terlahir ke muka bumi ini, benih-benih organisasi juga telah tersirat sejak awal proses penciptaan manusia di alam rahim. Seperti yang dijelaskan oleh ilmu kedokteran, sel sperma seorang laki-laki dikatakan normal apabila berjumlah minimal 20 juta sel sperma. Padahal, hanya satu sel yang dibutuhkan untuk melakukan pembuahan dengan sel telur milik sang istri. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa manusia memang ditakdirkan untuk berorganisasi dalam mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kisah nabi Adam as sebagai manusia pertama yang diungkap dalam al-Qur'an, ia juga membentuk kelurga bersama istrinya Hawa. Ketika mereka memiliki anak, maka anak-anak tersebut mereka dididik dan diorganisir sedemikian rupa dengan pekerjaan yang berbeda sesuai dengan bakat dan minat mereka. Seperti Qabil bekerja sebagai petani, sedangkan Habil sebagai peternak. Hal ini terungkap dalam firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Qs. al-Maidah/5: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah perkembangan manusia, juga ditemukan bukti-bukti bahwa organisasi itu telah muncul di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan orang-orang Yunani, kerajaan-kerajaan yang telah dibangun pada masa Romawi juga menunjukkan bahwa mereka telah membentuk dan membangun organisasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, manusia dan organisasi serta aktivitasnya telah berlangsung lama sejak ribuan tahun silam, tapi yang dibutuhkan dan perlu untuk diketahui adalah akar perkembangan organisasi pada abad ke-18 dan ke-19, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1. Masa Praktik Awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga nama penting yang mempunyai pengaruh besar dalam menentukan arah dan batasan dari perilaku organisasi, mereka itu adalah Adam Smith, Charles Babbage, dan Robert Owen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Adam Smith, 1776; Adam Smith telah memberikan kontribusi yang sangat penting dengan doktrin ekonominya, yaitu spesialisasi bidang kerja atau pembagian tugas dengan berbagai argumentasi yang sangat dalam. Adam Smith memberikan contoh pembagian tugas dengan spesialisasi bidang kerja tertentu dalam pabrik pembuatan peniti. Ada sepuluh orang pekerja dalam pabrik tersebut, setiap orang mempunyai tugas tertentu dengan mengerjakan suatu bagian kerja tertentu. Sepuluh orang pekerja tersebut dapat membuat 48.000 buah peniti tiap harinya. Selanjutnya, jika setiap pekerja mengambil kawat sendiri-sendiri kemudian meluruskannya, membuatkan ujung batangnya, hasilnya setiap pekerja mampu membuat satu peniti dalam satu hari. Kalau ada sepuluh pekerja maka dapat membuat sepuluh peniti setiap hari. Dan spesialisasi bidang pekerjaan tertentu pada masa sekarang ini sudah barang tentu termotivasi oleh keuntungan yang berlipat ganda dari doktrin Adam Smith pada 2 abad silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Charles Babbage, 1832; Charles Babbage adalah seorang profesor matematika dari Inggris yang telah mengembangkan sistem pembagian tugas yang telah diartikulasikan pertama kali oleh Adam Smith. Babbage menambahkan beberapa keuntungan dengan sistem pembagian tugas, yang telah dikemukakan oleh Adam Smith. Selain keterampilan, menghemat waktu yang terkadang sering disia-siakan terbuang ketika penggantian tugas satu ke tugas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan tersebut yaitu:&lt;br /&gt;a) Mempersingkat waktu yang diperlukan untuk belajar suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;b) Menghemat pemborosan material yang diperlukan dalam pelajaran pada tiap tingkatan.&lt;br /&gt;c) Memungkinkan untuk menghasilkan tingkat keteram¬pilan yang tinggi.&lt;br /&gt;d) Memungkinkan kemampuan untuk membandingkan keterampilan seseorang dan bakat fisik dengan tugas-tugas tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Robert Owen, 1825; Robert Owen adalah orang periling dan berjasa dalam sejarah perilaku organisasi karena ia adalah seorang industrialis pertama yang mengingatkan bagaimana sistem pabrik yang sedang tumbuh dan berkembang telah merendahkan para pekerja. Ia menolak praktik-praktik kekerasan yang ia lihat di pabrik-pabrik, seperti anak yang bekerja di bawah umur 10 tahun, 13 jam kerja tiap hari dengan kondisi kerja yang menyedihkan. Owen menjadi seorang reformer, ia mencek para pemilik pabrik yang memperlakukan peralatan lebih baik dibandingkan dengan para karyawannya, ia mengkritik mereka yang membeli mesin dengan harga mahal sementara membayar para pekerja yang menjalankan mesin tersebut dengan harga sangat murah. Owen mengatakan bahwa mempergunakan uang untuk meningkatkan para pekerja merupakan salah satu investasi terbaik yang menjadi pilihan para eksekutif bisnis, ia mengklaim bahwa memperlihatkan concern kepada para karyawan akan sangat menguntungkan untuk manajemen dan membebaskan kesengsaraan manusia. Untuk ukuran zaman Owen ia tentu sangat idealis tapi seratus tahun setelah tahun 1825 ditetapkan jam kerja untuk semua, undang-undang perburuhan anak, pendidikan untuk umum, perusahaan memberikan makan pada waktu kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Masa Klasik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masa Klasik meliputi tahun 1900-1930. Selama periode ini, untuk pertama kali teori-teori manajemen secara umum mulai dikembangkan, pada masa ini yang banyak kontribusi dalam perilaku organisasi, mereka itu adalah Frederick W. Taylor, Henry Fayol, Max Weber, Mary Panther Follet, dan Chester Bernard telah meletakkan dasar praktik-praktik manajemen sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manajemen secara Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Frederick W Taylor; Frederick W Taylor menggambarkan prinsip-prinsip manajemen secara ilmiah menampilkan tiga bab sebagai tujuan dari gerakannya:&lt;br /&gt;a) Untuk menegaskan bahwa Amerika Serikat telah dirugi-kan karena tidak adanya efisiensi.&lt;br /&gt;b) Maka solusi terletak pada manajemen yang sistematis bukan pada usaha mencari orang yang istimewa.&lt;br /&gt;c) Untuk membuktikan bahwa manajemen yang baik ada¬lah suatu ilmu yang tepat yang berdasarkan pada hukum-hukum yang jelas, aturan-aturan, dan prinsip-prinsip. Awal penggunaan manajemen yang ilmiah membuahkan hasil yang gemilang. Perusahaan motor Ford berusaha melaksanakan prinsip-prinsip manajemen ilmiah di tahun 1908 dan berhasil merakit suatu mobil hanya dalam waktu 14 menit. Dari pandangan ilmu perilaku, pelaksanaan manajemen ilmiah mencoba memadukan asumsi-asumsi mekanik terhadap ilmu-ilmu perilaku organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Teori Administratif dari Henry Fayol; Henry Fayol seorang industriawan Perancis menerbitkan bukunya pada tahun 1919 yakni General and Industrial Administration. Yang banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran manajemen di Eropa. Pandangan-pandangannya dianggap sebagai suatu pemikiran tentang organisasi adminis¬tratif. Fayol berpendapat bahwa semua organisasi terdiri dari unit atau subsistem sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Aspek teknik dan komersial dan dari kegiatan pembelian, produksi dan penjualan.&lt;br /&gt;b) Kegiatan-kegiatan keuangan.&lt;br /&gt;c) Unit-unit keamanan dan perlindungan&lt;br /&gt;d) Fungsi perhitungan&lt;br /&gt;e) Fungsi administratif dari perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi, dan pengendalian.&lt;br /&gt;c. Teori Struktural dari Max Weber; Max Weber adalah pemikir dalam ilmu sosial dari Jerman. Dua aspek kerja Weber yang relevan dengan perilaku organisasi yaitu:&lt;br /&gt;Pcrtama, seorang ahli ilmu sosial, ia tertarik untuk menjelas-kan preskripsi dari pertumbuhan organisasi yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia terkesan akan kelemahan-kelemahan manusia dan pertimbangan yang kadang-kadang tidak realistis bahwa manusia mempunyai rasa emosi.&lt;br /&gt;Teori Max Weber memiliki sifat:&lt;br /&gt;a) Adanya spesialisasi atau pembagian kerja&lt;br /&gt;b) Adanya hierarki yang berkembang&lt;br /&gt;c) Adanya suatu sistem atau aturan dari suatu prosedur&lt;br /&gt;d) Adanya hubungan kelompok yang impersonalitas&lt;br /&gt;e) Adanya promosi dan jabatan yang berdasarkan kecakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Gerakan Hubungan Kemanusiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Raymond Miles menyatakan bahwa pendekatan hubungan kemanusiaan secara sederhana menempatkan karyawan sebagai manusia, tidak sebagai mesin yang dipergunakan dalam berproduksi. Pada sejarah hubungan kemanusiaan ini terdapat tiga kejadian yang memberikan kontribusi dalam penelaahan ilmu perilaku organisasi. Tiga kejadian itu antara lain sam masa-masa depresi yang hebat, gerakan kaum buruh, dan basil penemuan Howthorne.&lt;br /&gt;a. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masa depresi; &lt;/span&gt;depresi yang terjadi pada tahun 1930-an menyebabkan goncangan yang hebat di bidang keuangan. dan perekonomian pada umumnya. Penyebab depresi pada umumnya antara lain:&lt;br /&gt;a) Akumulasi stok barang yang baru yang besar di tangan konsumen&lt;br /&gt;b) Konsumen menolak naiknya harga&lt;br /&gt;c) Jarang investasi dalam skala usaha&lt;br /&gt;d) Melemahnya kepercayaan dan harapan-harapan&lt;br /&gt;e) Akumulasi yang besar dari kemampuan produksi sebagai basil pengembangan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan depresi menyadarkan manajemen untuk menghayati bahwa produksi tidak akan bertahan lama sebagai unsur yang bertanggung jawab dalam manajemen. Di saat itu lalu timbul gagasan untuk meletakkan unsur manusia sebagai unsur yang amat dominan dalam manajemen, sebagai basil dari depresi hubungan kemanusiaan dan perilaku organisasi mendapatkan tempat yang dominan dan perhatian yang seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Gerakan Serikat Buruh; di tahun 1935 serikat buruh secara sah diakui (legally entranced), banyak para manajer menjadi sadar dan mulai banyak memberikan perhatiannya kepada buruh. Gerakan serikat buruh ini secara langsung ataupun tidak langsung memberikan dampak yang besar terhadap studi perilaku organisasi individu-individu yang mendukung kerja sama dalam suatu organisasi tertentu. Gerakan serikat buruh tercatat dalam sejarah pengembangan studi perilaku organisasi, sebagai titik awal dalam masa embrio berkembang gerakan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penemuan Howthorne; Howthome mengadakan penelitian dengan tujuan untuk mencari sampai di mana pengaruh hubungan antara kondisi fisik lingkungan kerja dengan produktivitas karyawan. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa langkah. Langkah pertama, percobaan tentang cahaya lampu antara tahun 1924-1927, hasilnya bahwa cahaya penerangan lampu pada tempat kerja hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil kerja dan pengaruhnya kecil sekali. Langkah kedua, Howthorne menyediakan ruang istirahat bagi karyawan. Hasilnya dari fase ini hampir sama dengan fase pertama. Langkah ketiga, studi tentang ruang bank tilgram. Tujuannya untuk melakukan analisis pengamatan terhadap kelompok pekerja informal.&lt;br /&gt;Ternyata dalam fase ketiga ini tidak ada kenaikan pro¬duktivitas yang tinggi. Implikasi penemuan Howthorne terhadap pengembangan tentang ilmu perilaku organisasi ternyata amat besar dan penting sekali. Usaha-usaha penemuan ini merupakan satu dasar yang amat berharga terhadap pendekatan perilaku di dalam segala aspek manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Organisasi Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Asumsi dasar tentang sifat manusia menurut ilmu organisasi modern adalah bukan baik dan bukan buruk. Beberapa orang beranggapan bahwa manusia mempunyai keunikan dalam perilaku hal yang terarah, lainnya beranggapan bahwa perilaku manusia dalam banyak hal menunjukkan sebagai sasaran yang tidak teratur.&lt;br /&gt;Pendekatan yang dipakai untuk menganalisis perilaku ma¬nusia menurut ahli perilaku organisasi modern, yaitu pada hakikatnya juga menggunakan metode eksperimen, dengan memberi¬kan penekanan pada observasi terkendali dan generalisasi data. Pengharapan-pengharapan pada manajemen modern, yaitu pemahaman-pemahaman dari perilaku manusia yang selalu bertambah dengan pemahaman ilmiah yang akan membawa ke arah penyempurnaan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari sejarah perkembangan organisasi sebagai suatu ilmu yang terjadi di kalangan ilmu barat, jauh sebelumnya juga ditemukan tokoh-tokoh dari Timur (baca: Islam) dalam mengemukakan berbagai teori yang berkenaan dengan organisasi. Salah satu di antaranya yang terkenal adalah Ibn Khaldun (1332 – 1406 M/732 – 808 H)  diakui oleh para sarjana baik muslim maupun non-muslim di Barat sebagai seorang sosiolog ternama. Dalam kitab magnum opusnya, Muqaddimah, Ibn Khaldun banyak berbicara tentang teori masyarakat, peradaban, perkembangan profesi, serta pentingnya berkumpul (organisasi) dalam mewujudkan cita-cita bersama.  Dalam Muqaddimah-nya, Ibn Khaldun mengutip pendapat para filosof—di sini Ibn Khaldun tidak menyebutkan nama-nama filosof tersebut—“manusia adalah makhluk sosial” (al-insānu madaniyyun bit thab’i). Pernyataan ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Lebih lanjut, ia menuliskan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini mengandung makna bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian, dan eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. Dia tidak akan mampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur kehidupannya dengan sempurna secara sendiri. Benar-benar sudah menjadi wataknya, apabila manusia butuh bantuan dalam memenuhi kebutuhannya. Mula-mula, bantuan itu berupa konsultasi, lalu kemudian berserikat serta hal-hal lain sesudahnya. Berserikat dengan orang lain, bila ada kesatuan tujuan, akan membawa kepada sikap saling membantu. Tapi jika tujuannya berbeda, akan menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, sehingga muncullah sikap saling membenci, saling berselisih. Ini yang membawa peperangan atau perdamaian di kalangan bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernyataan di atas, Ibn Khaldun menyebutkan sebagai makhluk sosial, manusia selala berserikat (berorganisasi) jika memang ada kesatuan tujuan. Tampak jelas bahwa Ibn Khaldun—yang hidup sekitar empat abad sebelum Adam Smith (1776)—telah memahami teori organisasi. Dengan demikian, konsep organisasi sebenarnya telah dikemukakan oleh para tokoh intelektual Islam ketika masa kejayaannya sebelum berkembangnya peradaban Barat. Semua itu tidak terlepas dari isyarat-isyarat yang dikemukakan dalam al-Qur'an maupun Hadis sehingga melahirkan berbagai pemikiran yang brilliant dari generasi muslim pada masa-masa selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Prinsip-prinsip, Fungsi dan Manfaat Organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agar terwujudnya suatu organisasi yang baik, efektif, efisien serta sesuai dengan kebutuhan, secara selektif harus didasarkan pada prinsip-prinsip organisasi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Principle of Organizational Objective (prinsip tujuan organisasi). Menurut prinsip ini tujuan organisasi harus jelas dan rasional, apakah bertujuan untuk mendapatkan laba (business organization) ataukah untuk memberikan pelayanan (public organization). Hal ini merupakan bagian penting dalam menentukan struktur organisasi.&lt;br /&gt;2. Principle of Unity of Objective (prinsip kesatuan tujuan). Menurut prinsip ini, di dalam suatu organisasi harus ada kesatuan tujuan yang ingin dicapai. Organisasi secara keseluruhan dan tiap-tiap bagiannya harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut. Organisasi akan kacau, jika tidak ada kesatuan.&lt;br /&gt;3. Principle of Unity of Command (prinsip kesatuan perintah) Menurut prinsip ini, hendaknya setiap bawahan menerima perintah ataupun memberikan pertanggungjawaban hanya kepada satu orang atasan, tetapi seorang atasan dapat memerintah beberapa orang bawahan.&lt;br /&gt;4. Principle of the Span of Management (prinsip rentang kendali). Menurut prinsip ini, seorang manajer hanya dapat memimpin secara efektif sejumlah bawahan tertentu, misalnya 3 sampai 9 orang. Jumlah bawahan ini tergantung kecakapan dan kemampuan manajer bersangkutan.&lt;br /&gt;5. Principle of Delegation of Authority (prinsip pendelegasian wewenang) Menurut prinsip ini, hendaknya pendelegasian wewenang dari seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain jelas dan efektif, sehingga ia mengetahui wewenangnya.&lt;br /&gt;6. Principle of Parity of Authority and Responsibility (prinsip keseimbangan wewenang dan tanggung jawab) Menurut prinsip ini, hendaknya wewenang dan tanggung jawab harus seimbang. Wewenang yang didelegasikan dengan tanggung jawab yang timbul karenanya harus samabesarnya, hendaknya wewenang yang didelegasikan tidak meminta pertanggungja wabany ang lebih besar dari wewenang itu sendiri atau sebaliknya. Misalnya, jika wewenang sebesar X, tanggung jawabnya pun harus sebesar X pula.&lt;br /&gt;7. Principle of Responsibility (prinsip tanggung jawab). Menurut prinsip ini, hendaknya pertanggungjawaban dari bawahan terhadap atasan harus sesuai dengan garis wewenang (line autho¬rity) dan pelimpahan wewenang; seseorang hanya bertanggung jawab kepada orang yang melimpahkan wewenang tersebut.&lt;br /&gt;8. Principle of Departmentation (principle of devision of work-prinsip pembagian kerja). Menurut prinsip ini, pengelompokan tugas-tugas, pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan yang sama ke dalam satu unit kerja (departemen) hendaknya didasarkan atas eratnya hubungan pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;9. Principle of Personnel Placement (prinsip penempatan personalia). Menurut prinsip ini, hendaknya penempatan orang-orang pada setiap jabatan harus didasarkan atas kecakapan, keahlian dan keterampilannya (the right men, in the right job); mismanajemen penempatan harus dihindarkan. Efektivitas organisasi yang optimal memerlukan penempatan karyawan yang tepat. Untuk itu harus dilakukan seleksi yang objektif dan berpedoman atas job specification dari jabatan yang akan diisinya.&lt;br /&gt;10. Principle of Scalar Chain (prinsip jenjang berangkai). Menurut prinsip ini, hendaknya saluran perintah/wewenang dari atas ke bawah harus merupakan mata rantai vertikal yang jelas dan tidak terputus-putus serta menempuh jarak terpendek. Sebaliknya pertanggungjawaban dari bawahan ke atasan juga melalui mata rantai vertikal, jelas dan menempuh jarak terpendeknya. Hal ini penting, karena dasar organisasi yang fundamental adalah rangkaian wewenang dari atas ke bawah; tindakan dumping hen¬daknya dihindarkan.&lt;br /&gt;11. Principle of Efficiency (prinsip efisiensi). Menurut prinsip ini, suatu organisasi dalam mencapai tujuannya harus dapat mencapai hasil yang optimal dengan pengorbanan yang minimal.&lt;br /&gt;12. Principle of Continuity (prinsip kesinambungan). Organisasi harus mengusahakan cara-cara untuk menjamin kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;13. Principle of Coordination (prinsip koordinasi). Prinsip ini merupakan tindak lanjut dari prinsip-prinsip organisasi lainnya. Koordinasi dimaksudkan untuk mensinkronkan dan mengintegrasikan segala tindakan, supaya terarah kepada sasaran yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan Islam, prinsip-prinsip ini haruslah berlandaskan kepada landasan ajaran Islam itu sendiri, yaitu al-Qur'an dan Sunnah. Di antara prinsip organisasi yang tersirat dalam al-Qur'an dan Hadis adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tujuan organisasi secara umum harus mencari dan menemukan keridhaan Allah SWT. Meskipun tujuan lain dibangun bernuansa duniawi, akan tetapi hal-hal yang bersifat duniawi tersebut adalah sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. &lt;/span&gt;(Qs. al-Jumuah: 9-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kerja sama yang dilakukan dalam suatu organisasi—termasuk segala proses yang dijalankan—hanya dalam kebaikan, bukan dalam hal kemaksiatan, keburukan, atau kemungkaran. Firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. &lt;/span&gt;(Qs. Al-Maidah/5: 2)&lt;br /&gt;3. Pemberian tugas dan wewenang kepada anggota organisasi berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Dalam ajaran Islam, banyak hal hukum yang diterapkan berdasarkan kemampuannya, seperti shalat duduk atau berbaring bagi orang yang sakit, mengganti puasanya dengan fidyah bagi yang sakit dan sulit akan sembuh, dan sebagainya. Demikian pula perintah memberi nafkah, juga berdasarkan kemampuan seseorang, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.&lt;/span&gt; (Qs. ath-Thalaq/65: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, juga diperlukan penyerahan tugas sesuai dengan keahliannya. Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;اِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ اِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ&lt;br /&gt;Apabila suatu perkara/urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masing-masing anggota organisasi harus menjalankan tugasnya dengan baik dan mempertanggungjawabkan setiap tugas yang diembannya. Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;كُلَُكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ...&lt;br /&gt;Kalian semua adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya… (muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tanggung jawab ini, juga dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat ar-Ra’du/13 ayat 11:&lt;br /&gt;إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Seluruh anggota organisasi secara kolektif bertanggung jawab terhadap individu-individu yang ada dalam organisasi tersebut sehingga diperlukan adanya pembinaan (supervisi), pendidikan, dan perhatian kepada mereka. Jika tidak, maka kesalahan yang dilakukan oleh individu tertentu bisa merusak citra organisasi. Hal ini tersirat dalam firman Allah SWT dalam surat al-Anfal/8 ayat 25:&lt;br /&gt;Artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Komunikasi yang digunakan dalam organisasi hendaklah dengan lemah lembut, tegas, perkataan yang benar serta mengandung keselamatan, sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Mengenai pentingnya berkomunikasi dengan baik dan lemah lembut ini Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. &lt;/span&gt;(Qs. Ali Imran/3: 159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an juga ditemukan beberapa istilah komunikasi seperti:&lt;br /&gt;a. qaulan sadida/perkataan yang benar (Qs. an-Nisa'/4: 9 dan al-Ahzab/33: 70);&lt;br /&gt;b.  qaulan karima/perkataan yang mulia (Qs. al-Isra'/17: 23);&lt;br /&gt;c. qaulun ma'rufun atau qaulan ma'rufa/perkataan yang baik (Qs. al-Baqarah/2: 2235 dan 263; Muhammad/47: 21 juga al-Ahzab/33: 32 dan an-Nisa'/4: 8);&lt;br /&gt;d. qaula al-haq/perkataan yang benar (Qs. Maryam/19: 34); dan&lt;br /&gt;e. qaulan baligha/perkataan yang sampai berbekas pada jiwa mereka (Qs. an-Nisa'/4: 63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bentuk kata yang menunjukkan etika dan cara komunikasi tersebut dilakukan sesuai dengan kondisi lawan bicara dan materi yang dibicarakan. Penerapan komunikasi seperti ini akan sangat efektif dalam membangun organisasi yang profesional dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Selain menggunakan kata-kata yang baik, hendaklah saling memberi nasehat di jalan yang benar, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-'Ashr ayat 1-3:&lt;br /&gt;وَالْعَصْرِ ١ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ٢ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ&lt;br /&gt;Artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati (saling berwasiat) supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati (saling berwasiat) supaya menetapi kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dalam pengambilan kebijakan dan keputusan, hendaklah dilakukan dengan prinsip musyawarah dan diiringi dengan sifat tawakal. Sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.&lt;/span&gt; (Qs. Ali Imran/3: 159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menegakkan prinsip keadilan. Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan keadilan, termasuk dalam urusan kemasyarakat dan berorganisasi. Bahkan Ali ibn Abi Thalib kw. pernah berkata: "Tuhan akan menegakkan negara yang adil meskipun kafir dan akan menghancurkan negara yang zhalim meskipun Islam".  Al-Qur'an juga banyak membicarakan tentang prinsip keadilan, salah satu di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.&lt;/span&gt; (Qs. surat al-Maidah/5 ayat 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Jabatan dan tugas yang diberikan dalam organisasi pada hakikatnya sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sifat amanah (dapat dipercaya) pula. Pentingnya sifat amanah ini juga ditegaskan dalam al-Qur'an bahwa watak manusia memang suka menerima amanah, akan tetapi agar tidak termasuk orang yang zalim lagi bodoh, harus mampu mengemban amanah tersebut sebagaimana mestinya. Dalam konteks berorganisasi, maka setiap anggota organisasi harus menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing sesuai dengan job description yang diberikan. Firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,&lt;/span&gt; (Qs. al-Ahzab/33: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Dalam menjalankan organisasi pendidikan Islam hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, jujur, tranparan, dan sifat-sifat terpuji lainnya sebagaimana yang dituntun dalam ajaran Islam, khususnya yang berkenaan dengan ajaran akhlaqul Islam.&lt;br /&gt;Adapun yang menjadi fungsi dari sasaran organisasi tersebut antara lain:&lt;br /&gt;1. Dapat merumuskan serta memusatkan perhatian atau mengarahkan para manajer dalam usaha memperoleh dan mempergunakan sumber daya organisasi.&lt;br /&gt;2. Dapat digunakan sebagai dasar dan alasan peng-orgairisasian.&lt;br /&gt;3. Sebagai suatu standar penilaian terhadap organisasi, dan daprt dijadikau sebagai ukuran terhadap derajat efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;4. Sebagai sumber legitimasi yang membenarkan kegi¬atan dan eksistensinya terliadap kelornpok-kelompok yang beraneka ragam seperti para penanaman modal, anggota, pelanggan dan masyarakat secara keseluruhan dan sebagainya.&lt;br /&gt;5. Dapat membantu organisasi untuk memperoleh suinberdaya manusia yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi yang menjadi sasaran bagi para anggota perseorangan dalam suatu organisasi adalah:&lt;br /&gt;1. Dapat memberikan pengarahan kerja sehingga mendorong para pekerja untuk memusatkan perhatian dan usahanya secara lebih ielas ke arah tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;2. Memberikan alasan sebagai dasar untuk bekerja dan dapat memberikan arti pada pekerjaan yang kelihatannya tidak terarah.&lt;br /&gt;3. Dapat dijadikan sebagai sasaran pencapaian keinginan pribadi.&lt;br /&gt;4. Dapat membantu individu merasa terjarnin bahwa Organisasi akan tenis berjalan untuk masa selanjut-nya.&lt;br /&gt;5. Dapat memberikan identifikasi dan status bagi para pekerjanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara manfaat dari adanya organisasi adalah:&lt;br /&gt;1. Organisasi sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan adanya organisasi yang baik.&lt;br /&gt;2. Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Jika organisasi itu di bidang pendidikan, maka akan turut mencerdaskan masyarakat serta membimbing masyarakat agar tetap menerapkan nilai-nilai ajaran Islam.&lt;br /&gt;3. Organisasi menawarkan karier. Karier berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan. Jika kita menginginkan karier untuk kemajuan hidup, berorganisasi dapat menjadi solusi.&lt;br /&gt;4. Organisasi sebagai cagar ilmu pengetahuan. Organisasi selalu berkembang seiring dengn munculnya fenomena-fenomena organisasi tertentu. Peran penelitian dan pengembangan sangat dibutuhkan sebagai dokumentasi yang nanti akan mengukir sejarah ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam, juga diperlukan organisasi. Rasulullah SAW bersabda bahwa Shalat berjama'ah lebih utama daripada shalat sendirian 27 derajat. Hadis ini mengisyaratkan tentang:&lt;br /&gt;a. Keutamaan shalat berjamaah&lt;br /&gt;b. Aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat bahwa hidup secara berjamaah atau berorganisasi dengan dipimpin oleh seorang pemimpm/imam lebih besar keuntungannya dari¬pada tanpa berorganisasi atau berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pernyataan Ali bin Abi Thalib:&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "al-haqqu bila nizhamin sayaghlibuhu al-bathil bi nizhamin"&lt;/span&gt;, (Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir). Pernyataan ini menunjukkan begitu pentingnya organisasi untuk mewujudkan suatu tujuan, termasuk dalam menerapkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Bentuk-bentuk Organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk organisasi dapat dilihat dari beberapa segi, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Berdasarkan tipe-tipe strukturnya.&lt;br /&gt;2. Berdasarkan proses pembentukannya;&lt;br /&gt;3. Berdasarkan kaitan hubungannya dengan pemerintah;&lt;br /&gt;4. Berdasarkan skala (ukuran) besar-kecilnya;&lt;br /&gt;5. Berdasarkan tujuannya;&lt;br /&gt;6. Berdasarkan organization chartnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk organisasi di atas akan dijelaskan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1. Berdasarkan Tipe-tipe Struktur Organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari strukturnya, organisasi dapat dibagi kepada beberapa tipe, yaitu: (1) organisasi dalam bentuk lini (line organization), (2) organisasi dalam bentuk lini dan staf (line and staf organization), (3) organisasi dalam bentuk fungsional {functional, organization), dan (4) organisasi dalam bentuk panitia (committe organization). Untuk lebih jelasnya pemahaman mengenai bentuk-bentuk orgaisasi tersebut dapai dilihat pada uraian berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a. Organisasi dalam bentuk lini (line Organization)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lini juga disebut "bentuk lurus", "bentuk jalur", atau "bentuk militer". Bentuk ini adalah bentuk yang dianggap paling tua dan digunakan secara luas pada masa perkembangan industri pertama. Organisasi Lini ini diciptakan oleh Henry Fayol dan biasanya orga¬nisasi ini dipakai oleh militer dan perusahaan-perusahaan kecil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam organisasi lini ini pendelegasian wewenang dilakukan secara vertikal melalui garis terpendek dari seorang atasan kepada bawahannya. Pelaporan tanggung jawab dari bawahan kepada atasannya juga dilakukan melalui garis vertikal yang terpendek. Perintah-perintah hanya diberikan seorang atasan saja dan pelaporan tanggung jawab hanya kepada atasan bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri dari organisasi dalam bentuk ini adalah:&lt;br /&gt;1) Garis komando langsung dari atasan ke bawahan atau  dari  pimpinan  tertinggi  kepada berbagai tingkat operasional.&lt;br /&gt;2) Masing-masing pekerja bertanggungjawab penuh terhadap semua kegiatannya.&lt;br /&gt;3) Otoritas dan tanggung jawab tertinggi terletak pada pimpinan puncak (top Management).&lt;br /&gt;4) Ruang lingkup Organisasinya lebih kecil dan jumlah anggota juga sedikit.&lt;br /&gt;5) Hubuilgan kerja antara atasan dan bawahan berbsifat langsung.&lt;br /&gt;6) Tujuan. alat-alat yang digunakan dan struktur organisasi bersifat sederhana.&lt;br /&gt;7) Pemilik organisasi biasanya menjadi pimpinan yang tertinggi.&lt;br /&gt;8) Tingkat spesialisasi yang dibiltuhkan masih sangat rendah.&lt;br /&gt;9) Semua anggota organisasi masih kenal antara satu sama lainnya.&lt;br /&gt;10) Produksi yang dihasilkatt belum beraneka ragam (defersified).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi bentuk lini ini mengandung beberapa keuntungan, di samping itu juga mengandung beberapa kelemahan. Di antara keuntungan dari organisasi dalam bentuk lini ini antara lain:&lt;br /&gt;1) Kekuatan dan tanggung-jawab dapat ditetapkan secara pasti.&lt;br /&gt;2) Orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan tanggung-jawab diketahui oleh semua pihak.&lt;br /&gt;3) Proses pengambilan kepuiusan berjalan dengan tepat karena jumlah orang yang perlu diajak berkonsultasi tidak banyak.&lt;br /&gt;4) Disiplin kerja mudah dipertahankan dan penga-wasan dari pimpinan mudah dilaksanakan.&lt;br /&gt;5) Besarnya solidaritas para anggota karena satu sa¬ma lainnya saling kenal-mengenal.&lt;br /&gt;6) Tersedianya kesempatan yang banyak bagi pim¬pinan organisasi untuk melatih bakat-bakat yang dipunyai bawahan.&lt;br /&gt;7) Kesempatan bagi para anggota organisasi untuk mengembangkan spesialisasinya sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu beberapa kelemahan dari organisasi dalam bentuk lini tersebut antara lain:&lt;br /&gt;1) Tujuan organisasi cenderung sama, atau paling ti¬dak didasarkan atas tujuan pribadi pimpinan ter¬tinggi dari organisasi dimaksud.&lt;br /&gt;2) Pimpinan organisasi cenderung bertindak otoriter, karena organisasi dipandang milik pribadi.&lt;br /&gt;3) Seluruh kegiatan organsasi tertalu tergantung ke¬ pada seseorang, dan kelangsungan hidup organisasi sangat ditentukan oleh orang bersangkutan.&lt;br /&gt;4) Kesempatan bagi para anggota organisasi untuk mengembangkan spesialisasinya sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;b. Organisasi dalam bentuk staf (Staff Organization)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Organisasi dalam bentuk staf hanya mempunyai hubungan dengan pucuk pimpinan dan berfungsi memberikan bantuan baik berupa pikiran maupun bantuan lain demi kelancaran tugas pimpinan dalam mencapai tujuan secara keseluruhan. Bentuk ini tidak mempunyai garis komando ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;c. Organisasi dalam bentuk lini dan staf (tine and staf or¬ganization)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Lini dan Staf (Line and Staff Organization) ini pada dasarnya merupakan kombinasi dari organisasi lini dan organisasi fungsional. Kombinasi ini dilakukan dengan cara memanfaatkan kebaikan-kebaikannya dan meniadakan keburukan-keburukannya.&lt;br /&gt;Biasanya organisasi bentuk lini dan staf ini terjadi pada organisasi yang lebih besar, di mana penyediaan tenaga spesialis sudah semakin dirasakan untuk memberikan nasehat- nasehat atau saran-saran teknis dan memberikan jasa-jasa kepada unit-unit operasional. Tenaga semacam itu biasanya disebut "staff personnel" yaitu orang yang melaksanakan fungsi staf (staff function), yang dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu: para penasehat (advisor) dan personil yang melakukan kegiatan penunjang (auxiliary personnel) demi lancarnya mekanisme organisasi. Ada beberapa karakteristik atau ciri utama; dari organisasi yang berbentuk lini dan staf ini adalah:&lt;br /&gt;1) Pucuk pimpinannya hanya satu orang dan dibantu oleh para staf.&lt;br /&gt;2) Terdapat dua kelompok wewenang, yaitu wewenang lini dan wewenang staf.&lt;br /&gt;3) Kesatuan perintah tetap dipertahankan, setiap atasan mempunyai bawahan tertentu dan setiap bawahan hanya mempunyai seorang atasan langsung.&lt;br /&gt;4) Organisasinya besar, karyawannya banyak dan pekerjaannya bersifat kompleks.&lt;br /&gt;5) Hubungan antara atasan dengan para bawahan tidak bersifat langsung.&lt;br /&gt;6) Pimpinan dan para karyawan tidak semuanya saling kenal-mengenal.&lt;br /&gt;7) Spesialisasi yang beraneka ragam diperlukan dan digunakan secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi yang berbentuk lini dan staf ini memberikan bebe¬rapa keuntungan/kebaikan antara lain:&lt;br /&gt;1) Adanya pembagian tugas yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas pokok organisasi dan ke¬lompok staf yang melakukan kegiatan penunjang.&lt;br /&gt;2) Asas spesialisasi yang ada dapat dilanjutkan menurut bakat bawahan masing-masing.&lt;br /&gt;3) Prinsip "the right man on the right place" dapat diterapkan dengan mudah.&lt;br /&gt;4) Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan dengan mudah.&lt;br /&gt;5) Dapat digunakan dalam organisasi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah lini dan perintah staf sering membingungkan anggota organisasi, karena kedua jenis hirarki ini sering tidak seirama dalam memandang sesuatu Sedangkan kelemahan-kelemahan dari orgainsasi dalam bentuk lini dan staf ini adalah:&lt;br /&gt;1) Pimpinan lini sering mengabaikan nasehat atau saran dari staf.&lt;br /&gt;2) Pimpinan staf sering mengabaikan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pimpinan lini.&lt;br /&gt;3) Adanya kemungkinan pimpinan staf melampaui'batas kewenangannya.&lt;br /&gt;4) Perintah lini dan perintah staf sering membingungkan anggota organisasi karena kedua jenis hirarki sering tidak seirama dalam memandang sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar di atas menunjukkan bahwa kekuasaan pimpinan diharapkan secara lurus, penuh dan vertikal kepada pejabat yang memimpin satuan-satuan di bawahnya, yaitu orang-orang lini yang melaksanakan tugas pokok organisasi dalam rangka pencapaian tujuan. Begitu juga orang-orang staf yang sifat tugasnya menunjang tugas-rugas pokok, sesuai dengan keahliannya baik bersifat menasehati, maupun yang memberikan jasa-jasa kepada unit-unit operasional dalam bentuk "auxilary service", misalnya dalam bidang kepegawaian, keuangan, ketatalaksanaan, perlengkapan kantor dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegasnya, wewenang lini (line authority) adalah kekuasaan, hak dan tanggung jawab langsung bagi seseorang atas tercapainya tujuan; ia berwenang mengambil keputusan, kebijaksanaan dan berkuasa serta harus bertanggung jawab langsung tercapainya tujuan perusahaan. Sedangkan wewenang staf (staff authority) adalah kekuasaan dan hak hanya untuk memberikan data, informasi, pelayanan dan pemikiran untuk membantu kelancaran tugas-tugas manajer lini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;d. Organisasi dalam bentuk fungsional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Organisasi fungsional adalah bentuk organisasi di mana kekuasaan pimpinan dilimpahkan kepada para pejabat yang memimpin satuan di bawahnya dalam satuan bidang pekerjaan tertentu. Setiap kepala dari satuan mempunyai kekuasaan untuk memerintah dan mengawasi semua pejabat bawahan sepanjang mengenai bidangnya. Organisasi tidak terlalu menekankan pada struktural akan tetapi lebih banyak berdasarkan pada sifat dan macam fungsi yang harus dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tipe organisasi fungsional ini masalah pembagian kerja men¬dapat perhatian yang sungguh-sungguh. Pembagian kerja didasarkan pada "spesialisasi" yang sangat mendalam dan setiap pejabat hanya mengerjakan suatu tugas/pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya. F. W. Taylor yang menciptakan organisasi fungsional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri tipe ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Pembidangan tugas secara tegas dan jelas dapat dibedakan.&lt;br /&gt;2) Bawahan akan menerima perintah dari beberapa orang atasan.&lt;br /&gt;3) Penempatan pejabat berdasarkan spesialisasinya.&lt;br /&gt;4) Koordinasi menyeluruh biasanya hanya diperlukan pada tingkat atas.&lt;br /&gt;5) Terdapat dua kelompok wewenang, yaitu wewenang lini dan wewenang fungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kebaikan dari organisasi yang berbentuk fungsional ini antara lain:&lt;br /&gt;1) Adanya pembagian tugas antara kerja pikir (mental) dan fisik,&lt;br /&gt;2) Dapat dicapai tingkat spesialisasi yang baik.&lt;br /&gt;3) Solidaritas antara  orang-orang yang menjalankan fungsi yang sama umuinirya tinggi.&lt;br /&gt;4) Moral serta disiplin keija yang tinggi.&lt;br /&gt;5) Koordinasi antara orang-orang yang ada daiam satu fungsi mudah dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang menjadi kelemahan dari organisasi berbentuk fungsional antara lain:&lt;br /&gt;1) Insiatif perorangan sering tertekan karena sudah dibatasi pada satu fungsi.&lt;br /&gt;2) Sulit mengadakan pertukaran tugas, karena terlalu menspesialisasikan diri dalam satu bidang saja.&lt;br /&gt;3) Koordinasi yang sifatnya menyeluruh sulit diadakan karena orang-orang yang bergerak dalam satu bidang mementingkan fungsinya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;e. Organisasi dalam bentuk panitia (committee)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Organisasi panitia/komite adalah suatu organisasi yang masing-masing anggota mempunyai wewenang yang sama dan pimpinannya kolektif. Organisasi Komite (Panitia = Committee Organization) mengutamakan pimpinan, artinya dalam organisasi ini terdapat pimpinan "kolektif/ presidium/plural executive" dan komite ini bersifat manajerial. Komite dapat juga bersifat formal atau informal; komite-komite itu dapat dibentuk sebagai suatu bagian dari struktur organisasi formal, dengan tugas-tugas dan wewenang yang dibagi-bagikan secara khusus.&lt;br /&gt;Jadi, organisasi dalam bentuk panitia ini adalah organisasi di mana para pelaksana dibentuk dalam kelompok-kelompok yang bersifat panitia. Di sini ada unsur pimpinan dan ada unsur pelaksana yang disebut dengan "task force" atau "satgas". Adapun ciri-ciri dari organisasi dalam bentuk panitia ini adalah:&lt;br /&gt;1) Strukutur organisasi tidak begitu kompleks. Biasanya terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, ketua-ketua seksi, dan para perugas.&lt;br /&gt;2) Struktur organisasi secara relatif tidak permanea. Or¬ganisasi ini hahya dipakai sesuai kebutuhan atau kegiatan.&lt;br /&gt;3) Tugas pimpinan dilasanakan secara kolektif.&lt;br /&gt;4) Semua anggota pimpinan mempunyai hak, wewenang dan tanggung jawab yang sama.&lt;br /&gt;5) Para pelaksana dikelompokkan menurut tugas-tugas tertentu dalam bentuk satgas.&lt;br /&gt;Para pelaksana dikelompokkan menurut tugas-tugas tertentu dalam bentuk satgas Ada beberapa keuntungan dari orgaai-sasi yang berbentuk panitia ini, antara lain:&lt;br /&gt;1) Keputusan dapat diambil dengan baik dan tepat&lt;br /&gt;2) Kecil kemungkinan penggunaan kekuasaan secara berlebihan dari pimpinan.&lt;br /&gt;3) Usaha kerjasama bawahan mudah digalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang menjadi kelemahan dari organisasi da¬lam bentuk panitia ini adalah:&lt;br /&gt;1) Proses pengambilan keputusan agak  larnban karena harus dibicarakan terlebih dahulu dengan anggota or¬ganisasi.&lt;br /&gt;2) Kalau terjadi kemacetan kerja, tidak seorang pun yang mau bertanggung jawab melebihi yang lain.&lt;br /&gt;3) Para  pelaksana  sering bingung,  karena  perintah  datangnya tidak dari satu orang saja&lt;br /&gt;4) Kreativitas   nampaknya   sukar   dikembangkan,   karena   perintah pelaksanaan didasarkan   pada   kolektivitas.&lt;br /&gt;Organisasi panitia biasanya terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Berdasarkan Proses Pembentukannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari proses pembentukannya, organisasi terbagi kepada dua bentuk, yaitu organisasi formal dan organisasi informal.&lt;br /&gt;a. Organisasi Formal adalah organisasi yang dibentuk secara sadar dan dengan tujuan-tujuan tertentu yang disadari pula yang diatur dengan ketentuan-ketentuan formal, dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya. Kegiatan-kegiatan/hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya adalah kegiatan (hubungan) jabatan sebagaimana diatur dalam keten-tuan-ketentuan tertulis. Ikatan-ikatan yang terdapat dalam organisasi adalah berdasarkan ikatan-ikatan formal.&lt;br /&gt;b. Organisasi Informal adalah organisasi yang terbentuk tanpa disadari sepenuhnya, tujuan¬nya juga tidak jelas, anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya tidak ada dan hubungan-hubungan terjalin secara pribadi saja (per¬sonal/private relationship bukan formal relationship).&lt;br /&gt;Lebih lanjut Chester I Barnard mengemukakan bahwa organisasi informal adalah sejumlah hubungan yangbersifat pribadi. Dalam organisasi formal sering terdapat organisasi informal dari para karyawannya; organisasi formal sering terbentuk dari organisasi in¬formal. Sedangkan G.R. Terry berpendapat bahwa "Organisasi Non-Formal" yaitu organisasi yang terbentuk di dalam suatu organisasi formal yang anggota-anggotanya terdiri dari para karyawan perusahaan bersangkutan. Misalnya: organisasi arisan karyawan, koperasi karyawan, organisasi olahraga karyawan, organisasi kesenian karyawan dan lain-lainnya. Organisasi nonformal ini akan membahayakan organisasi formal, jika bidang kegiatannya sama dengan organisasi formalnya. Misalnya: Bank di dalam bank, koperasi di dalam koperasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, setiap anggota dari kedua bentuk organisasi ini sejatinya melaksanakan aktivitasnya masing-masing tanpa harus mengganggu pihak lain, tetapi sebaliknya saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Berdasarkan Kaitan Hubungannya dengan Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Dalam hubungannya dengan pemerintah, organisasi dibagi kepada dua bentuk, yaitu:&lt;br /&gt;a. Organisasi resmi, adalah organisasi yang dibentuk oleh (ada hubungannya) dengan pemerintah dan atau harus terdaftar pada Lembaran Negara. Misalnya: Jawatan-jawatan, lembaga-lembaga pemerintahan, yayasan-yayasan, dan perusahaan-perusahaan yang berbadan hukum.&lt;br /&gt;b. Organisasi tidak resmi, adalah organisasi yang tidak ada hubungannya dengan pemerintah dan atau tidak terdaftar padaLembaran Negara, seperti organisasi-organisasi swasta; mungkin juga suatu organisasi yang dibentuk oleh pemerintah,&lt;br /&gt;tetapi organisasi ini merupakan unit-unit yang sifatnya swasta. Misalnya: Klub Bola Voli, Klub Sepak Bola, Group Kesenian, Organisasi pendaki gunung, Kelompok belajar dan lain-lain¬nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Berdasarkan Skala (Ukuran) Besar-Kecilnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari skala (ukuran) organisasi tersebut secara kuantitas, maka organisasi dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yaitu:&lt;br /&gt;a. Organisasi Besar;&lt;br /&gt;b. Organisasi Sedang (Menengah); dan&lt;br /&gt;c. Organisasi Kecil.&lt;br /&gt;Tolok ukur (skala) besar-kecilnya organisasi ini sifatnya relatif, karena ditentukan oleh banyak faktor. Tetapi besar-kecilnya organisasi perlu diketahui, karena akan mempengaruhi pilihan manajemen yang akan diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.   Berdasarkan Tujuannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tujuannya, organisasi dapat dilihat dari dua bentuk, yaitu:&lt;br /&gt;a. Public Organization (organisasi sosial), adalah organisasi yang (nonprofit) yang tujuan utamanya untuk melayani kepentingan umum, tanpa perhitungan rugi-laba. Tujuannya adalah memberikan pelayanan dan bukan memperoleh laba (nonprofit&lt;br /&gt;motive). Misalnya: Pemerintah, yayasan-yayasan sosial dan lain-lain¬nya.&lt;br /&gt;b. Business Organization (organisasi perusahaan) adalah organi¬sasi yang didirikan untuk tujuan komersial (mendapatkan laba) dan semua tindakannya selalu bermotifkan laba (profit motive). Jika organisasi perusahaan tidak memberikan laba/keuntungan lagi, maka tidak rasional untuk melanjutkannya lagi. Dilihat dari bidang usaha organisasi perusahaan ini dikenal perusahaan-perusahaan produksi, perdagangan dan pemberi jasa. Namun jika dilihat dari sudut hukum, organisasi dapat dibedakan perusahaan perseorangan (single proprietorship), dan perusahaan milik bersama (part¬nership). Misalnya: "Firma, CV, PT, Koperasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.   Berdasarkan Organization Chart/Bagan Organisasinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Apabila dilihat dari bentuk bagan organisasi yang digunakan, maka organisasi dapat dikelompokkan menjadi lima bentuk, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a. Berbentuk segitiga vertikal (Arrangement Chart);&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Puncak segitiga (A) merupakan kedudukan Top Manager&lt;br /&gt;Kebaikannya:&lt;br /&gt;1) Tingkatan manajer dan kedudukan setiap karyawan jelas dan mudah diketahui.&lt;br /&gt;2) Garis perintah dan tanggung jawab jelas dan mudah kelihatan.&lt;br /&gt;3) Rentang kendali setiap bagian jelas dan mudah diketahui.&lt;br /&gt;4) Posisi kedudukan setiap karyawan (manajerial/operasional) jelas dan mudah diketahui.&lt;br /&gt;5) Jenis wewenang yang dimiliki setiap pejabat jelas dan mudah diketahui.&lt;br /&gt;6) Pimpinan organisasi (Top Manager), jelas kelihatan.&lt;br /&gt;7) Berapa tingkat (golongan) organisasi mudah diketahui.&lt;br /&gt;Kelemahannya:&lt;br /&gt;1) Pimpinan kolektif (presidium) tidak dapat digambarkan.&lt;br /&gt;2) Top Manager kelihatan hanya mempunyai authority ke dalam organisasi saja.&lt;br /&gt;3) Bentuk struktur organisasi segitiga ini paling banyak dipergunakan oleh organisasi/perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;b. Berbentuk Lingkaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1) Top Manager berada pada titik pusat lingkaran (A).&lt;br /&gt;2) Kedudukan yang mempunyai jarak yang sama dari pusat lingkaran punya posisi (golong¬an) yang sama.&lt;br /&gt;3) Semakin dekat kedudukan pada pusat lingkaran maka semakin tinggi kedudukannya dan se-baliknya.&lt;br /&gt;4) Top Manajer, C = Middle Mana¬ger dan B = Lower Manager, padahal B itu bawahan dari C.&lt;br /&gt;Kebaikannya:&lt;br /&gt;1) Top Manager kelihatan mempunyai wewenang ke setiap penjuru.&lt;br /&gt;2) Top Manager, kelihatan sebagai sentral keputusan dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahannya:&lt;br /&gt;1) Untuk mengetahui kedudukan atasan dan bawahan agak sulit dan kurang jelas.&lt;br /&gt;2) Pendelegasian wewenang dan pertanggung jawab tidak jelas ke¬lihatan.&lt;br /&gt;3) Kedudukan seorang bawahan dapat kelihatan sebagai atasan (B) terhadap C, sebab ia lebih dekat pada A.&lt;br /&gt;4) Demikian juga misalnya bawahan B, bisa lebih dekat pada A, jadi seperti bawahannya B.&lt;br /&gt;5) Kedudukan (posisi) staf sulit digambar dalam bentuk struktur ini. Struktur organisasi yang berbentuk lingkaran ini jarang dipergunakan dan kurang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Berbentuk lingkaran dan atau setengah lingkaran;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur organisasi yang berbentuk setengah lingkaran ini, pada prinsipnya samadenganyangberbentuk lingkaran.Perbedaannya hanya terletak,bahwa bawahan Middle Manager terletak di luar lingkaran pertama. Bentuk ini kurang populer dan jarang digunakan orang.&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1) A. Top Manager 1,2,3,4, dan 5 Middle Manager (B), sedangkan (C) Lower Manager.&lt;br /&gt;2) Kedudukan yang jaraknya sama dari (A), mempunyai posisi yang sama.&lt;br /&gt;3) Semakin dekat kepada (A), maka semakin tinggi kedudukannya dan sebaliknya.&lt;br /&gt;Kelemahan bentuk struktur ini pada dasarnya sama dengan bentuk struktur lingkaran, seperti untuk menggambar posisi staf sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;d. Berbentuk kerucut vertikal/horizontal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur organisasi yang berbentuk "kerucut vertikal ataupun hori¬zontal" ini pada prinsipnya sama dengan struktur organisasi yang berbentuk "segitiga vertikal atau horizontal". Perbedaannya terletak pada struktur yang berbentuk segitiga, menunjukkan bahwa "pimpinan puncak (Top Manager)-nya tunggal atau seorang". Sedang struktur organisasi yang berbentuk kerucut, menunjukkan bahwa "pimpinan puncak (Top Manager)-nya kolektif (presidium = beberapa orang)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan kolektif ini sering d ilakukan pada organisasi "komi te atau perusahaan FIRMA", Karena perusahaan Firma, diharuskan bahwa semua kekayaan pribadi anggota ikut dipertaruhkan untuk membayar utang-utang Firma, jika Firma tersebut dilikuidasi. Hal inilah yang men-dorong anggota Firma menganut "pimpinan kolektif" pada "puncak pimpinannya" untuk menghindari tindakan-tindakan negatif jika Firma pimpinan puncaknya tunggal (seorang).&lt;br /&gt;Pada organisasi komite tujuannya pimpinan puncak kolektif untuk menghindari kepemimpinan "otoriter" atau diktator jika pimpinan puncaknya seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1) A dan B merupakan pimpinan puncak kolektif.&lt;br /&gt;2) Tingkatan-tingkatan lain dari departemen seorang/tunggal.&lt;br /&gt;3) Posisi yang semakin dekat ke A-B, kedudukan semakin tinggi dan sebaliknya.&lt;br /&gt;4) Jarak yang sama dari A dan B punya kedudukan (golongan) yang sama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;e. Berbentuk bulat telor (Oval).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1) Yang duduk pada lingkaran I (A-B-C-D-E) punya posisi sama.&lt;br /&gt;2) Yang duduk pada lingkaran II punya posisi yang sama.&lt;br /&gt;3) Yang duduk pada lingkaran III, juga posisi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur organisasi berbentuk "OVAL atau BULAT TELUR" ini sering dipergunakan dalam perundingan-perundingan politik. Dalam perundingan politik antara negara yang berselisih, biasanya soal meja tempat berunding digunakan meja yang berbentuk oval. Hal ini mencerminkan bahwa setiap negara punya kedudukan (posisi) yang sama tinggi derajatnya. Barisan depan (dekat) meja duduk wakil-wakil tertinggi dari negaranya (lingkaran I), lingkaran II, lingkaran III dan seterusnya. Jadi setiap tempat duduk pada lingkaran yang sama punya peranan yang sama pula dalam perundingan bersangkutan. Semakin dekat tempat duduknya ke meja perundingan, semakin besar peranannya (posisi)-nya dalam perundingan tersebut. Struktur organisasi bentuk ini kurang populer dan jarang dipakai dalam perusahaan.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk organisasi di atas dapat diterapkan dalam organisasi pendidikan Islam, baik dalam satu bentuk saja atau mengkombinasikan antara beberapa bentuk lalu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Jelasnya, bentuk-bentuk di atas menjadi pertimbangan dalam merumuskan jenis organisasi yang akan diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan Islam dalam suatu lembaga organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Organisasi Lembaga Pendidikan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan, dalam bahasa Inggris disebut institute (berbentuk fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fisik atau abstrak disebut institution yaitu suatu sistem norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam bentuk fisik disebut juga bangunan, sedangkan non-fisik disebut pranata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terminologi, lembaga pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung adalah sustu sistem peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode-kode, norma-norma, idiologi-idiologi dan sebagainya, baik tertulis atau tidak, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok manusia yang terdiri dari individu-individu yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah: masjid, sekolah kuttab dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, untuk menerapkan pendidikan Islam perlu suatu lembaga dan lembaga tersebut harus terorganisir sedemikian rupa sehingga tujuan pendidikan Islam dapat dicapai secara efektif dan efisien. Tegasnya, diperlukan organisasi lembaga pendidikan yang profesional.&lt;br /&gt;Berbicara tentang lembaga pendidikan Islam, dapat dilihat dari segi proses pembentukannya, yaitu formal, nonformal, dan informal. Akan tetapi, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk institute biasanya dikelola oleh lembaga Departemen Agama dimana di dalamnya terdapat lembaga pendidikan formal dan nonformal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Lembaga Pendidikan Islam di Lingkungan Departemen Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Islam dipetakan ke dalam tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan agama Islam pada satuan pendidikan, pendidikan umum berciri Islam, dan pendidikan keagamaan Islam. Pendidikan Islam pada satuan pendidikan dilakukan melalui koordinasi antara Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Ditjen Pendidikan islam bertangg/ung jawab.'aias!: pengembangan kurikulum dan pembinaan guru. Sedangkan Depdiknas atas pelaksanaahnya. pada tingkat satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan umum berciri Islam, pada jalur formal diselenggarakan oleh satuan pendidikan Raudhatul/Busthanul Athfal (RA/BA) pada anak usia dini, Madrasah Ibtidaiyah (Ml) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada pendidikan dasar. Madrasah Aliyah (MA) dan MA Kejuruan pada pendidikan menengah, dan Perguruan Tinggi Islam (PTI) pada jenjang pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;Pada jalur non-formal, diselenggarakan melalui Program Paket A dan Program Paket B pada pendidikan dasar serta Program Paket C setara pendidikan menengah. Pendidikan keagamaan Islam diselenggarakan dalam bentuk pendidikan diniyah dan pendidikan pesantren yang melingkupi berbagai satuan pendidikan diniyah dan pondok pesantren pada berbagai jenjang dan jalur pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jalur formal, pendidikan diniyah mencakup Pendidikan Diniyah Dasar (PDD) dan Pendidikan Diniyah Menengah Pertama PDMP pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan Diniyah Menengah Atas (PDMA) pada jenjang pendidikan menengah, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) pada jenjang pendidikan tinggi. Pada jalur non-formal, pendidikan diniyah diselenggarakan secara berjenjang mulai dari pendidikan anak usia dini pada Taman Kanak-kanak al-Qur'an (TKQ), jenjang dasar oleh lembaga pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) dan Diniyah Takmiliyah Wustha (DTW) dan jenjang pendidikan menengah oleh Diniyah Takmiliyah Ulya (DTU), DT Aly untuk jenjang pendidikan tinggi, serta non-jenjang pada lembaga pendidikan al-Qur'an dan Majlis Taklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, organisasi lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non-formal seperti pesantren, pada dasarnya dikelola oleh Departemen Agama. Sementara lembaga pendidikan umum, seperti SD, SMP, dan SMA Swasta yang dimiliki oleh organisasi Islam juga dikategorikan sebagai lembaga pendidikan Islam, namun tetap berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat daerah, Pesantren sebagai lembaga pendidikan formal biasanya menerapkan kurikulum madrasah sehingga tingkatan dalam pesantren juga meliputi madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Dalam struktur organisasi, pesantren ini berada di bawah departemen agama, tepatnya di bagian Pekapontren. Madrasah juga meliputi jenjang madrasah ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Ketiga jenjang ini juga berada dalam departemen agama tepatnya di bagian Mapenda. Sedangkan sekolah yang diidentikkan dengan lembaga pendidikan Islam adalah lembaga pendidikan yang biasanya dimiliki oleh organisasi Islam, seperti Sekolah Dasar Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI), dan Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI) atau nama-nama lain yang sejenis dengannya, termasuk SD Islam Terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah/Madrasah, sebagai lembaga pendidikan formal yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha, siswa, dan sebagainya memerlukan adanya organisasi yang  baik agar tujuannya dapat dicapai. Menurut sistem persekolah di negeri kita, pada umumnya Kepala Sekolah/Madrasah merupakan jabatan yang tertinggi di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang peranan dan pimpinan segala sesuatunya yang  berhubungan dengan tugas sekolah/medrasah ke dalam maupun ke luar. Maka dari itu dalam struktur organisasi lembaga ini pun kepala sekolah biasanya selalui ditempatkan yang paling atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah/madrasah yang baik ialah karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh sekolah, dan sebagainya semuanya harus bertanggung jawab dan diikutsertakan dalam menjalankan roda organisasi itu secara keseluruhan. Dengan demikian, agar tidak overlapping dalam memegang/menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah/madrasah yang baik dan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai organisasi, sekolah atau madrasah tersebut tentu memiliki visi dan misi tertentu dengan mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian di dalamnya terdapat struktur organisasi yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah dan dibantu oleh beberapa orang wakil, seperti wakil bidang kurikulum, wakil bidang sarana prasarana, dan wakil bidang kesiswaan. Para guru juga diorganisir sesuai dengan kebutuhan, seperti wali kelas, koordinator masing-masing mata pelajaran, pembina OSIS, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sistem penanggung jawab lembaga tersebut awalnya bersifat sentralistik. Namun dewasa ini, seiring dengan otonomi daerah, sistem sentralistik secara berlahan mulai berubah ke arah desentralistik, meskipun belum sepenuhnya, khususnya di lingkungan Departemen Agama. Sedangkan sekolah umum yang dimiliki oleh organisasi Islam cenderung lebih desentralisasi karena mereka berada di bawah departemen pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pengelolaan madrasah/pesantren di lingkungan Departemen Agama yang masih bersifat sentralistik memiliki kelebihan dan kekurangan. Lembaga pendidikan formal di bawah Departemen Agama seperti Madrasah cenderung hanya memperoleh anggaran biaya dari Departemen Agama pusat dan terkesan kurang perhatian dari pemerintah daerah. Padahal madrasah juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat lokal di tingkat daerah tersebut. Meskipun demikian, ada juga pemerintah daerah yang menganggarkan biaya untuk madrasah tersebut, sesuai dengan kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Kebijakan ini tentu terkait dengan besarnya APBD yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pembiayaan madrasah—khususnya yang berstatus negeri—yang dianggarkan dari DIPA Departemen Agama justru memperoleh anggaran yang lebih besar jika dibandingkan dengan sekolah di lingkungan dinas pendidikan, sebab jumlah lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan umum yang ada. Terutama di daerah yang memiliki APBD relatif kecil, jangankan menganggarkan biaya yang cukup untuk madrasah yang masih bersifat sentralistik ke departemen Agama, untuk menganggarkan dana pengelolaan sekolah umum yang berada di bawah lingkungan dinas pendidikan kota/kabupaten saja akan mengalami kesulitan mengingat jumlah sekolah umum yang lebih besar dari pada jumlah madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang menjadi persoalan berikutnya adalah madrasah yang memperoleh dana cukup dari departemen agama tersebut justru lebih terfokus kepada madrasah negeri, sementara madrasah swasta kurang mendapat perhatian. Padahal, jumlah madrasah swasta jauh lebih banyak dari pada madrasah negeri. Akhirnya, madrasah swasta yang memperoleh "penghidupan" dari masyarakat setempat cenderung mengalami kesulitan dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perbandingan madrasah negeri dengan swasta dapat dilihat pada tabel ini:&lt;br /&gt;No Jenis Lembaga Jumlah Jumlah Total Porsentase Sebaran&lt;br /&gt;  Negeri (%) Swasta (%)  &lt;br /&gt;1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) 1.567 19.621 21.188 36%&lt;br /&gt;  (7.4%) (92,6%)  &lt;br /&gt;2 Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1.259 11.624 58.288 22%&lt;br /&gt;  (9,8%) (90,2%)  &lt;br /&gt;3 Madrasah Aliyah (MA) 644 4.754 5.398 9%&lt;br /&gt;  (11,9%) (88,1%)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa MI yang negeri hanya 7.4 % dari 21.188 MI yang ada, MTs berstatus negeri sebanyak 9,8% dari 58.288 dan MA berstatus negeri hanya 11,9% dari 5.398 dari total MA yang ada. Data ini diperoleh pada T.P. 2007/2008. Dengan demikian, persentase madrasah swasta jauh lebih besar jumlahnya dari pada madrasah negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya jumlah madrasah swasta ini memang berkaitan dengan sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan Islam; di mana peran serta masyarakat dalam pengembangan madrasah dan pesantren sangat besar. Anggota masyarakat karena motivasi agama, banyak yang menyediakan tanah wakaf atau dana pembangunan madrasah dan pesantren, sehingga jumlah madrasah swasta demikian banyak seperti terlihat pada data di atas. Prakarsa dan peran serta masyarakat yang demikian besar dalam bidang pendidikan tersebut, khususnya madrasah dan pesantren, memang patut dihargai dan perlu terus dibantu pengembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dan yang dapat dikumpulkan oleh masyarakat muslim dalam pengembangan pendidikan modern dewasa ini sangat terbatas, sementara biaya pendidikan semakin mahal, sehingga tuntutan untuk terus-menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan madrasah terus-menerus ketinggalan dengan dunia pendidikan yang lain. Pada umumnya, madrasah swasta berada dalam keadaan serba kekurangan karena menampung siswa-siswa dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Akibatnya, biaya untuk menunjang kegiatan proses belajar-mengajar kurikulum yang tinggi tingkat relevansinya dengan jenis-jenis pekerjaan yang berkembang di dunia bisnis dan di masyarakat dewasa ini yang mengarah ke masyarakat industri, masih sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, karena kemampuan dalam penyelenggaraan pendidikan masih terbatas, Pemerintah masih mengutamakan strategi pengembangannya pada sekolah-sekolah negeri, khususnya dalam penyediaan tenaga guru dan pembagian alokasi dana pembiayaan pendidikan lainnya. Padahal, berbeda dengan Diknas, proses penegerian madrasah di Departemen Agama berjalan sangat lambat, sehingga jumlah madrasah negeri masih sangat kecil. Kelambatan itu disebabkan karena Departemen Agama dianggap bukan sebagai unit yang memeriukan perhatian dan prioritas untuk memperoleh dukungan dana dan dukungan kelembagaan seperti Diknas. Masalah kecilnya jumlah madrasah-madrasah negeri tersebut menjadi salah satu kendala dalam menyusun langkah-langkah pembinaan madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih besarnya perhatian pemerintah terhadap madrasah negeri dari pada swasta juga dapat dilihat dari persentase madrasah penerima bantuan dari Program Bantuan Direktorat Pendidikan pada Madrasah tahun 2007, sebagaimana yang terlihat dalam tabel berikut ini:&lt;br /&gt;No Jenis Lembaga Jumlah Lembaga&lt;br /&gt;  Negeri (%) Swasta (%)&lt;br /&gt;1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) 1.567 19.621&lt;br /&gt;  (11,5 %) (4.3 %)&lt;br /&gt;2 Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1.259 11.624&lt;br /&gt;  (10,6 %) (7.3 %)&lt;br /&gt;3 Madrasah Aliyah (MA) 644 4.754&lt;br /&gt;  (15,5 %) (10,5 %)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diperhatikan pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa secara kuantitas, jumlah madrasah negeri memang lebih besar dari pada madrasah negeri. Namun, jika dilihat dari persentase jumlah madrasah secara keseluruhan, maka madrasah swasta jauh lebih kecil dari pada yang negeri. Itu artinya, masih banyak madrasah negeri yang tidak memperoleh bantuan, akan tetapi jauh lebih banyak madrasah swasta yang tidak memperoleh bantuan tersebut. Oleh karena itu, madrasah swasta sulit mengembangkannya sebagai lembaga pendidikan yang bermutu dengan sistem pengelolaan seperti ini, apalagi jika kurang mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan lembaga pendidikan pesantren dan diniyah yang nota benenya tumbuh dari masyarakat, juga semakin berkembang dan butuh perhatian dari pemerintah dan masyarakat sendiri. Berdasarkan tipe pondok pesantren, dapat dilihat dalam tabel berikut ini:&lt;br /&gt;No Tipe Pondok Pesantren Jumlah Persentase&lt;br /&gt;1 Salafiyah 8.001 37,2 %&lt;br /&gt;2 Ashriyah 3.881 18,0 %&lt;br /&gt;3 Kombinasi 9.639 44, 8 %&lt;br /&gt;Jumlah 21.521 100%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel: Jumlah Pondok Pesantren berdasarkan tipenya pada T.P. 2007/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jumlah madrasah diniyah pada tahun pelajaran 2007/2008 terdapat sebanyak 37.102. Jika dilihat dari lokasinya, terdapat 8.485 (22,9%) merupakan madrasah diniyah yang berada di dalam Pondok Pesantren, dan 28.617 (77,1%) merupakan madrasah diniyah yang berada di luar Pondok Pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi persoalan di atas, seharusnya pemerintah daerah mengambil kebijakan yang proporsional (adil) terhadap pembangunan dan pengembangan lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren. Sebab, madrasah dan pesantren juga berperan besar dalam mencerdaskan masyarakat di tingkat daerah tersebut. Meskipun madrasah dikelola secara sentralistik, akan tetapi pemerintah daerah perlu menganalisis perbandingan antara anggaran yang diperoleh madrasah dengan anggaran yang diperoleh sekolah umum. Jika APBD di tingkat daerah memang relatif kecil, maka diharapkan pemerintah dapat memotivasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun lembaga pendidikan di daerah tersebut, baik umum maupun lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi yang baik lagi harmonis antara departemen agama dengan dinas pendidikan dari pusat hingga di tingkat daerah kota/kabupaten, termasuk dengan pemerintah daerah. Dengan begitu diharapkan pengelolaan organisasi lembaga pendidikan Islam dilakukan secara profesional sehingga bermutu dan mampu bersaing di tingkat global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Lembaga Pendidikan Masyarakat (Nonformal)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain dari bentuk lembaga pendidikan di atas, masyarakat juga melahirkan beberapa lembaga pendidikan nonformal sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan Islam. Masyarakat merupakan kumpulan individu dan kelompok yang terikat oleh kesatuan bangsa, negara, kebudayaan, dan agama. Setiap masyarakat, memiliki cita-cita yang diwujudkan melalui peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu. Islam tidak membebaskan manusia dari tanggungjawabnya sebagai anggota masyarakat, dia merupakan bagian yang integral sehingga harus tunduk pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Begitu juga dengan tanggungjawabnya dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan, maka masyarakat akan menyelanggarakan kegiatan pendidikan yang dikategorikan sebagai lembaga pendidikan nonformal. Sebagai lembaga pendidikan non formal, masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, tetapi tidak mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Meskipun demikian, lembaga-lembaga tersebut juga memerlukan pengelolaan yang profesional dalam suatu organisasi dengan manajemen yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut an-Nahlawi, tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan tersebut hendaknya melakukan beberapa hal, yaitu: pertama, menyadari bahwa Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh kebaikan dan pelarang kemungkaran (Qs. Ali Imran/3: 104); kedua, dalam masyarakat Islam seluruh anak-anak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya sehingga di antara saling perhatian dalam mendidik anak-anak yang ada di lingkungan mereka sebagaimana mereka mendidik anak sendiri; ketiga, jika ada orang yang berbuat jahat, maka masyarakat turut menghadapinya dengan menegakkan hukum yang berlaku, termasuk adanya ancaman, hukuman, dan kekerasan lain dengan cara yang terdidik; keempat, masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikoitan, atau pemutusan hubungan kemasyarakatan sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi; dan kelima, pendidikan kemasyarakatan dapat dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena masyarakat muslim adalah masyarakat yang padu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak dari tanggung jawab tersebut, maka lahirlah berbagai bentuk pendidikan kemasyarakatan, seperti masjid, surau, TPA, wirid remaja, kursus-kursus keislaman, pembinaan rohani, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memberikan kontribusi dalam pendidikan yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;Berpijak dari tanggung jawab masyarakat di atas, lahirlah lembaga pendidikan Islam yang dapat dikelompokkan dalam jenis ini adalah:&lt;br /&gt;a. Masjid, Mushalla, Langgar, Surau atau Rangkang.&lt;br /&gt;b. Madrasah Diniyah yang tidak mengikuti ketetapan resmi.&lt;br /&gt;c. Majlis Ta'lim, Taman Pendidikan al-Qur'an, Taman Pendidikan Seni Al-Qur'an, Wirid Remaja/Dewasa.&lt;br /&gt;d. Kursus-kursus Keislaman.&lt;br /&gt;e. Badan Pembinaan Rohani.&lt;br /&gt;f. Badan-badan Konsultasi Keagamaan.&lt;br /&gt;g. dan lain-lain.&lt;br /&gt;Lembaga-lembaga pendidikan yang lahir dari masyarakat ini sangat berperan dalam mendidik umat, sejak kanak-kanak hingga dewasa, bahkan lansia. Oleh karena itu, lembaga pendidikan ini harus terorganisir dengan baik sehingga tujuan dari masing-masing lembaga tersebut dapat tercapai dengan baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Lembaga Pendidikan Keluarga (informal)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula dijelaskan bahwa dalam literatur pendidikan Islam, keluarga juga dipandang sebagai lembaga pendidikan dalam bentuk informal. Dalam Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah dan nasb. Karenanya, keluarga juga dapat diperoleh melalui persusuan dan pemerdekaan. Pentingnya keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam diisyaratkan dalam al-Qur'an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (Qs. al-Tahrim/66: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, kegiatan pendidikan dalam lembaga ini tanpa ada suatu organisasi yang ketat, tanpa ada program waktu dan evaluasi.  Namun, Islam memberikan tuntunan kepada orang tua untuk membina keluarga dan mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, keluarga juga merupakan organisasi yang dipimpin oleh seorang ayah untuk membina keluarga dan mendidik anak-anaknya sehingga diridhai oleh Allah SWT dengan terlebih dahulu pasangan suami-istri berupaya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Qs. ar-Rum/30: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sebagai organisasi, keluarga memiliki tujuan tertentu. Secara umum tujuan tersebut adalah memelihara keluarganya dari api neraka dan mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana yang telah disinggung di atas. Kemudian, keluarga juga mengorganisir anggota keluarganya untuk melaksanakan tugas sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan mereka bertanggung jawab terhadap tugas tersebut. Dalam konteks suami istri, Rasulullah SAW menegaskan:&lt;br /&gt;كُلَُكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, فَاْلاِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, وَاْلمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا...&lt;br /&gt;Kalian semua adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin kelak dia akan diminta pertanggungjawabannya tentang kepemimpinannya. Seorang lelaki pemimpin istrinya, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang perempuan (istri) pemimpin dalam rumah suaminya, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya… (muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara anak harus dididik sesuai dengan petunjuk Islam sehingga mereka potensi yang dimilikinya berkembang secara optimal dan mengantarkannya sebagai anak yang shaleh. Lagi-lagi dalam hal ini diperlukan manajemen yang baik dari kedua orang tuanya dan keluarga sebagai organisasi atau wadah untuk melaksanakan tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa penjelasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, di antaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Organisasi dalam artian statis merupakan wadah berkumpulnya beberapa orang yang saling bekerja sama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan secara dinamis, organisasi merupakan proses mewujudkan tujuan dengan adanya kerja sama, tugas-tugas tertentu yang jelas dengan tanggung jawab yang kuat untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama. Sementara organisasi pendidikan Islam dapat dipahami sebagai wadah berkumpulnya beberapa orang yang saling bekerja sama dan beriteraksi dalam menerapkan dan mewujudkan tujuan pendidikan Islam dengan tetap berlandaskan kepada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;2. Pada dasarnya organisasi merupakan sesuatu yang alamiah bagi manusia, sebab ia ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu sama lain. Hanya saja secara teoritis, organisasi lebih berkembang dan muncul sejak abad ke 19 hingga saat ini dengan berbagai teori yang muncul, mulai dari klasik, ilmiah, hingga kepada perkembangannya di masa modern.&lt;br /&gt;3. Prinsip-prinsip organisasi pendidikan Islam tersirat dalam al-Qur'an, seperti tujuannya harus mencari dan menemukan keridhaan Allah, proses yang dilakukan dengan cara yang baik, kerja sama dalam konteks kebaikan/ketakwaan bukan kemaksiatan, komunikasi dilakukan dengan cara yang baik/santun, adanya tanggung jawab masing-masing anggota organisasi, dan pengambilan keputusan sebaiknya dilakukan dengan cara musyawarah dan tawakal. Semua itu relevan dengan temuan-temuan pakar organisasi modern.&lt;br /&gt;4. Bentuk-bentuk organisasi, jika dilihat dari strukturnya ada beberapa bentuk, seperti tipe line, staf, line and staf, fungsional, dan panitia (committee). Semua itu dapat digunakan berdasarkan kebutuhan organisasi tersebut.&lt;br /&gt;5. Secara garis besar lembaga pendidikan Islam dapat dikelompokkan kepada tiga bagian, yaitu formal (sekolah/madrasah/pesantren), informal (keluarga), dan nonformal (masyarakat). Namun dari segi pengelolaannya, lembaga pendidikan Islam itu bisa dikategorikan dalam bentuk lembaga pendidikan Islam di lingkungan Departemen Agama yang terdiri dari formal (seperti MI, MTs, dan MA) dan nonformal (seperti TQ, pengajian Kitab, Paket C, dll). Semua bentuk lembaga ini merupakan suatu organisasi yang harus dijalankan dengan profesional sehingga tujuan pendidikan Islam dapat dicapai secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIBLIOGRAFI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Asnawir, Manajemen Pendidikan, Padang: IAIN IB Press, 2006&lt;br /&gt;_______, Bagian I Manajemen Pendidikan, Kumpulan Print Out Slide Power Point, Padang: PPS IAIN IB Padang&lt;br /&gt;Akkas, M. Amin, "Potret Kepemimpinan dalam Masyarakat Madani", dalam Nurcholish Madjid et.al., Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, Jakarta: Mediacita, 2000&lt;br /&gt;Atmosudirdjo, Prajudi, Dasar-dasar Ilmu Administrasi Umum, Jakarta: Galia Indonesia, 1982&lt;br /&gt;Ditjen Pendidikan Islam Depag RI, Booklet, Jakarta: Dirtjen PI Depag RI, 2007&lt;br /&gt;_____________, Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan T.P. 2007/2008, Jakarta: Ditjen PI Depag RI, 2008&lt;br /&gt;Hasibuan, Malayu S.P., Organisasi dan Motivasi; Dasar Peningkatan Produktivitas, Jakarta: Bumi Aksara, 2007, cet. ke-5&lt;br /&gt;al-Hasyimi, Sayid Ahmad, Mukhtarul Ahadits an-Nabawiyah, Penj. Mahmud Zaini, Jakarta: Pustaka Amani, 1995&lt;br /&gt;Hick, Herbert G. dan G. Ray Gullet, Organization: Theory and Behavior, Penj. G. Kartasapoetra, Jakarta:Bumi Aksara, 1995, cet. ke-2&lt;br /&gt;Khaldun, Abdurrahman Ibn, Muqaddimah Ibn Khaldūn; wa Hiya Muqaddimah al-Kitāb al-Musamma Kitāb al-Ibar wa Dīwān al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-Arb wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Āsharahum min Dzawī al-Sulthān al-Akbar, Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1993&lt;br /&gt;Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988&lt;br /&gt;An-Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Penj. Shihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press, 1995&lt;br /&gt;Ndraha, Taliziduhu, Budaya Organisasi, Jakarta: Rineka Cipta, 2003&lt;br /&gt;Poerwanto, Ngalim, Administrasi Pendidikan, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1988&lt;br /&gt;Rahim, Husni, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001&lt;br /&gt;Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006&lt;br /&gt;Rivai, Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2003&lt;br /&gt;Schein, Edgar H., Organizational Psychology, Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall, 1980&lt;br /&gt;Siagian, Sondang P., Teori Pengembangan Organisasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2007 cet. ke-5&lt;br /&gt;Suyantoro, Darwis, organisasi, manajemen, dan manfaat organisasi, www.suryantara. wordpress. com&lt;br /&gt;Terry, George R., Guide to Management, Penj. J. Smith D.F.M., Jakarta: Bumi Aksara, 2006, cet. ke-8&lt;br /&gt;Winardi, J., Teori Organisasi dan Pengorganisasian, Jakarta: Rajawali Press, 2006&lt;br /&gt;_______, Manajemen Perilaku Organisasi, Jakarta: Kencana, 2007, cet. ke-2, edisi revisi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7262510530723352195-4892014457431693793?l=mhdkosim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhdkosim.blogspot.com/feeds/4892014457431693793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7262510530723352195&amp;postID=4892014457431693793&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/4892014457431693793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7262510530723352195/posts/default/4892014457431693793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhdkosim.blogspot.com/2009/04/makalah-manajemen-pendidikan-islam.html' title='Makalah Manajemen Pendidikan Islam'/><author><name>Muhammad Kosim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05906057118715455763</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/SyMiidbuQyI/AAAAAAAAALY/Bw_OxqwMQOE/S220/ganteng+edit+copy.png'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7262510530723352195.post-6809207542806209454</id><published>2009-04-17T10:00:00.007+07:00</published><updated>2009-04-17T10:34:53.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah Pendidikan'/><title type='text'>Makalah Sejarah Pendidikan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM PENDIDIKAN SURAU:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KARAKTERISTIK, ISI, DAN LITERATUR KEAGAMAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh: Muhammad Kosim&lt;/span&gt;,  MA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan memiliki peranan penting dalam mewariskan nilai-nilai kebenaran yang diyakini oleh suatu generasi ke generasi berikutnya. Demikian halnya dengan ajaran Islam yang sarat nilai (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;full values&lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sef4utiLX_I/AAAAAAAAAJg/VLAOCS76RPY/s1600-h/surau+tuo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 118px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sef4utiLX_I/AAAAAAAAAJg/VLAOCS76RPY/s320/surau+tuo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325498565769519090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;), pendidikan—dalam konteks Islam biasa disebut pendidikan Islam—merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan potensi manusia secara optimal sesuai den&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sef2vfvWhOI/AAAAAAAAAJY/TqDEhwJMkRw/s1600-h/sumbar2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 92px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Xw6b8Pj45jU/Sef2vfvWhOI/AAAAAAAAAJY/TqDEhwJMkRw/s320/sumbar2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325496380223292642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;gan fitrahnya. Dalam sejarah perkembangannya, pelaksanaan pendidikan Islam berkembang secara dinamis dan varian. Bahkan pendidikan Islam mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan sosial-cultural dimana ia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sejarah pendidikan di Minangkabau, lembaga "surau" memainkan peranan yang amat penting dalam membina dan mendidik masyarakat untuk memahami adat dan mengamalkan syariat. Dengan begitu, surau tidak hanya dipandang sebagai tempat beribadah secara mahdhah seperti shalat, akan tetapi surau juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang beradaptasi dengan budaya setempat. Fakta lain juga menunjukkan bahwa surau telah berhasil melahirkan ulama-ulama besar dari Minangkabau yang berperan di tingkat nasional, bahkan di tingkat internasional.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sistem pendidikan surau yang pernah terlaksana di Sumatera Barat menarik untuk dikaji. Meskipun dewasa ini fungsi surau telah mengalami pergeseran, namun sistem pendidikan yang diterapkan di surau patut dipahami oleh generasi saat ini sehingga nilai-nilai pendidikannya dapat diaktualisasikan dalam konteks kekinian dan kedisinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, makalah ini akan melacak akar sejarah surau di Minangkabau sebagai lembaga pendidikan Islam serta mengkaji sistem pendidikan surau yang meliputi karakteristik, isi dan literatur keagamaan yang diterapkan. Metode kajian yang dilakukan dalam makalah ini adalah metode deskriptif-analitis, dengan menggunakan sumber kepustakaan (library research).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Awal Perkembangan Surau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah Surau—kadang-kadang dibaca singkat suro—adalah kata yang banyak tersebar di Asian Tenggara. Sejak dulu, istilah ini tampaknya telah digunakan secara meluas di Minangkabau, Tanah Batak, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Semenanjung Malaya dan Patani (Thailand Selatan) da¬lam arti yang sama. Secara linguistik, kata surau berarti "tem¬pat" atau "tempat ibadah". Jadi, surau adalah sebuah bangunan kecil yang aslinya dibangun untuk menyembah nenek moyang kuno. Karena alasan ini, surau paling awal biasanya didirikan di atas tempat yang paling tinggi atau setidaknya lebih tinggi dari bangunan lain. Juga sangat mungkin, bahwa surau berkaitan erat dengan kebudayaan desa, karena kebanyakan surau ditemukan di daerah pedesaan, meskipun dalam perkembangannya kemu¬dian surau juga dapat ditemukan di perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Islam datang, surau mengalami proses Islamisasi. Hal itu dapat dilihat dari perubahan nama dan bentuk tempat peribadatan berhala kuno tersebut. Di beberapa daerah, bekas surau Hindu-Budha, terutama yang terletak di daerah terpencil seperti puncak bukit, hilang dengan cepat karena ekspansi Islam. Karena itu, surau Islam biasanya dapat ditemukan dekat tempat tinggal penduduk. Tetapi, sisa-sisa karakter sakral surau pra-Islam dalam beberapa kasus masih dapat dilihat, khususnya pada bagian atapnya yang bertingkat. Di Minangkabau, misalnya, banyak surau memiliki sejumlah puncak atau gonjong yang merefleksikan simbol-simbol adat.   Disini tempak jelas bahwa Islam juga mengalami akuluturasi budaya dimana agama beradaptasi dengan simbol-simbol adat pra-Islam sekaligus sebagai bentuk suatu pengakuan Islam terhadap lingkungan dan budaya lokal yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, juga membuktikan bahwa surau telah dikenal sebelum masuknya Islam ke Minangkabau. Dalam sistem matrilineal, kaum lelaki tidak memiliki kamar tidur di rumah orang tuanya. Karenanya mereka akan menempati surau di malam hari sebagai tempat tidur. Ketika mereka nikah, ia hanya tamu "yang berkunjung" di rumah istri-istrinya, dan bahkan di rumah asalnya. Pada masa tua, jika istrinya meninggal atau cerai, maka ia—yang telah berstatus duda—kembali tinggal di surau. Dengan demikian, surau dijadikan sebagai tempat berkumpulnya laki-laki lajang yang sudah baligh, laki-laki duda, serta tempat persinggahan laki-laki perantau. Jadi, surau memiliki fungsi sosial-budaya,  yaitu sebagai tempat pertemuan para pemuda dalam upaya mensosialisasikan diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya fungsi surau seperti di atas, maka surau memiliki peran strategis sebagai lembaga pendidikan untuk mewariskan adat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika Islam datang, surau pun diberdayakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat persinggahan akan tetapi menjadi lembaga pendidikan, baik adat maupun syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Surau sebagai Lembaga Pendidikan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disinggung di atas, ketika Islam datang, surau diberdayakan sebagai lembaga pendidikan Islam. Mahmud Yunus menyebutkan, Syekh Burhanuddin  adalah orang yang pertama kali menjadikan surau sebagai lembaga pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Burhanuddin berjasa besar dalam mensyiarkan ajaran Islam di Minangkabau. Nama besar Syekh Burhanuddin sebagai penyiar agama Islam di Minangkabau tampaknya didukung oleh kemampuannya dalam mendesain surau sebagai lembaga pendidikan Islam. Di surau ini, ia mendidik murid-muridnya untuk memahami ajaran Islam sekaligus menerapkan tarekat Syattariyyah. Surau tersebut terletak di Ulakan Pariaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja tidak ditemukan penjelasan tentang cara dan sistem pendidikan dan pengajaran Islam ketika itu, apa kitab yang mula-mula diajarkan dan kitan apa pula sambungannya sampai tamat dalam pembelajaran yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sistem pendidikan surau di era Syekh Burhanuddin tidak ditemukan secara jelas, akan tetapi pada era selanjutnya ditemukan beberapa bukti dan penjelasan tentang sistem pendidikan Islam di surau, termasuk yang dikembangkan oleh murid-muridnya. Oleh karena itu, berikut ini akan dijelaskan sistem pendidikan surau yang meliputi karakteristik, isi/materi pembelajaran, dan literatur keagamaan yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Karakteristik Sistem Pendidikan Surau &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik sistem pendidikan surau dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1. Klasifikasi surau berdasarkan jumlah murid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Verkerk Pistorious, seorang pejabat Belanda, seperti yang dikutip Azyumardi Azra, pernah mengunjungi Minangkabau guna mengamati berbagai lembaga keagamaan di daerah ini. la pun membagi surau-surau yang dikunjunginya ke dalam tiga kategori: surau kecil, yang dapat menampung sampai 20 murid; surau sedang, 80 murid; dan surau besar antara 100 sampai 1000 murid. Surau kecil kurang lebih sama dengan surau keluarga—atau sedikit lebih luas dari itu, yang umumnya dikenal sebagai surau mangaji (surau tempat belajar membaca Al-Quran dan melakukan shalat). Surau kateogri ini lebih kurang sama dengan "langgar" atau musala. Jenis surau seperti ini biasanya hanya mempunyai seorang guru yang sekaligus bertindak sebagai imam surau. Sebaliknya, surau sedang dan besar dengan sengaja didirikan untuk tempat pendidikan agama dalam pengertian lebih luas. Dengan kata lain, surau sedang dan surau besar tidak sekadar berfungsi sebagai rumah ibadah seperti yang dilakukan surau mangaji, tetapi yang lebih penting, sebagai pusat pendidikan agama di mana ajaran Islam yang lebih luas dalam berbagai aspeknya diajarkan kepada murid-murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau sebagai lembaga pendidikan lengkap atau besar merupakan komplek bangunan yang terdiri dari masjid, bangunan-bangunan untuk tempab belajar, dan suaru-surau kecil yang sekaligus menjadi pemondokan murid-murid yang belajar di surau. Prototype suaru seperti ini adalah Surau Ulakan yang didirikan Syekh Burhanuddin. Selanjutnya surau seperti ini dikembangkan ke wilayah Darek, seperti Surau Koto Tuo (Tuanku Nan Tuo) Agam yang memiliki distingsi dalam bidang tafsir; Surau Kotogadang yang terkenal sebagai pusat ilmu mantiq dan ma'ani; Surau Sumanik, tersohor kuat dalam tafsir dan fara'id; Surau Kamang, terkenal karena kuat dalam ilmu-ilmu bahasa Arab; Surau Talang, dan Surau Salayo, yang keduanya terkenal dalam bidang Nahu-Sharaf. Keseluruhan surau ini mencapai puncak kejayaannya dalam masa pra-Padri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca perang Padri, surau besar dan terkenal yang masih bertahan adalah Surau Batuhampar, dekat Payakumbuh, yang dibangun Syekh 'Abdurrahman (1777-1889) . Kompleks surau terdiri dari sekitar 30 bangunan, termasuk beberapa bangunan utama, seperti masjid, penginapan bagi pengunjung, surau kecil untuk murid, surau untuk suluk, dan Iain-lain. Urang siak tinggal di banyak surau kecil sesuai dengan asal usul geografisnya. Karena itu, terdapat Surau Suliki, Surau Tilatang Kamang, Surau Solok, Surau Pariaman, Surau Padang, Surau Jambi, Surau Bengkulu, Surau Palembang, dan sebagainya. Nama-nama surau tersebut mengindikasikan bahwa urang siak di Surau Batuhampar berasal tidak hanya dari daerah Minangkabau, tetapi juga dari banyak bagian lain di Sumatera. Jumlah urang siak di Surau Batuhampar berkisar antara 1000 sampai 2000. Jumlah tertinggi murid dicapai ketika kepemimpinan surau dipegang Syekh Arsyad, anak Syekh 'Abdurrahman. Meskipun Surau Batuhampar mengalami banyak kemunduran, tetapi masih eksis di bawah kepemimpinan Syekh Dhamrah Arsyadi, cicit Syekh 'Abdurrahman, pendiri surau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil surau besar lainnya adalah Surau Tuanku Syekh Silungkang di daerah Solok. Surau ini pernah dikunjungi para pejabat Belanda pada 1860-an.52 Surau ini dibangun Tuanku Syekh dengan bantuan tidak hanya penduduk desa setempat, tetapi juga penduduk desa lain, persis setelah kepulangannya dari Makkah. la dianggap sebagai surau terindah dengan hiasan paling baik di Dataran Tinggi Minangkabau. Bangunan utama terdiri dari 7 rumah kayu, 2 di antaranya untuk murid-murid perempuan dan sisanya untuk murid laki-laki, yang sebagian besar berasal dari desa lain. Setiap surau kecil menampung 20 sampai 30 murid di bawah seorang guru tuo (guru senior). Selama siang hari, para murid membantu guru mereka di sawah dan kebun, menjadikan surau hampir kosong. Semua jenis pengajar-an, termasuk amalan tarekat, dilakukan pada sore dan malam hari di bawah bimbingan guru-guru dan Syekh sendiri. Seperti surau besar lainnya, Surau Silungkang membentuk suatu komunitas di mana masalah pengajaran agama tidak terpisah dari pengajaran kemampuan keterampilan yang diperlukan un¬tuk kehidupan sehari-hari. Tetapi, Surau Silungkang merosot de¬ngan cepat setelah meninggalnya Syekh Muhammad Saleh, sang pendiri, pada 1872, karena tak seorang pun di antara keturunan dan murid-muridnya yang cukup mampu melanjutkan kepe¬mimpinan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau-surau besar yang berkembang dengan para tuanku yang terkenal biasanya mampu menarik ratusan bahkan ribuan murid. Surau besar seringkali terdiri dari sejumlah bangunan utama, termasuk masjid yang dimiliki Tuanku Syekh. Para murid tinggal di bangunan surau-surau yang lebih kecil di sekitar bangunan-bangunan utama. Surau besar bisa jadi memi¬liki sekitar 20 surau untuk pemondokan yang secara khusus diperuntukkan bagi murid-murid. Surau pemondokan dibagi-bagi di antara murid-murid yang datang dari berbagai wilayah geografis yang berbeda-beda; dan surau-surau pemondokan itu biasanya dibangun oleh murid-murid dari masing-masing wilayah asalnya. Jadi, setiap kelompok murid pada dasamya mewakili komunitasnya masing-masing dalam menuntut ilmu-ilmu Islam. Dan, setiap kelompok itu berada di bawah pengawasan seorang guru yang mengawasi kemajuan studi dan kesejahteraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung kebutuhan dan kesejahteraan murid-murid tersebut, surau diorganisasi atas dasar ekonomi. Terkadang murid-murid harus membantu Syekh atau guru mereka di kebun atau sawah yang umumnya diwakafkan orang-orang di sekitar kompleks surau. Proses belajar juga sering dihentikan selama kesibukan musim tanam dan musim menyabit. Hasil usaha pertanian itu biasanya digunakan untuk memelihara dan meningkatkan surau dalam berbagai segi. Beberapa surau besar memiliki lapau atau kedai di kompleksnya yang biasanya dikelola murid-murid sendiri. Para murid senior dan mereka yang merasa telah beberapa tahun mengabdikan dirinya dalam studi menekuni keahlian tertentu, seperti pekerjaan perkayuan, dan pertukangan, di mana mereka memperoleh pendapatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi kepemimpinan surau besar tampak begitu sederhana. Di puncak tertinggi adalah Tuanku Syekh dan wakil-wakilnya-anaknya atau menantunya jika ia tidak mempunyai keturunan laki-laki. Di bawah mereka adalah guru-guru, baik mereka yang merupakan murid-murid sangat senior ataupun mereka yang diundang mengajar di surau itu sesuai dengan kompetensi dan pengalaman mereka. Tuanku Syekh biasanya bertanggung jawab atas pengajaran murid-murid lebih tinggi atau senior, sementara guru-guru ditugaskan pada "tingkat" yang lebih rendah atau yunior. Masing-masing mereka mempu¬nyai kelompok murid sendiri-sendiri di bawah pengasuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;2. Kepemimpinan dalam Sistem Pendidikan Surau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Syekh adalah personifikasi dari surau itu sendiri. Karena itu, prestise surau banyak bergantung pada pengetahuan, kesalehan, dan karisma Tuanku Syekh. Tidak mengherankan bahwa surau yang terkenal dapat merosot dengan cepat atau sirna seketika setelah meninggalnya Tuanku Syekh, terutama jika tidak ada seorang anak laki-laki atau menantu laki-laki yang cukup kompeten untuk meneruskan kepemimpinannya atau cukup beruntung menerima aura Tuanku Syekh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Syekh tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi juga sekaligus sebagai pe¬mimpin spiritual mereka yang ingin mengintensifkan ibadah-nya. Ia merupakan seorang ahli dalam ilmu-ilmu esoterik dan ilahiah, dan menjadi penghubung antara para penyembah de¬ngan Tuhan. Kepatuhan mutlak kepadanya merupakan syarat mutlak ke arah pencapaian pengetahuan tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun posisi Tuanku Syekh atau guru surau tidak tercakup dalam hirarki resmi adat, namun pengaruh mereka tampak jelas terhadap posisi yang ditentukan adat bagi penghulu. Di nagarinya sendiri, Tuanku Syekh dapat memerintahkan kepatuhan penduduk di luar sukunya sendiri. Dalam lingkup supra-nagari, ia berada di luar komunitas adat nagari. Keputusan mereka mengenai persoalan-persoalan keagamaan secara teoritis mengikat. Para fungsionaris keagamaan yang disebut dalam sistem adat, seperti imam, khatib atau malim hanya sekadar pelaksana hukum Islam. Mereka ditugaskan mengurusi masjid nagari dan melaksanakan ritual-ritual keagamaan, seperti perkawinan, penguburan, dan peringatan keagamaan; fungsi-fungsi yang terkadang juga dila-kukan Tuanku Syekh dan guru-guru surau. Sidang Jumat resmi yang diselenggarakan setelah salat Jumat di masjid hanya dapat mendiskusikan dan memberikan keputusan atas persoalan-per¬soalan keagamaan secara umum. Dalam persoalan khusus, Sidang Jumat harus bertanya kepada Tuanku Syekh untuk mendapatkan fatwa atau pandangan keagamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik diketahui bahwa guru atau Syekh yang mengajar hanya karena Allah semata, tidak mengharapkan upah/gaji atau honorium. Mereka hanya mendapat pembagian zakat padi atau zakat fitrah sekali setahun, terutama dari murid-muridnya dan orang-orang di sekeliling kampung. Mereka juga memperoleh sedekah di bulan baik. Ada juga yang memperoleh penghasilan dari hasil sawahnya serta hasil ikan tebat di sekitar suraunya.&lt;br /&gt;Di satu sisi, keikhlasan Syekh yang mengajar patut diteladani. Akan tetapi di sisi lain, pada surau-surau tertentu yang tidak memiliki sumber ekonomi cukup membuat kehidupan sebagian mereka "tergantung" dari "pemberian" orang lain. Bahkan tidak jarang di antara murid-murid berkeliling di kampung sambil membawa bungkusan sebagai tempat beras atau bahan pokok lainnya dari masyarakat. Artinya, secara duniawi mereka kurang kreatif, bahkan tidak merasa risih ketika "meminta-minta" dari masyarakat, padahal Islam mengajarkan "lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;3. Murid dalam Sistem Pendidikan Surau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang yang belajar di surau, disebut murid. Ini mencerminkan sifat sangat alamiah surau awal, karena istilah murid adalah terminologi sufi, yang merujuk kepada pengikut baru yang "bermaksud" mengamalkan tarekat. Dalam konteks sufi, murid menerima pengajaran dari Syekh atau khalifah, pemimpin resmi tarekat. Syekh biasanya memahami murid-muridnya, dan mengajari mereka sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual masing-masing, dan ia mengetahui secara intuitif kapan seorang murid naik dari satu maqat (tingkatan spiritual) ke tahap berikutnya sampai pada akhirnya menjadi penggantinya. Ketika seorang murid telah di¬anggap Syekh layak untuk menjadi penggantinya, ia akan dipanggil secara pribadi dan Syekh kemudian memberinya ijazah atau izin mengajar, dan memasukkan orang baru ke dalam tarekat itu, dan bertindak sebagai wakil Syekh selama ketidak-hadiran Syekh. Biasanya, barangkali sebagai tanda penghormat-an, hanya setelah meninggalnya Syekh, murid yang telah me¬nerima ijazah akan memperoleh gelar Syekh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksesi otoritas dari seorang Syekh sebagai pemimpin tarekat kepada seorang murid tertentu berbeda dengan peralihan kekuasaan dari Syekh sebagai pemimpin surau. Dalam kasusa terakhir, otoritas biasanya diberikan kepada keturunan laki-laki Syekh atau menantu laki-lakinya. Juga penting dicatat murid sebagai seorang pelajar surau (tidak mesti sama murid dalam tarekat) tidak menerima ijazah atau diploma sebagai tanda selesainya studi agamanya di surau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, murid surau juga disebut urang siak,  faqih,  dan faqir.  Istilah urang siak, faqih dan faqir lebih umum dipakai ketimbang "murid" untuk merujuk kepada orang yang belajar di surau setelah usainya Perang Padri. Istilah "murid" sendiri dalam nuansa lebih belakangan acapkali digunakan untuk merujuk kepada penuntut ilmu yang belajar, baik dalam sistem sekolah Barat maupun madrasah (Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seluruh orang yang belajar di surau benar-benar ingin menjadi ulama; atau akhirnya betul-betul menjadi seorang ulama. Pendidikan surau umumnya dipandang lebih merupakan bagian penting dari proses di mana orang Minangkabau menjadi seorang Muslim yang baik, warga masyarakat yang patuh, dan anggota komunitas yang tercerahkan. Seseorang menghadiri pendidik¬an surau sesuai dengan kepentingan individuanya; ia menetap di surau selama ia masih belum puas dengan ilmu yang dia butuhkan, dan sebaliknya ia bisa meninggalkannya kapan saja, setelah ia merasa telah cukup "terpelajar". Jika urang siak me-rasa bahwa ia telah mempelajari semua yang disampaikan Syekh atau guru, dan ingin meneruskan kajiannya, ia boleh pindah ke surau lain yang lebih ringgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sejak hari-hari pertama pendidikan surau, tradisi murid-murid peripatetik telah berlangsung dengan baik. Urang siak selalu bepergian dari satu surau ke surau lain atau dari seorang Tuanku Syekh ke lainnya guna mempelajari kekhususan masing-masing, sebagaimana halnya yang dilakukan murid-murid kuttdb di Timur Tengah. Urang siak dapat menjadikan di-rinya sendiri sebagai guru di suatu surau, atau membangun surau sendiri ketika ia yakin bahwa ia telah cukup belajar. Tidak ada periode waktu tertentu yang disediakan bagi studi di surau. "Kelulusan" dari surau merupakan keputusan subyektif personal yang dibuat urang siak sendiri, bukan hasil dari kelulusan ujian komprehensif atau ujian lain dalam bentuk apapun. Karenanya, tidak ada ijdzah atau diploma yang dikeluarkan otoritas surau jika urang siak "menamatkan" pelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;E. Isi/Materi, Metode dan Literatur Keagamaan Sistem Pendidikan Surau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga pendidikan tradisional, surau mengguna-kan sistem pendidikan halaqah. Materi pendidikan yang diajar kan pada awalnya masih seputar belajar huruf hijaiyah dan membaca Al-Qur'an, di samping ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti keimanan, akhlak, dan ibadat. Pada umumnya, pendidikan ini hanya dilaksanakan pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebelum Tahun 1900 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara bertahap, pendidikan surau mengalamai kemajuan. Mahmud Yunus mengklasifikasikan materi pendidikan surau beberapa tahun sebelum tahun 1900 M kepada dua kelompok.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;1. Pengajian al-Qur'an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengajian al-Qur'an merupakan pendidikan Islam pertama yang diterima oleh murid di surau. Anak-anak yang belajar masih dalam bentuk halaqah, tanpa adanya bangku dan meja serta tidak berkelas-kelas. Jika dilihat dari tingkatannya, pengajian al-Qur'an ini ada dua tingkat, yaitu:&lt;br /&gt;a. tingkatan rendah, yaitu pendidikan untuk memahami ejaan huruf al-Qur'an (huruf hijaiyah) dan membaca al-Qur'an. Di samping itu, di tingkat rendah ini diajarkan pula cara-cara mengerjakan ibadah, seperti berwudhu', shalat, dan sebagainya. Begitu pula materi tauhid diajarkan di tingkat ini, seperti sifat dua puluh serta hukum akal yang tiga (wajib, mustahil dan jaiz). Sedangkan materi akhlak diajarkan melalui cerita-cerita seperti kisah Nabi-nabi dan orang-orang shaleh, serta keteladan guru yang diperlihatkan setiap harinya. Biasanya anak-anak belajar di malam hari saja, dan pagi hari sesudah shalat Shubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. tingkat atas, yaitu tambahan pelajaran tingkat rendah yang meliputi pelajaran membaca al-Qur'an dengan irama (tilawah/mujawad) serta lagu kasidah, barzanji, tajwid dan mengaji kitab perukunan. Dalam pengajian tingkat atas ini terdapat seorang guru yang masyhur, dinamai Qari. Qari ini memiliki beratus-ratus siswa. Qari yang terkenal pandai mengucapkan huruf-huruf al-Qur'an dengan tepat serta dengan lagu yang merdu adalah Qari Batu Hampar, Payakumbuh, Syekh Burhanuddin (w. 1317 H/1900 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun lama pelajaran pengajian al-Qur'an tidak memiliki ketentuan baku, ada yang 2, 3, 4 atau 5 tahun lamanya, sesuai dengan kemampuan kecerdasan masing-masing anak. Penting pula disebutkan bahwa pada pengajian al-Qur'an ini anak-anak dilatih shalat berjamaah, khususnya Maghrib, Isya, dan Shubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan surau pada masa ini adalah agar anak didik dapat membaca al-Qur'an dengan berirama dan baik, dan tidak dirasakan keperluan  untuk memahami isinya. Jadi, dalam hal ini hanya sebatas agar anak mampu membaca al-Quran dengan baik dan benar, tanpa memperhatikan tentang pemahaman akan isi dan makna al-Qur'an tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara mengajarkan huruf-huruf hijaiyah digunakan menurut tertib Qaidah Baghdadiyah. Pertama sekali diperkenalkan 30 huruf (termasuk lam alif), kemudian diajarkan huruf-huruf yang bertitik, satu, dua dan tiga. Setelah itu d
